Para jamaah haji di Tanah Suci pun demikian juga. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Mereka berasal dari berbagai bangsa juga bahasa. Iman dan ketakwaan menyatukan mereka. Mereka menghamba kepada Allah, Tuhan alam semesta. Sekaligus menebar kasih sayang kepada sesama sebagai wujud ibadah sosial dan kebersamaan penuh cinta.
Kebersamaan dalam haji dan shalat Idul Adha, tentu akan memperkuat ikatan persaudaraan kita. Dari sinilah akan tumbuh rasa cinta untuk senantiasa menghormati sesama. Kita memang diciptakan ke dalam suku, bangsa, warna kulit, dan budaya yang berbeda-beda. Namun perbedaan itu bukan untuk dibanding-bandingkan dan merasa unggul satu dengan yang lainnya. Tujuan diciptakannya kita berbeda-beda oleh Allah adalah untuk saling kenal dengan sesama. Sehingga muncul harmoni yang menambah keindahan dalam kehidupan di dunia.
Allah berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Oleh karena itu, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,
Mari tinggalkan sifat dan sikap merasa unggul dalam materi dan kekayaan. Jauhi sikap merasa lebih mulia karena nasab atau keturunan. Hindari merasa lebih menarik dalam tampilan fisik dan pakaian. Jangan memandang rendah orang lain dan merasa tinggi karena jabatan. Ciptakan kehidupan yang saling menghormati dalam perbedaan. Wujudkan kerukunan dan tumbuhkan cinta pada perdamaian. Karena sekali lagi yang dinilai oleh Allah, tiada lain dan tiada bukan, hanyalah ketakwaan.
Rasulullah bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya: ”Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,
Selain shalat Idul Adha dan berhaji di Tanah Suci, rasa cinta juga bisa kita tumbuhkan dari ibadah kurban yang kita jalani. Kurban yang dilakukan dengan menyembelih hewan ini, adalah simbol kita menyembelih dan membuang sifat kebinatangan yang bersemayam dalam diri. Sombong, rakus, egois, serakah, dan mau menang sendiri menjadi sifat yang harus kita basmi dan hindari. Selanjutnya cinta dan saling mengasihi, harus kita pupuk dalam hati dan diri kita pribadi.
Perlu kita sadari bahwa kurban adalah ibadah berdimensi horisontal untuk mengasah kepedulian sosial. Kurban bukan hanya ibadah kepada Allah yang memiliki dimensi vertikal. Dengan kurban kita berbagi kebahagiaan dengan saling berbagi sedekah dan amal. Kita harus berupaya menghilangkan sekat yang membatasi secara maksimal. Sehingga kehidupan bersama ini akan bisa berjalan baik dan normal.
Mari sisihkan harta yang kita miliki dengan berbagi. Janganlah khawatir harta kita akan berkurang karena banyak memberi. Allah lah sang pemberi rezeki yang akan melipatgandakan sedekah yang kita lakoni.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 261: