Homo Debatus

Kamis 25-06-2026,07:01 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

Kalimat sakti itu memiliki daya magis luar biasa. Tidak peduli apakah yang dibicarakan banjir, inflasi, sepak bola, atau harga cabai.

"Saya sudah bilang dari dulu" adalah mantra serbaguna yang membuat seseorang tampak seperti nabi yang gagal diakui masyarakat.

Ada pula golongan yang lebih tinggi derajatnya, yaitu para pendekar adu mulut. Mereka tidak mencari solusi, sebab solusi bisa mengakhiri perdebatan. Padahal perdebatan adalah sumber oksigen mereka.

BACA JUGA:Labaytum Award dan Cermin Reformasi Haji Indonesia

Bila sebuah masalah selesai, mereka justru sedih. Sebab itu berarti mereka kehilangan bahan untuk tampil. Maka masalah harus dijaga agar tetap hidup.

Kalau perlu, masalah kecil dibesarkan. Kalau perlu lagi, masalah yang sudah mati dibangkitkan kembali demi menjaga keberlangsungan industri perdebatan nasional.

Di layar kaca, mereka saling potong pembicaraan. Di media sosial, mereka saling sindir. Di podcast, mereka saling menyela.

Kadang-kadang penonton bingung, apakah yang sedang berlangsung diskusi atau pertandingan bulu tangkis, karena argumen dipukul ke sana kemari dengan kecepatan tinggi.

BACA JUGA:Niat Besar yang Harus Dijaga

Ironisnya, semakin sedikit orang mendengar, semakin banyak orang ingin berbicara.

Barangkali benar bahwa manusia adalah hayawan nathiq, makhluk yang berbicara. Tetapi di zaman media sosial, definisi itu mengalami perluasan yang sangat kreatif.

Manusia modern seolah merasa wajib memiliki pendapat tentang segala hal.

Padahal tidak tahu adalah hak asasi manusia.

Tidak semua persoalan harus dikomentari. Tidak semua berita memerlukan analisis.

BACA JUGA:Estetika Lowbrow

Tidak semua peristiwa membutuhkan podcast tiga jam. Kadang-kadang, diam justru merupakan bentuk kecerdasan yang paling langka.

Kategori :