Prosesi penobatan hampir selalu mengandung unsur "transisi." Seseorang meninggalkan identitas lama dan memasuki identitas baru. Ritual transisi hampir selalu membutuhkan simbol.
BACA JUGA:Apakah Emas Sudah Murah?
Karena itu, tanpa memahami keseluruhan kosmologi adat Lampung, sangat berbahaya menyimpulkan bahwa tindakan menginjak kepala kerbau identik dengan penghinaan terhadap kerbau.
Dalam banyak masyarakat adat, makna ritual justru berada pada keseluruhan prosesi, bukan pada satu potongan gambar yang dipisahkan dari konteksnya.
Media Sosial Mengubah Ritual Menjadi Meme
Di era digital, simbol mengalami nasib yang unik. Ia tercerabut dari ruang budayanya. Foto dipotong. Video dipersingkat. Lalu diberi narasi. Setelah itu algoritma bekerja.
Inilah yang disebut para ahli komunikasi sebagai dekontekstualisasi simbol. Simbol yang semula hidup dalam kebudayaan berubah menjadi komoditas viral. Publik tidak lagi melihat ritual. Publik hanya melihat satu frame.
BACA JUGA:Dapur yang Paling Membutuhkan
Padahal satu frame tidak pernah mampu menjelaskan seluruh kebudayaan.
Di sinilah media sosial sering menciptakan "realitas kedua", yakni realitas yang lebih ditentukan oleh komentar daripada oleh fakta.
Ketika Politik Meminjam Simbol Budaya
Menariknya, justru muncul ketika sebagian orang menghubungkan kepala kerbau dengan lambang banteng milik salah satu partai politik. Di titik ini budaya mulai dipaksa memasuki arena politik.
Padahal secara antropologis, kerbau dan banteng adalah dua spesies berbeda. Dalam kebudayaan pun keduanya memiliki simbolisme yang berbeda. Namun dalam politik modern, asosiasi visual sering kali lebih kuat daripada fakta biologis.
BACA JUGA:Presiden dan Para Pengolok
Begitu publik melihat kepala hewan bertanduk, sebagian imajinasi politik segera bekerja.
Lalu lahirlah tafsir: "Apakah ini simbol?" "Apakah ini sindiran?" "Apakah ini pesan politik?" Padahal belum tentu.