Sering kali budaya hanya sedang menjadi budaya. Tetapi politik gemar meminjamnya. Ironisnya, politik modern juga sangat menyukai apa yang oleh ilmuwan komunikasi disebut overinterpretation, yakni kecenderungan memberi makna politik pada sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak dimaksudkan demikian.
Akibatnya, sebuah ritual adat yang semestinya menjadi ruang penghormatan budaya justru berubah menjadi bahan pertengkaran politik.
Komunikasi Lintas Budaya Mengajarkan Kerendahan Hati
BACA JUGA:Labaytum Award dan Cermin Reformasi Haji Indonesia
Edward T. Hall, salah seorang pelopor komunikasi lintas budaya, pernah mengingatkan bahwa sebagian besar konflik antarbudaya bukan lahir karena niat buruk, melainkan karena kegagalan memahami konteks.
Orang luar membaca simbol. Orang dalam membaca makna. Perbedaan keduanya sangat besar. Dalam masyarakat adat, makna diwariskan secara turun-temurun melalui pengalaman kolektif.
Sementara masyarakat digital hanya mewarisi potongan video berdurasi tiga puluh detik. Tidak mengherankan apabila tafsirnya berbeda.
Komunikasi lintas budaya mengajarkan satu sikap yang semakin langka di era media sosial, yakni kerendahan hati untuk bertanya sebelum menilai.
BACA JUGA:Niat Besar yang Harus Dijaga
Indonesia Terlalu Kaya untuk Dibaca dengan Satu Kacamata
Indonesia memiliki lebih dari seribu kelompok etnis. Masing-masing memiliki ritual. Masing-masing memiliki kosmologi. Masing-masing memiliki simbol.
Jika semua simbol itu dibaca menggunakan satu ukuran budaya atau satu ukuran politik, maka hampir seluruh ritual Nusantara akan tampak aneh.
Padahal justru keberagaman itulah yang membentuk wajah Indonesia. Boleh jadi, masyarakat Toraja akan bertanya mengapa masyarakat Jawa memuliakan kerbau Kiai Slamet.
Masyarakat Jawa pun mungkin bertanya mengapa kerbau Toraja dikurbankan dalam jumlah besar.
Masyarakat Bali memiliki tafsir berbeda lagi. Lampung pun demikian. Tidak ada yang salah. Karena kebudayaan memang tidak diciptakan untuk menjadi seragam.
BACA JUGA:Estetika Lowbrow