Gerakan Koperasi Desa Merah Putih dapat dibaca dari sudut pandang ini.
Ia bukan sekadar proyek ekonomi. Ia adalah ikhtiar menghidupkan kembali ingatan kolektif bahwa desa bukan halaman belakang republik. Desa adalah halaman depan tempat Indonesia pertama kali belajar tentang gotong royong.
BACA JUGA:Makan Bergizi, Tata Kelola Kurang Gizi
Di desa orang mengenal nama tetangganya. Di desa orang masih percaya bahwa panen yang baik patut disyukuri bersama. Di desa orang masih memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu dihitung dari tinggi pagar rumah, tetapi dari banyaknya pintu yang tetap terbuka.
Modernitas sering mengajarkan efisiensi. Desa mengajarkan empati. Kita memerlukan keduanya. Sebab teknologi tanpa kebersamaan hanya akan melahirkan kemajuan yang dingin. Sebaliknya, kebersamaan tanpa pengetahuan akan berjalan di tempat.
Maka koperasi yang dicita-citakan hari ini tidak cukup hanya mengandalkan romantisme masa lalu. Ia harus dikelola secara jujur, profesional, transparan, memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa kehilangan ruh gotong royong yang menjadi napasnya.
Akhirnya, setiap bangsa selalu dihadapkan pada pilihan yang sama. Apakah kita ingin terus sibuk menghitung kesalahan orang lain, atau mulai menghitung langkah yang dapat kita lakukan sendiri?
BACA JUGA:Terjebak Arsip: 'Negarawan di Cermin Retak'
Apakah kita ingin menjadi penonton yang paling pandai berkomentar, atau menjadi pelaku yang diam-diam bekerja? Barangkali sejarah tidak pernah benar-benar mengingat siapa yang paling keras berteriak.
Sejarah lebih lama mengingat siapa yang menanam pohon, membangun jembatan, mendirikan sekolah, menghidupkan koperasi, dan menjaga persaudaraan ketika banyak orang memilih bertengkar.
Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Yang selalu kita rindukan adalah hadirnya lebih banyak orang yang rela bekerja tanpa memelihara kebencian.
Lebih banyak orang yang percaya bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling meniadakan.
Lebih banyak orang yang memahami bahwa cinta kepada tanah air bukan diukur dari kerasnya suara, melainkan dari kesediaan memikul beban bersama.
BACA JUGA:Taxman di Era Modern: Saat Semua Aktivitas Terasa Berbayar
Mungkin benar, perjalanan ribuan kilometer dimulai dari satu langkah. Namun ada satu hal yang lebih penting daripada langkah itu sendiri. Yaitu arah ke mana langkah itu ditujukan.
Selama langkah-langkah kecil itu menuju persatuan, gotong royong, dan keadilan sosial, kita boleh berharap bahwa Indonesia tidak sedang berjalan menuju masa depan yang gelap.