Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama

Senin 13-07-2026,11:32 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

BACA JUGA:Jejak Kaki di Kepala Kerbau

Karena itu, ajakan agar bangsa ini tidak terjebak dalam narasi kebencian sesungguhnya bukan sekadar pesan politik. Ia adalah ajakan untuk kembali menjadi bangsa yang waras.

Kebencian memang mudah dipelihara. Ia murah, cepat menyebar, dan selalu menemukan rumah di dalam media sosial. Tetapi kebencian tidak pernah menanam padi.

Ia tidak membangun jembatan. Ia tidak membuka lapangan kerja. Ia hanya pandai membuat suara, tetapi miskin karya.

Sebaliknya, harapan selalu bekerja dalam diam. Ia tumbuh seperti akar. Tidak terlihat, tetapi menyangga seluruh pohon. Mungkin itulah sebabnya Presiden berulang kali mengajak bangsa ini untuk optimistis.

Optimisme sering disalahpahami sebagai sikap yang menutup mata terhadap kenyataan. Padahal optimisme justru keberanian menatap kenyataan tanpa kehilangan keyakinan.

BACA JUGA:Homo Debatus

Bangsa yang pesimis melihat batu sebagai penghalang. Bangsa yang optimistis menjadikannya pijakan. Tidak ada perjalanan panjang yang tidak dimulai dari langkah kecil. Tidak ada sungai besar yang lahir selain dari mata-mata air yang sederhana. Begitu pula sebuah negeri.

Indonesia tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu merasa semuanya telah sempurna. Indonesia dibangun oleh mereka yang bersedia memperbaiki apa yang kurang sedikit demi sedikit.

Di sinilah koperasi memperoleh maknanya yang paling dalam. Sering kali kita memandang koperasi hanya sebagai badan usaha. Padahal ia sesungguhnya adalah cermin cara pandang terhadap manusia.

Koperasi percaya bahwa seseorang tidak harus menjadi kaya sendirian agar disebut berhasil. Bahwa keuntungan tidak kehilangan maknanya ketika dibagi. Bahwa kesejahteraan tidak harus lahir dari persaingan yang saling meniadakan.

Di dalam koperasi, tangan yang satu menopang tangan yang lain. Di sana orang belajar bahwa rezeki tidak selalu datang karena menjadi yang paling kuat, melainkan karena bersedia saling menguatkan.

BACA JUGA:Presiden dan Para Pengolok

Barangkali karena itulah Bung Hatta menjadikan koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia. Beliau memahami bahwa bangsa ini sejak awal tidak dibangun di atas filsafat "aku", melainkan "kita".

"Kita" adalah kata yang pendek, tetapi memerlukan jiwa yang panjang.

Sebab mengatakan "kita" berarti bersedia berbagi beban. Bersedia menunda kepentingan diri sendiri demi kepentingan bersama. Bersedia berjalan lebih lambat agar tidak meninggalkan mereka yang masih tertatih.

Kategori :