BACA JUGA:Kemenkes Ungkap 1 Juta Warga Jadi Hipertensi Saat CKG Tahun Kedua
Pemeriksaan rutin menjadi penting karena tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Seseorang dapat merasa sehat, tetapi sebenarnya telah memiliki faktor risiko yang dapat berkembang menjadi penyakit berat.
Dengan mengetahui kondisi tubuh lebih awal, masyarakat memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan gaya hidup, seperti memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, menghindari rokok, serta memperoleh pengobatan sebelum muncul komplikasi.
CKG Dilanjutkan dengan Pengobatan dan Rujukan
Pemerintah memastikan pelaksanaan CKG tidak berhenti pada tahap skrining. Masyarakat yang diketahui memiliki faktor risiko atau terdiagnosis penyakit tertentu akan mendapatkan tindak lanjut sesuai kondisi kesehatannya.
Tindak lanjut tersebut meliputi edukasi perubahan gaya hidup, pemberian obat secara gratis, pemeriksaan lanjutan, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan yang memiliki layanan lebih lengkap.
“Tahun ini kami mulai kasih obatnya. Cek kesehatan dan pengobatan gratis dan juga ada rujukan untuk penyakit tertentu,” kata Budi.
BACA JUGA:Kemenkes Libatkan Ahli Gizi Terkemuka untuk Perbaiki Target dan Standar MBG
Pengembangan layanan tersebut dilakukan agar hasil pemeriksaan benar-benar memberikan manfaat. Peserta CKG tidak hanya mengetahui kondisi kesehatannya, tetapi juga memperoleh arahan mengenai langkah yang perlu dilakukan setelah pemeriksaan.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah mendorong terbentuknya kebiasaan baru di masyarakat, yakni memeriksakan kesehatan ketika masih merasa sehat, bukan hanya datang ke fasilitas kesehatan setelah mengalami keluhan.
Direktur RS Harapan Kita sekaligus Pakar Pendamping Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), FISQua, menilai perubahan pola pikir menjadi salah satu tantangan penting dalam pelaksanaan CKG.
Menurut Ariani, sebagian masyarakat masih enggan menjalani pemeriksaan karena takut mengetahui penyakit yang mungkin diderita. Padahal, deteksi dini justru membuka peluang lebih besar untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat.
“Persepsinya harus dibetulkan dulu. Orang sering takut cek kesehatan karena takut ketahuan sakit. Justru dengan mengetahui sejak dini, kita bisa mencegah agar kondisinya tidak berkembang dari kuning menjadi merah, bahkan bisa kembali menjadi hijau,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengendalian penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes tidak cukup hanya mengandalkan obat-obatan. Pengobatan perlu disertai perubahan gaya hidup, mulai dari menjaga pola makan, rutin beraktivitas fisik, beristirahat cukup, hingga disiplin mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
BACA JUGA:Menkes Budi: Tak Hanya Cek Kesehatan, Penanganan Medis akan Gratis Selama 15 Hari
Perluas Deteksi dan Pengobatan TB
Selain mencegah penyakit tidak menular, pemerintah juga memperkuat penanganan tuberkulosis (TB) yang masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia.