Jangan Tunggu Sakit, Pemerintah Perkuat Deteksi Dini dan Layanan Kesehatan

Minggu 09-08-2026,15:27 WIB
Reporter : Reza Permana
Editor : Reza Permana

Mengacu pada Global TB Report 2025, Indonesia masih menjadi negara dengan beban TB tertinggi kedua di dunia setelah India, dengan sekitar 1.080.000 kasus baru dan 125.000 kematian akibat TB setiap tahun, sehingga percepatan deteksi dan pengobatan menjadi salah satu prioritas pemerintah.

Besarnya angka tersebut menunjukkan pentingnya memperluas penemuan kasus sekaligus memastikan setiap pasien memperoleh pengobatan hingga tuntas.

Budi menegaskan bahwa TB dapat disembuhkan apabila ditemukan lebih awal dan diobati dengan tepat. Masyarakat juga diminta tidak memberikan stigma kepada penderita TB karena stigma dapat membuat seseorang enggan memeriksakan diri atau menghentikan pengobatan sebelum selesai.

“Kalau ditemukan lebih cepat lalu minum obat, dalam sekitar satu bulan pasien sudah tidak menularkan lagi. Karena itu kita harus menemukan sebanyak mungkin kasus agar segera diobati,” ujarnya.

Untuk mendukung percepatan penemuan kasus, pemerintah memperluas skrining TB melalui pengadaan sekitar 10.000 alat rontgen serta perangkat PCR portabel.

Peralatan tersebut akan ditempatkan hingga tingkat puskesmas agar pemeriksaan semakin mudah dijangkau masyarakat.

Penguatan sarana diagnostik diharapkan dapat mempercepat penemuan pasien, pemberian pengobatan, sekaligus memutus rantai penularan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Keberhasilan pengobatan TB juga membutuhkan kedisiplinan pasien dalam mengonsumsi obat hingga tuntas. Dukungan keluarga diperlukan agar pasien tetap menjalani terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan dan tidak menghentikan pengobatan sebelum waktunya.

BACA JUGA:Antusiasme Tinggi! Hingga Akhir Tahun 70 Juta Orang Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Prabowo

Pemerataan Fasilitas Perkuat Akses Pelayanan

Upaya pencegahan dan pengobatan juga didukung melalui pembangunan serta penguatan fasilitas kesehatan di berbagai daerah.

Setelah menyelesaikan pembangunan 22 rumah sakit pada 2025, pemerintah mulai membangun 12 rumah sakit baru pada 2026. Pembangunan tersebut akan dilanjutkan dengan 20 rumah sakit tambahan pada tahap berikutnya.

Rumah sakit baru diprioritaskan untuk wilayah yang masih kekurangan layanan kesehatan spesialistik. Fasilitas tersebut akan dilengkapi dengan peralatan medis modern, seperti CT scan, mamografi, laboratorium kateterisasi jantung atau cath lab, serta fasilitas pemeriksaan dan penanganan kanker.

Penguatan fasilitas kesehatan ditujukan agar masyarakat di daerah tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh atau dirujuk ke kota besar untuk memperoleh pelayanan medis tertentu.

Ketersediaan rumah sakit dengan fasilitas memadai juga diharapkan dapat mempercepat penanganan penyakit kritis, terutama strok, penyakit jantung, kanker, dan gangguan kesehatan lain yang membutuhkan layanan spesialistik.

Melalui pelaksanaan CKG, perluasan pengobatan, percepatan penanganan TB, serta pemerataan fasilitas kesehatan, pemerintah berupaya menghadirkan layanan kesehatan yang semakin komprehensif dan mudah dijangkau masyarakat.

Di sisi lain, Masyarakat juga didorong untuk lebih proaktif menjaga kesehatan melalui pemeriksaan secara berkala, penerapan pola hidup sehat, serta kepatuhan menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.  

Kategori :