Teks Khutbah Jumat 28 Agustus 2026 Kemenag: Mengapa Doa Belum Terkabul?

Kamis 27-08-2026,19:08 WIB
Reporter : Adinda Salsabila
Editor : Adinda Salsabila

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Dalam beberapa waktu terakhir, khatib mencermati sebuah potongan video pendek di media sosial yang menarik perhatian banyak orang. Seorang dokter sekaligus pegiat neurosains, Ryu Hasan, melontarkan pertanyaan yang sederhana, tetapi menggelisahkan. Ia bertanya, "Apakah doa-doa yang kita panjatkan selama ini benar-benar efektif? Sudah berapa kali Allah mengabulkan doa-doa kita?"

Terlepas dari siapa yang mengajukan pertanyaan itu, sesungguhnya pertanyaan tersebut layak menjadi bahan muhasabah bagi kita semua.

Bukankah hampir setiap selesai salat kita memohon agar Allah melapangkan rezeki kita?

Bukankah setiap hari kita berdoa agar diberi kesehatan, umur yang berkah, keluarga yang bahagia, usaha yang berhasil, anak-anak yang saleh dan salehah, bahkan husnul khatimah pada akhir kehidupan?

Namun mengapa sering kali kehidupan terasa berjalan di tempat?

Mengapa ada orang yang bertahun-tahun memohon rezeki, tetapi tetap merasa sempit?

Mengapa ada yang terus meminta kesehatan, tetapi tetap mengabaikan pola hidup sehat?

Mengapa ada yang setiap hari mendoakan anak-anaknya menjadi saleh, tetapi rumahnya sendiri miskin keteladanan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin pernah singgah dalam hati kita. Bahkan tidak sedikit orang yang kemudian bertanya, "Mengapa Allah belum juga mengabulkan doa-doaku?"

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.

Sebelum kita menyalahkan keadaan, bahkan sebelum kita mempertanyakan mengapa Allah belum mengabulkan doa-doa kita, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih penting untuk kita ajukan kepada diri sendiri.

Apakah kita sudah hidup sejalan dengan doa-doa yang kita panjatkan? Jangan-jangan selama ini bukan Allah yang menjauhkan doa dari kita. Jangan-jangan justru kita sendirilah yang menyandera doa-doa itu melalui perilaku kita.

Kita meminta rezeki yang halal dan berkah, tetapi kita masih bermalas-malasan, kurang disiplin, atau bahkan tidak jujur dalam bekerja.

Kita memohon kesehatan, tetapi kita mengabaikan amanah tubuh yang Allah titipkan dengan pola hidup yang merusak.

Kita meminta anak-anak yang saleh dan salehah, tetapi lisan kita mudah marah, rumah kita miskin kasih sayang, dan anak-anak lebih banyak belajar dari perilaku kita daripada dari nasihat yang kita ucapkan.

Kategori :