Kita memohon masyarakat yang damai, tetapi kita sendiri mudah menyebarkan kebencian, fitnah, dan prasangka.
Lalu, bagaimana mungkin kita berharap doa-doa itu tumbuh subur apabila setiap hari kita sendiri yang mencabut akarnya?
Allah Swt. telah mengingatkan kita melalui firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd [13]: 11)
Ayat ini bukan semata-mata berbicara tentang perubahan sosial. Ayat ini juga mengajarkan bahwa perubahan hidup dimulai dari perubahan diri. Doa menjadi pintu harapan, tetapi perilaku adalah jalan menuju pengabulan harapan itu.
Karena itu, doa dan ikhtiar bukanlah dua hal yang saling menggantikan. Doa adalah ruh yang menghidupkan ikhtiar, sedangkan ikhtiar adalah bukti bahwa doa yang kita panjatkan benar-benar lahir dari kesungguhan hati.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai paradoks yang menarik.
Ada orang yang berdoa agar usahanya maju, tetapi enggan meningkatkan kualitas pekerjaannya.
Ada yang meminta keluarganya harmonis, tetapi lisannya lebih sering melukai daripada menenangkan.
Ada yang memohon dijauhkan dari utang, tetapi gaya hidupnya terus melampaui kemampuan.
Ada pula yang memohon agar Allah menjaga anak-anaknya dari pengaruh buruk zaman, tetapi dirinya sendiri lebih sibuk dengan telepon genggam daripada menemani pertumbuhan anak-anaknya.
Bukankah semua itu menunjukkan bahwa sering kali kita meminta sesuatu kepada Allah, tetapi tidak sungguh-sungguh menyiapkan diri untuk menerimanya?
Maka, jangan-jangan yang menjadi penghalang terkabulnya doa bukanlah jauhnya rahmat Allah, melainkan dekatnya kita dengan kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan doa-doa kita sendiri.
Inilah yang oleh khatib sebut sebagai "doa-doa yang tersandera oleh perilaku."