Drone untuk Peternakan di Indonesia

Jumat 28-08-2026,07:00 WIB
Oleh: Danung Nur Adli, S.Pt., M.Pt., M.Sc

KETIKA mendengar kata drone, sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin langsung membayangkan sebuah pesawat kecil yang digunakan untuk fotografi udara, pembuatan konten media sosial, atau sekadar hobi menerbangkan pesawat tanpa awak. Persepsi tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun, di berbagai negara maju, drone telah berkembang jauh melampaui fungsi tersebut.

Teknologi ini kini menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung pertanian dan peternakan modern melalui konsep precision agriculture dan precision livestock farming. Sayangnya, pemanfaatan drone di sektor peternakan Indonesia masih sangat terbatas bahkan beluum ada sama sekali. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi ternak unggas terbesar di Asia Tenggara dan memiliki kebutuhan yang semakin tinggi terhadap sistem produksi pangan yang efisien, berkelanjutan, dan berbasis teknologi.

Transformasi digital yang mulai merambah berbagai sektor seharusnya juga menjadi momentum bagi dunia peternakan untuk beradaptasi. Namun, hingga saat ini sebagian besar aktivitas pemantauan kandang masih dilakukan secara manual. Petugas harus berjalan dari satu sisi kandang ke sisi lainnya untuk memeriksa kondisi ayam, distribusi populasi, konsumsi pakan, hingga mendeteksi adanya ayam yang sakit atau mati.

BACA JUGA:Potensi Besar Wisata Pantai Pengkolan Lamongan

BACA JUGA:Memaknai Hari Ulang Tahun Kemerdekaan

Cara kerja seperti ini tentu membutuhkan waktu, tenaga, serta tidak lepas dari potensi kesalahan pengamatan. Di sisi lain, skala peternakan modern semakin besar. Tidak sedikit kandang ayam pedaging saat ini menampung puluhan ribu ekor ayam dalam satu bangunan. Dalam kondisi seperti ini, pemantauan manual menjadi semakin sulit dilakukan secara cepat dan menyeluruh.

Ruang Teknologi Drone

Drone modern tidak lagi sekadar membawa kamera. Dengan dukungan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), kamera pintar, serta validasi pendekatan machine learning dan deep learning, drone mampu melakukan berbagai pekerjaan yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia. Drone dapat menghitung jumlah populasi ayam secara otomatis, menganalisis kepadatan kandang, mengidentifikasi distribusi ayam, hingga mendeteksi individu yang menunjukkan perilaku tidak normal.

Seluruh proses tersebut dapat dilakukan dalam hitungan menit tanpa harus mengganggu aktivitas ternak.

Lebih jauh lagi, teknologi drone dapat diintegrasikan dengan Internet of Things (IoT), sehingga data yang diperoleh dari udara dapat dikombinasikan dengan informasi suhu, kelembapan. Integrasi berbagai sumber data tersebut akan menghasilkan sistem pengambilan keputusan yang jauh lebih cepat dan akurat dibandingkan metode konvensional.

Negara-negara maju telah lebih dahulu memanfaatkan potensi ini. Di Belanda, Jepang, Jerman, Tiongkok, dan Amerika Serikat, drone telah digunakan untuk membantu pemantauan ternak, inspeksi lahan, pengawasan kesehatan hewan, hingga pengumpulan data produksi secara otomatis. Teknologi tersebut menjadi bagian dari transformasi menuju peternakan presisi yang mengandalkan data sebagai dasar pengambilan keputusan.

Indonesia sesungguhnya memiliki peluang yang tidak kalah besar. Sebagai negara agraris sekaligus produsen unggas yang terus berkembang, kebutuhan terhadap teknologi pemantauan otomatis akan semakin meningkat seiring bertambahnya populasi ternak dan meningkatnya tuntutan efisiensi produksi. Sayangnya, tingkat adopsi drone pada sektor peternakan masih tergolong rendah. Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa drone merupakan teknologi mahal yang hanya cocok digunakan perusahaan besar. Padahal, perkembangan teknologi saat ini memungkinkan lahirnya drone berukuran kecil dengan biaya yang jauh lebih terjangkau dibandingkan beberapa tahun lalu.

BACA JUGA:RUU Perampasan Aset Bikin Heboh! 4 Jenis Aset Ini Bakal Jadi Sasaran Penyitaan

BACA JUGA:Najwa Shihab Bicara soal Warisan untuk Anak: Bukan Cuma Harta, tapi Nilai dan Pendidikan

Selain faktor biaya, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi tantangan tersendiri. Masih sedikit peternak maupun tenaga teknis yang memiliki kemampuan mengoperasikan drone atau memahami bagaimana memanfaatkan data yang dihasilkan. Di sisi lain, penelitian mengenai drone khusus peternakan di Indonesia juga masih relatif sedikit sehingga pilihan teknologi yang tersedia belum sebanyak di negara maju. Padahal, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani kesenjangan tersebut. Kampus tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di lapangan. Kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan peternak menjadi kunci untuk mempercepat hilirisasi teknologi sehingga hasil penelitian tidak berhenti sebagai prototipe di laboratorium.

Kategori :