Strategi Mempercepat Hilirisasi Rumput Laut di Indonesia

Strategi Mempercepat Hilirisasi Rumput Laut di Indonesia

Rumput laut Indonesia yang melimpah harus mulai dipikirkan hilirisasinya. -Dokumentasi UB-

GELARAN Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) Tahun 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) perlu dijadikan momentum penting bagi masa depan perikanan dan kelautan Indonesia. Acara yang dibuka dan ditutup langsung oleh presiden RI ini juga dihadiri oleh jajaran menteri termasuk menteri Kelautan dan Perikanan. Hal ini menegaskan peran penting acara sarasehan dan konvensi sains dan teknologi ini, bagi industri Indonesia. Salah satu sorotan utama dalam paparan Menteri KKP adalah urgensi hilirisasi rumput laut, khususnya pada sektor non-hidrokoloid yang selama ini belum berkembang secara optimal di dalam negeri.

Paparan tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang besar bagi dunia akademik perikanan dan kelautan. Kesan mendalam dari KSTI 2026 adalah adanya keinginan kuat pemerintah untuk beralih dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi penguasa rantai pasok produk maritim bernilai tambah tinggi. Data menunjukkan bahwa fokus nasional saat ini masih terjebak pada kelompok hidrokoloid (karaginan, agar, alginat). Sementara itu, raksasa potensi non-hidrokoloid, seperti biostimulan pertanian, pakan ternak rendah emisi, biomaterial, hingga pangan fungsional, masih belum tergarap dengan baik.

BACA JUGA:Aksi Perguruan Tinggi Atasi Tantangan Kesehatan Nasional

BACA JUGA:Biomassa dan Masa Depan Kemandirian Energi Indonesia

Sebagai salah satu Upaya untuk menjawab hal tersebut, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan perlu segera menjawab dan merumuskan jalan penyelesaiannya, yang salah satunya bisa melalui konsep  "Marine Biorefinery & Circular Blue Economy Hub" sebagai strategi integratif untuk mempercepat hilirisasi non-hidrokoloid di Indonesia.

Pertama, standardisasi teknologi biorefinery terintegrasi menjadi Langkah penting utama. Berbeda dengan pendekatan industri konvensional yang mengekstrak satu komponen dan membuang sisanya, pendekatan biorefinery yang harus dikembangkan Adalah proses yang akan mengekstrak senyawa bioaktif secara bertahap tanpa menghasilkan limbah (zero waste). Ampas sisa ekstraksi hidrokoloid akan diolah kembali menggunakan mikroba lokal Indonesia, Salah satu contoh pengolahan limbah padat tersebut adalah sebagai bioenergy atau  menjadi bioplastik (edible film), sementara limbah cairnya diformulasikan sebagai biostimulan organik untuk kemandirian pupuk nasional.


Pemrosesan rumput laun menjadi berbagai produk.-Dokumentasi UB-

Kedua, perlu digagas pembentukan Seaweed Innovation Sandbox di wilayah pesisir penghasil rumput laut Indonesia. Kawasan ini akan berfungsi sebagai laboratorium alam dan pusat komersialisasi skala pilot, menghubungkan para pembudidaya rumput laut binaan langsung dengan riset hilirisasi di Universitas-Universitas dan pelaku industri. Melalui skema ini, formula aditif pakan ternak rendah emisi metana berbasis senyawa bioaktif rumput laut dapat langsung diproduksi dan diuji coba pada sektor peternakan lokal demi mendukung target net-zero emission nasional.

BACA JUGA:Optimalisasi Kampus sebagai Hub Dunia Global, Dunia Usaha, dan Dunia Industri

BACA JUGA:Industri Budaya dan Kreatif sebagai Pilar Kemandirian Ekonomi Indonesia

Ketiga, perlunya penyiapan SDM, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UB berkomitmen menyelaraskan kurikulum berbasis permasalahan nyata dunia usaha dan industri. Dengan demikian kami selalu akan mencetak talenta-talenta muda yang tidak hanya paham aspek pengolahan, tetapi juga handal dalam merekayasa produk-produk maritim masa depan.

Melalui kompilasi gagasan ini, transformasi dari hidrokoloid menuju ekosistem non-hidrokoloid bukan lagi sekadar wacana di atas kertas KSTI 2026, melainkan peta jalan nyata yang siap kami rumuskan dan laksanakan demi kesejahteraan Masyarakat dan kejayaan industri rumput laut nasional. (*)

*) Prof Asep Awaludin Prihanto, S.Pi., M.P., Dr.Sc., Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UB


Prof. Dr. Sc , Asep Awaludin Prihanto, S.Pi, MP, Dekan Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan UB-Dokumentasi Pribadi-

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: