BACA JUGA:DADA Ungkap Strategi Kepemimpinan dan Inovasi Properti untuk Generasi Muda
Menurut dia, pendekatan tersebut membutuhkan integrasi antara data, sistem kelistrikan, otomasi, dan pengelolaan operasional bangunan.
Salah satu teknologi yang dapat digunakan adalah Building Management System (BMS), yang memungkinkan berbagai sistem dalam gedung dipantau dan dikendalikan melalui satu platform.
Dengan pemantauan secara real-time, pengelola tidak harus menunggu sampai terjadi kerusakan atau pemborosan yang besar.
Anomali dapat diketahui lebih cepat sehingga tindakan korektif dapat dilakukan sebelum mengganggu operasional.
Konsep ini juga memungkinkan pengelola gedung melihat pola konsumsi energi dan menentukan bagian mana yang membutuhkan optimalisasi.
Dengan kata lain, teknologi tidak hanya membuat gedung “bisa melakukan sesuatu secara otomatis”, tetapi membantu manusia mengambil keputusan berdasarkan data.
BACA JUGA:KAI Properti Buka Lowongan Kerja 2026 untuk Lulusan SMA, Simak Syarat dan Cara Daftarnya
Rumah Sakit Jadi Contoh Nyata
Gambaran mengenai manfaat pendekatan tersebut dapat dilihat dari implementasi Building Management System di SMC RS Telogorejo.
Rumah sakit memiliki tantangan yang berbeda dengan gedung perkantoran biasa.
Efisiensi energi memang penting, tetapi keandalan sistem menjadi hal yang tidak dapat ditawar karena sejumlah ruang dan perangkat memiliki fungsi kritis bagi pelayanan medis.
Di SMC RS Telogorejo, sistem BMS mengintegrasikan pemantauan utilitas kritis, termasuk HVAC, sistem kelistrikan, dan Uninterruptible Power Supply (UPS), dalam satu command center terpusat.
Pengelolaan yang sebelumnya dilakukan secara manual kemudian dilengkapi dengan pemantauan real-time, peringatan otomatis, serta pendekatan pemeliharaan yang lebih proaktif.
Hasilnya mulai terlihat.
Total pengeluaran listrik rumah sakit turun 5 persen pada 2025. Penurunan tersebut sekaligus membalikkan tren kenaikan biaya listrik yang sebelumnya mencapai sekitar 9 persen per tahun.