Lima Miliar

Jumat 04-09-2026,04:00 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

Sudah lupa, saking lamanya, kapan putusan pengadilan banding justru lebih berat. Tahu-tahu terjadi pekan lalu: Pengadilan Tinggi Jakarta menjatuhkan hukuman kepada Ibam lebih berat daripada putusan pengadilan tingkat pertama. Dari penjara empat tahun menjadi lima tahun. Dari Ibam tidak perlu membayar uang pengganti menjadi harus membayar Rp 5 miliar.

Anda sudah tahu: itu dalam perkara korupsi pembelian Chromebook di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan era Menteri Nadiem Makarim.

Ibrahim Arief alias Ibam adalah konsultan Kemendikbud di bidang teknologi pendidikan. Ibam memang ahli di bidang itu. Ia sebenarnya sudah enak tinggal di luar negeri. Ia punya pekerjaan mapan di sana. Ketika diminta oleh Menteri Nadiem untuk ''pulang mengabdi ke negara sendiri'' ia sampai menolak tawaran untuk bekerja di Facebook London.

Di Indonesia Ibam terkenal sebagai salah satu pendiri Bukalapak. Juga sebagai pimpinan di GovTech Edu. Lalu menjadi staf khusus Menteri Nadiem Makarim.

Ibam sangat yakin dirinya tidak bersalah dalam kasus korupsi yang melibatkan Nadiem. Jabatannya sebagai konsultan bukanlah pihak yang membuat keputusan pembelian 1,2 juta unit Chromebook.

Karena itu ketika Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara, Ibam naik banding. Ia berharap di pengadilan tinggi bisa bebas. Ternyata justru diperberat.

Pengamat pun bertanya-tanya: bagaimana hakim pengadilan tinggi bisa punya hitungan Rp 5 miliar sebagai uang pengganti kerugian negara. Uang apa itu? Kenapa Rp 5 miliar.

Hanya satu orang yang bisa menjawabnya: Agustinus Edy Kristianto. Ia mantan wartawan yang sangat rajin menulis. Saya sering membaca tulisannya. Seminggu bisa dua kali. Isi tulisannya pun amat kritis.

Dalam kasus korupsi Chromebook praktis hanya AEK yang melawan arus opini membela Ibam dan Nadiem Makarim. Belakangan tambah satu orang lagi, tapi tulisannya hanya bisa dibaca oleh anggota grup WA Wartawan 60+.

Agus juga kritis dalam menulis soal pasar modal, goreng saham, sampai soal Telkomsel yang terancam kehilangan uang Rp 6 triliun di GoTo. Ia terlihat mendalami sangat dalam pat-gulipat di pasar saham.

Menurut Agustinus, hukuman tambahan uang pengganti Rp 5 miliar itu datang dari gaji yang diterima Ibam selama di Yayasan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan. Di yayasan itu Ibam, menurut Agustinus, bergaji Rp 163 juta/bulan. Ibam, tulisnya, mendapat gaji sebesar itu sejak Januari 2020 sampai Aguatus 2022. Kalau ditotal jumlahnya Rp 5 miliar.

"Itu tafsir Anda sendiri?" tanya saya.

"Iya. Itu tafsir dan analisis saya," kata Agustinus. "Tapi angka Rp163 juta/bulan akurat. Sesuai isi dakwaan dan putusan pengadilan," tambahnya.

Memang masih sulit mengaitkan hukuman tambahan itu dengan kerugian negara. Pun kalau tafsir dan analisis Agustinus tepat di mana kerugian negaranya. Bukankah gaji itu Ibam terima dari yayasan. Bukan dari instansi pemerintah seperti Kemendikbud?

Dalam vonis banding di Pengadilan Tinggi tidak disebutkan hubungan hukuman tambahan dengan kerugian negara. Yang disebutkan hanya "....hukuman uang pengganti berdasarkan hubungan antara perbuatan terdakwa dan manfaat ekonomi yang timbul dari tindak pidana".

Intinya di 'manfaat ekonomi'. Lalu Agustinus menelusuri manfaat ekonomi apa saja yang diterima Ibam yang nilainya Rp 5 miliar. Maka ketemulah itu: gaji dari yayasan sebesar Rp 163 juta/bulan selama hampir tiga tahun itu.

"Apakah yayasan menerima uang dari negera sehingga gaji dari yayasan dianggap merugikan keuangan negara?"

Agus, alumnus Unpad Bandung dan SMAN 3 Depok itu belum bisa menjawab. Ia masih belum tahu apa yang terjadi di balik itu. Agus yang juga pernah menjadi staf di YLBHI itu hanya tahu ada Nota Kesepakatan antara Kemendikbud dengan yayasan. Ia hafal nomor nota itu dan tahunnya: 2019 akhir. Ia juga tahu lingkup nota kesepahaman itu: nota kesepahaman program merdeka belajar. Mulai melaksanakan assessment kompetensi minimum atau AKM dengan program Merdeka Belajar.

Begitu hukuman diperberat Ibam langsung berharap agar Presiden Prabowo turun tangan. Ibam beralasan kalau orang seperti dirinya dihukum akan membuat diaspora Indonesia ketakutan pulang untuk mengabdi ke negara. Pun para direksi BUMN akan ketakutan.

Di luar dari harapannya kepada Presiden Prabowo Ibam masih punya harapan lain: kasasi ke Mahkamah Agung. Siapa tahu di tingkat kasasi bisa bebas, meski ada juga kemungkinan sebaliknya. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 3 September 2026: Patriot Sejati

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Perlu dikaji lagi apakah Anthony Salim, Prajogo Pangestu, Aguan dan 47 horang kayah lainnya adalah patriot hanya karena beli Patriot Bond dengan bunga cuma 2% per tahun. Pertama, apakah pembelian itu karena ingin menolong negara atau hanya karena "dipaksa". Bisa saja mereka "terpaksa" beli karena mereka juga diancam. Kalau begitu, berarti mereka bukan patriot, mereka hanya sedang melindungi bisnis mereka. Kedua, seberapa besar perbandingan antara nilai kekayaannya dengan harta yang ia "korbankan"? Saya menduga itu tak lebih dari 5% dari total kekayaannya. Itupun beli Patriot Bond bukan berarti menyumbang harta, hanya menyumbang "bunga". Harta mereka sama sekali tak berkurang. Itu bisa kita bandingkan dengan (misalnya) pengorbanan AR Baswedan yang dulu punya banyak tanah di Surabaya yang dikorbankan untuk perjuangan. Kita tahu banyak sekali pahlawan kita dulu yang mengorbankan properti mereka untuk perjuangan padahal ya cuma itu yang mereka punya. Ketiga, patriot zaman sekarang tentu jauh dari risiko kehilangan nyawa. Bahkan jika dibanding Prabowo waktu di Timor Timur saja itu jauh berbeda. Pada akhirnya, untuk orang sekaya mereka, seharusnya bisa bervuat lebih banyak untuk negara jika memang mereka punya jiwa patriot. Menurut saya ya. Apalagi jika di judul tulisan ditulis: Patriot Sejati. Ah, masa sih mereka sepatriot itu?

Johannes Kitono

Pasir Kemarau. Pagi ini diajak naik Avanza oleh bro Sinaga. Mantan Panitera yang pernah juara Tenis di Kejaksaan Sanggau. Sudah 3 bulan kemarau di kota Sanggau. Kabut asap sepanjang jalan dari Entikong. Antri panjang motor dan mobil di Pompa BBM Pertamina. Driver Enoch mengeluh. Kalau Pertalite dan Pertamax selalu kosong. Tapi bisa beli dikios mini disamping SPBU. Harganya lebih tinggi 4 a 6 ribu/ liter. " Ini BBM Subsidi kok boleh dijual beli ", keluh Enoch. Entah kemana APH nya. Pasti kebagian jatah juga.Akibat kemarau panjang bikin susah rakyat kecil. Harga air minum di Pontianak Rp.600 ribu / tangki. Pesawat terbang sering gagal landing di bandara. Terhalang kabut asap.Umumnya saat kemarau adalah musim buah buahan. Seperti saat ini di Badui yang sedang musim durian dan petai. Tapi kabut asap menghalangi proses Photosintesa. Sinar matahari tidak bisa tembus kedaun pohon buah. Banyak pohon buah yang gagal panen. Kemarau panjang indikasi terjadinya Global Warming. Manusia perlu Tobat Ekologi. Segera gantikan pupuk kimia dengan Eco Enziem yang alami. Pemerintah harus bikin Dam untuk solusi kemarau panjang. Kalau Sarawak Malaysia bisa seharusnya Kalbar bagian NKRI pasti juga bisa. Jangan sampai driver Enoch cs menderita lebih lama. Dan dengan bayar 5 juta saja bisa pindah ke Malaysia atau Brunai. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia

Liam Then

beberapa saat lalu, saya tercebur dalam ke sesi gali informasi, bagaimana provinsi-provinsi di Tiongkok dengan kepala daerahnya, sepertinya mampu secara mandiri, mendanai pembangunan infrastruktur dan menggalakan industri di provinsi mereka masing-masing. Memang itu tak terlepas dari dorongan dan dukungan pemerintah yang besar. Tapi ada sistem unik yang dipakai mereka. Kebetulan, sistemnya terkait dengan "bond" juga. Pemerintah daerah di Tiongkok, diberikan keleluasaan membentuk BUMD, yang kemudian dialihkan kepada mereka hak pengelolaan atas lahan milik pemda, kemudian dijadikan agunan untuk menerbitkan "bond", surat hutang yang dibeli oleh bank-bank nasional mereka dengan backingan pemerintah pusat . Duit dari surat hutang inilah yang lalu dibangunkan infrastruktur. Sederhananya, mereka di sana, berhasil rancang satu sistem rekayasa finansial untuk melipatgandakan kapasitas produktif ekonomi mereka. detilnya seperti apa, silahkan anda gali sendiri, kapasitas memori dan penguasaan materi saya terlalu minim untuk tuliskan ulang secara detil. Saya kira cara ini, sedikit banyak bisa diadopsi secara parsial, disesuaikan dengan kondisi di Indonesia oleh pemda, untuk menggalang dana pembangunan di zaman seret modal dari pemerintah pusat. Tapi yah ada syarat utamanya, yaitu benar-benar dipakai dengan benar, jangan sampai dijadikan alat untuk korupsi, bisa sibuk KPK dan Kejagung nanti. Jika digunakan dengan benar dan tepat, ini bisa jadi alat untuk percepatan bangun daerah.

Johannes Kitono

Pos Sweeping. Kemarin dijemput Enoch di Hotel One Point Kuching. Hotel yang lebih layak disebut kost atau home stay. Ditraktir bro Akiat makan Bakmi suku Heng Hwa. Suku yang dominasi bisnis Otomotive dan Perbankan di Indonesia. Konglo TW dan boss Gajah Tunggal juga suku Hing Hwa. Naik Innova Kuching ke PLBN Entikong sekitar 1,5 jam. Lewat Pos imigrasi baik Malaysia dan Indonesia lancar saja. Dari Entikong ke Balai Karangan harus melewati 3 pos Sweeping yang dijaga 24 jam oleh TNI. Entah manfaatnya buat apa. Dulu di dekat Tebedu dekat Serian juga ada Pos sejenis yang dijaga Tentara Kerajaan Malaysia. Entah siapa yang mulai pasang Pos Sweeping. Kesannya seperti negara dalam keadaan Siaga 1. Pos Kerajaan sudah lama menghilang. Seyogyanya Pos sweeping TNI di Entikong - Balai Karangan segera dihilangkan. Jangan sampai ada kesan bagi turis asing bahwa NKRI tidak aman. Lebih baik manfaatkan TNI penjaga Pos. Bantu rakyat bikin bendungan sebagai solusi atasi kemarau panjang yang sedang berlangsung ini. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

Johannes Kitono

Bond Politik. Secara bisnis tentu tidak masuk akal. Beli bond 2 % dimana masih ada bond jaminan negara yang 6,5 %. Jelas, ini bond " ijak kaki " dan bernuansa politik. Para konglo pembeli bond 2 % jelas untuk melindungi bisnis mereka yang ratusan Trilyun bahkan ribuan Trilyun. Kok juragan disway bisa pura pura tidak tahu. Ibarat main catur. Korbankan pion pion untuk melindungi Raja atau core bisnis. Asal tidak sampai di skak Mat.Para konglo pembeli Bond 2 % biarpun layak dinamakan Patriot. Tapi kalau meninggal pasti tidak bisa dimakamkan di TMP Kalibata. Kalau ada Patriot pasti ada Pengkhianat. Kalau Dana Bond 2 % di pakai beli SBR 6,5 % apalagi di korupsi. Oknum tsb dinamakan Pengkhianat dan layak kena ancaman hukum mati. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

Kalender Bagus

Ini rahasia mengapa patriot bond laku keras: Patriot lawan katanya adalah Pengkhianat. Barangsiapa yang membeli bond ini, maka masuk kategori patriot bangsa. Barangsiapa yang menolak membeli bond ini, maka masuk kategori pengkhianat bangsa. Sesimpel itu tagline marketingnya.

Lukman Nugroho

Bond yang dinikmati oleh para pensiunan itu James Bond : Jaga mesjid dan kebon

dm ikan

Apakah mungkin ada intervensi intelijen level dewa yang menyebabkan para PATRIOT tersebut setuju memberikan hutang dengan bunga murah dan tenor panjang? Mungkin KARTU AS para PATRIOT tersebut sudah teridentifikasi dari operasi senyap para JAMES BOND, sehingga para PATRIOT tidak bisa menolak?

Lukman Nugroho

Kapan itu saya dimarahi sama Bos saya di kantor. Sebagai yang bekerja di lembaga keuangan dan di target menyalurkan kredit. Pas ditanya segmen apa yang akan dituju untuk selling kredit. Lalu saya menjawab. Akan menawarkan pembiayaan ke Pak Purbaya atau pak Prabowo. Seketika Bos saya marah sekali. Sampai sekarang saya masih bingung. Salah saya dimana?

Lukman Nugroho

Pak Bos kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu. Kenapa mau memberi patriot bond. Sebab tidak ada makan siang gratis. Ah Pak Boss...

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PATRIOT: BUKAN SEKADAR CINTA TANAH AIR.. Patriot berasal dari bahasa Yunani patriotes. Artinya kurang lebih: Orang yang berasal dari negeri yang sama. Akarnya patris, tanah air. Dalam perjalanan sejarah, maknanya menjadi lebih besar. Patriot adalah orang yang mencintai tanah air dan bersedia berbuat sesuatu untuk kepentingannya. Di sini letak bedanya. Patriotisme bukan sekadar memasang bendera. Bukan pula paling keras menyanyikan lagu kebangsaan. Itu penting. Tetapi patriotisme baru terasa ketika cinta berubah menjadi tindakan. Guru yang mengajar sungguh-sungguh adalah patriot. Petani yang menjaga pangan adalah patriot. Teknisi yang membuat teknologi bekerja adalah patriot. Pengusaha yang membayar pajak dengan benar juga patriot. Bahkan orang yang mengkritik pemerintah dengan data dan niat memperbaiki negeri bisa menjadi patriot. Sebab mencintai negara tidak berarti harus selalu memuji penguasanya. Patriot, akhirnya, bukan orang yang paling banyak meneriakkan “NKRI”. Patriot adalah orang yang diam-diam membuat NKRI tetap berdiri. Jadi ukuran patriotisme bukan volume suara.

Juve Zhang

Don Dahlan Iskan kurang informasi... patriot Bond kata nya untuk Beaya membuat PLT sampah ... di seluruh kota besar Indonesia...dana obligasi patriot ini buat mendanai proyek pembangkit listrik tenaga sampah dan "kebetulan" om Prayogo Pangestu salah satu pemenang tender PLT sampah ini jadi beliau ikut beli patriot Bond sekaligus juga pemenang tender PLT sampah artinya anda pasti cerdas....duit gak jatuh ke mana mana....kalau om Salim tidak ada ikutan tender...om Djaruuum juga gak ikutan tender....yg ikutan tender di berita cuma om PP dan juga om Bakrie.. Lainnya mungkin murni bantu danagtara....om PP konsorsium sama perusahaan Tiongkok yg ahli dalam PLT Sampah....nah siapa pemenang tender lainnya silakan anda baca berita nya saja.....wkwk

Sadewa 19

Temen saya cerita dia bayar pajak 10 juta tiap bulan dari umur 35 tahun. Belum lagi kalau dia dapat THR atau bonus akhir tahun. Dia harus bayar pajak lebih besar lagi. Jadi kalau sampai usia pensiun 55 tahun dia harus bayar pajak jika ditotal sekitar 5 Milyar. Belum lagi ia musti bayar BPJS yg nggak pernah dia pakai, 1 jutaan tiap bulan. Belum lagi kalau dia harus meeting makan di resto kena pajak lagi. Mobil yg satu satunya itu juga kena pajak lagi. Mau nyetir lewat jalan toll biar nggak macet juga kena pajak lagi. Isi BBM jg gak bisa dapat subsidi, kena pajak lagi. Pendek kata dari bangun tidur sampai tidur lagi, dia nggak lepas dari bayar pajak. Temen saya ini, bukan orang kaya. Namun harus bayar pajak sebesar itu untuk negara. Dia layak disebut PATRIOT yg sesungguhnya.

MAS UD CHANNEL

Loh aku jg termasuk patriot jg klo gitu. Buruh pabrik tiap bulan dipotong pajak. Padahal cari uang sendiri. Blm cairin BPJS ketenagakerjaan jg dipotong pajak. Justru yg menikmati para pejabat itu yg gaji dan fasilitas hidupnya dibiayai negara. Apalagi yg udah pensiun masih berjuang safari kesana kemari agar anaknya yg bungsu itu jadi pejabat dan makmur hidupnya kayak kakak dan iparnya itu. Ngono lo ko klob bela belain. Koe entuk oppo

Tivibox

Banyak guru yang mengajar di pelosok yang hanya digaji sekedar buat menyambung hidup sebenarnya layak disebut patriot.

Gregorius Indiarto

"Yang saya ambil dari tante Pertiwi, saya pinjamkan ke tante Pertiwi, dengan bunga kecil. Tidak apa apa. Dengan begitu saja saya sudah dianggap "Patriot sejati" di mata seseorang. Sambil menunggu tante Pertiwi membayar hutang dengan bunga kecilnya, saya akan mengambil "seuatu yang lebih besar dari nyi"", canda serius "patriot", dalam hati, sambil tersenyum. Met pagi, salam sehat, damai dan bahagia.

Gerring Obama

Sebaiknya jangan pengusaha yang ditodong. Pengusaha dengan duit segitu bisa menghasilkan ribuan lapangan kerja dan bisa bermanfaat secara langsung. Patriotisme sekarang diukur dengan duit, padahal yang dengan bambu runcing saja bisa.. memang mereka tidak tercatat.

heru pujihastono

Tanya ke : Widjojo Nitisastro, JB.Sumarlin, Ali wardhana atau bahkan ke neo2 nya: : sistem akuntansi Barkeley memang mengajarkan hutang. Hingga Ndak habis pikir ;: utang ke USA atau Tiongkok atau Negara lain. Ternyata negara- negara itu berhutang juga. Jumbo.

Mbah Mars

Misal, ini misal lho: Bli Leong masuk warung lalu ambil sebungkus rokok tetapi belum bisa bayar, maka Bli Leong akan bilang pada pemilik warung, "Ngebon dulu ya" Baru nanti di tanggal gajian Bli Leong datang ke warung utk membayarnya. Apa kata "ngebon" yg populer di masyarakat itu berasal dari kata 'bond' ya ? Hebatnya, si pemilik warung tidak menaikkan harga rokok yg diambil Bli Leong dan baru dibayar sebulan berikutnya. Hebat lagi, di hari Bli Leong melunasi bonnya, dia ngebon lagi utk bulan berikutnya. Hahahaha peaceeeee. Kaburrrrr. Cak Mul, ayoo mulaiii...dipersilahkan.

Bahtiar HS

@Mbah Mars, Asal-usul kata "nge-bon" atau "bon" yang digunakan masyarakat Indonesia utk menyebut aktivitas berutang berasal dari bahasa Belanda, yaitu kata "bon". Dalam bahasa Belanda asli, kata "bon" memiliki arti nota, tiket, tanda terima, atau surat kecil berisi catatan transaksi. Pada masa penjajahan, ketika orang2 Belanda/kaum elite belanja di toko mereka tdk selalu langsung membayar dg uang tunai. Pemilik toko akan mencatat daftar belanjaan tsb di selembar kertas kecil (nota) yang disebut bon. Surat atau kertas kecil tersebut menjadi bukti tertulis bhw ada transaksi yg baru akan dibayar/dilunasi di kemudian hari. Setelah beredar di masyarakat, kata bon bergeser makna dari sekedar catatan kecil transaksi jadi bermakna utang. Mkn krn biasanya bon yg sekedar catatan itu selalu bayar nanti alias utang dulu. Maka "nge-bon dulu" jadi bermakna utang dulu. Apalagi kasbon atau kesbon lbh jujur lagi: utang dlm bentuk kes. :)) Dari bermakna utang, jg geser jg ke makna pinjam. Krn mirip. Maka kita kenal istilah pemain "bon-bonan", yakni pemain pinjaman dari klub lain utk main di timnya.

Leong Putu

Menurut etimologi, kata bond yang Mbah Mars maksud, berasal dari kata Jawa : ora Bondo.. Agar lebih keren disingkat Bon.. Wkwk.... Lah kalau kalimat penutupnya itu, sesuai dengan falsafah hidup saya, Mbah : "utang adalah penyemangat hidupku" "ora utang gak lanang". Wkwk

Imam Hanafi

Membuat bos BEI mundur bisa Membuat bos OJK mundur mudah Membuat Gubernur BI mundur juga gampang Apa susahnya Membuat para konglomerat membeli Patriot Bond. Kalau mau Danantara membuat Bond lagi dengan bunga 0 persen-pun mereka akan berbondong-bondong membelinya. Ini masih Indonesia bung. Banyak celah buat menyandera mereka.

Kategori :

Terkait

Jumat 04-09-2026,04:00 WIB

Lima Miliar

Kamis 03-09-2026,04:00 WIB

Patriot Sejati

Rabu 02-09-2026,04:00 WIB

Hujan Salat

Selasa 01-09-2026,04:00 WIB

Ahli Uang

Kamis 27-08-2026,04:00 WIB

Hakka Ngiau