Patriot Sejati
--
Tidak hanya mereka yang mempertaruhkan nyawa di medan perang yang bisa disebut patriot.
Anthony Salim, Prajogo Pangestu, Aguan, dan 47 orang superkaya lainnya kini juga bisa disebut Patriot Bangsa. Itu karena mereka mau mengutangi negara dalam jumlah besar dengan tenor yang panjang dan bunga yang superringan.
Tahun ini pemerintah Presiden Prabowo memang mengeluarkan surat utang khusus: Patriot Bond. Prabowo sendiri memang seorang patriot bangsa: pernah bertempur untuk membela negara di Timor Timur. Nyaris tewas. Maka Prabowo "mengajak" mereka yang punya banyak uang untuk bisa ikut menjadi patriot dengan cara membeli Patriot Bond.
Rasanya yang utang ini bukan pemerintah secara langsung. Yang utang lewat Patriot Bond itu Danantara. Agar Danantara bisa lari kencang sesuai yang diinginkan Presiden Prabowo.
Memang ada juga yang menyindir Danantara: enak banget jadi pimpinan Danantara. Dicarikan modal sangat besar: Rp 50 triliun. Tenornya panjang pula: 5 dan 7 tahun. Bunganya amat rendah: 2 persen per tahun.
Kasarnya, kata yang menyindir itu, sambil rebahan pun, tanpa kerja, Danantara bisa dapat untung besar. Misalkan, katanya, Danantara menempatkan uang Rp 50 triliun itu di SBR: Danantara bisa dapat bunga 6 persen/tahun. Yang dua persen ia bayarkan sebagai bunga ke pemberi utang. Danantara sudah dapat selisih empat persen/tahun.
Itu ibarat hujan yang datang dari langit tanpa harus bikin hujan buatan atau salat istisqa'.
Tidak ada yang tahu: ke mana uang hasil Patriot Bond itu dibelanjakan oleh Danantara. Harusnya untuk investasi di BUMN. Yakni investasi yang sangat diperlukan negara tapi juga bisa menghasilkan laba yang besar.
Saya dengar antrean untuk bisa mendapat pinjaman dari Patriot Bond sudah sangat panjang. Kini banyak BUMN lagi haus dana. Mulai BUMN-BUMN jalan tol, pengembang solar cell, sampai pun perkebunan.
Yang jelas tidak mungkin dana dari Patriot Bond itu dibiarkan tidur di bawah bantal. Tapi juga tidak mudah mengalirkannya ke BUMN --karena bisa langsung untuk membayar utang masing-masing BUMN. Danantara pasti mensyaratkan BUMN yang antre itu untuk mengajukan proposal berbentuk business plan. Danantara akan langsung membuka halaman terakhirnya: berapa IRR proyek yang diantrekan itu. Tentu proyek dengan IRR terbaik yang punya peluang dibiayai.
Danantara ternyata lebih hebat dari negara. Bond-nya lebih murah dari bond negara. Saat ini pemerintah juga berutang lewat berbagai jenis bond. Tiap jenis bond, beda tingkat bunga dan tenornya.
Yang terbaru adalah Panda Bond. Sesuai dengan namanya, Panda Bond adalah utang negara dalam mata uang yuan Tiongkok.
Baik Panda Bond, ORI, maupun SBR tidak ada yang bunganya semurah Patriot Bond.
Bunga SBR misalnya, sekitar 6,5 persen. Panda Bond memang murah: 2,1 persen; tapi masih ada risiko pergerakan kurs. Jatuhnya bisa equivalen sekitar 4 sampai 5 persen. Atau lebih.
Maka Danantara bisa dibilang lebih hebat dari negara. Tidak semua CEO bisa sehebat CEO Danantara.
Saya sendiri sangat salut kepada orang-orang superkaya itu: kok mau mengutangi Danantara dengan bunga begitu murah. Maka mereka benar-benar hebat. Layak disebut Patriot Negara.
Maka sejak hari ini Disway akan menyematkan gelar Patriot di depan nama mereka: Patriot Anthony Salim, Patriot Prajogo Pangestu, Patriot Aguan.....(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 2 September 2026: Hujan Salat
Ismail Lutan
Di daerah saya, minta hujan tidak dengan sholat, tidak dengan teknologi. Orang pintar di kampung cukup bakar cabe tujuh biji, dimantrai, digarami, kemudian di lempar ke atap. Dibiarkan di situ sampai hujan turun!
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
TEKNOLOGI MAKIN CANGGIH, HUJAN MAKIN SULIT.. Ada paradoks yang menarik. Manusia sudah bisa mengirim satelit ke luar angkasa, membaca awan dari ribuan kilometer, bahkan menaburkan partikel ke atmosfer. Tetapi untuk membuat hujan turun tepat di tempat yang kita mau, kita masih seperti tamu yang menunggu tuan rumah membuka pintu. Teknologi modifikasi cuaca memang hebat. Tetapi kehebatannya punya catatan kaki: harus ada awan yang tepat, kelembapan yang cukup, dan kondisi atmosfer yang mendukung. Jadi teknologi belum bisa memerintah langit. Ia baru bisa membujuknya. Di sinilah paradoksnya. Semakin maju teknologi, semakin jelas pula batas kemampuan manusia. Dulu manusia tidak tahu mengapa hujan turun. Sekarang manusia tahu banyak tentang prosesnya. Tetapi mengetahui mekanisme tidak otomatis berarti mampu mengendalikannya. Kita bahkan sudah punya pesawat untuk menyemai awan. Yang belum punya adalah tombol “hujan sekarang”. Mungkin memang begitu hukum alam. Ilmu pengetahuan membuat manusia semakin pintar membaca langit, tetapi sekaligus semakin sadar bahwa langit bukan milik manusia. Teknologi bisa mengetuk pintu awan. Yang membuka tetap bukan kita.
Sulaspin
Di dunia ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua ada campur tangan Tuhan. Sehebat apapun kemampuan manusia. Secanggih apapun teknologi. Tetap ada batasnya. Semua hal yang terjadi di muka bumi adalah kehendaknya. Tak ada kekuatan dan upadaya, kecuali dari Alloh Tuhan maha kuasa. Manusia berikhtiar semaksimal mungkin. Dibarengi dengan doa yang tulus. Selebihnya kita pasrah dan tawakal pada Tuhan. Alloh yang akan mengira-ngira dan memberikan jalan penyelesaian.
riansyah harun
DOA dan TEKNOLOGI Mana lebih cepat terealisasi, doa atau teknologi...??? Jika doa dipanjatkan, itu adalah permohonan yang bisa dikabulkan ataupun tidak. Jika teknologi dikembangkan, itu adalah kemajuan ilmu yang bisa terlihat didepan mata, walaupun butuh waktu lama, apalagi jika ogah ogahan dalam mengembangkannya. Belum lagi kalau ada tangan nakal sampai "terhambat". Apa mobil listrik waktu itu juga karena terhambat..??? Hanya Tuhan dan Pak Dahlan yang tahu. Mana yang akan dipilih...??? Doa atau Teknologi..?? Tapi kalau Doa dan Teknologi saling berdampingan, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa bisa lebih cepat merealisasikannya.
riansyah harun
Saat ini santer tersebar, kalau PT PLN Wilayah Sulsel, Sultra, dan Sulteng yang jaringannya sudah saling terkoneksi, mengalami megap megap. Mulai ada pemadaman bergilir. Terinformasi, itu diakibatkan karena pembangkit listriknya yang menggunakan Turbin Air, mulai terhambat karena bahan baku airnya sebagai pembangkit Turbinnya, sudah mulai berkurang jauh. Mau pindahkan Genset besar yang sudah mulai nganggur di beberapa tempat, rasanya sudah tidak mungkin lagi. Karena semua butuh genset yang ber BBM Solar. Apalagi Genset yang berbahan bakar batu bara, yang tidak mudah atau malah tidak mungkin, untuk bisa di pindah pindahkan. Sebagai mantan petinggi PLN dan menjadi sesuatu dalam menaungi PLN, apa Pak Dahlan ada jalan keluar...??? Yang jelas bagi yang punya instink bisnis, segeralah beli genset mobile yang bisa di sewa sewakan. Uppsss, apa harus pakai Solar nosubsidi yang harganya selangit itu..?? Tapi kalau yang namanya listrik padam, emosipun bisa tidak stabil. Dan paling gampan
Irary Sadar
Kenyataannya memang begitu. Negara Londo Ireng ini memang tidak punya uang. Tapi gayanya minta ampun. Persis MBG, Miskin Banyak Gaya, tulis salah satu perusuh. Hutang menumpuk. Korupsi merajaleman, meratulela. Proyek besar tanpa skala prioritas. Boss CEO MBG-nya tak tau mau kerja apa, tanpa rencana. Hari ini pidato pengen proyek ini, eh besok pidato ganti pengen proyek itu. Macam banyak duit saja..! giliran Bank Dunia memberi skor sebagai negara berkembang termiskin, sontak pejabat negara Londo Ireng protes. Tidak terima, dengan alasan Bank Dunia tidak singkron dengan data BPS, hahaha... Amsiong...
DeniK
Dahulu kala pernah kuli di salah satu tambang nikel terbesar di Sulawesi . Kalau musim kemarau perusahaan akan sewa pawang hujan modern . Pesawat yang di gunakan berukuran kecil hanya satu pilot . Tidak bawa berton ton garam . Tapi sangat manjur kalau pesawat tersebut sudah mengudara tak lama kemudian hujan pun turun .entah teknologi apa yg di pakai pesawat mengeluarkan suara dentuman seperti petir di udara .perusahaan sangat menjaga air danau hrs tetap penuh krn di pakai untuk pembangkit listrik pemasok daya pabrik .
Taufik Hidayat
Hujan buatan . Jadi ingat ketika kerja di IPTN sekitar 40 tahun lalu, salah satu produksi pesawat adalah CASA 212 versi rainmaking. Yaitu pesawat yang khusus untuk membuat hujan buatan. Dan ketika sudah selesai diproduksi maka pesawat akan mendapat registrasi PK-X.. pakai X karena masih harus diujicoba termasuk yang versi rain making ini. Sementara untuk helikopter ada juga BK 117 , BK ini Bolkow Kawasaki versi Resque Hoist, yg dilengkapi kerekan untuk operasi penyelamatan. Nah ketika dipasang juga harus uji coba. Ujicobanya di Tangkuban Perahu. Keunikan pesawat CASA adalah wartawan yg suka salah tulis CASSA. Casa ini singkatan Construcciones Aeronáuticas S.A. S.A adalah singkatan dalam Bhs Spanyol untuk sociedad anónima yang artinya PT. Jadi semua perusaan di Spanyol Yang PT akhirannya pakai S.A, He he
Hasyim Muhammad Abdul Haq
-SALAT ISTISQA TANPA IKHTIAR- Disadari atau tidak, fenomena salat Istisqa itu bagian dari fakta bahwa kebanyakan umat Islam tidak bisa memilah mana urusan vertikal dan mana urusan horisontal. Minta hujan itu urusan horisontal karena itu urusan dunia. Dan ketika teknologi sudah berkembang, ada ikhtiar yang wajib dilakukan sebelum berdoa. Doa itu bersifat "meningkatkan peluang". Boleh dilakukan, namun tidak boleh meninggalkan ikhtiar. Beda dengan dulu yang tak bisa mendatangkan hujan, sekarang teknologi sudah bisa membuat hujan buatan dengan rekayasa cuaca. Maka melakukan salat Istisqa tanpa melakukan rekayasa cuaca sesuai itu namanya berdoa tanpa ikhtiar. Dulu tidak masalah salat Istisqa tanpa ikhtiar karena memang tidak tahu bagaimana ikhtiar mendatangkan hujan. Tapi kalau sekarang, salat Istisqa tanpa merekayasa cuaca itu jadi terlihat konyol. Sama persis seperti orang jawa tinggal di Mojokerto lalu berdoa agar menguasai bahasa Jerman tanpa melakukan kursus ataupun pindah hidup dengan orang Jerman. Dunia berkembang, beragama pun harus mengikuti zaman. Di zaman dulu, sakit gigi pun ada doanya. Tapi sekarang, jika ada orang sakit gigi karena giginya berlobang lalu hanya berdoa tanpa pergi ke dokter gigi, itu jelas seperti orang bodoh. Bagi saya, doa itu wajib didahului dengan ikhtiar. Jika jalan ikhtiar sudah ada, maka hanya orang bodoh yang berdoa tanpa ikhtiar. Termasuk yang melakukan salat Istisqa.
Sadewa 19
Suatu hari seorang Ayah mengajak keluarga nya ke Mall. Seperti akhir pekan biasanya, Mall Pasific Place itu selalu penuh. "Nak, ayok kita berdo'a agar dimudahkan dapat parkiran. Kayaknya mall nya lagi rame ramenya nih". Pinta sang Ayah pada anak anak nya. Mereka pun berdo'a "Ya Tuhan...mudahkanlah kami untuk dapat parkiran di mall ini, Amiin". Sang Ayah, melanjutkan kemudinya untuk mencari parkiran kosong. P1 full, P2 full dan seterusnya sampai P5 full. Hari itu semuanya full. Mereka semakin panik, sudah berdo'a dan berusaha namun belum juga nemu space yg kosong. Akhirnya Sang Ayah nyerah. "Ya sudah kita parkir Valet saja", mobil keluarga itupun turun ke lobby menuju Valet Services. Anak anak nya pun komplaint. "Ayah kenapa nggak dari tadi kita parkir Valet ? Kan pasti dapat dan nggak perlu capek berdo'a dan muter-muter sampai P5 ?, kata mereka. Dalam kondisi capek, sang Ayah memilih diam. Petugas parkir di Lobby kemudian menghampiri. "Mau pakai Valet pak ? Wah bapak beruntung sekali, tinggal satu yg kosong". Kata petugas parkir itu. "Alhamdulillah", kata anak anak kompakan. "Itulah nak, dijaman ini mungkin hampir semua masalah bisa diselesaikan dengan uang, Namun tetap ada faktor x, diluar kuasa manusia, sehingga kita tetap tidak boleh sombong, tetap berusaha maksimal dan berharap kepada Nya". Kata sang Ayah.
mario handoko
selamat pagi sobat tivi, sobat siroi, ka echa, sobat wilwa. sejarah perkembangan pengetahuan manusia berturut turut adalah tahap metafisika, tahap filsafat kemudian lanjut tahap ilmu pengetahuan. membaca chd hari ini. benarkah akibat dari dompet yg hanya terisi 5 lembar 2 ribuan. bisa mengakibatkan orang tidak bisa beranjak dari tahap metafisika?
Beny Arifin
Di jaman Nabi, sholat Istisqa ini dibayarnya kontan, selesai sholat hujan langsung turun. Di sini sudah beberapa hari sejak sholat dilakukan, hujan tidak kunjung turun. Di jaman Nabi juga, orang sholat Istisqa karena kekeringan panjang yang mengancam pertanian. Makanya dikabulkan. Tuhan juga paham apa penyebab Karhutla.
Echa Yeni
Kata2(bagian) yg mana yg menyatakan doa wajib didahului ikhtiar..?,yg jelas Tuhan selain maha mengabulkan doa juga maha adil. Dia yg sungguh2,iA dia yg dapat. Kalo sakit gigi ya ke dokter or minimal beli obat skt gi2. Justru berobat ke dokter/beli obat itu_termasuk_doa yg pertamak x.baru berserah
Four Birds
doa wajib didahului iktiar?? waduh, ga kebalik kah.. Kalo nanti semua ikhtiarnya gagal baru menyerahkan kepada Tuhan, seolah Tuhan dijadikan sandaran akhir, padahal DIA yg utama. memang banyak yg kurang yakin, untuk menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan, karena merasa was2 "beneran ga ya Tuhan bisa diserahi?" ini karena tuhan ga kelihatan mata mereka dan tindakan2 Tuhan tidak mereka lihat/rasakan langsung. padahal siapa saja yg menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan, pasti tidak akan kecewa. hati aman, tenang, santai, enjoy.. wes enak tenan
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Doa itu "hanya" meningkatkan peluang terjadinya sesuatu. Kalau kita sudah tahu jalan ikhtiarnya, lalu kita berdoa tanpa melakukan ikhtiar, itu hanyalah sebuah kebodohan. Termasuk mendirikan salat Istisqa tanpa melakukan rekayasa cuaca. Kalau saya sih malu sama China. #islammasadepan nggak seperti itu.
Jokosp Sp
Itulah aktual yang terjadi. Daerah penghasil batu bara cuma dapat debu dan kekeringannya saja. Musim kemarau malah tidak bisa bertani padi sama sekali. Air tambang hanya dibuang ke sungai besarnya tanpa masuk ke irigasi yang memang tidak disiapkan oleh negaranya. Bukankah air asam tambang bisa dikelola menjadi air yang bermanfaat untuk pertanian?. Jadi petani ya hanya menunggu hujan dari langit Tuhanya untuk bertani padi dan memadamkan kebakaran. Di mana para petinggi negara saat ini?. Di mana mereka punya konstribusi memikirkan dan memberikan solusinya?. Sepertinya masih asik pada tidur dan menikmati gajinya yang tiap bulan tidak pernah berkurang, karena memang tidak ada KPI yang harus dievaluasi oleh presidennya sebagai bentuk tanggung jawabnya atas gaji yang diterima dari pajak rakyat. Belum apa-apa malah sudah pada sibuk untuk 2029, ambyar negara dikelola oleh orang-orang yang tidak amanah ini.
Ahmad 9389
Kebutuhan MBG 229 T dan KDMP 240 T pertahun. Bila per hari 2 T untuk hujan buatan, maka 234,5 hari turun hujan. Dan fakta dilapangan daerah Kalimantan penghasil batubara terbesar, bila terjadi hujan selama 10 hari mereka akan merugi disebabkan nilai kalori menurun, pengiriman semakin berat dan resiko self-burn. Di sektor kesehatan tentu di untungkan, obat dan nakes semakin laku keras.di media informasi semakin naik oplah dan trafik data juga semakin tinggi. Mungkin kapitalis memilih lahan yang dibakar karena membuat tanah lebih subur dan membuka peluang cuan lebih besar disektor lainnya. Oh ya, karena kapitalis sudah cuan maka pastinya mereka akan dermawan dengan memberikan CSR 1-3 persen dari laba bersih perseroan. Itupun kalau disetujui RUPS dan dapat bonus foto "mejeng" di media informasi sebaai iklan yang dermawan.
Bahtiar HS
Potensi kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia diperkirakan Rp39,29 T hingga Rp123,1 T. Ini hsl riset terbaru dari Center for Economic and Law Studies (CELIOS). Lha kalau ruginya sdh diperkirakan segitu besar, kenapa ya tidak dilakukan rekayasa hujan dengan "hanya" Rp 2 T saja? Apalagi kejadian karhutla ini sdh berulang hampir tiap tahun. Rutin. Th 2015 rugi Rp 284T. Thn 2019 rugi Rp 75T. Potensi kerugian tertinggi karhutla 2026 di atas setara dg 50% PDRB Kalteng, yg menunjukkan seberapa besar dampak merusaknya bagi Kalimantan. Sdh masuk extra ordinary case bagi Indonesia. Mestinya tindakannya juga extra ordinary. Jika masalah yg sama diselesaikan tidak dengan cara berbeda, maka jgn harap bs mendptkan hasil yg berbeda.
dm ikan
Adakah teknologi untuk membuat hujan duit buatan? Mungkin teknologi ini perlu dikuasai lebih dulu sebelum implementasi teknologi hujan buatan....
Muh Nursalim
Gus Baha ndak mau shalat istisqa. Alasannya logis banget. Kalau setelah shalat ndak ada hujan. Semua orang akan mencibir "ternyata karomahnya gur baha ndak gitu-gitu amat". alasan kedua, hujan ndak hujan itu Allah yang nentukan. Kalau manusia ndak mau terima kemarau panjang, itu sudah cukup menyebutnya tidak bisa menerima taqdir.
Muh Nursalim
Iran marah besar ke UEA. Bukan hanya karena jadi opengakalan AS. tetapi jatah hujan yang mestinya turun di wilayah iran diserobot UEA. Ini berarti, bahan baku hujan itu ndak bisa dibuat. Hanya bisa direkayasa untyuk dipindahkan. BUktinya itu tadi. Gara2 UEA sering buat hujan buatan wilayah lain kekeringan. Ini kejahatan yang luar biasa berbasis teknologi.
Lukman Nugroho
Harapan saya, CHDI hari ini tidak membuat gaduh. Sebab komentar pilihan soal Ahli Uang, malah dipenuhi dengan perdebatan soal penulisan kata Arab yang di Indonesiakan. Membahasa tentang mana yang tepat. Miftakhul Akhyar atau Miftachul Ahyar. Muhammadiyah atau Muhammadiyyah. InsyaAllah atau in sha Allah. Lagian, Tuhan Yang Maha Baik tahu sekali. Jika yang dimaksud ya itu. Ini sama saja meributkan ayam berkokok. Kukuruyuk atau kongkarongkong. Jika sudah begini. Pilihan terbaik kan, ayo kita tanya ke ayamnya saja. Lha malah dadi edan.
Prieyanto
Budaya / tradisi seni tiban. Ketika terjadi kemarau panjang, masyarakat tidak hanya menganggapnya sebagai gejala alam, tetapi juga sebagai tanda terganggunya harmoni antara manusia dan alam semesta. Jejak kepercayaan masyarakat Jawa pra-modern, ada ritual yang menjadi sarana untuk memulihkan keseimbangan tersebut. Tradisi Tiban muncul dalam lingkungan masyarakat pertanian yang sangat bergantung pada siklus musim. Ketika kemarau panjang datang dan sumber air mulai mengering, masyarakat mencari berbagai bentuk ikhtiar kolektif untuk memohon turunnya hujan. Karena itu, Tiban hampir selalu diselenggarakan pada masa kekeringan. Secara etimologis, kata"Tiban" berasal dari bahasa Jawa"tiba" yang berarti "jatuh". Maknanya dikaitkan dengan harapan agar hujan segera "jatuh" dari langit membasahi bumi yang kering. Sumber : wikipedia. Secara historis, Tiban lahir dari kehidupan masyarakat agraris Jawa Timur yang sangat bergantung pada hujan dan berkembang dari perpaduan tradisi, mitos, serta spiritualitas lokal. Secara filosofis, Tiban bukan sekadar adu cambuk, melainkan simbol pengorbanan, permohonan kepada Tuhan, upaya menjaga keseimbangan alam, keberanian menghadapi penderitaan, dan penguatan solidaritas masyarakat. #prie
Liam Then
Pontianak di tahun-tahun lalu, kemarau tak pernah sepanjang tahun ini, bahkan pada puncak-puncak nya kemarau masih saja turun hujan lebat setidaknya seminggu sekali. Sepertinya 3-4 tahun tak terserang bencana kabut asap, bikin lengah, sehingga tidak ada upaya antisipasi yang memadai. Sekarang hanya bisa berharap dan menunggu hujan. Lihat video api kebakaran lahan di Ketapang, sudah seperti melihat neraka di atas bumi. Saya kira petugas pemadam yang dikerahkan ke lapangan untuk menangani api, khusus tahun ini perlu diberi upah X 3, melihat beratnya pekerjaan mereka.
Siswanto Elha
2 Triliun daripada dibuat hujan buatan lebih baik dibelikan mie ayam dapat 200jt mangkok, Rakyat kenyang UMKM penjual mie, saos, cabe juga senang
Murid SD Inpres
berhubung di bawah ada yang kepanasan mendapat koreksi soal kaidah transliterasi bahasa Arab Indonesia, sekalian hari ini saya bakar CHDI. ada satu perusuh senior CHD yang konsisten menulis "h" menjadi "ch". al fatihah menjadi al fatichah. oke. mari kita lihat bagaimana dampaknya jika model kekeliruan transliterasi seperti itu kita terapkan secara luas. 1. pernikahan, menjadi pernikachan. are you serious? 2. pak haji, berubah menjadi pak chaji. wtf! 3. RSHS - Rumah Sakit Hasan Sadikin, berubah menjadi RSCS - Rumach Sakit Chasan Sadikin. duh, please... 4. Catatan Harian Dahlan (CHD) berubah menjadi Catatan Charian Dachlan (CCD). wis mbuh lah...
Isya Mahfud
Anehnya, atau lebih tepat, lucunya. Shalat istisqa' selalu dilakukan padah akhir musim kemarau atau menjelang datangnya musim hujan. Hampir tidak ada yg dilakukan pada awal musim kemarau.
Dacoll Bns
Menarik artikel pak Dahlan kali ini, seolah-olah doa (atau gamblangnya Tuhan) kalah dengan teknologi. Tapi kalau kita cermati pak Dahlan juga menuliskan asal usul bagaimana 'merekayasa' (bukan membuat atau mencipta) hujan ditemukan manusia. Merekayasa karena hujan ini masih membutuhkan awan sebagai bahan dasarnya , manusia saya yakin tidak mampu membuatnya. Bahan untuk merekayasa pun, Perak Iodida, ternyata bukan asli dari bumi ini tapi berasal dari batuan kosmik luar angkasa. Pada tahap ini mungkin manusia memang mampu merekayasa turunnya hujan tapi tetap bahan dasarnya harus ada terlebih dahulu, lalu apakah bahan dasar ini ujug2 muncul dan tercipta tanpa sebab dan akibat serta alasan ?? Selama ini kita selalu menggunakan logika sebisa mungkin , manusia pun dengan ilmu nya bisa menjawab pertanyaan how tapi saat ditanya why saya yakin tidak ada yg akan bisa menjawabnya. Bahan dasar yang tiba muncul di bumi ini , hownya pasti bisa dijawab tapi why ? Apakah whynya sekedar kebetulan juga ? Bagaimana kalau bahan dasar ini kelak habis samasekali tidak tersisa??.... Pertanyaan -pertanyaan ini sebagai manusia harus terus muncul agar kita sadar ada sesuatu yg di luar logika pengetahuan kita , bukan untuk berhenti bertanya dan mencari, tapi untuk tetap humble karena apapun yang kita ketahui saat ini, ternyata masih lebih banyak yang tidak kita ketahui. Karena kesombongan hanya akan menghancurkan baik diri maupun dunia ini.. Wallahualam...
Pak De Kumis
Hanya itu yang Ulama dan Umat bisa lakukan. Sembahyang minta hujan. Mereka tidak salah. Yang jadi masaalah bila yang mengajak kita untuk sembahyang minta hujan adalah BRIN. Bisa berabe kita, gudangnya ilmuwan malah mengajak kita kembali ke jaman batu. Tapi kalau BRIN diperintahkan oleh ketua dewan pembinanya, memang berani menolak?
Mpok Dipa
Dalam perjalanan hidup saya, pernah juga saya ngga mengandalkan Tuhan. Saya lupa berapa kali, tapi bukan berarti saya melanggar aturan Tuhan sesuau agama saya ya. Lebih ke bentuk kayak pasrah aja gitu, sambil bilang "Ya udah sih, emang Tuhan lagi ngga pengen bantu aku. Berarti ya akunya yang harus berpikir dan bekerja keras ngandalin diriku sendiri aja dulu". Jatuhnya akhirnya ya pasrah aja, sudah berdoa tapi ga datang² bantuan dari yg punya hidup, kalau ngga ngandelin diri sendiri mau ngandelin siapa lagi?. Eeehhh malah dengan sendirinya tuh ujian hidup lewat aja, selesai dengan sendirinya karena saya mikir keras kerja keras he he he. Tapi karena namanya orang beragama, balik lagi nih pikiran "Oh ternyata, Tuhan itu mau bantu selesaikan masalah dengan cara saya di suruh mikir dan kerja keras" ha ha ha ha gubraaakkk.... kata teman saya, "Orang kalau mabuk agama ya emang gitu"
Jokosp Sp
Yang baju coklat coba mentrendingkan penggunaan cairan umbi yang disuntikkan ke gambut. Memang lahan yang kebakar cuma 1 x 1 meter?. Itu pertanyaan dari yang lihat demonya. Ketika yang kebakar ribuan hektar, bagaimana cara menyuntikkan ke ribuan titik api besar di lahan gambut itu?. Ada berapa juta alat suntik yang diaplikasikan ke kebakaran itu?. Apakah ada alat suntiknya saat ini?. Semua pada bengong, dan akhirnya bubar. Yang begini ini masih terjadi di zaman tekhnologi canggih, tetapi ternyata otak manusianya tidak ikut berkembang.
Juve Zhang
Diberi hujan lebat longsor sangat besar di Sumut Aceh korban banyak....tak tahu solusinya tak ada uang tak ada ahlinya....dikasih kemarau hutan dibakar atau terbakar tak tahu solusinya gak ada uang gak ada ahlinya....diberi gempa Flores 7,7 skala Richter tak tahu solusinya gak ada uang gak ada ahlinya..... begitu lah melihat satu peristiwa besar ke peristiwa besar lainnya.....rakyat bengong paling bisik bisik....dari merdeka sampai sekarang kita ini gak ada uang gak ada ahlinya gak ada solusinya.....bisik bisik kampus banyak bertebaran.....pun tak tahu cara buat hujan buatan yg kata Don Dahlan Iskan sudah banyak ahlinya di Tiongkok pake zat kimia khusus...... ahlinya ahli korupsi kita banyak....sayang ahlinya ahli hujan buatan belum ada....ahlinya ahli kong kali kong banyak....ahlinya bacot sana bacot sini banyak.... begitu lah perjalanan sebuah bangsa ....bangsa lain tahu tapi tak turun tangan....bangsa lain pun segan urusan sama 6000 titik api yg menyebar ribuan hektare....bangsa lain tahu 2 triliun belum tentu ada hasilnya....bangsa lain tahu kalaupun ditawarin zat kimia yg habis 2 triliun belum tentu dibayar .... karyawan PT Pos saja gak dibayar .....bangsa lain tahu diam artinya emas ...gak usah ditawarin ini itu gak usah diberitahukan ini itu toh mereka sudah nonton kebakaran ini sejak zaman Majapahit dulu....sejak sawit jadi primadona....jadi bangsa lain pun pura pura memuji atau pura pura sibuk sendiri....mereka tahu penyakit kerajaan Singosari selalu cepat lupa .
ikhwan guru sejarah
Waktu saya SD kelas 1, pernah terjadi kemarau sangat panjang. Atas prakasa Muhammadiyah, di Jogja diadakan sholat Istisqa di Masjod Gede Kauman. Imamnya Pak AR Fakhrudin, ketua PP Muhammadiyah saat itu. Pagi istisqa, siang hari awan hitam bergulung dari selatan. Hujan deras mengguyur Jogja. Ibu saya bilang. “Kuwi..percoyo ora karo GustiAllah”. Saya percaya dengan Kewalian Pak AR. Jaman itu, masih banyak waliyullah di Indonesia. Sekarang? Uang lebih menarik rupanya…
Murid SD Inpres
kalau pakai waterbombing, perlu setidaknya 1% dari total air DAM Jatiluhur, kira kira 57,6 juta meter kubik, untuk dihujankan ke 58 ribu hektar wilayah Kalimantan yang terbakar, itu pun total biayanya mencapai Rp763 triliun, itu pun prosesnya mustahil kalau cuma andalkan helikopter, itu pun api di bawah gambutnya tetap tidak akan padam. perlu hujan deras terus menerus selama 3 bulan. mau tidak mau, hanya bisa pasrah menunggu berkah hujan lebat di November 2026.
Asep Sumpena
Perak Iodida adalah sebuah persenyawaan kimia antara kation perak dan anion iodium. Bukan sebuah campuran perak dengan iodium. Mungkin kalimat umum yang tepat adalah sebuah senyawa gabungan dari perak dan iodium.
Murid SD Inpres
di kitab hadits shahih bukhari, diriwayatkan khalifah umar bin khattab meminta hujan dengan tawasul / perantaraan abbas bin abdil muthallib paman nabi muhammad, dan kemudian hujan pun turun. mungkin umat islam indonesia dari berbagai organisasi perlu mencari sosok sosok yang dikenal shalih dan doanya maqbul agar memintakan hujan supaya hujan benar benar turun.
Net Plus 62
Yang INDONESIA tidak punya adalah uang. Bikin hujan buatan itu mahal sekali, Untuk bisa bikin hujan yang mampu memadamkan kebakaran hutan di Kalbar bisa habis Rp.2 Trilyun. Tapi punya uang untuk MBG sampai Ratusan Trilyun. He He He.... Koq bisa dibilang gak punya uang... piyo toh iki...
Aditiya Aditiya
Jadi teringat saat saya masih menjadi sesuatu. *ups.* Kala itu, saat cahaya matahari masih selembut sore, di sebuah warung besi di pinggiran Kota Malang, seorang warga Fuzhou-Fujian bercanda, dalam bahasa Indonesia: "Jangan kuwatil, Tuhan tak akan maalah. di Chaina ada istilah: saat Tuhan tutup satu jalan pintu, Dia pasti buka satu lubang jendela yang lain." 当上帝为你关了一扇门,祂同时会帮你开一扇窗 °°° warga China mungkin tidak cemas bakal dimarahi Tuhan: alih-alih (hanya) salat dan berdoa memohon hujan, mereka malah memilih belajar gimana cara merangsang hujan buatan.
Fauzan Samsuri
Antara Hujan dan Tuhan Kalau ada pernyataan ilmuwan tidak mengenal istilah "hujan turun dari langit" - karena di langit tidak ada benih-benih hujan, nampaknya ini kontradiktif dengan pernyataan ilmuwan kian ahli mengetahui kapan akan hujan dan seberapa lebat dan daerah mana yang akan hujan, justru ilmuwan bisa mengetahui kapan dan dimana kerena telah nampak benih-benihnya sehingga pantas kalau ada ungkapan "teknologi tidak benar-benar menciptakan hujan dari langit kosong" artinya teknologi hujan buatan memang ada tapi bukan teknologi yang menjamin terjadinya hujan, bahkan istilah "hujan buatan" itu sendiri agak menyesatkan, yang lebih tepat adalah hujan yang dipicu atau ditingkatkan melalui modifikasi awan atau cuaca karena benihnya itu memang ada. Kalau sudah sampai titik ini nampaknya Tiongkok juga tidak bisa menyerahkan problem kekeringannya hanya kepada diri mereka sendiri karena masih ada faktor alam, dalam bahasa kita tangan Tuhan. Kita sudah benar percaya pada Tuhan hanya mungkin ikhtiar saja yang masih kurang.
Ayuwa
Makanya Abah, dari hari pertama Karhutla itu saya udah mention2 influencer2, tokoh2 nasional yg punya IG, yg kira2 dipercaya netijen, saya usulkan mereka galang dana saja buat bikin hujan buatan, buat padamkan karhutla itu. Tapi ga ada yg notice. Sedih bgt udah sampe hari kesekian belum juga ada tanda2. Kemarenan sempet liat video pendek pilot yg sedang dalam tugas bikin hujan buatan, udah senang tadinya, tapi ternyata ga lama hujannya. Malah saya dimaki netijen, katanya hujan buatan tetep gabisa dibuat kalo ga ada awan. Entahlah
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 191
Silahkan login untuk berkomentar