Ahli Uang

Ahli Uang

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031.-Dok/Disway.id-

Ahlul, ahli, artinya orang yang punya kemampuan lebih.

Halli, hal, masalah, mengurai masalah.

Wal, wa, berarti ''dan''.

Aqdi, akad, pengikat, putusan.

Maka Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA) punya makna: orang-orang yang punya keahlian menguraikan masalah rumit ''dan'' punya keahlian mengikatkan yang terberai lalu mampu membuat keputusan yang berkualitas dan bisa diterima semua pihak.

Apakah sembilan orang AHWA di Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, sudah seperti itu? Anda sudah tahu. Saya belum tahu.

Harusnya seperti itu. Mereka adalah pengambil keputusan ini: siapa yang harus menjadi pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama dengan jabatan yang disebut rais aam. Siapa pula yang menjadi ketua umum eksekutif tertinggi dalam NU --disebut dewan tanfidziyah.

Muktamar NU (大会) sudah memutuskan tidak pakai lagi demokrasi one man one vote. Keputusan diserahkan ke AHWA sembilan orang itu.

Mereka, semuanya kiai berbintang sembilan –jauh lebih banyak dari bintang yang dimiliki seorang jenderal. Bukan berarti tidak ada lagi kiai berbintang sembilan di luar mereka. Masih banyak. Hanya saja mereka tidak terpilih atau tidak mau tampil.

Yang memilih sembilan itu adalah ketua-ketua cabang NU se-Indonesia. Satu cabang mengusulkan lima nama kiai. Tentu terserah cabang: siapa yang diusulkan.

Kata ''terserah'' itu bisa berarti ''terserah siapa yang dianggap terbaik'', ''terserah siapa yang disenangi'', ''terserah siapa yang bisa mengambil hati'', atau ''terserah siapa yang membayar paling tinggi''. Membayar itu tidak harus dengan uang. Bisa juga dengan jabatan atau sejenisnya.

Maka ketika nama-nama yang diusulkan ditabulasi terkumpullah 34 nama –delapan di antaranya hanya mendapat satu suara.

Sembilan nama yang meraih suara terbanyak Anda sudah tahu: KH Nurul Huda Jazuli dari Kediri mendapat 485 suara. Di bawah itu ada KH Teuku Nuruzzahri Yahya dari Beureun, Aceh, dengan 477 suara. KH Dr Baharuddin HS dari Bone 392 suara. Urutan empat, KH Miftachul Akhyar dari Surabaya mendapat 350 suara.

Inilah yang membuat Anda terperanjat: ternyata KH Miftachul Akhyar yang terpilih sebagai rais aam. Berarti ini periode kedua. Berarti ayat la miftaha wa la yahya (Disway 28 Agustus 2026: La Hua) hanya populer tapi tidak banyak yang peduli.

Kenapa incumbent bisa terpilih lagi banyak versinya. Ada yang menyebut itu berkat rujuknya dua mantan ketua Gerakan Pemuda Ansor: Saifullah Yusuf dan Nusron Wahid. Dua-duanya menjabat menteri di kabinet Presiden Prabowo.

Awalnya dua orang itu punya misi sendiri-sendiri. Ups... Tiga orang. Satunya lagi: Muhaimin Iskandar, ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa. Juga menteri di kabinet Prabowo.

Terpilihnya Rais Am Miftachul Akhyar adalah hasil kompromi tiga musuh dalam satu selimut NU. Pun terpilihnya Gus Kikin sebagai ketua umum tanfidziyah.

Ketua umum harus atas persetujuan rais aam yang baru. Tidak mungkin Gus Yahya terpilih –meski ia termasuk dalam lima nama calon suara terbanyak yang diusulkan cabang-cabang.

Anda sudah tahu: Kiai Miftachul Akhyar, sebagai rais aam, memecat Gus Yahya sebagai ketua umum PBNU. Sejak itu konflik di PBNU menjadi sangat terbuka dan brutal: Gus Yahya melawan.

Jadi, bagaimana nomor urut empat bisa terpilih sebagai rais aam?

Sumber Disway berbeda versi. Setidaknya ada dua versi. Pertama, sama dengan Muktamar Lampung lima tahun lalu: peraih suara terbanyak tidak bersedia jadi rais aam.

Di Muktamar 35, KH Nurul Huda yang mendapat suara terbanyak: 485. Beliau justru merekomendasikan KH Said Aqil Siroj, mantan ketua umum PBNU, untuk menjadi rais aam.

Kiai Aqil Siroj sendiri termasuk dalam sembilan nama Ahwa: nomor urut 8, mendapat 273 suara.

Tapi hanya tiga orang dari sembilan AHWA yang mendukung Aqil Siroj. Satunya lagi adalah KH Anwar Manshur, Lirboyo, Kediri.

Versi kedua: KH Nurul Huda tidak mengundurkan diri. Tapi ketika pertemuan sembilan AHWA dimulai, KH Anwar Iskandar (Al Amien, kota Kediri) berbicara: mengusulkan KH Miftachul Akhyar menjadi rais aam. Yang lain diam atau setuju.

Di kultur kiai tidak ada yang mau menampakkan diri sebagai orang yang berambisi. Juga tidak ada yang mau mencalonkan dirinya sendiri.

Maka begitu Kiai Anwar Iskandar berbicara, yang lain tidak ada yang menyanggah. Kiai Anwar Iskandar, 76 tahun, memang berwibawa. Kiai Anwar Iskandar lebih ''bisa'' bicara dari kiai lainnya. Saya ingat beberapa tahun lalu, ketika Kiai Anwar Iskandar makan siang di rumah saya bersama beberapa kiai bintang sembilan Jatim lainnya: beliau yang ambil inisiatif mulai bicara.

Ketika KH Ma'ruf Amin mengundurkan diri sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar-lah yang menjabat ketua MUI yang baru. Waktu itu KH Ma'ruf Amin harus menjadi calon wakil presidennya Jokowi.

Di pemungutan suara AHWA sendiri KH Anwar Iskandar mendapat 326 suara (di nomor urut enam).

Tentang terpilihnya Gus Kikin sebagai ketua umum PBNU tidak ada pro-kontra. Perolehan suara di tingkat penjaringan pun yang terbanyak.

Terbanyak kedua adalah KH Zulfa Mustofa dari Banten. Lalu Nusron Wahid. Gus Rozin dari Pati. Juga ada Gus Salam dari Jombang. Masuk daftar juga Gus Saifullah ''Ipul'' Yusuf. Nusron dan Ipul gugur karena tidak boleh rangkap jabatan.

Nama lain yang juga gugur adalah Gus Yusuf dari Jateng: dianggap belum melewati ''masa idah'': belum setahun berhenti dari jabatan di PKB. Tapi, Gus Salam, yang pernah dipecat oleh PBNU dinyatakan lolos syarat administrasi. Mungkin karena Gus Salam melawan karena merasa tidak ada yang salah.

Tentang Gus Kikin, tahun lalu pun saya sudah yakin akan terpilih sebagai ketum PBNU. Waktu itu saya sedang di Beijing. Gus Kikin menghubungi saya. Bicara panjang. Sejak saat itulah saya tahu: beliau siap jadi ketua umum PBNU.

Sebagai pengusaha yang sukses, Gus Kikin akan lebih tahu bagaimana membuat uang dari tambang batu bara milik NU yang dihadiahkan oleh pemerintah Jokowi. Gus Kikin juga lebih sulit dimainkan. Apalagi Gus Kikin adalah kiai penerus di pesantren kakeknya, Tebuireng: KH Hasyim Asy'ari.

Sebagai cucu pendiri NU, tentu ia tahu tambang batu bara tidak boleh justru menghancurkan reputasi NU.

Uang bisa menaikkan reputasi –juga bisa menghancurkannya. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 31 Agustus 2026: Akal Sehat

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PERBANDINGAN CARA BARU PEMILIHAN KETUM NU, DENGAN SISTEM NOKEN DI PAPUA.. Sekilas, cara baru NU memilih ketua umum mengingatkan saya pada sistem noken di Papua. Sama-sama tidak memakai pola one man one vote secara langsung. Dalam sistem noken, suara masyarakat direpresentasikan melalui kesepakatan atau pilihan kolektif yang dipercayakan kepada pihak tertentu. Di NU, suara muktamirin diserahkan kepada para kiai yang dianggap lebih matang membaca kepentingan organisasi. Bedanya penting. Noken lebih merupakan mekanisme representasi berbasis komunitas. NU memilih representasi berbasis otoritas keulamaan. Dari sisi demokrasi, keduanya sama-sama meninggalkan demokrasi langsung. Tetapi itu belum otomatis berarti kurang demokratis. Bobot demokrasinya justru ditentukan oleh satu hal: seberapa bebas wakil mengambil keputusan. Kalau wakil bebas, mekanisme ini bisa menghasilkan keputusan yang lebih rasional. Kalau wakil sudah diarahkan, demokrasi berubah menjadi sekadar formalitas. Jadi persoalannya bukan berapa banyak tangan yang mengangkat suara. Melainkan apakah tangan itu benar-benar bebas. Noken bisa menjadi demokrasi berbasis komunitas. NU bisa menjadi demokrasi berbasis hikmah. Tetapi kalau keduanya bisa “dipesan”, namanya bukan demokrasi. Namanya voting dengan makelar.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KETIKA DEMOKRASI PERLU DIKURANGI "DOSISNYA".. Saya jadi ingat dokter. Obat yang baik pun ada dosisnya. Kebanyakan dosis bisa menjadi racun. Begitu juga demokrasi. One man one vote adalah obat demokrasi yang sangat terkenal. Tetapi kalau setiap suara dibawa dengan fanatisme, kepentingan, dan “titipan”, atau kena racun serangan fajar, obatnya bisa berubah menjadi efek samping. NU tampaknya sedang mencoba resep baru. Suara tidak langsung dilempar ke arena. Disaring dulu melalui para kiai. Mirip restoran. Dulu semua orang masuk dapur. Sekarang ada chef yang memastikan mana yang layak disajikan. Bedanya, chef NU tidak boleh menjadi koki pesanan. Di sinilah lucunya demokrasi. Kita sering mengira semakin banyak yang memilih, semakin demokratis hasilnya. Padahal kalau pemilihnya digerakkan remote control, jumlah 1.000 suara pun hanya menghasilkan satu kehendak. Secara ilmiah, ini soal kualitas agregasi keputusan. Bukan sekadar kuantitas suara. Jadi, mungkin NU bukan meninggalkan demokrasi. NU sedang melakukan upgrade. Dari demokrasi “siapa paling banyak suara” menuju demokrasi “siapa paling sehat pertimbangannya”. Kalau berhasil, partai politik boleh belajar. Kalau gagal, jangan-jangan nanti pemilu juga memakai Ahwa. Hanya saja, mencari sembilan kiai lebih mudah daripada mencari sembilan politisi yang mau tidak disetir.

Wilwa

@Liam. Coba simak youtube hampir 2 jam dari Profesor Richard Wolff mengenai sejarah (demokrasi) Amerika. Pembahasan Richard Wolff demikian lugas dan terus terang mengenai dinamika hubungan Inggris dan Amerika, atau Eropa dengan Amerika. Lalu bagaimana Amerika mengalami kemunduran karena tak bisa mengendalikan big capitalists mereka sendiri. Demokrasi dibajak oleh segelintir elit super rich. Yang memperkaya diri dan menyengsarakan rakyat. Kemudian media yang dikuasai elit mencari kambing hitam. Tiongkok jadi kambing hitamnya. Bagaimana Eropa dihasut Amerika memerangi Rusia. Rusia juga jadi kambing hitamnya. Itulah yang disebut pengalihan isu. Masalah utamanya adalah 1% rich people yang membajak demokrasi. Melobby Tax Cut. Mengurangi anggaran pendidikan dan kesehatan. Memperbesar anggaran militer. Demokrasi Amerika sudah rusak serusak-rusaknya. Dibahas pula mengenai Israel vs Iran. Bagaimana Amerika begitu bodohnya mau diperbudak Israel. Disinggung pula bagaimana elit EU menebarkan ketakutan terhadap Rusia yang sebenarnya bukan ancaman walau otoriter. Atau bagaimana Tiongkok yang otoriter bisa maju tanpa dibantu Marshall Plan tapi maju berkat kerja keras yang mandiri. Demokrasi hanya jadi isu dan senjata politik. Demi cuan segelintir elit gendheng (Trump salah satunya) yang bisa memicu Perang Dunia III. Simak youtube: Richard Wolff: China, Russia, Iran, and World War III. 12 Jul 2026.

Liam Then

Tulisan Pak DI hari ini bikin kepikiran ke demokrasi di negara-negara Barat. Sebenarnya berapa lama demokrasi dipraktikkan di sana untuk mencapai tahap kemakmuran dengan standar negara maju, setidaknya pada parameter infrastruktur dasar dan kesejahteraan umum? Dan, jika dibandingkan dengan praktik otoritarianisme, ada beberapa negara yang juga berhasil mengantarkan populasinya ke standar tersebut. Misalnya Taiwan dan Korsel, yang dulunya otoriter lalu baru pindah ke demokrasi setelah cukup maju. Atau Jepang pra-PD II—mereka saya anggap maju sebelum PD II karena industri dalam negerinya sudah mencapai tahap yang setara dengan negara Barat saat itu. Dan tentu saja, negara tetangga imut kita, Singapura. Yang paling anyar ,gede dan dahsyat tentu kita semua tahu, yaitu Tiongkok. Ndak tanggung-tanggung, 800jt manusia langsung diangkat dari level kemiskinan akut. Teknologi dikuasai, hampir di semua bidang. Bahkan belakangan ini jadi lebih unggul di beberapa sektor. Beberapa negara Teluk dan Timur Tengah tidak usah disebutkan lagi yang kaya otoriter semua, tidak ada demokrasinya. Turki apakah cukup maju? Standar hidup mereka cukup tinggi, tetapi mereka lama berada di bawah Mustafa Kemal Atatürk dan baru mengadopsi demokrasi pasca-Atatürk. jawabannya saya carikan ke AI. Ternyata, menurut AI, demokrasi mulai berbuah di barat, setelah di praktekan 150-200 tahun. Sementara untuk beberapa negara yang praktekan "otoritarian" di atas ternyata cuma butuh waktu 40-50 tahun.

rid kc

Kata kawan saya yang menang di muktamar NU kali ini adalah paket istana. Rois am Miftahul Ahyar dan ketum Gus kikin. Paket ini sudah diendus sejak awal oleh publik dan ternyata benar. 9 Ahwa itu 6 anggota MUI sementara yang 3 bukan anggota MUI. 3 yang bukan anggota MUI : kyai said, kyai Dah dan kyai anwar mansur. Dalam voting pemilihan rois am, 3 orang ini kalah lawan 6.

Alief Wikarta

Gambar ilustrasinya menarik, di dalam buku terselip semacam lembaran kertas lipat. Jadi ada coretan thd tulisan one man one vote. Serta sepertinya gak sengaja ada kertas lipat tsb ikut tergambar.

Momon Atun

Klw ada yg mendewa dewakan demokrasi ala barat berarti orang itu minim literasi.. Amerika saja gk pakai demokrasi -lihat kelakuan maduro, irak, iran. Di sana hanya ada 2 parpol, jika tidak suka 2 parpol itu anda tidak bisa bikin parpol yang ke 3. Ingris dr Indonesia masi jaman kerajaan sudah tidak demokrasi, belanda pun demikian.. Demokrasi di satu sisi baik tp di sisilain hanya menyisakan orang bodoh jd pemimpin, pemimpin bodoh memilih mentri bodoh, mentri bodoh memelihara rakyat tetap bodoh. Bayangkan suatu tempat (sebutlah konoha) ninja baik di sana 100 ninja, ninja jahat ada 300 orang diadakan Demokrasi dalam memilih pemimpin.. Anda sudah tahu 100ninja baik akan kalah suara.. Itu di konoha beda lahi klw di wakanda.. Anda sudah tahulah pokoknya wkwk

Jokosp Sp

Aktifitas sekolah tiga hari ke depan sementara diliburkan, ini update terbaru dinas pendidikan yabg kami terima di group orang tua murid. Dan bisa diperpanjang jika masih parah. Asap tebal, jarak pandang terbatas 100 meter. Kebakaran karhuta sudah jadi bagian normal musim panas bagi petani. Ladang sekali tanam dalam satu tahun inilah penyebabnya. Yang paling efisien dan praktis dengan cara tradisional memang cuma "bakar". Apakah petani salah?. Ya salah ketika ditangkap dan dinyakan bersalah sama polisi. Maka di ladang yang jauh di dalam dan tidak terjangkau aparat maka aman terus bakar-bakar. Solusi pemerintah untuk petani sepanjang tahun belum ada dan meluas ke seluruh area Kalimantan. Yang ada hanya ada kebakaran ada pemadam. Dan pemadaman terbaik adalah hujan deras dan dalam waktu yang panjang. Sesak nafas jadi hal yang normal. Dan importir masker panen raya lagi. Import dari China naik lagi. Tetap ada yang untung di suasana sulit dan sesusah apapun.

Muhammed Khurmen

ANDA SUDAH TAHU: 1. KH Miftahul Akhyar terpilih sebagai Rais Am secara mufakat 2. KH Asep Saifuddin tidak mungkin dan tidak berhak marah, karena marah itu adalah fail yang butuh maf'ul alias harus ada yang dimarahi, lha emang siapa yang akan dimarahi?! Kalau marah-marah sendiri tanpa ada yang dimarahi kan seperti orang gila.

Mbah Mars

Pada saat pengumuman dan penetapan KH. Miftahul Akhyar tidak terjadi tepuk tangan dan sorak riuh muktamirin. tidak ada juga sholawat badar suka cita seperti biasanya. Tepuk tangan yg hambar baru ada ketua sidang pleno mengkomando. Banyak pula muktamirin yg keluar ruang sidang dengan wajah murung. Rupanya, muktamar kali ini sukses dalam penyelenggaraan tetapi tidak sukses dalam hasil. Apa bedanya coba dengan sebelum muktamar kalau yg terpilih akhirnya orang yg sama dan dianggap sebagai pemimpin bermasalah. Intinya, muktamar tidak happy ending untuk semua. Jadi, potensi ketidakkompakan masih terbuka menganga pasca muktamar Jombang. Berbeda dengan muktamar Perusuh CHD yg pulang dengan rasa plong. Wajah cerah berbinar, apalagi yg pulang menenteng sepasang sepatu.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

"KH Nurul Huda tidak mungkin menyatakan menolak amanah itu. Bukan karena ambisius tapi demi penyelamatan NU. Kiai besar Jatim KH Asep Saifuddin Chalim akan sangat marah kalau sampai KH Nurul Huda tidak bersedia menjabat rais aam." Bahkan ketika CHDI hari ini di-posting, sebenarnya sudah ada kabar bahwa ternyata tebakan Abah di tulisan ini salah. Ternyata KH Nurul Huda tidak menjadi Rais Aam. Lalu apakah Kiai Asep benar akan marah?

Anonim Xwz

Jika kalian melihat aksi dorong di Tambak Beras kemarin, kalian akhirnya tahu? Ternyata bukan hanya trah Jokowi yang gila jabatan. Pak Miftah juga sangat terinspirasi. Tapi kenapa mereka gila jabatan?. Jawabannya, bukan hanya saham-saham perusahaan tambang. Untuk paham kenapa orang seperti mereka gila jabatan, kalian harus melihat berita hoaks yang di terbitkan oleh Disway beberapa hari lalu. Isi beritanya bukan hanya hoaks menurut saya? Tapi informasi menyesatkan di kalangan investor: seperti halnya Purbaya saat bilang "To The Moon" dan mempersilahkan Investor Asing (MSCI) profit taking antara (Januari-Mei). Bagaimana tidak, setelah berita akuisisi Hj Isam ke Bayan Resource muncul, mayoritas saham dari kedua grup mereka langsung jadi sasaran pergerakan bandar, di naik turunkan seenaknya dan meskipun pada akhirnya, yang tetap di goreng cuma saham (IDX:PACK). Sampai sekian aksi, setelah pers rilis, data resmi akuisisi belum muncul? Artinya apa, hoaks akuisisi, menyesatkan investor. Ini poin pentingnya? Kayu. Bukan hanya tambang. Dugaan saya, andaikan akuisisi terjadi, artinya Hj Isam punya sedikit pendapatan kayu dari tanah Papua dan itu harusnya sah, legal: halal. 1 hektare ada 30 kayu saja, 2 juta hektare panen 60 juta kayu. ~

Bahtiar HS

Memenangkan akal sehat seperti itulah yang masih sulit dilakukan di lingkungan partai politik di Indonesia. Rakyat sudah mulai muak dengan partai politik tapi belum tahu cara merombaknya ### Sebenarnya gampang cara merombak partai politik. Ada 2 aturan. Pertama. Jangan dipilih lagi di TPS, jangan datang di kampanyenya, jangan mau jadi kadernya, jangan mau jadi calegnya, jangan mau membantunya. Kedua. Kalau dia kasih amplop sblm coblosan, mau bangunkan fasilitas ini itu, bantuan ini itu, terima saja. Tapi balik ke aturan Pertama. Kalau semua orang lakukan itu, pasti boncos partai itu. Hanya saja di negeri Konoha, rakyat kebanyakan masih mau dua-duanya. Kalah sama bansos.

MULIYANTO KRISTA

AAMIIN.

Rahma Huda Putranto

Saya kader generasi ketiga di Muhammadiyah. Generasi pertama adalah simbah saya, kemudian bapak saya, dan turunlah ke saya. Melihat demokrasi one man one vote seperti saat ini, kami sering membayangkan. Mengapa praktik-praktik di negeri ini lebih "menyukai" one man one vote? Mengapa tidak pakai sistem formatur seperti di Muhammadiyah. Padahal mekanisme di Muhammadiyah ini sangat-sangat Pancasila-is. Kita menerapkan pengamalan Sila ke-4 Pancasila yang berbunyi "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan". Alhamdulillah, kini Muktamar NU menggunakan mekanisme baru yang mengedepankan permusyawaratan. Ketika dua sayap bangsa sudah menerapkan sistem permusyawaratan, ini jadi penanda, insyaallah negeri ini semakin siap menerapkan sila ke-4. Jayalah Indonesiaku.

Echa Yeni

Tenntu saza paqe akal. Tpi bwt akal"lan orr mengAkali. Mungkin lebih pas afaqah berarti selamaini gk pake akal sehat. Nah itulah yg saia sangsii..

Tivibox

"Memenangkan akal sehat di lingkungan partai politik Indonesia masih sulit. Rakyat sudah muak dengan partai politik tapi tak tahu cara merombaknya." "Suara Rakyat" yang diwakili Parpol bukan suara rakyat yang sesungguhnya. Itu lebih mencerminkan suara sekelompok orang di dalam parpol itu sendiri. Bertahun-tahun rakyat diajari memberikan suara dengan imbalan uang. Dan parpol berusaha tetap mempertahankan cara itu tanpa sedikitpun niat baik mendidik rakyat memilih dengan cara yang bermartabat.

alasroban

Selamat berkhidmah Gus Kikin, Meski kometar yang saya tulis di edisi "La Hua" tak terpilih, Namun harapan yang saya tuliskan itu menjadi kenyataan.

Hasan Soelaeman

Demokrasi Langsung (one man one vote) yang dipilih awal reformasi sebenarnya tidak sesuai dengan sila ke empat Pancasila (Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawartan/Perwakilan, atau Demokrasi Representasi) ... Jadi bila sekarang sebagian orang ingin menerapkan demokrasi representasi, sebetulnya itu kembali pada amanat Pancasila ...

Tivibox

..."ketua partai belum tentu jadi presiden tapi powernya bisa melebihi presiden.." sangat pas penggambaran om Juve ini. Tanpa restu ketua parpol, seseorang tak akan bisa jadi presiden (karena azas legal formalnya demikian) , maka baik-baiklah jaga hubungan sama ketua, bila perlu mahar dikit ndak apa2...tp ssttt...jangan bilang-bilang

Lukman Nugroho

Sangat, sangat setuju. Sudah saatnya, one man one vote tidak lagi dipakai untuk menentukan pemilihan. Coba kita bayangkan. Seperti halnya Muhammadiyah. Yang dalam proses penentuan ketua umum menggunakan formatur. Dan yang mendapat suara terbanyak, belum tentu menjadi ketua umumnya. Sebab warga sangat percaya pada formatur yang terpilih. Dan ini, tidak hanya di level pimpinan pusat. Tetapi di wilayah, daerah, cabang dan ranting juga begitu. Maka, kita ucapkan selamat datang. Ahlan wa sahlan wa marhaban. Perubahan baru model pemilihan dengan akal sehat sebagai kompasnya. Semoga, kian banyak masyarakat yang membaca CHDI. Sehingga, kian terdidik dan tercerahkan.

Tivibox

OOT.. Disway hari ini : sebuah jembatan gantung di Pengandaran ambruk saat diresmikan. Ada rekaman videonya juga, yang memperlihatkan detik-detik saat ambruknya jembatan. Dari video itu, kok itu seperti jembatan darurat, kelihatan ringkih. Sebaiknya diinvestigasi apa ada kesalahan konstruksi, atau yang tidak benar dalam proses pembangunannya. Untuk jembatan lalu lintas rakyat sebaiknya buat jembatan permanen dari beton atau baja. Supaya bisa dipakai dalam jangka waktu lama dan menjamin keselamatan yang melintas di atasnya. Seremonial peresmian seperti itu tidak terlalu penting jadi tidak perlu dilaksanakan. Disamping menghabiskan biaya, akan membuat malu bila kejadian seperti di Pengandaran menjadi viral. Ketahuan, bila pengerjaannya asal-asalan.

Lukman Nugroho

Jika saja, dalam proses pemilihan langsung kita bukan one man one vote. Tapi berdasarkan scoring misalnya. Para pembayar pajak jumlah tertentu, berhak atas 25 suara. Para guru besar, berhak atas 20 suara. Para dosen, guru dan orang-orang dengan skil tertentu bukan mendapat 1 suara. Kenapa harus di bedakan? Bobot suara itu bisa mengganti, 1 suara yang bisa dibeli dengan murah itu. Sehingga, akan ada harapan. Kualitas pemimpin bangsa ini, ditentukan oleh yang IQ nya tinggi. Bukan yang pinter berjoget. Begitu kutipan Gita Wiryawan suatu ketika.

Johannes Kitono

Terbang Paperless. Setiap kali naik pesawat selalu city check in dan print boarding pass. Pagi ini naik AA ke Kuching untuk MCU di BMC Kuching. Kali ini paperless tanpa print boarding pass. Bersama bro Hendro Property, dulu musuh di lapangan tenis di TA. Yang kalah bayar ngopi di Kopi Tiam. Bro Hendro shio Macan masih gagah kendati selisih 12 tahun dengan beta. Dan seumur hidup tak pernah MCU.Ingatan soal jalannya seperti Google map. Pernah juara 2 Tenis di Apart TA beda angka tipis dengan juara 1. Dan tanding ulang di hotel Hilton Kuching dan Hendro menang. Makan di Padang Kreta dekat hotel.Now, Hendro beralih golf dan beta pingpong di APK. Hari ini berdua bareng mau MCU di Kuching. Tentu tidak perlu taruhan. Apapun hasilnya harus terima. Tinggal perbaiki kekurangannya saja supaya bisa lebih awet hidup didunia. Selesai MCU bro Hendro langsung re Jakarta. Beta pulang kampung Sanggau naik taxi via Entikong.Then beta re Jakarta via Pontianak atau Kuching lagi. Kalau bandara Supadio Pontianak penuh asap dan penerbangan dibatalkan. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

Udin Salemo

jauuuhhhh sebelum diubah menjadi pemilihan langsung oleh rakyat, pemilihan kepala daerah itu melalui dprd berdasarkan uu no. 1 tahun 1957. jadi zaman now bupati, walikota dan gubernur sudah seharusnya dikembalikan ke dprd. fakta membuktikan pemilihan langsung itu lebih banyak menghasilkan pemimpin karbitan yang tak kompeten dan tak berkualitas. salut the smiling general.

WIRA

Abah, semoga pemilihan pemimpin negeri ini juga segera dengan akal sehat, disusun oleh orang-orang yang masih berakal sehat agar terpilih pun pemimpin yang sehat. one man one vote tak sesuai dengan identitas bangsa ini, menurut UUD 1945.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 15

  • djokoLodang
    djokoLodang
  • alasroban
    alasroban
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Tivibox
    Tivibox
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • ra tepak pol
    ra tepak pol