Jika makanan kemudian berada pada suhu yang memungkinkan bakteri berkembang biak, Staphylococcus aureus dapat menghasilkan toksin penyebab keracunan.
Yang perlu diperhatikan, proses pemanasan tidak selalu menyelesaikan persoalan.
CDC menjelaskan, memasak dapat membunuh bakteri Staphylococcus aureus, tetapi tidak menghancurkan toksin yang sudah terbentuk di dalam makanan.
Gejala keracunan Staph biasanya muncul secara cepat, sekitar 30 menit hingga delapan jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Gejalanya antara lain mual, muntah, kram perut, dan diare. CDC menyebut penyakit ini biasanya berlangsung singkat dan kasus berat tergolong jarang.
BACA JUGA:Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Sekolah, BGN: PJJ Diterapkan dan Operasional MBG Disesuaikan
Bacillus cereus, bakteri yang ditemukan pada nasi
Selain Staphylococcus aureus, hasil laboratorium juga menemukan Bacillus cereus pada sampel nasi dari sekolah.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa Bacillus cereus merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan keracunan makanan.
Bakteri ini dapat ditemukan pada berbagai jenis makanan, termasuk nasi, daging, saus, produk susu, ikan, pasta, kentang hingga sayuran.
Persoalan dapat muncul ketika makanan tidak dimasak atau disimpan dengan benar.
Contohnya, nasi matang yang terlalu lama berada di luar lemari pendingin dapat menjadi tempat berkembangnya Bacillus cereus. Bakteri tersebut kemudian dapat menghasilkan toksin.
Cleveland Clinic juga menjelaskan bahwa memanaskan atau menggoreng kembali makanan tidak selalu dapat membunuh bakteri maupun menghilangkan toksin yang telah terbentuk.
Keracunan Bacillus cereus umumnya menyebabkan sakit perut atau kram, mual, muntah, dan diare berair. Sebagian besar kasus dapat membaik dalam satu hingga dua hari.
Namun, bukan berarti bakteri tersebut selalu tidak berbahaya.
BACA JUGA:GAPEMBI Jambi Ingatkan Wacana MBG Berbasis Sekolah: Kapasitas Kantin Belum Tentu Siap
Bisa menyerang otak?
Bagian ini menjadi penting jika dikaitkan dengan kondisi Febiola.