Al-Hujurat di Tengah Industri Ghibah

Kamis 10-09-2026,10:17 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

BACA JUGA:Panggung yang Terlalu Lama: Penudaisme Maximus Jilid Kedua

Apalagi jika yang dibicarakan menyangkut kehormatan seseorang.

Islam memberikan perhatian besar terhadap kehormatan manusia. Karena itu, larangan ghibah dalam Al-Hujurat ayat 12 bukan sekadar larangan agar manusia tidak "bergosip".

Ia mengandung pesan yang jauh lebih dalam: jangan menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan kenikmatan sosial.

Ghibah bukan hanya soal benar atau salahnya informasi. Bahkan sesuatu yang benar tentang seseorang pun dapat menjadi ghibah apabila dibicarakan di belakangnya dalam bentuk yang tidak ia sukai.

Karena itu, persoalan moralnya bukan semata-mata apakah informasi tersebut benar, tetapi juga 'untuk apa informasi itu disebarkan dan bagaimana cara menyampaikannya'.

BACA JUGA:Panggung yang Terlalu Lama: Penudaisme Maximus Jilid Kedua

Dalam konteks perkara ijazah, pertanyaan moral tersebut menjadi relevan.

Jika memang terdapat dugaan pemalsuan, bukti semestinya diserahkan kepada institusi yang berwenang.

Jika ada bukti ilmiah, sampaikan secara terbuka melalui mekanisme hukum. Jika ada keberatan terhadap proses hukum, tempuh jalur hukum. Jika seseorang merasa dirugikan, gunakan hak hukumnya.

Tetapi apabila setiap persoalan selalu dibawa kembali ke ruang publik, diperdebatkan berulang-ulang, kemudian menjadi bahan siaran dan tontonan, kita patut bertanya: apakah kita sedang mendekati kebenaran atau justru semakin menjauh darinya?

Ada waktunya sebuah perdebatan harus berhenti.

Bukan karena kritik harus dibungkam. Bukan karena masyarakat tidak boleh bertanya. Tetapi karena setiap perkara membutuhkan ruang untuk diselesaikan.

BACA JUGA:Bohemian Rhapsody: Seni Menjadi Manusia

Sebuah masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang tidak pernah berbeda pendapat, melainkan masyarakat yang tahu 'kapan harus berbicara dan kapan harus menyerahkan perkara kepada mekanisme yang memang disediakan untuk menemukan kebenaran'.

Kita juga perlu menyadari bahwa orang-orang terpelajar memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar. Ketika seorang akademisi, ahli, atau tokoh publik berbicara di televisi, podcast, maupun YouTube, masyarakat cenderung memberikan bobot yang lebih besar terhadap ucapannya.

Kategori :

Terkait

Kamis 10-09-2026,10:17 WIB

Al-Hujurat di Tengah Industri Ghibah