Karena itu, semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin tinggi pula kehati-hatiannya dalam berbicara.
Ilmu pengetahuan seharusnya mengurangi prasangka, bukan memperbanyaknya. Pendidikan seharusnya membuat seseorang lebih teliti membedakan fakta dan dugaan, bukan membuatnya lebih piawai membungkus dugaan menjadi seolah-olah fakta.
Kita tidak sedang mengatakan bahwa perkara ijazah tidak boleh dibicarakan. Boleh. Bahkan masyarakat berhak mengetahui persoalan yang memiliki kepentingan publik.
BACA JUGA:Bangsa yang Memilih Berjalan Bersama
Tetapi jangan sampai 'hak publik untuk tahu berubah menjadi kebiasaan publik untuk menggunjing'.
Jangan sampai kamera menggantikan ruang pengadilan. Jangan sampai podcast menggantikan proses pembuktian. Jangan sampai mikrofon menjadi tempat menjatuhkan vonis. Dan jangan sampai jumlah penonton menjadi ukuran kebenaran.
Sebab pada akhirnya, sebuah perkara hukum tidak membutuhkan ribuan opini untuk selesai. Ia membutuhkan bukti, proses yang adil, dan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mungkin inilah hikmah yang bisa kita renungkan dari Al-Hujurat ayat 12. Ayat tersebut bukan hanya mengajarkan kita agar tidak bergosip tentang tetangga atau teman.
Ia juga mengajarkan 'etika ketika berbicara tentang kehormatan manusia'.
Kita boleh berbeda pendapat. Kita boleh kritis. Kita boleh mempertanyakan kekuasaan. Kita boleh meminta transparansi.
BACA JUGA:Penundaisme Maximus
Tetapi semua itu harus tetap berada dalam batas kehormatan manusia dan tanggung jawab terhadap kebenaran.
Sebab ada perbedaan antara 'membicarakan sebuah perkara untuk menemukan kebenaran' dengan' membicarakan seseorang untuk mempertahankan sebuah kegaduhan'.
Yang pertama adalah ikhtiar mencari keadilan.
Yang kedua bisa berubah menjadi ghibah yang diberi panggung, diberi kamera, diberi mikrofon, lalu dijual sebagai tontonan.
Dan mungkin yang paling menyedihkan adalah ketika kita semua sudah terlalu lama sibuk membicarakan sebuah perkara, sampai lupa bahwa tujuan utama dari hukum bukanlah membuat perkara itu terus dibicarakan.