Ketika Manusia Membela Tuhan

Kamis 17-09-2026,07:15 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

Namun kita harus berhati-hati: pengaruh lintas batas mungkin memperbesar ketegangan, tetapi akar persoalannya tetap berada pada bagaimana masyarakat mengelola perbedaan dan bagaimana elite politik, kelompok identitas, serta informasi yang beredar memperlakukan perbedaan tersebut.

Sebab konflik komunal hampir selalu mempunyai pola yang sama.

Perbedaan tidak menciptakan kekerasan. Cara manusia memperlakukan perbedaanlah yang menciptakan kekerasan.

Raapuhnya nilai yang diakui bersama

Sebuah masyarakat tidak cukup hanya mempunyai hukum.

Ia membutuhkan nilai bersama.

BACA JUGA:Al-Waqiah dan Manusia yang Tak Pernah Cukup

Hukum dapat mengatakan bahwa setiap orang mempunyai hak beragama. Tetapi hukum saja tidak cukup jika di dalam kepala manusia tumbuh keyakinan bahwa kelompok lain tidak pantas mempunyai hak yang sama.

Di sinilah letak persoalan paling serius dari konflik agama.

Toleransi bukan sekadar slogan yang ditempel di spanduk.

Toleransi adalah kesediaan menerima kenyataan bahwa manusia tidak dilahirkan untuk mempunyai keyakinan yang seragam.

Kita boleh berbeda dalam cara menyebut Tuhan.

Kita boleh berbeda dalam cara beribadah.

BACA JUGA:Al-Waqiah dan Manusia yang Tak Pernah Cukup

Kita boleh berbeda dalam kitab suci, tradisi, simbol, pakaian, upacara, dan hari-hari suci.

Tetapi ada satu hal yang seharusnya tidak boleh berbeda:

Tags :
Kategori :

Terkait