Ketika Manusia Membela Tuhan

Kamis 17-09-2026,07:15 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

Karena itu, agama semestinya membawa manusia keluar dari kesempitan ego menuju kesadaran yang lebih luas tentang kehidupan.

BACA JUGA:IHSG di Zona Undervalued

Ironisnya, dalam sejarah manusia, agama tidak jarang justru dipakai untuk mempersempit dunia.

Orang mulai berkata:

Agamaku benar, maka engkau harus salah.

Lalu kalimat itu berkembang menjadi:

Karena engkau salah, engkau tidak layak hidup berdampingan denganku.

Dan dari sana jaraknya hanya tinggal selangkah menuju:

BACA JUGA:Al-Hujurat di Tengah Industri Ghibah

Karena engkau berbeda, engkau boleh disingkirkan.

Di titik itulah agama kehilangan fungsi spiritualnya dan berubah menjadi identitas politik.

Yang dibela bukan lagi Tuhan, melainkan ego kelompok.

Yang dipertahankan bukan lagi iman, melainkan gengsi identitas.

Dan yang akhirnya menjadi korban bukan hanya manusia, tetapi juga kesucian agama itu sendiri.

Sejumlah analisis mengenai kekerasan di Nepal bahkan mengaitkannya dengan meningkatnya ketegangan Hindu-Muslim di kawasan Tarai-Madhesh serta pengaruh politik identitas dari India yang melintasi batas sosial dan geografis.

BACA JUGA:Emas Dunia Naik, ETF Emas Malah Turun, Ada Apa?

Tags :
Kategori :

Terkait