Ketika Manusia Membela Tuhan

Kamis 17-09-2026,07:15 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

Ada sesuatu yang selalu dipicu oleh konflik agama: biasanya ia tidak dimulai dengan perang.

Ia bisa bermula dari sesuatu yang tampak sangat kecil—suara musik yang dianggap terlalu keras, bendera keagamaan yang dipersoalkan, sebuah arak-arakan yang melewati wilayah kelompok lain.

Tetapi ketika identitas keagamaan telah dipenuhi persyaratannya, masalah kecil dapat berubah menjadi api besar.

BACA JUGA: Keamanan Jangan Berhenti di Dapur

Itulah yang terjadi dalam komunal di wilayah Tarai-Madhesh dan sekitarnya di Nepal pada akhir Juli 2026.

Bentrokan bermula di Sunsari setelah pertengkaran antara kelompok Hindu dan Muslim terkait pengerasan suara dan bendera keagamaan dalam kegiatan keagamaan.

Kekerasan kemudian menyebar ke sejumlah wilayah lain dan meremehkan tiga orang. Pemerintah memberlakukan jam malam dan mengerahkan aparat keamanan untuk meredam keadaan.

Yang lebih menyedihkan bukan hanya jumlah korban yang jatuh. Yang patut direnungkan adalah kenyataan bahwa rumah ibadah pun dapat berubah menjadi sasaran kemarahan massa.

Di situlah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: sesungguhnya apa yang sedang runtuh?

BACA JUGA:IHSG di Zona Undervalued

Apakah hanya ketertiban sosial?

Bukan.

Yang runtuh adalah sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan bahwa manusia lain, meskipun berbeda keyakinan, tetap mempunyai hak untuk hidup, beribadah dan menjalankan keyakinannya tanpa rasa takut.

Agama yang menjadi alasan untuk membenci

Agama pada hakikatnya berbicara tentang hubungan manusia dengan sesuatu yang diyakininya sebagai Yang Mahatinggi.

Tags :
Kategori :

Terkait