Keamanan Jangan Berhenti di Dapur

Keamanan Jangan Berhenti di Dapur

Mashudi, Direktur Operasional, Pemberitaan, dan Jaringan Disway.Id-dok. Disway-

Saya pikir hiruk-pikuk soal Makan Bergizi Gratis akan mereda setelah pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional.

Ternyata belum. Persoalan lama masih berulang.

Ini membuat saya kembali menulis tentang MBG. Ini tulisan ketiga. Tulisan pertama mengenai tata kelola, “Niat Besar yang Harus Dijaga”.

Tulisan kedua tentang penerima manfaat, “Dapur yang Paling Membutuhkan”. Sekarang soal keamanan makanan.

Sejak banyak santri dan murid sekolah dasar mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG, saya gelisah. Peristiwa itu terus mengusik pikiran.

Saya tertantang untuk ikut mencari jalan keluar. Setidaknya menyumbangkan satu gagasan kecil. Siapa tahu ada yang mau mendengar. Lalu mengujinya.

BACA JUGA:Makan Bergizi, Tata Kelola Kurang Gizi

Selama ini pemerintah dan BGN terlihat sangat fokus membenahi dapur.

Rantai pasok bahan baku diperiksa. Kebersihan peralatan dan tempat produksi diperketat. Pengelolaan limbah diatur. Standar pengolahan dan distribusi diperbaiki.

Itu sangat penting. Namun, perjalanan makanan tidak berhenti di dapur. Ada jarak yang harus ditempuh menuju sekolah. Ada perubahan suhu.

Ada kemungkinan pengiriman terlambat, wadah tidak tertutup sempurna, atau makanan terlalu lama menunggu sebelum disantap.

Dapurnya boleh bersih. Makanannya mungkin juga dimasak dengan benar. Namun, risiko masih dapat muncul di tengah perjalanan. Bahkan ketika ompreng sudah tiba di depan anak-anak.

BACA JUGA:Datang Sebelum Api Datang

Lalu, siapa yang menjadi penjaga terakhir?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait