Eksklusif Mati

Eksklusif Mati

--

Misteri hilangnya lima wartawan, satu pemandu, dan dua kru long boat di sekitar Anak Krakatau belum juga terkuak.

Sabtu pagi ini hari keenam mereka tanpa kabar berita. Tidak banyak kemungkinan besarnya: cuaca lagi baik.

Lihatlah foto utama di artikel ini. Begitu cerah. Foto itu diambil oleh pemandu: Heriyanto. Lalu dikirim ke istrinya: sekitar pukul 18.00. Saya mendapatkan foto itu dari Pak Kades Sukajadi, Sandi Wyasa. Pak Sandi mendapatkan foto itu dari istri Heriyanto.

Maka kesimpulan pak Sandi, rombongan wartawan itu sudah selesai menjalankan tugasnya: meliput dari dekat letusan Anak Krakatau yang sampai membuat bandara sevital Soekarno-Hatta Jakarta tutup dua hari. "Berarti mereka sudah dalam perjalanan pulang dari lokasi," ujar Pak Sandi.

Pak Sandi adalah juga pemilik long boat yang dicarter wartawan itu. Ia punya dua long boat. Namanya Arupadhatu 1 dan Arupadhatu 2. Yang belum ada kabarnya itu Arupadhatu 1 –artinya: alam tak berbentuk.

Satu long boat bisa untuk 10 penumpang.

Hari itu long boat-nya hanya diisi delapan orang: lima wartawan (Bagus Khoirunnas dari pewarta foto ANTARA, Ari Basuki dari pewarta foto Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni dari pewarta foto freelance), pemandu Heriyanto dan dua kru: Warta si kapten kapal dan Surakman anak buah kapal.

Berarti tidak ada kemungkinan kelebihan muatan.

Kemungkinan akibat mesin mati juga tipis. Long boat ini bermesin ganda. Masing-masing 40 PK. Dua-duanya merek Yamaha –merk yang mendominasi mesin speed boat. Satu mesin mati masih ada satu lagi.

Akibat menabrak sesuatu? Rasanya juga kecil. Cuaca masih sangat terang. Pukul 18.00 di Selat Sunda masih tergolong terang. Tapi kalau mau lebih aman baiknya jangan naik speed boat terlalu senja. Sesuatu yang mengapung di laut bisa terlihat seperti gundukan gelombang kecil.

Sebenarnya terlalu sore. Mereka baru berangkat pukul 14.00 tanggal 7 September lalu. Tapi karena mereka wartawan foto kelihatannya sengaja ingin sampai di lokasi menjelang senja: agar pencahayaan fotonya terbaik. Kian dekat senja kian tinggi kualitas pencahayaannya. Berarti mereka sangat mementingkan kualitas hasil fotografinya daripada keselamatan mereka sendiri.

Pak Sandi pun sulit memperkirakan apa penyebab kuatnya. Semoga long boat itu hanya terbawa arus jauh ke tempat yang sulit melakukan komunikasi.

Saya menghubungi Pak Sandi senja kemarin. Ia sudah hampir lima tahun menjadi kepala desa Sukajadi. Desa itu dekat dengan pantai Carita. Ada satu sungai di desa Sukajadi yang bermuara di pantai Carita. Di sungai itulah speed boat dan long boat "parkir" menunggu panggilan dari turis. Setelah jam keberangkatan ditentukan, long boat dibawa ke pantai Carita: berangkat ke tujuan wisata dari dermaga Carita. Jarak pangkalan long boat di sungai itu ke dermaga Carita hanya sekitar 250 meter.

Pak Sandi memiliki dua long boat. Dua-duanya bermesin ganda: Yamaha 40 PK. Kini satu long boat-nya terancam hilang.

"Diasuransikan?" tanya saya.

"Tidak," jawabnya.

"Berapa harga satu long boat berikut mesinnya?"

"Waktu itu saya beli satu long boat Rp 200 juta," jawabnya.

"Kalau misalnya dibeli dengan uang bank apakah hasilnya bisa untuk bayar bunga dan cicilan?"

"Tidak bisa," katanya.

Ia punya long boat karena dulunya punya perusahaan travel. Kini perusahaan itu sudah tidak ada lagi. "Sudah bangkrut. Kalah dengan Traveloka", katanya.

Di desa Sukajadi banyak yang punya long boat seperti Pak Sandi. Sekitar 20 orang. Masih lebih banyak lagi yang punya speed boat.

Apakah ada wisatawan ke Krakatau naik speed boat?

"Tidak ada. Speed boat hanya untuk wisata banana boat," katanya.

Anda sudah tahu banana boat. Yakni tabung plastik bersayap yang bentuk dan warnanya seperti pisang –pun bentuk dan warna sayapnya. Wisatawan naik mengangkangi banana itu sambil tangan berpegangan kuat. Banana itu lantas ditarik oleh speed boat dengan kecepatan tinggi: horeeee!

Tidak semua yang berwisata pakai long boat bertujuan ke Anak Krakatau. Ada juga yang tujuannya ke Ujung Kulon. Ke Anak Krakatau perlu dua jam perjalanan. Ke Ujung Kulon tiga jam.

Kalau saja lima wartawan itu tidak ditemukan, maka foto hasil jepretan Heriyanto tadi adalah satu-satunya foto yang bisa dilihat dari misi liputan ini. Selebihnya tentu masih tersimpan di masing-masing kamera wartawan. Tentu mereka punya hasil jepretan yang bagus-bagus –meski jepretan pemandu Heriyanto tadi juga sudah sangat bagus.

Saya tidak tahu apakah lima wartawan tersebut berangkat atas inisiatif sendiri atau tugas dari kantor masing-masing. Kini sangat jarang ada media yang mengirim wartawan untuk mendapatkan berita dan foto yang eksklusif. Media umumnya sedang melakukan efisiensi yang lebih keras dari efisiensinya Presiden Prabowo Subianto.

Tapi masih banyak wartawan yang punya jiwa pemberani dan nekat untuk menghasilkan karya jurnalistik yang eksklusif. Pun bila tidak ada biaya dari kantornya. Banyak wartawan yang pakai uang sendiri untuk menunjukkan bahwa dirinya masih wartawan beneran.

Cara lima wartawan itu ke dekat Anak Krakatau tentu juga akibat efisiensi: carter long boat-nya dibayar berlima secara gotong-royong. Ini sebenarnya agak bertentangan dengan "prinsip" mengejar exclusivities. Tapi keberanian mereka mendekat gunung yang lagi erupsi tetaplah jadi inspirasi bagi yang akan memilih kerja jurnalistik.

Bagi tiga penumpang lainnya adalah sahid: mereka mencari rizki untuk keluarga sampai ke tingkat mempertaruhkan nyawa. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 11 September 2026: Target Selawat

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Bahtiar HS

Sholawat mmg bacaan doa dan pujian pd Nabi. Tp ia bukan sekedar bacaan biasa. Bukan pula satu2nya cara mencintai Nabi, tp salah satu jalan cinta yg semua org bs dan gampang melakukannya. 

Sultan Abdul Hamid II dari Turki Utsmani selalu baca 1000x sholawat tiap hari sblm tidur. Rutin. Hingga suatu kali krn penat, ia terlupa baca hingga tertidur di meja kerjanya. 

Di malam yg sama, ada seorang pedagang miskin di Istanbul yg sedang terlilit utang besar dan terancam bangkrut. Dlm kesedihan dan keputusasaan, ia tertidur lalu bermimpi bertemu Nabi. Dlm mimpi itu, Nabi SAW bersabda kpdnya: "Pergilah menemui Hamid (Sultan Abdul Hamid II). Katakan pdnya bhw kebutuhanmu akan dipenuhi. Katakan bhw biasanya Hamid mengirimkan 1.000 sholawat kepadaku tiap malam, namun kemarin malam ia lupa membacanya. Mintalah hakmu atas pengingat ini."

Org itupun memberanikan diri menemui Sultan Hamid dan menceritakan mimpinya. Sultan pun lgs menangis tersedu2. Beliau merasa bersalah dan sangat sedih krn kelalaiannya sampai diketahui oleh Rasulullah SAW. 

Sultan lalu bertanya, "Apa yg dikatakan Rasulullah?" Pedagang itu mengulangi kalimatnya. Tiap kali ia mengulangi kalimat mimpi itu, Sultan memberikan sekantung uang emas sbg rasa syukur dan tebusan atas kesalahannya.

Sultan bahkan berkata pd menterinya. Jangankan kantong emas, seandainya pedagang itu minta seluruh harta dan jabatan Sultan pun akan ia berikan demi pesan cinta dari Rasulullah tersebut. 

Masyaa Alloh! 

Irary Sadar

OOT. Menurut AI Google, secara agregat, program penerbitan Kartu Identitas berhadiah rekening saldo 50 rebo ini brilliant. Ini akan mengamankan basis suara pemuda -Gen Z dan Gen Alpha- di kisaran 40-45% bagi kubu pertahana di suatu negara itu. Akan ada loyalitas baru yang punya ikatan emosi, karena momen KATEPE pertama mereka mendapatkan bonus saldo 50 rebo. Lebi-lebih lagi apabila rekening tersebut juga mendapatkan bansos dadakan menjelang Pemilihan, loyalitasnya semakin tinggi. Dan secara ini sudah sering terjadi. Terlepas program ini juga ada di negara lain, si Pertahana Konoha memang jeli untuk mencoba meraih suara pemilihnya di 2029 dengan program-progam massive-nya. KDMPEH, EMBEGEH, Dasil 10 Kasta dan terakhir SALDO 50 rebo. Tapi ini menurut AI, bukan menurut saiya. Hehe…

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Maulid tahun ini bertepatan tanggal 25 Agustus 2026. Tanggal merahnya ya tanggal itu. Bukan 7 September 2026. Bulan September, Oktober dan November tahun ini nggak ada tanggal merah.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

SELAWAT JUGA PUNYA KPI.. Dulu saya kira yang punya target itu hanya sales. Ternyata selawat juga. Target 1,8 juta. Tercapai 2,04 juta. Berarti KPI-nya sehat. Bahkan overachieved. Kalau begitu, tahun depan jangan tanggung-tanggung. Targetkan 10 juta. Kalau tercapai 12 juta, berarti selawat kita sudah seperti penjualan pulsa: unlimited growth. Tapi ada satu persoalan. Kalau membaca selawat dihitung sebagai “unit”, lalu satu orang membaca seribu kali dihitung satu atau seribu? Ini penting. Jangan sampai nanti muncul debat antara KPI dan KPA: Key Performance Amal. Lebih seru lagi kalau ada dashboard nasional. Ada real time counter: “Hari ini sudah 1.234.567 selawat.” Tinggal tunggu notifikasi: “Congratulations! Target nasional tercapai 115 persen.” Secara ilmiah, angka memang mudah dihitung. Frekuensi bisa diukur. Peserta bisa didata. Tetapi “khusyuk” belum punya satuan SI. Belum ada meter khusyuk. Belum ada lux khusyuk. Apalagi GHz keikhlasan. Maka saya setuju: selawat boleh punya target. Tetapi jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar angka selawat, sampai lupa mengejar akhlak Nabi. Itu target yang belum punya deadline.

Muhammed Khurmen

Saya bingung, sampai dua kali lihat kalender, barangkali saya salah atau ingatkan saya yang keliru 12 robiul awal kok 7 september? 7 september kok tanggal merah? Disway apakah tidak ada editornya??

MZ ARIFIN UMAR ZAIN

SHOLAWAAT=CINTA. Ya Allooh, cintailah Muchammad dan keluarga nya dan shochaabat2 nya serta saudara2 nya. Nabi kangen kpd saudara2 nya. Ditanya: siapa saudara2 Nabi? Mereka adalah muslimuun sesudah zaman ku ini. Apa kita muslimuun juga kangen kpd Nabi?

Jo Neka

Berdoa dan bekerja.Jangan berdoa sambil berbuat jahat.

my Ando

mgkn beda atau mgkn identik, Ibadah adl Tirakat yaitu menempuh jalan kesusahan untuk mengharap kemuliaan yg dicita²kan, kl bnyk yg beranggapan Beribadah itu gampang buktinya bnyk yg tak sanggup beribadah yg bagus, di Perusahaan² besar yg menaungi perkampungan / asrama karyawan malah dikenal Religius Teacher yg tugasnya mimpin ibadah dan digaji serta dianggap sbg karyawan, yg ini pasti lebih dicibir lagi beribadah malah digaji, belum lagi para pemimpin agama yg kerjaannya ceramah hidupnya bergelimang harta... memang itu lah keberhasilan yg dicapainya setelah menempuh jalan yg susah dulu, lha kalo tukang ceramah tapi hidupnya gak kaya itu mgkn ibadah atau tirakatnya gagal krn hny ad 1 kemungkinan lain yg sangat langka yaitu memang dia sengja menghamburkan hartanya utk berderma

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BARZANJI MASIH JUARANYA.. Kalau Pak Dahlan bertanya mana yang paling banyak dibaca. Jawaban saya: Barzanji. Bukan karena paling “berkhasiat”. Tetapi karena paling lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat. Di kampung-kampung, Barzanji sudah seperti menu tetap Maulid. Ada masjid, ada kenduri, ada ambeng, ada Barzanji. Anak-anak pun tahu urutannya. Begitu pembacaan mendekati asrakal, mata mulai melirik ke arah ambeng. ### Dala’il berbeda kelas. 1) Ada tirakatnya. 2) Ada puasanya. 3) Bahkan ada yang tiga tahun. Ini bukan lagi sekadar membaca. Ini sudah seperti pendidikan kedisiplinan rohani. ### Simtud Duror dan Burdah juga sangat populer. Terutama di lingkungan majelis dan pesantren tertentu. Tetapi Barzanji punya keunggulan yang sulit ditandingi: Umur dan jaringan sosialnya. Ia diwariskan dari generasi ke generasi. Dari kiai ke santri. Dari bapak ke anak. Jadi, kalau ditanya juaranya, saya pilih Barzanji. Sebab Maulid tanpa Barzanji seperti kenduri tanpa ambeng: acaranya tetap jalan, tapi ada yang terasa kurang.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

SEORANG ANGGOTA DPR "NAIK/ LONCAT PANGKAT": DARI DESIL 4 LANGSUNG DESIL 10.. Namanya Eva Stevany Rataba. Anggota DPR RI dari Fraksi NasDem. Namanya sempat muncul dalam polemik DTSEN. Tercatat di desil 4. Kini, setelah pemutakhiran, menjadi desil 10. Ini bukan kenaikan pangkat biasa. 1) Tidak perlu menunggu masa kerja. 2) Tidak perlu ujian. 3) Tidak perlu rekomendasi atasan. Data diperbarui, langsung “loncat pangkat”. Tentu ini bukan berarti Eva pernah menerima bansos. Justru BPS dan Mensos menjelaskan, Eva tidak pernah menerima PKH. ### DTSEN juga bukan daftar penerima bansos. Ia adalah basis data kondisi sosial-ekonomi. Tetapi kasus Eva menjadi contoh menarik. Betapa pentingnya kualitas data. Sebab satu perubahan data bisa mengubah posisi seseorang secara drastis. Dari desil 4 langsung ke desil 10. Enam tingkat sekaligus. 1) Kalau ini sekolah, namanya akselerasi. 2) Kalau birokrasi, mungkin disebut promosi istimewa. Untung ini cuma data. Bukan pangkat sebenarnya.

Edi Sampana

Sewaktu capres Prabowo mewacanakan pemberian MBG pada anak sekolah secara massal, sebagian petugas kesehatan yang mengurusi surveilens penyakit sudah khawatir bahwa akan banyak terjadi peristiwa keracunan. Tidak ada MBG saja, pada 1 kabupaten/kota biasa terdapat 1 atau 2 KLB keracunan pangan dalam 1 tahun. Apalagi sesudah tahu bahwa 1 dapur memproduksi sampai 3000 porsi. Apalagi sesudah tahu bahwa dari dana Rp.15 ribu yang sampai ke siswa tidak sampai Rp.8 ribu. Apalagi sesudah tahu bisnis ini sangat menguntungkan, karena keuntungan pemilik dapur sampai Rp.6 juta per hari. Apalagi sesudah tahu bahwa pada dapur yang menyebabkan keracunan tidak ada sanksi tegas (misalnya harus mengganti biaya puskesmas/RS, harus memberi santunan pada anak yang sakit).

Lopa Surya

Beruntung saya tidak tinggal dijawa karena terlalu banyak ajaran-ajaran agama islam yang ditambah-tambahi sesuai selera masing-masing. Contohnya habis azan ada lantunan puji-pujian entah kepada siapa pakai mic yang pasti buat bising.seharusnya setelah azan kerjakan sholat sunnat atau berdoa.setelah azan adalah waktu yang makbul buat berdoa.

xiaomi fiveplus

yang dibaca mbah mars namanya shalawat muhammadiyah. karena kalo di nu baca shalawat gak pakai kata sayyidina, dijewer kyaine.. wkwk..

Sugi

Orang-orang hebat selalu punya laku tirakat yang sangat kuat. Apapun bentuknya. Rispek Bah.

alasroban

cucu: "mbah sampeyan sudah baca disway pagi ini?" mbah: "Kenapa le?" cucu: "Nampaknya Dakelan betul-betul sudah seperti anggapan sebagian orang." mbah: "Anggapan apa itu le?" cucu: "Anda juga sudah tahu mbah. Dakelan itu lebih Chino sekarang daripada Jawanya." mbah: "Koq gitu le?" cucu: "Iya mba Dakelan nampaknya lebih sregep ikut pawai tahunan antar klenteng di Semarang itu. Daripada ikut maulidan." mbah: "Ah jangan suudzon gitu le." cucu: "Lha buktinya Dakelan beberapa kali menulis pengalaman ikut pawai tahunan antar klenteng itu. Tapi tak pernah menulis ikut maulidan. Terbukti dia sudah tidak tahu bahwa 12 maulid itu tgl 25 Agustus." cucu: "Apa kita jewer aja mbah si Dakelan itu? Biar ndolor dia?" mbah: "Ya jangan le. Dakelan itu cucu seorang kiyai. Biar simbahnya yg njewer." cucu: "Lha terus kita ngapain mbah?" mbah: "Ya nunggu tulisan Dakelan tiap pagi itu." Cucu: "Baiklah mbah." Itu adalah cuplikan diskusi di pos Ronda pojok kampung di Takaran.

Kujang Amburadul

Kalau menulis Maulid Nabi tahun ini tanggal 7 September, itu bukan typo. Itu namanya : cipoa. Betul kan Bah?

Nimas Mumtazah

Simtudduror biasa kami baca malam jum 'at , pembiasaan karakter baik di kalangan santri. Barzanji kami baca keliling asrama, itupun di maksudkan membangun kawan² santri untuk tahajud. Dala'il ini yang sampai detik ini saya pernah menjadikannnya 'amal yaumiyah. Istiqamahkan diri membaca Qur'an seperti kebiasaan Pak Mirza sulitnya selangit.

Bahtiar HS

Terus terang saya begitu keri membaca atau menulis kata "sholawat" dlm Bahasa Arab menjadi "selawat" dlm Bahasa Indonesia. Kuwi mbiyen sing nyerap kata itu ke KBBI ya sapa? Gak necis blas. Gak keren blas, baik tulisan maupun ucapan. Buktinya? Sakiki coba cari di seluruh acara sholawatan dari Ujung Kulon Serang sampek Ujung Wetan Blambangan, di mana ada backdrop atau umbul2 atau flyer acara pembacaan Sholawat ditulis dengan Selawat. Jarang ditulis Jakarta Berselawat. Jatim Berselawat. Disway Berselawat. Banyakan Sholawat. Bukan Selawat. Bahkan acara Bu Khofifah yg Abah ceritakan di CHD hari ini bertajuk: Dzikir, Sholawat & Doa Bersama Gubernur Jawa Timur. Tingkat kekerian telinga saya thd Sholawat dibaca Selawat lebih tinggi drpd Dzikir dibaca Zikir. Yg Zikir ini pun keri, tp tidak seberapa. Belum lagi Sholawat itu aslinya pakai huruf "Shod". Lha kalo Selawat jadi rasa pakai "Sin". Bisa2 beda makna. However, yg dulu menyerap Sholawat jadi Selawat ini kudoakan masuk syurga atau surga (sak karepmu). Aamiin.

Bahtiar HS

Bagi saya, momen paling khusyu' dan syahdu saat acara Sholawat adalah ketika Mahalul Qiyam pada bagian Thola'al Badru Alaina. Seraya membayangkan bagaimana dulu Baginda Nabi Shollallohu alaihi wasallam masuk ke kota Madinah (waktu itu msh bernama Yatsrib) dari gerbang Tsaniyatil Wada' yg tdk biasa dilalui orang. Dlm keadaan capek setelah menempuh sekian hari perjalanan dari Makkah ke Madinah. Dikejar dan dicari2 musuh2 beliau. Kedatangan beliau yg sangat ditunggu2 dan dirindu masyarakat Madinah yg ingin mendpt cahaya Islam. Maka kedatangan beliau serupa terbitnya bulan (thola'al badru) bg mereka yg tlah lama dlm kegelapan. Perasaan spt itu campur aduk mengharukan, tak jarang menetes air mata tanpa bs dicegah. Rasanya spt ikut hadir di momen itu dulu. Lalu tumbuh rasa syukur dlm diri (wajabasy syukru alaina) krn sekarang kami ikut cahaya yg beliau bawa. Itu semua dengan satu syarat: munsyid yg pegang mic melantunkan sholawat suaranya tidak fals, slendro, atau nggak kuat nada tinggi. Telinga jadi keri. Konsentrasi buyar. Kesyahduan hilang. Sholluu alan Nabiy Muhammad!

Ahmad Zuhri

Versi Abah Maulid jatuh tgl. 7 September.. versi pemerintah jatuh tgl. 25 Agustus. Sabar, jangan terburu-buru di koreksi dulu.. tunggu sampai besok, jangan2 besok ada selipan alasannya. Siapa tau itu gabungan penghitungan antara kalender Syamsiyah dan Qomariyah yg diketemukan Suku Hui di Tiongkok sana yg dijadikan dasar oleh Abah Dakelan.. Atau itu yg versi Thoriqot mungkin..

heru santoso

Gara2 tertegun mendengar dr Mita nan cantik di DISmorning tadi, saya jadi ingin membaca tentang kedokteran. Ada berita operasi jarak jauh berhasil dilakukan di RSCM Jakarta sementara dokternya di Bali. Saya membayangkan dokter seperti sedang bermain game simulator dengan alat canggih di suatu ruangan di Bali. Sementara di RSCM ada lengan robot pintar yang meniru semua gerakan tangan dokter tersebut secara instan. Meskipun terlihat seperti "bergerak sendiri", pisau bedah tersebut sebenarnya tidak berpikir atau berjalan secara otomatis. Ada tiga komponen utama yang bekerja secara bersamaan: Di Bali, ruangan khusus yang dilengkapi layar 3D super jelas untuk melihat bagian dalam tubuh pasien. Dokter memegang dua gagang kontrol (joystick khusus) yang sangat sensitif. Setiap kali jari atau tangan dokter bergerak serinci apa pun, komputer akan merekam gerakan tersebut. Sinyal perintah dari gerakan tangan dokter dikirim melalui jaringan internet khusus super cepat ke Jakarta. Sinyal ini bergerak secepat cahaya, sehingga tidak ada delay atau jeda. Gerakan tangan dokter di Bali dan pergerakan pisau di ruang operasi RSCM Jakarta terjadi di detik yang sama persis. Pisau yang dipegang lengan robot itu menyayat bagian tubuh pasien di ruang operasi meniru gerakan tangan dokter secara akurat yang lokasinya 1000 km dari pasien berada. Suatu lompatan teknologi kedokteran di Indonesia. Semoga dr Mita diangkat jadi jubirnya Mas Dar MBG.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Saya adalah ahli Dalail Khoirot, Barzanji, dan Burdah. Bukan ahli dalam hal membacanya, tapi ahli mencetaknya. Iya, saya kan punya percetakan. Saya juga bisa jawab pertanyaan Abah selawat mana yang paling banyak dibaca dari sisi jumlah cetak bukunya. Yang mencetak di tempat saya untuk buku-buku selawat tersebut ada 2 penerbit. Pertama, penerbit kitab dari Aceh. Asli orang Aceh. Usianya lebih muda dari saya. Berawal dari santri yang kemudian jadi ustaz di pesantren tempat dia berguru, lalu jualan kitab, lalu menyusun kitab dan sekarang punya penerbitan kitab. Terbesar di Aceh. Yang hebat, sampai sekarang ia masih mengajar di pesantren meski bisnisnya sudah lumayan besar. Kedua, penerbit kitab dari Malang. Seorang habib. Seumuran dengan saya. Meski tak sebesar penerbit yang dari Aceh, namun judul kitabnya lumayan banyak. Kedua penerbit di atas sejak awal berdirinya sudah cetak di tempat saya. Sejak kitabnya hanya beberapa judul dan jumlah cetaknya masih sedikit. Sekarang keduanya sudah lumayan besar. Penerbit dari Aceh yang basisnya pesantren mencetak buku Dalail Khoirot. Puluhan ribu eksemplar per tahun. Sedangkan Penerbit dari Malang yang basisnya majelis maulid (habaib), mencetak buku Barzanji dan Burdah. Tidak sebanyak Dalail Khoirot. Jadi, untuk jawab pertanyaan Abah, saya punya data dari jumlah cetak buku yang dicetak di saya. Dalail Khoirot yang paling banyak dibaca.

Jokosp Sp

Kebetulan bulan ini adalah bulan mulud, jadi adat istiadat di Kal Sel kalau di bulan ini maka acara muludan ramenya mengalahkan ramenya bulan lebaran idul fitri. Setiap kampung dan setiap RT melakukan pembagian siapa KK yang dapat jatah mengadakan acara muludan. Pagi diawali sarapan di rumah yang punya hajad, kemudian berangkat bersama ke pengajian di mushola atau mesjid, selesai pulang ke rumah yang mengundang, yang punya hajad untuk makan siang kembali sekitar jam 12.00. Selesai kembali ke mushola atau mesjid dan pulang ke rumah masing-masing. Pak H.Masdi S.Pd yang kami tuakan dengan sebutan ustad menjelaskan: Sholawat dari Kitab Maulid Tradisional ada: Mahallul Qiyam - Ya Nabi Salam 'Alaika. bacaan saat berdiri bentuk penghormatan dan kecintaan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sholawat Kitab Barzanji dan Ad-Diba'i-rangkaian syair puji-pujian dan sholawat yang masif dilakukan di Indonesia. Sholawat Simtud Durar karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi dengan kalimat sholawat ke pada riwayat hidup Nabi. Qasidah Burdah-Syair puji-pujian karya Imam Al-Busri yang berisi sholawat ke pada Nabi. Ada lagi Sholawat Populer Harian dan Majelis: Sholawat Nariyah untuk diamalkan memohon dimudahkan segala urusan dan diberikan jalan keluar. Sholawat Tabil Khulub dikenal sholawat shifa, penyembuh dan penenang hati. Sholawat Ibrahimiyah redaksi paling sempurna, dibaca saat tahiyat akhir sholat. Sholawat Munjiyat do'a keselamatan dari marabahaya dan malapetaka. Ada Sholawat Asyghil dan Badar.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Amalan-amalan, ijazah-ijazahan, hal-hal seperti itulah yang nggak ada di Muhammadiyah. Bahkan acara selawatan saja nggak ada. Sebuah ritual yang ada hitungannya tertentu, lalu dianggap punya keistimewaan tertentu, itulah yang dihindari Muhammadiyah. Ijazah di Muhammadiyah hanya diberikan oleh Kepala Sekolah atau Rektor. Tiap tahun ada puluhan ribu ijazah diterbitkan Muhammadiyah. Tapi nggak ada yang syaratnya harus puasa 3 tahun. Itulah salah satu perbedaan cara ber-Islam ala NU dan ala Muhammadiyah. Bagi saya keduanya bagus. Yang penting ibadahnya dijalankan, terutama Rukun Islam-nya. Kalau Rukun Islam-nya saja nggak dikerjakan, mungkin itu Islam ala bapak itu.

Ahmad Zuhri

Menarik yg diungkapkan Bu Nimas dibawah "Kadang terlintas di benak, dihati yang mana shalawat itu di letakkan, padahal kalimat²nya indah dan menyentuh. Apa yang terdengar di telinga mereka ketika syair² di lantunkan... Padahal isinya sirah nabawiyah. " Menurut keyakinan saya itu karena hafal/tau syair nya saja, tapi tidak tau artinya apa.. jadi hanya semacam ritual tanpa bisa mendalami maknanya seperti apa.. Ini seperti yg pernah saya tau, ada hafidzah tapi masih sibuk rebutan warisan.. menghafal nya tidak salah , tapi bisa menyelami arti dan maknanya yg tidak semua orang bisa.. Apalagi yg tau diri, rasa malu kok sepertinya semakin langka..

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Orang menciptakan sebuah produk -misal Indomie- lalu dijual ke seluruh rakyat Indonesia dan ia bayar pajak, lalu dia jadi orang yang super-kaya raya dari situ, maka itu wajar. Tapi kalau dia menggali kekayaan alam, alam milik negara, lalu negara cuma dapat percikannya saja, jelas itu nggak adil. Jelas nggak sesuai Pasal 33 UUD 1945. Mereka inilah oligarki yang sebenarnya. Kalau sumbernya kekayaan alam negara, harusnya negara yang dapat keuntungan jauh lebih besar daripada sang pengelola. Dengan begitu, negara dapat membantu rakyat miskin agar nggak miskin lagi. Dengan begitu juga negara membantu kelas menengah sehingga bayar pajaknya lebih ringan.

Lagarenze 1301

Meningkatnya produksi pangan hanya ditulis satu kalimat. Mungkin belum banyak yang tahu, Kementerian Pertanian sedang mengembangkan model pertanian modern, khususnya untuk meningkatkan produksi padi. Namanya PM-AAS. Singkatan dari Pertanian Modern-Advanced Agricultural System. PM-AAS sudah diterapkan di 10 provinsi. Ada yang 200 hektare, 100 hektare, dan 50 hektare. Apa kelebihannya? Dengan PM-AAS, produksi per hektare bisa mencapai 10 ton, bahkan 12 ton. Sedangkan rata-rata produktivitas padi saat ini hanya sekitar 5,32 ton. Mengapa PM-AAS bisa meningkatkan produksi gabah hingga dua kali lipat? Yang menarik adalah metode penanaman. Dengan metode konvensional, dalam satu hektare hanya ditanami sekitar 300 ribu rumpun. Dengan metode PM-AAS, menjadi 800 ribu hingga 1 juta rumpun. Tentu PM-AAS tidak sesederhana meningkatkan jumlah rumpun agar bisa menghasilkan 12 ton per hektare. Ada persoalan bibit, ada persoalan pengairan. Oh, iya, singkatan PM-AAS ada yang lain. Sebagian orang memanjangkannya menjadi "Pak Menteri-Andi Amran Sulaiman". Inovasi PM-AAS ini memang digagas oleh pria Bugis itu, yang sudah tiga kali dilantik menjadi Menteri Pertanian.

Jokosp Sp

Pak Mario.....nanti selain ada bansos, ada aturan turunannya : 1. Warga wajib menanbung di Bank Himbara. 2.Setiap bulan wajib ada transaksi tabungan masuk dan keluar. 3. Selama 3 bulan tidak ada transaksi maka Bansos tidak akan diberikan. Jadi yang perlu uang itu Bank apa Penabung sebenarnya?. Rakyat itu sebenarnya tidak perlu disuruh atau dipaksa untuk nabung. Satu syarat rakyat bisa nabung itu adalah kalau uangnya berlebih atau untuk investasi. Ini mau uang berlebih dari mana kalau pemerintah tidak menciptakan pekerjaan bagi rakyat bawah (kebanyakan)?. Yang dipikirkan malah bagaimana menciptakan Bansos dan Makan Gratis. Ini sama artinya pemerintah (penguasa) hanya fokus dan perhatiannya justru tetap memelihara kemiskinan rakyatnya. Ambyar kalo pola pikirnya para politikus seperti ini. Hanya untuk kebutuhan per lima tahunannya.

heru santoso

Tadi pagi mengikuti live DISmorning. Ups...ada narasumber dokter muda nan cantik—segar, energik, dan punya pesona yang sulit dialihkan. Dengan tatapan matanyi (yang gimanaaa gitu) dan senyum manis yang bikin deg-degan, dia tahu betul cara menyihir siapa saja yang mengikuti DISmorning. Kehebatannyi bukan cuma terletak di ilmu kedokteranya, tapi pada kemampuan storytelling yang luar biasa. Saat dia mulai bercerita tentang makanan di ompreng MBG, bakteri, respon medis atau kerumitan tubuh manusia, istilah ilmiah yang ruwet disulap jadi dongeng seru yang mengalir renyah. Suaranya yang hangat dan penuh dinamika membuat pendengar podcast hanyut, seolah tiap kata adalah obat paling menenangkan. Di balik jas putihnya, ada kecerdasan tajam dan daya pikat alami yang meluluhkan. Saat ia berbicara, Anda bukan cuma sekadar paham masalah kesehatan, tapi juga diam-diam berharap sesi ceritanya tak pernah selesai! Dan narsum utama DISmorning yang biasanya dominan, kali ini hampir tak berkata-kata. Anda sudah tahu: tertegun.

Linggar Baero

Anda suka bershalawat? Beristiqamahlah! Pasti bnyk kisah berkaitan dgn shalawat yng daialami bnayk orang; kalau dibuku bisa berjilid2. Ada bbrp cerita dari klg dekat saya berkaitan dgn shalawat ini. Ada yng dramatis, ada yang 'ringan-ringan' saja. Ini salah satunya. Hari itu akhir bulan, target sales krng 60jt. Jumlah yg besar utk jualan produk2 toiletries di daerah pinggiran kota kecil. Sbg supervisor, dia tdk ingin timnya gajian minimal krn under performed. Maka anak buahnya dikerahkan utk menyisir pasar2 dan pelanggan2 setia sambil membaca shalawat. Smpai pkl 10.00, orer masuk sangat minim. Maka dia datangi toko grosir langganannya sambil 'dremimil' baca shalawat. "Lho mBak, kok sdh datang lagi? Pekan lalu aku kan sdh order, stockku msh banyak", sambut Tacik pemilik toko. "Iya Cik...bla-bla-bla..", jawabnya sambil nembak dgn jurus2 maut rayuan sales. Ga mempan. Akhirnya dia mundur keluar toko. Eh ga lama berselang, si Tacik terima tilpun...bla-bla-bla. Terus manggil dia: "Eh mBak niy ada orderan produkmu; ambil 25 jt ya". Alhamdulillah, gumamnya penuh syukur. Si Tacik masuk toko lagi. Bbrp waktu kemudian terima tilpun lagi. "MBak, nambah 25 lagi ya". Alhamdulillah, tambah kenceng dia bc shalawat sambi nyiapkan pesanan. Stng jam kemudian, si Tacik manggil lagi: "Mbak nambah 20 jt ya". Alahmdulillah, pukul 12.00 closing bulanan sambil 'mbrebes mili'. Tabik!



Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 89

  • Ibnu Shonnan
    Ibnu Shonnan
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • HONDA CBR150R
    HONDA CBR150R
    • Hariansyah Regae
      Hariansyah Regae
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Fauzan Samsuri
    Fauzan Samsuri
  • Runner
    Runner
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Sadewa 19
    Sadewa 19
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Lagarenze 1301
    Lagarenze 1301
  • Lagarenze 1301
    Lagarenze 1301
  • sinung nugroho
    sinung nugroho
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • sinung nugroho
      sinung nugroho
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Kalender Bagus
    Kalender Bagus
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Sumartan
    Sumartan
  • DeniK
    DeniK
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Prieyanto
    Prieyanto
    • Prieyanto
      Prieyanto
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • heru santoso
      heru santoso
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • alasroban
    alasroban
  • MULYADI PEGE
    MULYADI PEGE
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
  • MULYADI PEGE
    MULYADI PEGE
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Lègég Sunda
    Lègég Sunda
  • Sugi
    Sugi
  • ALI FAUZI
    ALI FAUZI
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Tivibox
    Tivibox
    • alasroban
      alasroban
    • Tivibox
      Tivibox
  • Burhanuddin 1409
    Burhanuddin 1409
  • Tivibox
    Tivibox
  • Lagarenze 1301
    Lagarenze 1301
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • alasroban
    alasroban
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • alasroban
      alasroban
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • alasroban
    alasroban
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Azza Lutfi
      Azza Lutfi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Maman Lagi
      Maman Lagi