Keamanan Jangan Berhenti di Dapur

Keamanan Jangan Berhenti di Dapur

Mashudi, Direktur Operasional, Pemberitaan, dan Jaringan Disway.Id-dok. Disway-

Guru diminta mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada murid. Tujuannya tentu baik. Namun, lidah manusia hanya dapat mengenali rasa, aroma, atau tekstur yang terasa janggal.

Tidak semua bahaya dapat dikenali dengan satu atau dua suapan. Makanan yang terlihat baik dan terasa normal belum tentu sepenuhnya aman.

Guru adalah pendidik. Bukan petugas penguji makanan.

Jangan sampai tanggung jawab keamanan pangan yang begitu besar diletakkan di pundak mereka hanya dengan mengandalkan lidah.

Kegelisahan itu membuat saya menghubungi seorang teman yang selama ini berkonsentrasi pada pengembangan kecerdasan buatan. Namanya Pak Windu.

Pak Windu kemudian menghubungi Pak Zico yang menekuni bidang serupa.

Ia bergabung melalui panggilan video. Keduanya memiliki kompetensi dan sertifikasi internasional dalam bidang teknologi yang mereka tekuni.

Satu orang lagi tentu harus ada. Programmer. Saya mengundang Mas Amin.

Kami bertemu di tempat ngopi. Diskusinya santai. Sesekali bercanda. Namun, yang kami bicarakan serius: mungkinkah sekolah memiliki alat sederhana untuk memeriksa makanan sebelum dibagikan kepada murid?

Pak Windu mengatakan, alat seperti itu memungkinkan untuk dibuat. Namun, tidak semuanya mudah. Bagian tersulit adalah mendeteksi senyawa berbahaya tertentu. Itu sudah menjadi urusan laboratorium.

Diskusi kami tidak selesai di meja kopi. Percakapan berlanjut melalui WhatsApp hingga Sabtu lalu.

Dari sana muncul sebuah bayangan sederhana. Sebelum ompreng dibuka dan dibagikan, beberapa sampel makanan lebih dahulu menjalani pemeriksaan singkat.

Alat itu tidak perlu terlihat rumit. Di dalamnya bisa dipasang kamera dan sejumlah sensor untuk membaca suhu, warna, gas, serta tanda-tanda lain yang tidak mampu dikenali oleh mata atau lidah guru.

Kecerdasan buatan membantu membaca hasilnya. Bukan untuk memutuskan segalanya, melainkan memberi peringatan. Makanan dapat dibagikan, perlu ditahan, atau harus diperiksa lebih lanjut.

Tentu alat itu bukan pengganti laboratorium. Ia juga tidak dapat menjamin seluruh makanan pasti aman. Fungsinya hanya sebagai penyaring awal. Semacam alarm sebelum makanan masuk ke tubuh anak-anak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait