Ada lagu yang menjadi tua bersama pendengarnya. Ada pula lagu yang justru menjadi semakin muda karena persoalan yang dibicarakannya tidak pernah benar-benar tua.
“Darah Muda” karya Rhoma Irama adalah salah satunya.
Lagu itu lahir pada 1977. Saat itu telepon genggam belum ada, internet belum menjadi bagian dari kehidupan, dan orang belum mengenal istilah followers, likes, FOMO, influencer, apalagi viral.
BACA JUGA:Gibran, He Is Still the Man
Tetapi manusia sudah mengenal satu penyakit yang ternyata tidak membutuhkan teknologi: merasa diri paling hebat.
Rhoma menyebutnya dengan bahasa yang sederhana: darah muda.
Darahnya para remaja.
Yang merasa gagah.
Yang tidak mau mengalah.
Yang ingin menang sendiri.
BACA JUGA:Mirasantika: Kenikmatan yang Menagih Masa Depan
Kalau lagu itu ditulis hari ini, barangkali Rhoma perlu menambah satu bait:
Darah muda, darahnya para netizen,
yang merasa paling benar di kolom komen.
Tetapi jangan buru-buru menyalahkan Gen Z. Sebab kalau mau jujur, penyakit “merasa paling benar” bukan milik anak muda. Orang tua pun bisa mengidapnya. Bedanya hanya satu: anak muda punya TikTok, orang tua punya WhatsApp group.