“Lihatlah, saya sederhana.”
Begitu kira-kira.
Ini bukan berarti semua pengguna media sosial sedang berpura-pura. Tidak. Tetapi zaman digital memang membuat batas antara hidup untuk mengalami dan hidup untuk ditampilkan menjadi semakin tipis.
Anak muda akhirnya menghadapi persoalan baru: bukan hanya bagaimana menjadi dirinya sendiri, tetapi bagaimana terlihat sebagai dirinya sendiri di mata orang lain.
Di sinilah “Darah Muda” menjadi semacam kaca.
BACA JUGA:Nyanyian Debu di Bawah Langit Az-Zariyat
Ia bertanya kepada kita:
Apakah kita sedang menjalani kehidupan, atau sedang memproduksi konten tentang kehidupan?
Pertanyaan ini tidak sederhana.
Sebab manusia bisa saja memiliki ribuan pengikut tetapi tidak mempunyai satu orang yang benar-benar mendengarkan kesedihannya.
Bisa mempunyai banyak teman di layar tetapi merasa sendirian ketika layar dimatikan.
Bisa mendapatkan banyak likes, tetapi tetap tidak menyukai dirinya sendiri.
Inilah paradoks zaman digital.
BACA JUGA:Dari Garis Depan Perjuangan Publik Menuju Perlindungan Hukum Korporasi dan Masyarakat
Kita semakin mudah mendapatkan perhatian, tetapi belum tentu semakin mudah mendapatkan ketenangan.
“Tak Mau Mengalah”: Ketika Kolom Komentar Menjadi Arena Perang