Darah Muda, Darah Viral

Senin 12-10-2026,07:38 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

Yang penting menang.

Inilah “darah muda” yang menemukan bentuk digitalnya.

Dulu orang mungkin berkelahi karena tersinggung.

Sekarang cukup mengetik.

BACA JUGA:Perang Narasi dan Penegakan Hukum: Menjaga Objektivitas, Transparansi, dan Kepercayaan Publik

Jempol tidak berdarah, tetapi hati orang lain bisa terluka.

Ironisnya, orang sering merasa sedang membela kebenaran padahal yang sedang dibela sebenarnya adalah harga dirinya sendiri.

Di sinilah kita perlu membedakan antara kebenaran dan ego.

Kebenaran tidak membutuhkan kemarahan untuk menjadi benar.

Sebaliknya, ego sering membutuhkan kemarahan agar terlihat benar.

Dalam tradisi sufistik, persoalan ini dekat dengan konsep nafs. Nafs adalah dorongan dalam diri manusia yang dapat menyeret manusia kepada kesombongan, keinginan berkuasa, iri, marah, dan merasa diri lebih tinggi daripada orang lain.

BACA JUGA:Menutup Utang dan Kembali Bangkit (1)

Maka musuh manusia bukan selalu orang yang berada di seberang.

Kadang musuh itu duduk manis di dalam diri sendiri.

Dan yang lebih menyedihkan, ia sering ikut membuka media sosial.

FOMO: Takut Ketinggalan Dunia

Tags :
Kategori :

Terkait