Media sosial memperlihatkan hasil akhir kehidupan orang lain, sementara kita menjalani proses kehidupan sendiri.
Kita melihat orang sukses pada usia 25 tahun, lalu merasa gagal pada usia 27.
BACA JUGA:Panggung yang Terlalu Lama: Penudaisme Maximus Jilid Kedua
Kita melihat orang menikah, lalu merasa kesepian.
Kita melihat orang bepergian ke banyak negara, lalu merasa hidup kita terlalu biasa.
Padahal setiap manusia mempunyai jalan hidup yang berbeda.
Dalam perspektif sufistik, hidup bukan perlombaan antarmanusia.
Hidup adalah perjalanan pulang kepada Tuhan.
Karena itu, ukuran keberhasilan tidak selalu berada pada apa yang terlihat oleh manusia.
Bisa jadi seseorang tidak terkenal di dunia, tetapi sangat dikenal di langit.
BACA JUGA:Potensi Besar Wisata Pantai Pengkolan Lamongan
Dan bisa jadi seseorang terkenal di dunia maya, tetapi asing terhadap dirinya sendiri.
Gen Z Tidak Perlu Dimarahi, Mereka Perlu Diajak Bercermin
Sering kali orang tua mengatakan:
“Anak zaman sekarang berbeda.”
Anak muda sekarang dianggap kurang sabar.