Rehabilitasi Ira

Rehabilitasi Ira

Presiden Prabowo Subianto memberikan rehabilitasi terhadap Direktur Utama (Dirut) PT ASDP, Ira Puspadewi (IP)-Istimewa-

Mungkinkah Ira Puspadewi diangkat kembali sebagai direktur utama ASDP –setelah dia direhabilitasi oleh Presiden Prabowo Selasa lalu? Ira direhabilitasi hanya tiga hari setelah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan hukuman 4 tahun 6 bulan.

Tidak mudah mencari sosok yang bisa diangkat menjadi direktur utama sebuah perusahaan besar. Yang berminat sih banyak. Terlalu banyak. Pun sampai melakukan berbagai upaya yang memalukan.

Tapi sosok yang bisa punya prestasi seperti Ira tidaklah banyak. Ira –yang diberhentikan sebagai dirut ASDP karena menjadi tersangka korupsi– nyaris sempurna sebagai leader di ASDP. Perusahaan tumbuh pesat. Sistemnya dibenahi. Padahal membenahi sistem itu pasti banyak musuhnya. Aksi korporasinyi jarang dilakukan oleh BUMN: akuisisi perusahaan pesaing.

Itu pernah dilakukan Milawarma di Bukit Asam. Juga Arifin Tasrif saat masih menjabat dirut Pupuk Indonesia: membeli perusahaan amoniak milik Jepang di dekat pabrik pupuknya di Bontang.

Tentu kini terserah direksi Danantara: apakah akan merehabilitasi Ira sebagai dirut ASDP. Tentu Danantara sudah telanjur mengangkat dirut ASDP pengganti Ira. Apakah tidak rumit menggantinya.

Ira sendiri belum tentu mau kembali ke perusahaan kapal penyeberangan itu. Saya tahu betapa lelah jiwa Ira setelah dinyatakan sebagai tersangka korupsi. Kelelahan itu terutama saat memikirkan bagaimana dia yang begitu berjerih payah membersihkan internal ASDP dari korupsi justru dia sendiri yang jadi tersangka korupsi. Pasti Ira ingin berontak, tapi tidak berdaya.

Itulah risiko menjadi dirut BUMN. Akhirnya saya pun tahu risiko itu. Terlambat. Seseorang yang pernah saya angkat menjadi dirut –belakangan ia sempat jadi menteri– mengatakan kepada saya apa adanya: kesalahan yang saya perbuat adalah ''bersih dan membersihkan''.

Harusnya, katanya, ''bersih'' saja cukup. Jangan ''bersih dan membersihkan''. Akan banyak sekali musuhnya. Musuh itulah yang terus mencari-cari kesalahan. Termasuk mencari orang kuat untuk diajak menggulingkan yang ''bersih dan membersihkan'' itu.

Di BUMN terlalu banyak orang kuat. Termasuk para komisaris utama. Banyak pula preskom yang tidak sejalan dengan dirut. Lalu seperti musuh dalam selimut.

Danantara harus peka pada situasi di setiap perusahaan BUMN. Begitu ada gejala perang dingin antara komut dan dirut, harus cepat ambil tindakan. Dengar dua pihak. Kalau perang itu sulit didamaikan, pecat salah satunya.

Dari reaksi publik atas kasus Ira, saya melihat baru kali ini soal business judgment rule jadi perhatian yang begitu luas. Memang selama ini para hakim belum pernah menjadikan business judgment rule sebagai pertimbangan.

Saya sendiri –yang terlibat langsung dalam proses kelahiran business judgment rule itu– merasakan betapa sia-sianya rumusan itu.

Lahirnya term business judgment rule memang sudah terlalu dekat dengan akhir masa jabatan saya. Saat itu forum BUMN mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Forum BUMN ingin: MK memutuskan agar UU BUMN lah yang diutamakan karena UU-BUMN lahir lebih belakangan dari UU Keuangan Negara.

Di UU BUMN ditegaskan aset BUMN adalah aset negara yang dipisahkan. Maka tidak perlu harus diperiksa Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Waktu itu MK memutuskan ''keuangan BUMN'' tetaplah keuangan negara. Hanya saja dalam putusan MK itu disebutkan ''penegak hukum harus mempertimbangkan aspek business judgment rule dalam melakukan pemeriksaan perusahaan BUMN''.

Saya pun menemui ketua Mahkamah Konstitusi (waktu itu), Prof Hamdan Zoelva. Saya dan tim Kementerian BUMN membawa tafsir putusan MK soal business judgment rule itu. Tim hukum BUMN-lah yang membuat tafsir itu.

Setelah ketua MK membacanya, saya minta izin: apakah boleh saya melakukan sosialisasi  tafsir tersebut ke lembaga-lembaga penegak hukum.

"Kami saja yang melakukan sosialisasi. Akan lebih baik," ujar Prof Hamdan Zoelva.

Tak lama kemudian saya pun kedaluwarsa. Saya tidak tahu lagi nasib putusan business judgment rule itu. Yang jelas tidak satu pun hakim pernah menggunakannya.

Pun sampai dirut hebat seperti Ira jadi tersangka. Betapa kesal hatinya. Pun hati Ira-Ira yang lain.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 26 November 2025: Jembatan Merah

ra tepak pol

Alhamdulillah 'ala kulli haal ❤️❤️❤️ ✋️☝️☕️ ngopi time sedulur melanjutkan kenangan masa kecil di Biak tahun 1973-1976, sekolah SD jaman itu belajar berhitung paling memusingkan karena tak pernah jajan dengan pecahan ketip, kelip, tali, sen, gobang alhasil merahlah nilai berhitung di raport. Hal paling berkesan saat pulang sekolah yaitu mampir ke kantor ayah yang lebih dekat dari pada kerumah. sambil tunggu waktu pulang maka bermainlah di rerumputan luas di belakang kantor yang dekat ke landasan pacu pesawat dan berteriak² lepas ke pesawat² yang terbang atau mendarat. Pesan saya ke Abah DI tolong perhatikan di semua lanud / bandara yang Abah DI datangi apakah masih ada pesawat baling² twin otter beroperasi dan jumlahnya lebih dari 5 ? di tahun 2025 ini jika masih ada twin otter beroperasi berarti sudah berumur lebih dari SETENGAH ABAD... tahun 2022 saya masih jumpa twin otter di bandara internasional SAMS Sepinggan Balikpapan. PTDI baru memulai lagi produksi pesawat sekelas yaitu N219... perlu perjuangan berdarah² membuat kendaraan -darat, laut, udara- di negeri ini semoga N219 benar² terbang berdampingan atau mampu menggantikan twin otter dan semakin sukses pabrik karoseri bis-nya sehingga mampu ekspor

Ciga Sama

kebiasaan orang menamakan sesuatu karena mudah dikenali. misalnya lampu merah, padahal ada warna lain disitu tapi karena pada saat lampu merah lah orang berhenti disitu. mungkin itu juga dinamakan jembatan merah.bisa jadi juga karena cat nya. tapi sebaiknya diganti saja namanya, ada jembatan lain yang punya sekalian branding ulang. bagaimana klo nanti warna catnya tidak lagi merah. atau diklaim milik pihak tertntu. dulu ada jembatan kuning karena cat nya kuning, tapi karena pemenang pilkada dari parpol lain dan menganggapnya warna itu parpol tertntu, diubahnya cat jembatan itu jadi warna parpolnya. akhirnya jadi membingungkan banyak orang. "Jembatan senja". sudah terbayang indahnya tanpa terikat warna tertentu.

riansyah harun

Jayapura akan jadi kota terindah di Indonesia, pada saatnya. Kalimat yang membawa semangat luar biasa. Seperti semangatnya saya, semangatnya para pembaca Disway, serta semangatnya jutaan orang lainnya di Indonesia, yang semalam melihat berita di TV, saat pak Dasco menyampaikan berita Rehabilitasi untuk Ibu Ira Puspadewi. Seorang wanita tangguh, tegar, kuat dalam prinsip, membuat laba besar pada salah satu korporasi BUMN serta wanita yang tetap cantik dengan banyak "i" nya, walaupun wajah beliau terlihat "muram" saat dicecar oleh wartawan sesudah dijatuhi hukuman 4,5 tahun.

Komentator Spesialis

Pak boss iki mlaku mlaku terus gak ono kerjone. Kok enak rek !

DeniK

Harus nya abah naik ke bukit Jayapura City dari atas bisa melihat kota Jayapura . Dan pelabuhan nya . Terlewatkan makan mujair sentani plus sambal pedas nya warung nya ada di samping mall.

Ja'far Syahidan

Saya perlu menyanggah komentar @minimax di Komentar Pilihan di atas, bahwa sejak 1000SM babi susah diperoleh di gurun pasir, tidak populer, dan harganya mahal, dan itu menjadi alasan babi dilarang di agama padang pasir. Maaf, Saudara @Minimax, Anda persis seperti @Wilwa yang gemar membawa data keliru. Faktanya, bangsa Yahudi Kanaan pra-Israel sejak dulu justru rutin makan babi, bukan daging hewan mahal. Sampai abad 8 SM, konsumsi babi di Levant (Israel, Palestina, Syria) justru populer. Silakan baca-baca lagi bukti arkeologinya di jurnal-jurnal ilmiah internasional. Lalu terkait air di padang pasir langka yang membuat babi di sana mandi lumpur sehingga kotor kalau dikonsumsi dan mahal/costly kalau pakai air bersih dan akhirnya dilarang di sana, ini juga tidak akurat. Babi dilarang dimakan dalam tradisi Taurat, penyebabnya karena taksonominya tidak layak untuk konteks liturgi Yahudi. Babi adalah hewan berkuku belah dua, tetapi tidak memamah biak. Sedangkan hewan berkuku belah dua yang memamah biak seperti domba atau kambing, tetap halal dan layak dijadikan sebagai daging kurban. Jadi bukan soal babi mandi lumpur kotor lalu dilarang di agama padang pasir, melainkan konteksnya adalah identitas liturgi Yahudi yang memang mengklasifikasikan babi ke dalam hewan yang tidak boleh dimakan. Seperti sapi dalam identitas peribadatan Hindu. Kita bisa bilang: "Padahal daging sapi kan enak". Nah, bukan masalah enak tidak enaknya, tapi memang itu sudah boundary-marker di liturgi Hindu.

Trifa Gustiyan

Di Pangandaran ada yang unik. Ada Jembatan yang awalnya warna merah kini berubah jadi putih. Jembatan Sodongkopo namanya. Dibangun dua tahap. Tahap pertama penuh intrik manipulatif. Tahap dua seperti ada interversi idieologis. Mungkin Gubenurnya suka warna serba putih.. Jembatan yang menghubungkan Nusawiru dan Batukaras itu, harusnya sudah beres. Tapi keliatannya bakal molor. Padahal akhir tahun nanti, Jembatan ini sangat penting. Bu Susi pasti tahu itu.

Rizal Falih

Keindahan dan pesona alam Jayapura memang sungguh menakjubkan, seperti yang ditulis Abah Dahlan, begitu pesawat hendak landing setalah menempuh  lima jam lebih waktu normal perjalanan  langsung dari Jakarta menuju  Sentani, pemandangan indah sudah dapat dinikmati, bukit bukit nan hijau mengelilingi danau Sentani yang luas membentang. Turun dari bandara karena masih banyak waktu, mampir sejenak melihat keindahan kota ini dari puncak MacArthur, tidak jauh dari bandara. Pemandangan yang menakjubkan juga bisa dilihat dari bukit yang menurut sejarah pernah disinggahi dan dijadikan markas tentara Amerika oleh Jenderal MacArthur. Saat ini menjadi markas Kodam XVII Cenderawasih. Yang paling di rindukan saat berkunjung ke kota Jayapura, adalah  menikmati lezatnya ikan mujair bakarnya.  Ikanya terasa segar dan manis karena diambil dari danau sentani, di padu dengan sambal rica-rica yang pedasnya menggoda lidah serta sepiring lalapan daun sinkong rebus dan timun, sungguh terasa maknyus. Tidak perlu merisaukan harga, karena itu sepadan dengan rasa, makan  di resto dipinggiran pantai atau tenda pinggiran jalan pun rasanya sama.

mario handoko

selamat pagi bp juve. "amran akui kantor zulhas izinkan impor beras." demikian berita di bloombergtechnoz.com. zulhas jabatannya menko pangan. amran mentan. mungkin karena merasa jadi koordinator. zulhas tidak ber koordinasi dgn amran saat memberikan izin impor beras. amsyongnya. zulhas berdiam diri saat amran marah dan menyegel gudang beras di sabang. akibatnya muncullah drama. yg untungnya happy ending. beras boleh masuk, asal dipasarkan di sabang. bijaksana memang pak menko. silence is golden. karna kalau masalah ini berlanjut. sama saja seperti menepuk air di dulang. terpercik data impor beras. yg selama ini disimpan di bawah bantal.

Muh Nursalim

siapa yang ada di resto-resto nan indah itu. Ini yang tersilap. Semoga orang-orang asli papua banyak di situ. Bila tidak, waduh. Alamat TNI harus banyak lagi dikerahkan. Mestinya memang penikmat terbesar danau dan teluk itu ya orang Papua. Biar tidak ada bintang kejora berkibar. Biarkan mereka menikmati alamnya yang indah. Kita-kita yang orang jauh, cukup sesekali saja. Menyambangi.

djokoLodang

-o-- Jembatan Airmata Pada hemat saya, mungkin bukan kebetulan bahwa Abah memilih "Jembatan Merah" sebagai judul CHDI hari ini. Sejatinya, itu ada kaitannya dengan edisi tiga hari sebelumnya, Minggu 23 November, "Airmata Ira". Apa itu kaitannya? *) Jembatan Merah adalah simbul terhapusnya airmata mbak Ira, yang baru saja terbebaskan dari kasus akuisisi Jembatan Nusantara. --koJo.-

Bahtiar HS

Intermezzo setelah membaca komentar Pak JS, Wilwa, JZ, KS dll. Saya hanya bertakon2, kok tiap kali Abah menggambarkan yang "indah-indah" itu kosakatanya hampir selalu menyebut: gunung-gunung, hijau, jalan mulus, berkelok, liukan, menyusuri tepian, teduh, gugusan, pulau-pulau, tenang, cahaya putih, bercahaya, berkelindan, dan lain-lain. Mengapa menggambarkan "daratan tipis" kok ya "seperti tangan memanjang yang ingin menggapai daratan di sebelahnya" gitu lho? Kok gak pakai metafora yg lain? Lalu pas melongok dari jendela hotel di teluk Jayapura kok ya yang dilihat "di kejauhan terlihat dua pulau kecil". Mengapa kok pulau? Padahal di gambar itu mirip gunung kecil dikelilingi air yang jernih. Dan kenapa kok mesti dua, padahal di gambar itu saya zum-zum kayaknya cuman satu. Kecuali yang satunya kempes itu dihitung :)) Dan dengan ini saya nobatkan CHD hari ini sebagai "CHD yg terbanyak kata INDAH-nya sepanjang masa". Tak kurang 14 kali kata "indah" disebut dalam CHD ini. Cukup utk menunjukkan isinya tentang keindahan begitu rupa Jayapura dengan teluknya dan Sentani dengan danaunya.

imau compo

Sayang PDI gak melaporkan harga satu porsi Nasi Padang di Wamena, Sentani, dan Jayapura. Saya serius ingin menggunakan harga Nasi Padang ini sebagai Big Mc utk mendapatkan nilai tukar dollar yg wajar utk mata uang satu negara ciptaan majalah The Economist. Nantinya harga Nasi Padang ini akan saya gunakan utk membuktikan thesis saya bahwa PTNBH membuat UKT di PTN naik 10 kali lipat, sesuai dengan beda SPP waktu saya kuliah dengan UKT saat ini. Dengan demikian, PDI diharapkan juga melaporkan UKT di Uncen atau PTN lain yg ada di Wamena dan Sentani (semoga sdh ada PTN). Murid SD Inpres pasti menertawakan ide saya tapi saya ingin sampaikan bahwa Nasi Padang inilah yg keberadaannya yg paling merata dan konsisten dalam pola hitung dagangnya. Konsistensi tadi saya tangkap dari perjalanan saya yg cukup panjang yg sering cari nasi Padang bila datang ke daerah yang baru. Nasi Padang juga ada di Malaysia, dan menjadi heroik dengan kehadiran Restoran Sederhana di Pudu Kuala Lumpur. Sayang saya tidak tahu harga Nasi Padang Sederhana-nya KL karena ditraktir. Salah satu penggambaran konsistensi kehadiran Nasi Padang ketika Neil Armstrong mendarat di bulan. Dia begitu terpesona melihat bumi di bawah yg sangat cantik tapi terkejut waktu lihat ke samping sdh ada RM Padang Saiyo.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BELAJAR ULANG CARA MENDAMPINGI PAPUA.. Kalau jujur, sejak 1963 kita sering melakukan pendekatan yang baik niatnya, dalam membangun Papua. Tapi menurut orang Papua, salah caranya. Konon, ada tiga “kesalahan klasik”. 1). Pertama, kita terlalu Jakarta-sentris. Program sudah banyak, dana besar, tapi sering tidak sesuai cara hidup Papua. Negara hadir, tapi tidak selalu hadir dengan cara yang dimengerti masyarakat. Akhirnya - sebebarnya yang dibawa adalah kemajuan. Tapi yang diterima kecurigaan. Kedua, kita membangun fisik lebih cepat daripada membangun manusia. Jalan dibuka, gedung dibangun—tapi pendidikan, kesehatan, dan kapasitas SDM tidak berlari secepat itu. Akibatnya, banyak OAP merasa jadi penonton di tanah sendiri. Ketiga, komunikasi kita terlalu teknokratis. Padahal Papua punya bahasa adat, simbol, dan struktur kepemimpinan yang khas. Kita kadang lupa berbicara dengan mereka melalui “pintu yang benar”. Apa yang bisa diperbaiki? Saya tidak berani memberi saran. Wong para ahlinya saja kedodoran.

pak tani

Tidak disangka tuisan seri Papua ini begitu panjang. Bukti bahwa Papua sangat kaya. Papua bisa menjadi sumber penghasilan dan sumber inspirasi, yang menghasilkan juga tentunya. Di kancah kuliner ada talas, kopi, dan jangan lupakan kepiting nya yang sangat istimewa. Di bidang tambang, jangan ditanya. Baru emas yang digali saja sudah demikian kaya (seharusnya), belum mineral lainnya. Di pariwisata. Alam papua merupakan kepingan surga yang bisa kita nikmati di negri ini. Keanekaragaman Flora dan Fauna nya pasti akan mempesona tamu tamu nya. Papua punya segalanya. Kaya raya. Harus kita jaga, jangan salah kelola. PAPUA JAYA !

Liáng - βιολί ζήτα

potret hitam putih. Sekian tahun yang lalu, "keluyuran membawa langkah kaki saya ke Jayapura, Ambon dan Ternate - bersama teman yang berambut pirang dan berwarna mata kebiruan. Saya dan teman yang satu ini, lebih suka "memotret" keseharian aktifitas masyarakat setempat, oleh karena itu kami lebih suka sebisanya memilih jalan kaki atau naik angkot, di tempat-tempat keluyuran baru tersebut. Ternate, saya pernah menuliskannya secara singkat pada ruang komentar CHDI edisi 30-01-2025 (artikel "Makian DeLiang"). Jayapura, "sapaan Haleluya" dan "tidur di trotoar jalan raya" masih melekat di-ingat-an saya. ● Sapaan Haleluya. Memasuki lobby hotel Aston di Jl. Percetakan Negara, Jayapura - seorang bellboy mengucapkan Haleluya, sambil telapak tangan kanannya ditempelkan ke dada dan membungkukkan badannya. Dan kami pun membalasnya dengan ucapan Haleluya, juga dengan gerakan telapak tangan dan badan seperti yang dilakukan bellboy itu. Hal seperti ini saya temui pada sebagian pelayan hotel tempat saya menginap tersebut, selebihnya hanya senyuman dan sapaan sebagaimana pada umumnya. [1/3]

Ja'far Syahidan

@Pak Tani Tulisan Pak Wilwa akan lebih nyaman dibaca jika datanya valid, premisnya valid, argumentasinya valid, penarikan kesimpulannya valid. Rata-rata tulisan Pak Wilwa tentang agama-agama Abrahamik Yahudi/Kristen/Islam cenderung bias ke negatif, lalu mengasosiasikan kenegatifan tersebut sebagai keseluruhan dari agama yang disorotnya. Itu jelas bukan tulisan komentar intelektual yang mencerahkan, tetapi memancing perseteruan. Coba, misal ada yang komen: "orang beragama itu korup, maka saya berpikir mending agama itu dihapus total saja sekalian, gak usah ada agama". Apakah model penalaran logika yang seperti itu masuk akal? Ibarat ada anak SD berkata: "makan nasi basi bikin sakit perut, mending semua makanan dilenyapkan sekalian, biar gak ada yang sakit perut". Penalaran kacau seperti ini jelas tidak layak dikonsumsi nalar.

Kholifatul Isnaeni

Dulu saya sudah memutuskan tidak akan pernah membaca komentar dari beberapa perusuh. Sejak beberapa waktu lalu saya menambah list. Mohon maaf, saya memasukkan Pak Wilwa dalam daftar itu. Terus terang, saya pernah membaca komen Pak Wilwa, dan saya khawatir iman saya yang tidak seberapa kuat ini tergerus. Jadi, lebih baik saya tidak membacanya.

MZ ARIFIN UMAR ZAIN

Bagi mu peta mu, bagi ku peta ku.

Liam Then

Misalnya anda punya peta untuk ke suatu tempat, kemudian ada orang lain bawa peta yang berbeda, kemudian ngomong, "ini peta yang benar ,punya anda salah, kesini aja, pakai peta ini" Lah saya mau ke sana kok, sudah punya petanya, kok anda maksa pakai peta anda? Apakah anda takut sendirian disana, sampai yakinkan orang petanya salah? Masing-masing aja, ndak lama kok, berapa puluh tahun saja.

Wilwa

@Jafar Syahidan. Di daerah tertentu di Mesir kuno, daging ikan dilarang untuk dipersembahkan karena konon dewa lokalnya tak menyukai ikan. Neo Assyrian punya tradisi tidak mempersembahkan daging babi pada hari raya keagamaan tertentu karena dianggap bisa membawa kesialan. Dan mungkin inilah yang memberi inspirasi orang Yahudi untuk tidak mempersembahkan daging babi sama sekali. Tradisi pola makan daging yang unik ini yang kemudian membedakan bangsa Yahudi dengan suku bangsa lain di sekitarnya (Palestina, Suriah, Irak, dll). Tidak mempersembahkan daging babi yang diyakini tidak disukai Yahweh. Walau suku bangsa di sekitarnya menternakkan babi dan mempersembahkan daging babi kepada dewa mereka dan makan daging babi.. Pada 168/167 SM, kaisar Antiochus IV Epiphanes merusak dan menjarah bait suci di Yerusalem lalu mendirikan altar yang mempersembahkan korban babi untuk Zeus di bait suci. Penodaan bait suci ini sangat menyakitkan hati bangsa Yahudi. Dan membuat bangsa Yahudi makin anti daging babi. Tiga tahun kemudian, Yudas Makabe / Judas Maccabee berhasil merebut kembali bait suci lalu memperbaiki bait suci dan “menyucikannya” kembali yang dikenang sebagai hari raya Hanukkah. Jadi anti daging babi ini sebenarnya tidak berdasarkan science tertentu tapi kemungkinannya adalah lebih kepada takhayul berbagai suku di Timur Tengah ribuan tahun lalu mengenai korban hewan apa yang disukai dan tidak

Juve Zhang

Hari ini olahraga jalan jauh lihat di HP sudah 10 KM ....tanjakan nya mantap tapi paru paru mantan TBC masih bisa melayani dengan enteng.....wkwkq.... istirahat di pinggir jalan di tanjakan makan bakso kampung....anda Tahu satu bakso agak besar satu kecil sayur toge plus caisim cukup 7000 Rupiah....gak pake mie ....sambil makan tanya Mas Alit dibandingkan tahun 2023 dan 2024 dan 2025 gimana omset.....mas Alit tahun ini parah pak Turun omset 30%.....saya ngangguk sambil makan " bakso TiKuS " saya puji puji bakso nya enak....saya kira kira kan ini bakso TiKuS ..justru saya suka tak masalah....murah bergizi Tikus Kampung....cuma jangan sampai kaki tikus masih utuh lupa di giling....saudara saya tukang bakso asli Sapi jadi saya senyum saja membqyar satu mangkok bakso 7000...... sebelum nya wawancara lagi satu pedagang bakso sama omset turun 30 %.....satu lagi agak jauh di kampus top pisan....tanya bapak tukang jualan nasi kuning.... jawaban sama tahun 2025 parah banget pak....omset penjualan turun 30%......tiga Nara sumber hampir sama jawaban 2025 turun omset penjualan sampai 30%..... dibanding tahun 2024.....survei cukup tancap gas lagi tanjakan masih terjal..... bahagia nya hidup tanpa amlodlplin Metformin apapun obat lain kita bersih dan ber Energi.....hati bersih jangan suka benci agama dan etnis lain kunci anda kuat naik tanjakan 10 km...... orang benci agama kita etnis kita biarkan saja...sudah tua kita jadi teman baik melupakan kisah remaja banyak dihina karena sekelas 3 K

Johannes Kitono

Pahlawan Papua. Beberapa edisi terakhir CHD menulis tentang Papua. Kaya SDA tapi miskin SDM. Akibatnya mayoritas rakyat Papua jauh dari sejahtera. Sosok Kompas hari ini tulis tentang Leiden dan Irwani. Sepasang guru yang hampir 10 tahun mengabdi di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan. Biarpun fasilitas minim mereka mengajar dengan penuh kasih. Leiden asal Manado ketemu Irwani pria asal Nias di Tolikara. Keduanya menikah dan menumpang tinggal di gedung Perpustakaan yang disekat. Guru disana terbatas dan terkadang Leiden harus mengajar dari kelas 1 sampai 6. Dan Irwani yang guru SMP terkadang membantu isterinya mengajar di SD. Keduanya dicinta murid dan sering dapat oleh oleh hasil kebun Ortu murid. Selain berprofesi guru terkadang harus merangkap sebagai dokter Puskesmas. Kalau ada kecelakaan ojek bahkan korban perang suku. Peralatan PKK sekolah yang terbatas akan dipakai untuk mengobati korban luka. Kedua guru luar Papua itulah yang pantas disebut Pahlawan. Dulu di kantor ada Ir Petrus asal Papua sebagai Tehnikal Service Perternakan. Banyak cerita tentang Papua dan nadanya sangat memihak Belanda. Katanya Papua lebih sejahtera kalau tetap dibawah Belanda. Dan sayang Belanda telat menemukan Papua, kilahnya ketika dibilang Belanda tidak bangun apapun di Papua. Ir Petrus akhirnya pindah ke kompetitor dengan tinggalkan pinjaman hutang di kantor. Now, mungkin sudah pindah ke Papua New Guinea dan jadi Menteri Pertanian di sana. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

Leong Putu

"Abah mau ke ma?" "Wamena, Ma" "Iku...". "Papua banya orang mati ditembaki KKB, orang orangnya makan Babi, mama mau ditembak KKB dan makan babi?". "Ndak lah, Pak" "Nah ntar kalau ke Bali aja, Mama ikutnya, kali ini jangan dulu. Bahaya!". "......." Jebule nulis nang CHD, Wamena permai, Jayapura indah...ininya indah itunya indah...talasnya nikmat makanannya mantap ada pusat kuliner yang lokasinya indah.... Hedeeeeeeh......dasar...dasar... Pak Bos kok tego bianget.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 155

  • Mas Dino
    Mas Dino
  • DeniK
    DeniK
  • muhamad yusup
    muhamad yusup
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Koko Koswara
    Koko Koswara
  • Runner
    Runner
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
  • Herry Isnurdono
    Herry Isnurdono
    • Herry Isnurdono
      Herry Isnurdono
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Herry Isnurdono
      Herry Isnurdono
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Sugi
    Sugi
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jo Neca
      Jo Neca
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Ja'far Syahidan
    Ja'far Syahidan
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Liam Then
      Liam Then
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
    • Liáng - βιολί ζήτα
      Liáng - βιολί ζήτα
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Hery Purwanto
    Hery Purwanto
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
    • Hery Purwanto
      Hery Purwanto
    • Ja'far Syahidan
      Ja'far Syahidan
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Nusantara Hijau
      Nusantara Hijau
    • Nusantara Hijau
      Nusantara Hijau
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
  • Jo Neca
    Jo Neca
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Eyang Sabar56
    Eyang Sabar56
  • Liam Then
    Liam Then
    • Jo Neca
      Jo Neca
    • Liam Then
      Liam Then
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Johan
      Johan
  • Johan
    Johan
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Johan
      Johan
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • DeniK
    DeniK
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Hendro Purba
    Hendro Purba
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • WASITH channel
    WASITH channel
  • imau compo
    imau compo
    • imau compo
      imau compo
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Rachmad Saleh
    Rachmad Saleh
  • fatoni rahman
    fatoni rahman
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Jo Neca
    Jo Neca
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Jo Neca
      Jo Neca
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Saiful Ahmad
    Saiful Ahmad
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Turrachman Rachman
    Turrachman Rachman
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • imau compo
      imau compo
  • dabudiarto71
    dabudiarto71
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • fahrizal ardani
    fahrizal ardani
  • Nimas Mumtazah
    Nimas Mumtazah
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • djokoLodang
      djokoLodang
  • Sogia Manom
    Sogia Manom
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • alasroban
    alasroban
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Asfabara Prayitno
    Asfabara Prayitno
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • DeniK
    DeniK
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • rid kc
    rid kc
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • DeniK
    DeniK
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • satria tomat
    satria tomat
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Azza Lutfi
      Azza Lutfi
  • satria tomat
    satria tomat
  • satria tomat
    satria tomat
  • satria tomat
    satria tomat
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • ra tepak pol
      ra tepak pol