PT Bukan
Ilustrasi Mahendra Siregar (mantan Ketua OJK) dan Kiki Widyasari (PJ Ketua OJK).--
Orang seperti apa yang lebih cocok memimpin lembaga keuangan: orang yang suka bicara dengan gaya sedikit meledek, atau orang yang cara bicaranya sangat hati-hati --saking hati-hatinya sampai seperti menunggu dulu bunyi tokek untuk mengucapkan kata berikutnya.
Tipe pertama Anda sudah tahu: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Tipe kedua Anda juga sudah tahu: Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar.
Saya sering berada di dekat Mahendra saat ia berbicara di depan umum: dulu. Sudah lama sekali. Setiap kali ia berbicara rasanya saya ingin membentaknya: bisakah bicara sedikit lebih cepat.
Tapi karena menyadari saya kalah pinter maka saya memilih bersabar menunggu datangnya kata berikutnya dari satu kata yang sudah diucapkannya.
Mahendra seperti tidak pernah mengucapkan kalimat. Yang ia ucapkan selalu hanya kata dan kata berikutnya. Kita yang mendengarkanlah yang harus merangkai kata-katanya menjadi kalimat.
Waktu mendengar berita bahwa ketua OJK itu mengundurkan diri, saya tiba-tiba kangen dengan gaya pidato Mahendra. Maka saya tunggu pernyataan pengunduran dirinya. Jumat petang lalu. Masih sama. Masih tidak lebih cepat. Seperti tidak ada kegawatan apa pun di bursa saham Indonesia yang di bawah pengawasannya.
Apakah gaya bicara seperti itulah yang mempengaruhi cepat lambat cara berpikirnya? Bukankah ada doktrin "orang keuangan tidak boleh banyak bicara"? Berarti gaya Mahendra mestinya cocok untuk memimpin lembaga seperti OJK?
Rasanya tidak ada hubungan antara cara bicara dengan cara berpikir. Buktinya, meski bicaranya begitu lambat Mahendra begitu cepat ambil putusan: mengundurkan diri.
Atau, jangan-jangan ada bentakan dari arah lain yang mempercepat putusan mundur itu. Yang jelas orang seperti Purbaya menganggap putusan mundur itu baik. Tidak terkait dengan sikap kepahlawanan seorang negarawan melainkan agar bisa diambil kebijakan cepat setelah itu.
Seperti juga Pandu Syahrir dari Danantara, Purbaya juga menilai OJK terlalu lambat menyikapi peringatan MSCI.
Setelah Mahendra mundur, keesokan harinya komisioner OJK rapat. Langsung memilih pejabat sementara ketua OJK: Friderica Widyasari Dewi --panggilannyi Kiki Widyasari. Umurnyi 50 tahun tapi penampilannyi mirip 40 tahun.
Kiki punya latar belakang artis sinetron tapi tidak ada yang mempersoalkan. Dia artis tapi cerdas. Latar belakang pendidikannyi ekonomi dan keuangan: Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan California State University di Fresno.

Kiki Widyasari saat memerankan istri Angling Darma.--
Kiki juga sudah malang-melintang di dunia keuangan dan manajemen. Mulai di perbankan sampai pasar modal. Juga pernah di sektor riel dengan menjadi Dirut PT BRI Danareksa Securitas. Itu yang membuat tidak ada yang mempersoalkan latar belakang keartisannyi.
Gaya bicara Kiki normal-baik. Memang belum seperti Sri Mulyani yang dikenal sebagai 'bibir dan otaknyi' bergerak sama cepatnya. Tapi Kiki berjanji akan mereformasi bursa saham BEI 'secepat mungkin'.
Tentu kata 'secepat mungkin' bukanlah kata yang cukup memuaskan. Di kalangan manajemen ada doktrin: mengucapkan kata 'secepat mungkin' sama dengan tidak mengucapkan apa pun. Itu tidak konkrit. Tidak terukur. Tidak bisa ditagih.
Saya termasuk benci kalau ada anak buah yang mengucapkan kata 'secepat mungkin' atau 'secepat-cepatnya'. Saya selalu mengejarnya dengan pertanyaan lain: kapan?
Tentu Kiki tidak bisa saya tanya begitu. Dia bukan anak buah saya dan saya bukan anak buah Kiki. Dia memang harus hati-hati bicara di depan publik. Tidak sama dengan kalau bicara di depan anak buah sendiri.

Kiki Widyasari dalam sebuah acara yang diselenggarakan OJK.--
Reformasi yang harus dilakukan di bursa itu ada empat atau enam butir. Tergantung cara menyusun butirnya. Salah satu di antaranya: demutualisasi.
Artinya: perlu ada perubahan bentuk kepemilikan. Dari selama ini BEI milik perusahaan broker menjadi milik pemegang saham. Berarti bentuk BEI harus perseroan terbatas.
Selama ini, sejak mergernya Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, bentuk BEI sudah PT. Tapi operasionalnya seperti bukan PT beneran. Dulu saya aktif ikut membidani lahirnya Bursa Efek Surabaya --sedikit banyak tahu soal merger itu.
Muara dari demutualisasi tersebut adalah independensi dan keterbukaan pasar modal. Bukan lagi disetir oleh perusahaan broker saham. Broker bisa berkuasa di BEI karena merekalah pemilik sebenarnya.
Hongkong sudah lebih dulu melakukan reformasi: tahun 2000. Pun Singapura. Waktu itu Hongkong lagi dapat momentum: krisis moneter Asia dan kembalinya HK ke pangkuan T. Momentum itu tidak dilewatkan begitu saja.
Bursa Hongkong langsung 'meledak': dipercaya global sekaligus dipercaya T.
Setelah reformasi itu terjadilah gelombang besar IPO perusahaan T di HK. Dunia pun menyerapnya.
Momentum seperti itu yang tidak ada di Singapura. Bursa Singapura langsung tertinggal kian jauh dari bursa HK.
Kita --saya sering mengetik kata 'kita' di keyboard, ternyata yang muncul di layar 'kota' --juga punya momentum untuk berubah: yakni datangnya ancaman dari MSCI. Ancaman itu berisi: bursa kota akan diturunkan kelasnya dari 'emerging' ke 'frontier' --kelas terbawah.
Kita masih punya waktu: akhir Mei. Empat bulan. Rasanya cukup. Meski Kiki mengucapkan kata abstrak 'secepat mungkin' rasanya tiga bulan selesai.
Kan mudah: tinggal bikin daftar apa yang diinginkan MSCI. Lalu satu persatu diselesaikan. Pakai deadline. Pakai dashboard.
Hanya bila ada 'kepentingan' yang akan menghambat pencapaian target reformasi itu. Meski kita benci pada antek asing apa boleh buat: kita harus penuhi semua itu. Setidaknya sebagian besarnya.
Vietnam juga menghadapi hal yang sama: dengan tujuan berbeda. Kita harus memenuhinya agar jangan diturunkan kelas kita. Vietnam ingin memenuhi kreteria MSCI agar bisa segera naik kelas: ke kelas emerging.
Maka akan ironi kalau Juni depan terjadi lukir Indonesia-Vietnam: ia berhasil naik kelas dan kita justru turun kelas. Vietnam menjadi emerging dan kita turun ke frontier.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 1 Februari 2026: Agak Lain
ra tepak pol
Alhamdulillah 'ala kulli haal ❤️❤️❤️ ☕️☕️☕️☕️☕️ ☝️⏱️☀️♻️ ngopi time sedulur perusuh.
KOTAK KOSONG pada komentar CHD / CDI masih lancar jaya di podium ke 1 terhitung sejak 7 tahun lalu hingga kini, tak terpengaruh BEI pun OJK... entah nanti kalo KOTAK KOSONG WAJIB DIISI beberapa huruf atau spasi
Sugi
Lho kok solusinya IHSG anjlok pakai dana asuransi lagi. Memang bener2 agak laennegeriku ini. Perilaku pasar modal yang selalu salah diartikan. Semua pihak yang berkepentingan mestinya mengevaluasi diri segera dan berbenah. Doa terbaik semoga pasar modal tanah air segera bangkit, pulih, dan stabil kembali. Aamiin.
Ciga Sama
Karena kecil, maka terasa ringan. Karena banyak, maka terasa tak bertuan. Memang lebih enak mengelola uang orang banyak. Moralnya seolah terpecah, tanggung jawabnya tampak kabur. Kalau rugi, yang marah tak serempak dan tak bisa apa-apa. Kalau untung, yang menikmati hanya segelintir.
Padahal yang paling susah bukan laporan keuangan, bukan audit, bukan rapat direksi. Yang paling berat adalah pertanggungjawaban yang tak mengenal neraca: di AKHIRAT nanti.
Di sana, tak ada istilah dana kolektif. Yang ada hanya satu per satu wajah kecil yang dulu menyetor sedikit, lalu bertanya pelan: Dulu uang saya ke mana?
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Rakyat kecil, termasuk wiraswasta kecil seperti saya, tak terdampak langsung sama harga saham-saham itu karena kami tak jualan saham. Juga tak beli saham. Itulah kenapa Pak Prabowo pernah bilang nggak terlalu memikirkan IHSG karena, menurutnya, itu hanya sekelompok "pemain", bukan ekonomi "nyata".
Bisa jadi itu penyebab selama ini presiden sedikit abai terhadap itu sehingga sekarang rapornya merah.
Faktanya, kalau bursa saham rapornya merah, apalagi rankingnya turun, maka trust para investor asing juga akan hilang. Uang asing yang di dalam bisa dibawa lari lagi sama empunya.
Saya sih berharap benar ada "benda melayang" di akhir pekan ini. Saya berharap waktu sampai Mei ini benar-benar dimanfaatkan regulator (baca: presiden) untuk membenahi bursa saham.
Kalau perlu ketua OJK dan Dirut BEI diganti militer. Atau keponakan presiden sekalian.
Anda sudah tahu, Pak Prabowo lebih suka bekerja cepat dan perintahnya harus dijalankan dengan cepat makanya lebih suka pakai orang militer atau orang dekatnya.
Agak merusak sistem meritokrasi (juga demokrasi) sih. Tapi ya sudahlah tidak apa-apa. Sikat dulu saja yang penting ekonomi nasional segera stabil lagi.
bitrik sulaiman
masukan utk pembuatan mobil listrik
18 Juli 2013.
Bismillaahirrohmaanirrohim,
Kepada : Yth. Bapak Dasep Ahmadi
Bermula dari memperhatikan tetangga memasukkan mobil ke garasi rumah yang cukup memakan waktu dan perlu ekstra hati2 karena jalan didepan rumah hanya bisa lewat 1 mobil dan kalau ada motor salah satu harus berhenti dulu.
Timbul dalam pikiran saya kenapa mobil tidak menyediakan perlengkapan tambahan yang membuat mobil mampu jalan lurus kesamping kanan atau kiri, sehingga kalau mau masuk garasi tak perlu belok-belok, maju mundur? Tinggal tarik handle mobil terangkat sedikit seperti di dongkrak, lalu pencet dan tahan tombol panah ke kiri/kanan empat roda mini tambahan bergerak kesamping kanan/kiri.
Nah kalau perlengkapan ini dibuat saya yakin akan banyak peminatnya, khususnya bagi pemilik mobil yang tinggal dirumah yang jalannya pas2an. Apalagi dihubungkan dengan momentum mobil listrik yang konon akan menjadi murah, ramah, bertambah daya tariknya karena menjadi lebih praktis cara masuk garasinya. Dan mungkin bisa digunakan pula tatkala mobil akan diganti ban atau cuci.
Demikian surat saya ini saya buat dengan tulus, ide yang sayang dilewatkan begitu saja, semoga Bapak dapat membaca dan menangkapnya dengan seksama serta memberikan manfaat bagi masyarakat pengguna mobil yang akses ke rumah tak begitu leluasa.
Insya Allah Bapak Dasep Ahmadi yang sedang sibuk-sibuknya menyiapkan mobil listrik menjelang APEC di Bali, dalam keadaan sehat walafiat, dan sukses selalu
Nurkholis Marwanto
Saya sih ketawa aja, biarin asing keluar. Saatnya BEI dikuasi investor lokal dan ritel. Yang membeli angka-angka itu yang panik. Kalau yang dibeli adalah perusahaan yang bagus tentu santai saja. Malah bisa mendapatkan kepemilikan dengan harga yang rendah. Semakin rendah harga, yield deviden semakin tinggi. Adalah kesempatan yang bagus membeli perusahaan yang baik dengan harga murah.
Jokosp Sp
Boss di kantor pusat di Jakarta tanya : Coba dicek ke rekening banknya, apakah klaim asuransinya sudah masuk?. Saya menjawab enteng : sudah pak. Ada notif di HP. Boss di Jakarta melanjudkan : Jangan berharap yang diterima kayak besarnya gaji tiap bulan, atau kalau dapat bonus enam bulanan, atau uang THR ya. Muncul perasaan dalam hati dan pikiran : ada apa ini....?. Akhirnya saya menjawab : Iya Pak........diterima. Boss di Jakarta : Terima kasih ya...... Saya jawab lagi : Terima kasih juga Pak......, Wasalamu'alaikum wr wb. Kemudian coba cek noitifikasi di HP....beeeehhhhhh dipotong buat print, foto copi sama bayar ekspedisi tinggal cukup buat makan sekali di Warung Padang......... Ambyarrrrrrr.
Lagarenze 1301
Menyalak Pantiku. Agak laen judul film yang tertulis di CHD.
salak » me.nya.lak
1. v mengeluarkan bunyi salak; menggonggong: anjingnya suka ~ apabila melihat orang yang belum dikenalnya.
2. v ki merengek (meminta sesuatu): seharian anak itu ~ saja karena permintaannya tidak dituruti.
Tiga Pelita Berlian
Pak Prabowo pernah pidato yg berisi nasehat kurang lebih begini konteks nya :"bahwa rakyat kecil jangan ikut2an main saham, pasti kalah".
Kalo ga percaya silahkan cek jejak digital nya .
Seklangkong
Kurniawan Roziq
Zaman Soeharto kita cari musuh namanya PKI , zaman sekarang kita cari musuh namanya antek asing,
Ojol Gacor
Saya kok gak ngerti ya sama pemerintah dan orang orang yang terlibat BEI. Presiden sendiri pernah menyatakan ketidak percayaannya kepada bursa saham yang mrnurutnyahanya permainan spekulasi yang tidak mencerminkan kondisi ekonomi kita yang sebenarnya. Demikian pula dengan para pelaku pasar dan para pengamat yang sudah mencap IHSG sebagai Index Harga Saham Gorengan. Lalu, kenapa kita menjadi demikian bangga ketika IHSG meroket dan panik ketika terjun?
Juve Zhang
Karena bukan pemain saham saya bahas Iran saja ......Iran itu skenario nya chaos penembakan oleh suku Kurdi dan Balochistan yg diberi senpi oleh mossad VvCIA sengaja disuruh menembak mati polisi dan pendemo masukan starlink videonya seolah olah dilakukan pemerintah Iran maka A berhak menurunkan bom atas " penembakan pendemo ".....tentu saja dengan bantuan Tiongkok dan Rusia buyar Plan A....yaitu menyerbu sekitar 14 Januari.... dengan alasan Menyelamatkan rakyat yg ditembaki ....sejatinya yg nembakemang agen mossad VvCIA yg sengaja didatangkan sebagai pendemo dengan maksud emang menmbak pendemo dan polisi.....tentu saja Starlink senang hati mewartakan penembakan di Iran ke mancanegara....tetapi Plan A ini buyar ketika Jenius Teknologi Tiongkok mampu membungkus starlink dengan rapi .....ketika Starlink sudah dibungkus rapi tak bisa mewartakan ke mancanegara barulah pendemo ber senpi diburu oleh polisi dan dijebloskan ke penjara....kalau melawan fatal bisa adu tembak dengan polisi.....tapi videonya gak bisa keluar dari Iran ... akhirnya pendemo menyerah 10 ribu an yg di penjara.....Iran aman lagi....Plan A gagal maning.....sekarang Plan B ....mau menyerang Iran pake F35....Ini yg ditunggu penonton aktifnya rudal Iran dalam menggempur Israel model dulu..... Israel sudah kapok digempur rudal Iran....Iran janji yg serang Amerika tetap Israel akan digempur....rudal sehari bisa 700 rudal ....kenyang Israel.... wkqkq....biasa gelombang pertama drone dulu belakang rudal ....bahkan bak
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
SAYA PERNAH BELAJAR SIMULASI APLIKASI SAHAM..
Dulu waktu sekolah, saya pernah sempat mencicipi rasanya jadi "trader".
Kami diberi modal simulasi sebesar 1 miliar rupiah.
Permainannya intens, cuma tiga hari. Setiap 15 menit, jantung dipaksa berdegup kencang. Kami harus ambil keputusan: jual atau beli.
Dasarnya macam-macam. Ada berita positif, kabar negatif, hingga pengumuman pembagian dividen. Belum lagi urusan strategi saat penutupan sore dan pembukaan pagi.
Semua pergerakan itu menuntut logika yang cepat.
Di hari ketiga, barulah "rapor" kekayaan kami dibuka.
Penentu nilainya bukan cuma saldo akhir yang melambung. Tapi juga analisis tertulis yang menjadi dasar setiap keputusan 15 menitan itu.
"Otoritas kelas" ingin melihat: kita ini berinvestasi dengan otak atau sekadar berjudi nasib?
Dari 25 mahasiswa, ternyata hanya tiga orang yang berhasil meraih nilai A. Saya salah satunya.
Pengalaman itu menyadarkan saya bahwa mengelola uang butuh disiplin tinggi dan kepala dingin. Simulasi saja sudah bikin stres, apalagi kalau yang dipertaruhkan adalah uang asli hasil keringat sendiri.
Di sana saya belajar, pasar saham itu bukan tempat untuk orang yang gampang panik.
ra tepak pol
---anyway---
Pasar Phù Dật (Phu Dat Rat Market) yang terletak di Provinsi An Giang, Vietnam.
Koh (wakkaji) Juve Zhang pernah mampir ke pasar ini kah? diyakini Koh pasti berliur liur saking kesenangan
Liam Then
Mas Ai saya tanya ; "Ketika harga saham gabungan anjlok dua hari berturut-turut, apakah ada net inflow buying dari asing?"
Jawabannya : "ndak ada, yang ada jual gede-gedean"
Wah agak laen ini, padahal saya baca di berita dengan judul huruf tebal
Net Buy Saham GOTO Capai Rp 171,87 Miliar .(Judul)
"Pemodal asing, khususnya fund manager, justru agresif memborong saham GOTO, seperti Vanguard dan JP Morgan. Aksi ini dilakukan saat saham ini turun....."
178,87 miliar nilai pembelian GOTO itu "peanut" dibanding keseluruhan saham floating harian GOTO. Mas Ai jelaskan pembelian ukuran sekecil itu, cuma aksi rebalancing dari sistem otomatis/algoritma dari koleksi saham IHSG mereka.
Berita rancu seperti ini juga bisa mengakibatkan salah posisi investor pembaca berita.
Jadi sedikit banyak, pada masa sulit dan genting, berita merujuk rancu, samar, cenderung bisa menyesatkan pembaca sehingga bisa membuat keputusan yang salah. Seharusnya media yang mengkhususkan diri lebih tahu untuk tidak membuat berita seperti ini yang meskipun benar isinya tapi bisa berikan interprestasi sinyal yang salah oleh pembacanya.
Kebetulan selama ini karena teman akrab hobi saham, saya keikutan bantu lidik tentang MSCI, apa sih itu,kenapa disebut-sebut trus.
Saya ingat baca beberapa kutipan respon yang cukup optimis dari otoritas BEI terkait peringatan Morgan Stanley yang sudah diberikan jauh sebelum dibekukan.
Bisa jadi respon ini, yang bikin situasi kemaren jadi "agak laen" juga.
Liam Then
Ndak papalah, setidaknya istri saya jadi putih, ndak merah seperti saham koleksi karib saya.
Liam Then
Gara-gara pembekuan MSCI Dana 33T yang harusnya masuk ke pasar saham RI hasil aksi beli passive fund/otomatis saham-saham perusahaan yang terdaftar dalam indeks, ndak jadi masuk..
Yang terjadi malah sebaliknya aliran keluar triliunan rupiah efek kepanikan pasar akibat pembekuan rilis daftar perusahaan yang masuk indeks MSCI tersebut.
Kacau kacau...yang kesian investor lokal, gigit jari semua, tiba-tiba nilai aset saham mereka meroket turun.
Jadi wajar mereka marah-marah, kecewa karena selama ini otoritas BEI selalu beri sinyal : "ndak apa, aman, sudah dikomunikasikan"
Akibatnya perhitungan, analisa investor ritel jadi pakai patokan data yang salah. Karena ndak apa-apa jadi pede invest sana sini, apalagi ke saham yang isunya bakal masuk daftar MSCI, karena secara historis, mayoritas saham-saham itu akan naik harganya setelah rilis.
Kasihan kan? Sukurlah, saya ndak duit buat beli saham, karena habis dibelikan bedak koreasama istri saya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:

Komentar: 27
Silahkan login untuk berkomentar