Lebaran Rezeki

Lebaran Rezeki

Foto bersama keluarga kami dan para tamu, minus cucu tertua.--

Tidak habis-habisnya saya minta maaf di sepanjang jalan. Tamu-tamu saya itu tidak seharusnya jalan darat Jakarta-Surabaya. Pakai mobil yang tidak terlalu nyaman bagi level bos besar.

Total, kami 14 jam di jalan raya. Ups... 13 jam –dipotong satu jam di waduk Cirata.

Saya coba hibur mereka: kalian ini istimewa. Kali pertama ke Indonesia langsung punya pengalaman jalan darat Jakarta-Surabaya. "Banyak teman saya sudah 20 tahun bolak-balik Tiongkok-Indonesia belum pernah merasakannya," ujar saya. 

Dari tujuh orang itu memang hanya Meiling yang bukan baru pertama ke Indonesia.

Saya pun menceritakan pengalaman saya jalan darat satu harmal di Tiongkok. Waktu itu belum ada jalan tol di Tiongkok. Kalau pun ada baru satu jalur: Dalian-Senyang –300 km. Sedang perjalanan saya itu dari Tianjin ke Qingdao di Shandong. Hampir 24 jam.

Kami lewat kota Yantai. Mobilnya lebih jelek dari mobil ini. Debunya lebih banyak. Jalannya sempit dan padat. Banyak truk reot dan traktor gerobak memadati jalan. Resto-restonya kotor. Apalagi toiletnya.

"Sebelum ada jalan tol berapa jam dari Jakarta ke Surabaya?" tanya salah satu bos itu. 

"Bisa 20 jam," jawab saya. Itu berdasar pengalaman saya sendiri di masa lalu.

Tamu-tamu saya itu jauh lebih muda dari saya. Mereka tidak pernah mengalami perjalanan di negeri mereka seperti yang saya lakukan. Baru belakangan jaringan jalan tol menjangkau seluruh kabupaten di Tiongkok. Masih ada pula jaringan kereta cepat yang tidak kalah luasnya.

Hampir pukul 23.00 kami baru tiba di Surabaya. Lelah. Ngantuk. Lapar. 

Saya tawari mereka makan malam. Tidak ada yang mau. Mereka pilih bergegas tidur. Toh di rest area Salatiga sudah makan durian yang kelewat banyak. Durian lokal. Tiap butir beda rasa. Tidak seperti durian Malaysia: sepuluh butir pun satu rasa.

Biarlah mereka langsung tidur.

Saya pun tidak tega minta mereka bangun pukul 05.00 untuk saya ajak salat Idulfitri di Masjid Al Akbar. Saya akan jemput mereka pukul 07.00 saja, setelah kami pulang dari salat.

Saya minta mereka tidak makan pagi di hotel. Istri saya sudah masak menu kesukaan orang Tiongkok dan Jepang: rawon buntut sapi.


Sarapan Rawon Buntut Sapi saat lebaran.--

Tidak tanggung-tanggung istri saya menyiapkan rawon: 6 kg. Masih ada menu tambahan: tempe goreng, dadar jagung, rendang, tewel ceker ayam, aneka sambal.

Meiling, dari Singapura, yang jadi juru bicara: jangan lupa makan sambal. "Sambal Bu Dahlan luar biasa sedap," kata Meiling kepada para tamu. Meiling memang sering dapat kiriman sambal nyonya rumah.

Tentu mereka tidak langsung makan. Mereka boleh lebih dulu melihat ritual keluarga kami: sungkeman. Juga adegan lucu berikutnya: pembagian angpao oleh sang nenek. Mereka sibuk mengambil foto dan video. Itulah kali pertama mereka melihat acara Idulfitri di negara Islam.


Ritual di keluarga kami: sungkeman.--


Dilanjutkan bagi-bagi angpao.--

Tentu saya sulit menjelaskan apa itu Idulfitri. Maka saya pakai saja istilah yang sering dipakai orang di sana untuk menyebut Idulfitri: ''Muselin Guo Nian". Tahun baru orang Islam. Saya mengubah kata "muselin" menjadi "Yin Ni" –Indonesia. "Yin Ni Guo Nian". 

"Memang mirip sekali dengan acara hari raya tahun baru Imlek," ujar salah satu dari mereka.

Tentu para cucu masing-masing menerima tiga angpao: dari nenek dan ibunda mereka. Kali ini ada amplop khusus untuk cucu yang dinilai juara: juara paling banyak tersenyum. Saya ingin remaja mulai dibiasakan tersenyum. Di zaman HP ini saya lihat kian banyak remaja yang wajah mereka kaku.

Ternyata kali ini para cucu menerima empat amplop: salah satunya warna merah. Rupanya salah satu tamu menyiapkan itu. Maka para cucu yang sudah menanjak remaja merasakan Idulfitri tahun ini berbeda. Salah satu perbedaan itu: cucu tertua tidak bisa ikut serta. Sehari sebelum Lebaran masih ada ujian di kampusnyi di Singapura.

Usai pesta rawon: kerja lagi. Ke berbagai lokasi bisnis di Jatim. Sampai malam pula. Idulfitri kembali suci. Usai Idulfitri kembali cari rezeki.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 23 Maret 2026: Pulang Kotor

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PERNIKAHAN BISA KARENA KEPENTINGAN, 

MESKI TAK CINTA..

Ini bukan kisah cinta. Ini kontrak jangka panjang. 

Iran dan Tiongkok tidak saling jatuh hati. Tapi sama-sama tahu siapa yang ingin dilawan: dominasi global AS. 

Di situlah akadnya dibacakan—tanpa bunga, tanpa puisi.

Ideologi mereka beda jauh. Satu berbaju agama. Satu lagi berbalut komunisme rasa kapitalis. 

Tapi urusan perut dan kekuasaan sering lebih pragmatis dari kitab mana pun. Iran butuh pasar dan teknologi. 

Tiongkok butuh energi murah. Cocok. Tidak romantis, tapi efisien.

Minyak Iran mengalir ke Tiongkok. Katanya sampai 90 persen. Jalurnya kadang “kreatif”. Harganya juga bersahabat. Sebagai balasan, investasi dijanjikan USD 400 miliar—sekitar Rp6.200 triliun. 

Angka yang cukup untuk membuat siapa pun mendadak setia.

Namun Tiongkok bukan tipe pasangan posesif. Ia juga mesra dengan Arab Saudi dan UEA. Ia lebih suka jadi penengah, bukan petarung. Damai itu bisnis. Perang itu risiko.

Jadi, ini bukan cinta sejati. Ini simbiosis. Selama musuhnya sama, rumah tangga ini aman. Begitu musuhnya hilang? Ya… kita tunggu saja apakah mereka masih serumah, atau sekadar pernah saling butuh.

Lagarenze 1301

Santai Sejenak. 

Inilah perbincangan para manula yang menghabiskan banyak waktu di toilet. 

"Usia 60 adalah yang paling teruk. Saya selalu merasa ingin buang air kecil. Saya menghabiskan banyak waktu berdiri di toilet dan... tidak ada yang keluar!" keluh pria 60-an. 

"Ah, itu bukan apa-apa," kata pria 70-an. "Saya bahkan tidak bisa buang air besar lagi. Saya minum obat pencahar, lalu duduk di toilet sepanjang hari menunggu keluarnya, dan... tidak ada yang keluar." 

"Sebenarnya," kata pria 80-an menyela, "di usia sayalah yang terburuk dari semuanya!" 

"Apakah Anda juga kesulitan buang air kecil?" tanya pria 60-an. 

"Tidak, tidak juga. Saya buang air kecil setiap pagi jam 6:00. Saya buang air kecil seperti kuda pacu di atas batu datar; tidak ada masalah sama sekali." 

"Apakah Anda kesulitan buang air besar?" tanya pria 70-an. 

"Tidak, saya buang air besar setiap pagi jam 6:30 dan tidak perlu obat pencahar, tidak perlu menunggu, jam 6:30 semuanya keluar dengan sendirinya, encer dan baik-baik saja." 

Dengan kesal, pria 60-an berkata, "Biar saya perjelas. Anda buang air kecil setiap pagi jam 6:00 dan buang air besar setiap pagi jam 6:30. Jadi, apa yang buruk di usia 80?" 

Pria 80-an menyeringai dan berkata, "Saya tidak pernah bangun sebelum jam 7:00!”

mario handokz

selamat pagi bp thamrin, bp agus, bp udin, bp jokosp, bp em ha, sobat yea dan teman2 rusuhwan.

bagi rusuhwan yg ikut ke agrinex. pasti sudah tahu persis. lokasi swiss belhotel serpong.

lha oleh pemilik hotelnya. semua peserta diberi voucher menginap gratis. yg bisa digunakan untuk menitipkan mobil selama satu malam.

Dede Dayung Kal-Sel

Cabang olahrag angkat besi juga sering mendunia kan Indonesia Bah. Sejak dahulu.

Juve Zhang

Jacky Chan berkunjung ke rumah kawan dekat dan melihat WC kotor konon JC turun tangan membersihkan WC rumah kawan nya itu....wkwk....sang ahli kungfu master jadi pembersih WC paling handal..... legendaris sekali 

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

TOILET YANG 

MERUNTUHKAN KEBANGGAAN..

Niatnya sederhana. Menunjukkan Indonesia yang ramah. Yang bersih. Yang bikin tamu dari Tiongkok pulang dengan cerita baik. 

Pak Dahlan tahu betul, kesan pertama sering ditentukan hal kecil. 

Jalan tol mulus. Rest area rapi. Dan—ini penting—toilet yang manusiawi.

Tapi libur Lebaran punya cerita lain. Rest area penuh. Antrean panjang. Dan toilet kalah. 

Bukan sekadar kalah tipis. Tapi kalah telak. Bau menyergap lebih dulu daripada salam petugas. Air menggenang. Tisu entah ke mana. Lantai seperti menyerah pada nasib.

Ironis. Dulu kita suka merasa unggul. “Kita boleh kalah industri, tapi tidak soal kebersihan toilet.” Kalimat itu kini terdengar seperti nostalgia. Sedikit pahit. Sedikit memalukan.

Tamu tidak banyak bicara. Mereka sopan. Tapi diam sering lebih jujur dari pujian. Pak Dahlan menangkap itu. Kekecewaan yang tidak perlu diterjemahkan.

Padahal ini bukan soal teknologi tinggi. Bukan proyek triliunan. Ini soal disiplin kecil. Manajemen sederhana. Dan rasa memiliki.

Negara besar sering diukur dari hal remeh. Toilet salah satunya. Di situlah martabat diam-diam diuji. Dan hari itu, kita sedang tidak lulus ujian.

Jokosp Sp

Jadi Abah kemarin masuk golongan yang mana?. Yang puasa lebih awal dan beridulfitrilebih awal, atau yang berpuasa sehari kemudian dan beridulfitri lebih awal?. Atau yang berpuasa sehari kemudian dan beridulfitri sehari kemudian?. Nyuwun gungin pangarsami, sugeng riyadi kagem Abah sakkeluwargi.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

TAMU-TAMU PAK DAHLAN..

Sembilan tamu itu seperti potongan peta dunia. 

1) Lima dari Xuzhou. 

2) Dua dari Singapura. 

2) Dua dari Osaka. 

Mereka datang dengan bahasa berbeda. Ritme berbeda. Tapi satu kesamaan: standar.

Mereka bukan turis yang mudah takjub. Mereka pelaku. Pengusaha. Terbiasa menilai tanpa banyak bicara. Melihat tanpa perlu diberi tahu. Mengingat hal-hal kecil yang sering luput dari tuan rumah.

Dari Xuzhou, mereka membawa kecepatan Tiongkok yang sedang berlari. Dari Singapura, keteraturan yang nyaris tanpa cela. Dari Osaka, disiplin yang terasa sampai ke detail paling sunyi.

Percakapan mereka ringan. Tawa mereka sopan. Tapi cara mereka memandang, itu yang dalam. Ada ukuran-ukuran tak terlihat yang terus bekerja. Membandingkan. Menimbang. Menyimpulkan.

Inilah tamu kelas dunia. Tidak banyak komentar. Tidak mudah mengeluh. Tapi sekali mencatat, sulit dihapus.

Dan bagi tuan rumah, kehadiran seperti ini bukan sekadar kunjungan balasan. Ini ujian diam-diam. Tentang apakah kita sudah sejajar. Atau masih sekadar percaya diri tanpa cukup cermin.

Leong Putu

Kalau Pak Bos gak ber_Lebaran di Rumah bareng keluarga, pasti akan ada gosip heboh :"Pak Dahlan, Idul Fitri gak pulang, pasti nang omahe bojo sing enom".

Wkwkwk

Leong Putu

"Label" gratis pada Toilet di jalan toll sebenarnya merupakan pembohongan publik kelas "coro".

Bagaimana dikata gratis? Tarif toll Jakarta -Surabaya nyaris 1.000.000.

Beaya toilet tentu sudah include di dalamnya. Itu bagian dari service.

Terlebih label Gratis pada pada Makan Bergizi.

Hedeeeh….

Juve Zhang

Di tengah surplus listrik sebenarnya PLT Surya panel Cirata sering disebut salah inpestasiatau kong kali kong Antra Raja UAE dan Luraaah Konon HAH....masa listrik yg dijual PLTS Cirata lebih mahal dari harga jual PLn ke masyarakat....cuma karena perintah sang LurrahaKonon HAH mau mau saja....karena sang raja ngasih sangu ke putra nya 150 EmerPertamax ketika berkunjung kesana bukan sebagai apa apa cuma anak Luraaah nih ongkos bensin Pertamax 150 em ber....plus jaminan beli lpg dari negara uae.... akhirnya semua derita diterima pln...mhrus beli harga tinggi karena sabda Luraaah.... pekerja alias kontraktor dan bahan solar panel semua impor dari T.... inpestor dari uae masdar co....dan pembayaran harus usd...makanya sudah lengkap penderitaan pln plus rakyat Konon HAH.....tak ada yg perlu dibanggakan ....semua pekerja dari T semua bahan dari T bahkan bintang iklannya pun dari negara luar lupa nama aktornya....bukan bintang sinetron konon HAH....semua rejeki ulus milik raja.....long live the king....long live orang miskin .

djokoLodang

-o--

Suster Lucy Agnes.

... Bahkan masih bisa satu acara lagi sepulang dari Cirata: mesong ke Grand Heaven di Pluit Jakarta. Jenazah Bambang Hartono sudah tiba dari Singapura. ...

*) Abah pernah ketemu Suster Lucy Agnes?

            ~ Suster Lucy Agnes, sepupu Bambang Hartono, terlahir dengan nama Maria Donna Dewiyanti Darmoko.

Meskipun berasal dari keluarga orang paling tajir di Indonesia, Lucy Agnes ternyata memilih hidup sederhana dan melayani umat.

Yang paling membuat kagum adalah Lucy merupakan pengikut Ibu Teresa yang dikenal hanya memiliki dua set pakaian.

Menurut rekan-rekannyi, Suster Lucy yang kuliah S2 di Amerika Serikat ini sangat setia menjalankan kaul kemiskinan dan menikmati kehidupannyi.

Suster Lucy mengaku mengalami pencerahan saat dia dan keluarganya berlibur ke Hong kong.

“Awalnya saya sangat terganggu saat melihat begitu banyak tunawisma di jalanan Hong Kong, yang meringkuk, sakit dan kotor. Insting emosional pertama saya adalah melarikan diri saat melihat mereka dan saya hampir muntah,” ujarnyi.

“Saat saya meninggalkan orang-orang itu, sesuatu membuat saya melambat, seolah-olah ada yang menyuruh saya kembali kepada mereka untuk melakukan sesuatu yang baik untuk orang-orang yang tidak beruntung itu."

     ~ Maria Donna memutuskan untuk masuk Kongregasi Misionaris Cinta Kasih dengan nama Suster Lucy Agnes. Orang tuanyi sangat menentang pilihan ini.

Sekarang dia bertugas di Timor Timur, salah satu negara paling miskin di Asia.

--0-

Gregorius Indiarto

Untung masih ada yang bisa Anda banggakan di depan tamu-tamu Anda dari Tiongkok. 

Durian. 

Untuk saat ini. 

Entah untuk 5 - 10 tahun ke depan. 

Jangan-jangan kita impor durian dari Tiongkok. 

Mungkin. 

Met pagi, salam sehat, damai dan bahagia. 

Fauzan Samsuri

Prinsip gratis dan berbayar bagi penerima layanan itu jelas beda. Secara umum penerima layanan akan cenderung maklum kalau gratis ya pasti beda dengan berbayar. Penerima layanan berani membayar kalau layanannya itu "lebih" dari yang serba gratis. Persoalan yang terjadi justru dari sisi pemberi layanan, karena mindsetnya gratis, pemberi layanan dalam beberapa kasus (kalau tidak mau bilang banyak kasus), cenderung meremehkan penerima layanan, toh penerima layanan gratis tidak dipungut biaya. Pemberi layanan bisa jadi lupa kalau mereka memberi layanan itu tidak gratis, alias dibayar atasannya.

Taufik Hidayat

Wah senang membaca Abah akhirnya bisa Lebaran di rumah bersama anak cucu.  tapi sedih membaca penutup artikel ini soal toilet.  Yah selama ini T memang punya satu hal yang sering menjadi kelemahan bagi orang yang mungkin jarang atau bahkan belum pernah ke sana. Sementara angah DI rumah keduanya di T. Pergi ke T seperti orang jakarta ke Depok atau orang Surabaya ke Sidoarjo.   Jadi kalau toilet juga sudah kalah , apa lagi ygbisa kita banggakan?   untuk itu saya mau nostalgia aja supaya kita masih bangga .  Cerita horor mengenai toilet di T memang benar , pertama kali saya alami  1997 di Beijing . Tentu nya di toilet umum entah di mana random saja di pinggir jalan raya. Bukan di hotel atau tempat wisata.  namun saya juga pernah mengalami shock toilet di rest area , bukan di T bukan di tempat lain, tapi di antara Mekah Medinah, sepertinya di tahun 1999.  Di Padang pasir mungkin kurang air Z.  Kalau di tempat wisata juga pernah loh. Lebih ngeri karena ini tempat wisata andalah negeri Iran, yaitu Persepolis di thn 2006.   Benar benar tidak ada air dan mengerikan. Mudah mudahan sekarang sudah bagus .   Tapi tentunya yang sekarang masih mengerikan adalah kondisi toilet umum kalau kita ke kampung kampung di Tajikistan atau bahka Izbeksitan, dalam perjalanan menyauayru Jalan M42 atau Pamir Highway , kebanyakan tidak ada toilet malah asyik di alam terbuka, tapi kalau masuk perkotaan atau pedesaan, kondisi yoliet umumnya memang mengerikan.dan ini  tahun 2024 , semoga skrgsdh OK 

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

LEBARAN YANG TAK JADI, 

CERITA YANG JADI..

Lebaran kali ini unik. Yang batal justru yang direncanakan. Yang terjadi malah yang tak disangka.

Niatnya sederhana. Salat Id di pesantren. Diam. Menyatu. Tanpa protokol. Tapi realitas bergerak lain. Pesantren libur. Jadwal mundur. Tiket habis. Jalan darat jadi pilihan. Lebaran pun berubah dari ritual ke perjalanan.

Di situ terasa satu hal: kita sering terlalu sibuk mengatur momen, sampai lupa momen punya kehendaknya sendiri.

Menariknya, justru di tengah kekacauan itu muncul potret lain. Relasi. Jaringan. Dan “kebocoran informasi” khas negeri ini. Dari lobi hotel ke ustaz. Dari obrolan kecil jadi keputusan besar. Indonesia itu bukan negara formal. Ini negara percakapan.

Ada juga lapisan lain. Tentang status. Mau jadi “jamaah biasa”, tapi tetap terdeteksi. Mau sederhana, tapi identitas sudah telanjur dikenal. Ternyata menjadi biasa itu tidak selalu mudah.

Akhirnya Lebaran bukan soal di mana salatnya. Tapi dengan siapa dan bagaimana menjalaninya. Bahkan ketika itu berarti di jalan, di rest area, atau di dalam mobil menuju entah.

Yang tidak jadi, ternyata tidak penting. Yang terjadi, justru itu yang dikenang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 12

  • Aku dan kita Official
    Aku dan kita Official
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
  • Aku dan kita Official
    Aku dan kita Official
  • Sogia Manom
    Sogia Manom
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • alasroban
    alasroban
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • DeniK
    DeniK
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Ulik Kopi
    Ulik Kopi
    • Ulik Kopi
      Ulik Kopi
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman