Oei Al-Kaff
--
Foto di museum Mukalla ini tidak asing di literatur Nusantara: Sayyid Abubakar bin Syeikh Al-Kaff. Berpeci hitam tinggi.
Anda sudah tahu siapa ia: masih keluarga orang terkaya di seluruh tanah Melayu: Syekh Salim bin Abdullah Al-Kaff. Kekayaan Syekh Salim meluas. Mulai dari Batavia (Jakarta), Singapura, Johor sampai pun ke Malaka. Ia mirip Oei Thiong Ham dari Semarang: orang terkaya di seluruh Asia Tenggara setelah zaman Al-Kaff.
Ada orang Hadramaut lain yang juga tidak kalah dengan Al-Kaff. Namanya Al-Junaid. Ia orang terkaya setelah Al-Kaff dan setelah Thiong Ham. Sisa-sisa kejayaan Al-Junaid masih terasa di Singapura, pun sampai sekarang.
Tidak dengan Al-Kaff. Kekayaannya dihabiskan untuk wakaf. Di mana-mana. Di Jakarta. Di Singapura. Di Johor. Di Malaka. Lebih banyak lagi di Hadramaut –satu provinsi di Yaman Selatan.
Anda sudah tahu: saking kayanya Al-Kaff sampai Sultan Johor kala itu mengizinkannya punya mata uang sendiri. Yakni mata uang yang khusus beredar di kawasan perkebunan karet yang mahaluas di sana.
Museum ini tidak terlalu tua: dibangun tahun 1931. Saat ini sedang direnovasi. Banyak bagian bangunan berlantai dua itu rusak. Maklum, istana Sultan Hadramaut ini dibangun dengan bahan tanah. Bukan semen. Begitulah umumnya bangunan di sana.
Museum ini terlalu muda untuk jadi museum. Tidak menarik bagi saya: kecuali foto Al-Kaff. Ups...ada satu lagi yang menarik: ada lift di situ. Di zaman itu sudah ada lift –untuk naik ke lantai dua. Hanya saja teknologinya manual: dikerek pakai tali oleh tenaga manusia.
Bentuknya sih mirip sekali lift di mana-mana. Cukup untuk dua atau tiga orang. Hanya saja pintu liftnya hanya seperti pagar separo badan.
Hanya itu. Tidak ada lagi yang perlu dilihat di Mukalla. Amang mengajak saya melihat benteng. Tapi cukup dari luar. Saya takut bentengnya roboh. Lihatlah foto jepretan Redmi paling murah ini: separo fondasi benteng itu sudah longsor.
Maka saya pilih makan siang. Memang terlalu awal: pukul 11.00. Tapi mau apa lagi? Saya pun di bawa ke bagian kota yang ruwetnya seperti pasar pagi Samarinda tahun 1980-an. Ada resto kambing bakar khas Mukalla di situ.
Bakarnya dua cara: pakai arang seperti sate atau pakai bejana: adonan dimasukkan ke dalam bejana yang amat panas. Seperti bikin roti chanai. Saya minta dua-duanya. Ingin membandingkannya.
Meski di situ ada meja plastik saya pilih ikut cara orang di sana: duduk di lantai. Keramik. Berdebu. Tanpa alas. Hanya untuk tempat makanannya dihampari plastik tipis.
Anda sudah tahu selebihnya: nampan besar disajikan. Diletakkan di atas plastik itu. Isi nampan: nasi mandhi, kambing bakar dua cara dan ayam bakar satu ekor. Ludes. "Laziiiit...," kata saya mulai mempraktikkan bahasa Arab sehari-hari. Rupanya kata lezaaat asalnya dari Hadramaut.
"Di Mukalla jangan lupa makan lobster," ujar Kholid Bawazier dalam balasan WA-nya.
Sebelum makan saya memang tiba-tiba ingat Kholid Bawazier –pengusaha besar Surabaya. Pasti kakek-moyangnya orang dari Hadramaut. Hanya saja saya tidak tahu di mana leluhurnya di sini.
Terakhir saya bertemu Kholid di Jeddah. Tiga bulan lalu. Yakni saat saya diundang menghadiri peresmian pabrik kopi Kapal Api Wazaran di Jeddah. Itulah pabrik kopi patungan antara keluarga Soedomo Mergonoto (grup Kapal Api) dengan keluarga Bawazir (grup Wazaran).
Wazaran –artinya: kaum Bawazier– punya pabrik mie Indomie di Jeddah. Di Lebanon. Di Mesir. Di Marokko. Di Spanyol. Di banyak negara Timur Tengah. Rumah ayah Soedomo di pecinan Surabaya dekat rumah ayah Kholid di kampung Arab Ampel. Saya mengenal baik dua keluarga ini.
"Saya ingin melihat pabrik Indomie Anda yang di Mukalla. Boleh?" tanya saya lewat WA.
"Belum ada pabrik Indomie di Mukalla. Yang ada di Aden," jawabnya. "Tapi yang di Aden sedang tutup karena perang," tambahnya.
"Kampung halaman nenek moyang Anda di Hadramaut di mana? Tarim? Mukalla?" tanya saya lagi.
"Di kota Doan. Lengkapnya di kota Wadi Doan," jawabnya.
Kebetulan sekali. Setelah dua hari di Mukalla saya akan diajak Amang mampir ke Wadi Doan. Yakni dalam perjalanan balik dari Mukalla ke Tarim.
"Di Wadi Doan jangan lupa. Harus makan kambing bakar mathbi," katanya.
Tentu. Baru sekali ini saya dengar ada kambing bakar mathbi. Tidak ada di kota lain di Hadramaut. Saya pun tidak sabar ingin tahu seperti apa itu barang.
Wadi Doan: nama baru lagi di telinga saya. Kuper. Ternyata itu nama kota yang terkenal di Yaman. Masya Allah.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 30 Maret 2026: Mata Lasik
Wilwa
@Juve. War is hell. Peace is heaven. Kadang saya heran mengapa sebagian homo sapiens suka perang. Perang itu bikin kacau/chaos. Supply chain / rantai pasok kacau. Akibatnya harga naik. Yang gak ikut perang kena getahnya. Apalagi kalau bom nuklir ikut bicara. Misal karena Israel desperate dihujani rudal dan drone sedangkan Iron dome sudah kehabisan amunisinya. Israel bisa saja membom nuklir Teheran. Lalu bisa saja Israel dibalas entah oleh siapa (Pakistan? Ini negara juga sedang chaos karena ada gerakan separatis Pashtun). Perang Dunia Ketiga. Bisa tamat riwayat kita semua
Udin Salemo
sekolah jauh ke luar negeri, tapi gak tau tujuannya mau jadi apa. kasian sekali. kalau anak saya gak tau tujuannya pergi sekolah ke luar negeri, gak usah pergi belajar jauh-jauh. mending ikut kursus atau pelatihan khusus aja. misal jadi welder yang punya sertifkat. untuk jadi juru las SMAW Kelas 3 hanya butuh pendidikan selama 45 hari. biaya pendidikan sekitar 20 jeti. anggaplah 30 jeti dengan biaya kost, makan, transportasi dll. selesai pendidikan lalu bekerja sudah dapat gaji diatas umr jakarta. pengalaman kerja diatas tiga tahun sudah bisa dapat gaji diatas 10 jeti. nah, lebih bagus begitu, daripada kuliah ke luar negeri tapi gak tau mau jadi apa. bukan begitu bro wong darjo?
Bahtiar HS
Ada 3 hal pesan Idul Fitri saya pada anak2 saya waktu sungkeman kemarin. Satu di antaranya, terutama yg ambil jalur pesantren dan kelak berdakwah: jangan menjual agamamu, Nak. Yakni sengaja mengambil uang dengan wasilah dakwahmu. Kalaupun ada yg membantumu, itu bukan karena kamu minta atau harap. Karena itu, harus punya usaha sendiri yg halal dan thayyib. Sebagaimana para ulama terdahulu yg mandiri dan menjaga kehormatan diri (iffah) dg bekerja/bisnis utk mmnuhi nafkah keluarga. Sebut saja, Imam Abu Hanifah seorg pedagang kain sutra yg sukses. Jg Imam Muslim pedagang pakaian. Imam Malik punya aset dan kebun. Imam Al Qaffal pengrajin kunci sesuai namanya. Imam Al Bazzar penjual biji2an. Dan lain-lain. Dan itu bisa dimulai dari sekarang!
Jokosp Sp
Ayo..... kita tidak bisa lagi mengandalkan mereka yang terus tidak waras. Mungkin mereka mulai masuk golongan pikun. Bingung dengan dirinya sendiri, apalagi mikirkan rakyat dan bangsanya. Bagaimana kita sudah dijadikan budak LPG dari yang tadinya cukup Minyak Tanah dari hasil negaranya. Sekarang full impor. Dan impor akan sangat terganggu dengan adanya kerusakan di kilang gas di Timur Tengah. Belum lagi minyak sudah di atas 100US$ hari ini. Maka APBN akan terkuras habis untuk biaya impor. Impor yang harus dibayar dengan DOLAR dari jual rupiah. Maka rupiah akan semakin amblas. Maka ilmu yang dipakai seorang inventory dalam menjalankan logistik adalah dengan "menyetok" barang yang akan langka itu secepat-cepatnya, dan sebanyak-banyaknya ketika barang masih dalam harga normal.
MULIYANTO KRISTA
Biasa lah pak. Soal itung2an Abah gak sepiro pinter. Biyen pas pelajaran matematika sering mbolos.
Bahtiar HS
Rp 10.000 sama dengan 1000 uang Yaman, tulis Abah. 200 USD ditukar uang Yaman perlu bawa karung. Mari kita hitung. Jika 1 USD katakan Rp 17.000, maka 200 USD = Rp 3.4 juta; yg jika ditukar 1000an uang Yaman, maka dapat 3,4 juta / 10.000 = 340 lembar. Jika 1 lembar tebalnya 0.1 mm, maka 340 lembar paling cuman 3,4 cm. Cukup masuk saku baju kanan kiri. Gak perlu bawa karung. Kecuali karung kecil wkwkw. Yg kedua, sy cek kurs hari ini 1 rial Yaman (YER) = Rp 71,15 alias 1000 YER = Rp 71.150. Bukan Rp 10.000. Kalau pakai kurs ini, dapatnya 1000an uang Yaman kalau tukar USD 200 lebih sedikit lagi. Cukup dikempit di ketiak aja. Mungkin yg dimaksud Abah 2000 atau 20000 USD. Itu baru make sense bawa karung. Jadi jangan terlalu mudah percaya pada sajian data penulis sesenior dan setop markotop Abah sekalipun. Ricek dulu. Rumus menulis itu sederhana. Salah satunya: jika bahan habis kok terus menulis, mk tulisan Anda banyak bo*ongnya. Wkwkwk. Ngapunten, Bah!
Juve Zhang
Nilai uang Yaman merosot tajam tapi satu rumah ada 2 mobil di garasi ...uang Rupiah sedikit turun dari 16 ribu ke 17 ribu..di rumah ada 3 motor....uang Amerika kuat sekali tidur di trotoar jalanan sambil buka tenda.... ternyata predikat negara paling miskin paling banyak mobilnya ada 2 di garasi....yg agak kaya Indonesia hanya 3 motor.....yg paling Kaya Raya Amerika tidur di trotoar jalanan pake tenda.....dunia memang aneh sulit di tebak isi dompet rakyat di kira tajir ternyata hidup di trotoar jalanan....di kira miskin ternyata ada 2 mobil di garasi.....
djokoLodang
-o-- Arti Berkah Di masa lalu, para pedagang Muslim di Damaskus mengikuti tradisi indah yang berakar pada kejujuran dan kasih sayang. Saat membuka toko mereka di pagi hari, mereka akan meletakkan sebuah kursi kecil di luar toko. Begitu pelanggan pertama tiba, pemilik toko akan membawa kursi itu ke dalam—menandakan bahwa ia telah memulai perdagangannya hari itu. Jika pelanggan kedua datang, pemilik toko akan melihat sekeliling pasar. Kalau melihat ada toko lain dengan kursi yang masih berada di luar, ia akan berkata: “Saya sudah memulai pagi saya, tetapi pemilik toko itu belum memulai. Silakan pergi ke tokonya untuk kebutuhan Anda.” *) Ini bukan sekadar kebiasaan—ini adalah contoh nyata integritas, tanpa pamrih, dan persaudaraan. Akibatnya, berkah, kepercayaan, dan kepuasan akan turun atas perdagangan dan kehidupan mereka. ~ Demikianlah karakter mulia para pedagang Muslim—dan karakter seperti itulah sumber barakah yang sejati. *Sesuai dengan beberapa tradisi lisan yang diperkenalkan oleh Khalifah Umayyah Al Waid bin Abd al Malik bin Marwan. -0--
djokoLodang
Itu Abah sengaja, p Mario... Berikutnya kan Abah tulis: Kalau rupiah nanti dihilangkan tiga nol di belakangya masih sama dengan nilai uang Yaman. ~ 10.000 dihilangkan tiga nol di belakang kan 10? Bukan 1? Supaya para pembaca selalu aktif dan kritis..
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Juve Ysh.. SEHAT ITU MURAH, SISTEM YANG MAHAL.. Cerita Pak Juve menarik. Bukan hanya soal murah dan cepat. Tapi soal sistem yang sudah “jadi”. Sekali cek, semua keluar. Tidak dicicil. Tidak bikin pasien mikir dua kali antara cek gula atau kolesterol. Semua terang dalam satu lembar. Di situlah bedanya ekosistem. 1) Di Tiongkok, volume tinggi, sistem terintegrasi, teknologi dipakai habis-habisan. Biaya per orang jadi murah. Waktu tunggu jadi singkat. Dokter tidak sibuk administrasi. Pasien tidak sibuk menghitung. 2) Di sini, sering terfragmentasi. Satu per satu. Ada logika bisnis. Ada juga keterbatasan sistem. Akhirnya, sehat terasa mahal. Humornya Pak Juve juga kena. Kadang yang sakit bukan badan, tapi dompet. Dan itu memang belum ada indikator lab-nya. Belum ada angka normalnya. He he.. Mungkin kalau ada, banyak dari kita langsung masuk kategori “kritis ringan”. Pelajarannya sederhana. 1) Teknologi itu penting. 2) Tapi yang lebih penting adalah bagaimana ia dibungkus dalam sistem yang efisien. 3) Karena tujuan akhir bukan sekadar hasil keluar cepat. Tapi membuat orang merasa: sehat itu terjangkau. 4) Dan tidak membuat dompet ikut dirawat intensif.
djokoLodang
-o-- Selingan -- Intermeso Seorang pria naik pesawat Jakarta-Surabaya dan mendapati dirinya duduk di sebelah seorang wanita pirang yang cantik. Terpengaruh pendapat umum bahwa wanita rambut pirang itu biasanya tidak terlalu pintar, dengan percaya diri ia segera menoleh dan memulai percakapan. "Excuse me, ... maafkan aku...," katanya, "aku pernah mendengar bahwa penerbangan akan terasa lebih cepat jika kita memulai percakapan dengan penumpang lain. Jadi, mari kita bicara. ..." Wanita pirang itu, yang baru saja membuka bukunyi, menutupnya perlahan dan berkata lembut, "Apa yang ingin kau bicarakan?" "Oh, apa ya? ... Aku tidak tahu apa yang menarik bagimu," kata pria itu. "Bagaimana misalnya kalau tentang tenaga nuklir?" "Oke," kata wanita pirang itu. "Itu bisa menjadi topik yang menarik. Tapi izinkan aku bertanya dulu. ... Seekor kuda, seekor sapi, dan seekor rusa semuanya makan makanan yang sama—rumput. Namun rusa mengeluarkan kotoran berupa pelet kecil, sapi mengeluarkan kotoran pipih, dan kuda mengeluarkan kotoran kering berbentuk muffin. Menurutmu mengapa demikian?" Pria itu tercengang. Akhirnya ia menjawab, "Aku sama sekali tidak tahu." "Jadi, katakan padaku," kata wanita pirang itu, "Bagaimana bisa kau merasa berhak membahas tenaga nuklir padahal tentang kotoran sapi saja kau tidak tahu apa-apa?" --0-
Jo Neka
Soal "Pajak"dan mungkin sedikit tipu².Di dunia medis.Sebulan yang lalu ada sebuah kasus cukup viral.Dan wara² di beranda saya.Curahan hati seorang netizen.Bahwa ibunya sakit.Dia di tawari obat oleh seorang dokter.Seharga1.5jt per tablet.Di minum 2 tablet/hari..Dan ternyata obat jenis itu di India cuma 30 rb rupiah..Semoga bukan hoax
Juve Zhang
Lasik mata serba murah karena dokter disana tidak harus jadi kaya raya dari profesi nya bukan soal pajak....disini dokter wajib punya mobil ...rumah di kawasan perumahan elit....dll ...ini Beaya tinggi semua dibebankan ke pasien.... akhirnya ongkos mahal....lasik itu gak dijamin BPJS...atau mau ganti Hidung dari pesek ke model hidung gede juga non BPJS.... aestetika tidak dibayar BPJS...
Irary Sadar
Sudah pernah disampaikan hal demikian oleh seorang pengamat geopolitik. Selat Malaka itu jika dikelola dengan baik, merupakan ladang cuan yang luarbiasa. Terlepas apakah di kelola bersama, maupun garap sendirian. Sayangnya pola pikir dianya hanya mampu sebatas MBG. That's all..!
Irary Sadar
Tidak perlu jauh-jauh. Batam sudah merasakan murahnya sedandan mobil bagus kinclong seperti baru. Itu pada tahun 1990an hingga 2004. Tahun 2004 dengan adanya kebijakan pemerintah untuk membatasi impor mobil bekas FTZ, barulah secara pelan-pelan ATMP berani masuk ke Batam. Kalu tidak ada kebijakan tersebut, mobil diler nasional tidak dilirik. Toyota Altis tahun 2000 hanya di hargai 40juta. Mazda 323 Familia tahun 1997 dihargai 35juta. mitsubishi Lancer, Toyota Camry, BMW. Mercy S Class, Anda sebutkan saja, semua ada di Batam saat itu. Punya mobil sedan di Batam saat itu bukan barang mewah... Tapi sekarang..? Anda sudah tahu.
Jokosp Sp
"Harga mobil bagus di Hadramaut bisa murah karena mobil bekas dari Arab Saudi". Saya jadi ingat cerita pekerja migran di Arab Saudi yang sudah 15 tahunan lebih jadi supir pejabat utama kerajaan Saudi. Lama karena kerasannya, dari faktor gaji dan kebaikan majikannya. Penenerimaan bisa dari gaji dan bonus. Kerja cukup ringan. Sehari-hari cuma merawat rumahnya yang jarang ditinggali, setahun sekali ketika musim haji dan ketika ada anaknya yang datang. Pekerjaan lain adalah merawat dan membersihkan mobil-mobilnya. Mengecek oli dan rem, memastikan bensin selalu terisi penuh. Dari cerita rumahnya ada tiga di Mekah, Jedah dan Madinah. Mobil kalau sudah bosan beberapa kali sudah ganti dengan ditabrakkan ke pohon atau tembok begitu saja. Padahal itu mobil klas mewah, mobil Jepang, Eropa dan Amerika. Semua mobil diasuransikan. Jadi kalau satu rumah saja ada tiga mobil, berarti kalau punya tiga rumah bisa ada sembilan mobil dan puluhan pekerja migran dari satu orang Syekh (Syekh) - majikan yang memiliki jabatan tinggi, kaya dan keturunan bangsawan. Mereka bisa menyebut juga dengan Sayyid (Tuan) - panggilan sopan untuk majikan pria, atau Madam/ Sayyidah untuk panggilan majikan wanita yang disegani. Mobil-mobil di Hadramaut itu didatangkan dari Arab Saudi karena mereka sudah bosan atau karena unsur kecelakaan yang disengaja. Makanya murah, didukung transportasi dekat dan non pajak. Kalau lari ke Konon hah bisa kayak harga mobil baru, karena sudah kena palak di bea cukai. Atau jadi legal?.
Er Gham 2
Tiga hari lalu saya lewat sebuah kota kecamatan yang sedang macet lalu lintasnya. Mungkin karena arus balik mudik. Di sebelah kiri jalan, tampak banyak orang tua berdesakan di depan kantor pos. Mungkin sekitar 100 orang. Saling berebut dan berhimpit depan kantor pos kecil. Tidak ada yang antri. Tidak ada pula yang atur supaya tertib. Mungkin sedang antri bansos. Hampir semua sudah lanjut usia. Kasihan juga. Kapan kita sejahtera. Mungkin nanti. Entah kapan. Jangan sampai terjadi: "Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai pejabat dan kroninya. Dan digunakan untuk sebesar besarnya kemakmuran para pejabat dan kroninya". Rakyat miskin cukup dapat Rp200 ribu per bulan per keluarga.
Juve Zhang
Satu juta tentara Iran siap bertahan dari serangan 2500 marinir A dan konon 3000 pasukan lintas udara A....tentu anda gak perlu ahli perang yg satu juta tentara akan menang mudah....mampu membungkus tentara A dengan mudah .... teoritis jika pasukan yg akan diserbu jumlahnya 1 juta maka pasukan yang menyerbu butuh 3 juta tentara....tentu ini teoritis....nah pasukan Rambo A sok jagoan bernostalgia dengan kehebatan Film John Rambo nya Silvester Stallone....sekarang zaman modern drone kamikaze Iran dan rudal jarak dekat Iran lebih berperan dalam pertempuran modern ....bazooka sudah ketinggalan zaman....akankah Trumpet tetap ngotot mendarat di Iran ....rasa ya jendral A tahu persis era John Rambo sudah selesai....
Jokosp Sp
Malam tadi dapat undangan keponakan istri yang lagi menghaul bapak mertuanya yang ke seribu harinya. Pas duduk di kursi tamu, sambil nunggu tamu undangan, telephonenya bunyi. Saya nanya iseng saja, ada apa serius banget?. "Ya itu.....ini negeri kita". Berhenti sejenak menahan nafas. "Perpanjangan CV saja kena 45 juta. Di mana logikanya?'". Penjelasannya gimana, saya lanjud tanya. "Awal buat CV cuma empat juta lima ratus ribu". "La perpanjangan malah naiknya sepuluh kali lipat.....gimana ini?". Saya njawab sak kenanya saja: mungkin para pejabat itu tahu sudah, berapa penghasilan pian sebulannya, setahunnya?. "Mbelgedes kalo jar ikam..........., bungul banar kalo aku manyambat". Saya jadinya..............wkwkwkwkwk. Itu logika pejabat kita ya seperti itu. Pembicaraan terputus karena tamu undangan mulai berdatangan.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Jokosp Sp.. MAHAL ITU SERING BUKAN BIAYA, TAPI CARA.. Cerita Pak Jokosp terasa akrab. Angka Rp45 juta itu bikin kaget. Tapi biasanya, itu bukan tarif resmi. Lebih ke “paket lengkap plus tidak mau repot”. Di situ letak masalahnya. Kalau diurus sendiri, hampir pasti jauh lebih murah. Tarif resmi perpanjangan izin tidak melonjak sepuluh kali. Yang melonjak itu biaya jasa. Biro pengurusan, calo halus, atau “teman yang paham jalur”. Kita bayar waktu, kenyamanan, dan—kadang—ketidaktahuan. Padahal sekarang banyak layanan sudah berubah. Online. Transparan. Bisa dilacak. Memang belum sempurna. Tapi tidak lagi seperti dulu yang harus kenal orang dalam. Masalahnya, pikiran kita kadang masih versi lama. Masih ribet. Padahal mau kita, cepat, takut ribet, akhirnya memilih jalan pintas. Ironinya, jalan pintas itu sering jadi jalan termahal.
heru pujihastono
Mengapa bisa murah di Yaman ( LASIK)? Beda gaya konsumen Yaman dg negeri lain. Sdh bisa di sana mati lampu 2-4 jam sehari. Bagaimanapun konsumen kita ? Esok hari sdh demo turunkan- turunkan! Sinyal 4 g di Yaman juga baru saja. Ini barangkali yg perlu dipelajari mensikapi kemajuan / mode kehidupan baru. Tiga hal pokok : sandang - pangan papan didesain sangat sederhana bagi kehidupan Yaman. Apakah Yaman miskin ? Ndak cadangan gas dan minyak sangat besar ttp belum ditambang. Cukup utk memakmurkan rakyat Yaman. Asik juga ya Yaman? Kaya ttp penampilan / prinsip hidup sederhana.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
MATA LASIK: BUKAN SUPAYA BISA MELIHAT DUNIA TANPA KACAMATA, TAPI JUGA TANPA PRASANGKA.. Bukan sekadar tanpa kacamata. Tapi tanpa prasangka. Ada yang menarik. Anak muda ke Tarim bukan sekadar belajar agama. Mereka juga “memperbaiki penglihatan”. Secara harfiah. Lasik. Murah pula. Lima juta. Di Indonesia, harga segitu baru dapat kacamata plus janji diskon. Lucu juga. Calon mubaligh ini belum tahu mau jadi apa lima tahun lagi. Tapi sudah tahu ingin melihat dunia tanpa kacamata. Barangkali ini filosofi baru: sebelum menerangi orang lain, terangilah dulu retina sendiri. Yang lebih menarik lagi: ekonomi rasa teka-teki. Negara miskin, tapi mobil banyak. Bahkan terlihat baru. Ternyata bekas Dubai. Impor gaya hidup. Harga bersahabat. Logika pun ikut diimpor, tapi belum tentu cocok jalan. Saya jadi berpikir. 1) Di Indonesia, kita sering terbalik. Mobil baru, cicilan lama. 2) Di sana, mobil lama, rasa baru. 3) Sama-sama ilusi, beda cara menikmatinya. Dan soal mata tadi. Mungkin bukan cuma kornea yang perlu dilaser. Cara pandang juga. Supaya tidak kaget melihat dunia yang kadang tak masuk akal, tapi tetap berjalan. ## Akhirnya, dakwah pun mungkin dimulai dari sini: melihat lebih jernih. Bukan sekadar tanpa kacamata. Tapi tanpa prasangka.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 55
Silahkan login untuk berkomentar