Debat Muktamar
Gus Lilur saat menghadiri Muktamar NU beberapa waktu lalu.--
Inilah orang yang paling dicari –dan mungkin dimaki-maki– oleh mereka yang terpilih sebagai pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang baru: Gus Lilur. Nama lengkapnya Gus Haji Raden Muhammad Khalilur Abdullah Sahlawiy.
Gus Lilur viral. Wawancaranya di berbagai video beredar luas: bagaimana uang bermiliar-miliar beredar di Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang akhir bulan lalu.
Banyak yang memberi tahu saya bahwa ia itu sebenarnya bukan warga NU –apalagi kader. Ada juga yang menilai ia itu orang yang sakit hati karena ingin mengelola tambang batu bara NU.
Saya pun penasaran: siapa Gus Lilur sebenarnya. Mengapa ia sampai hati mengungkapkan aib sebesar itu –tanpa menunggu fakta hukum. Mengapa ia, di setiap tampilan video selalu pakai kopiah hitam –seperti umumnya orang NU.
Lalu saya hubungi Gus Lilur, Kamis malam kemarin dulu.
"Gus, apakah kita pernah bertemu?"
"Lho kan sudah sering," katanya.
Saya pun malu. Bisa dikira suka melupakan orang. Saya buru-buru minta maaf kalau saya lupa kapan pertemuan itu.
"Tapi saya pernah kecewa sama sampeyan...," katanya.
Aduh! Kenapa ya kecewa? Kok saya juga lupa. Sekali lagi saya minta maaf.
"Kapan kita terakhir bertemu, Gus," tanya saya.
"Pokoknya sering. Saya kan pernah jadi penyewa ruangan di Graha Pena. Saya berkantor di situ bersama Pak Fathorrasjid almarhum," katanya. Fathorrasjid adalah tokoh NU dan PKB yang pernah jadi ketua DPRD Jatim. Fathor masuk penjara karena tuduhan korupsi dana APBD yang untuk seluruh anggota DPRD itu. Dianggap tidak sah. Banyak sekali anggota DPRD yang juga jadi tersangka saat itu.
"Kenapa Gus kecewa dengan saya?"
"Waktu saya ajak salaman sampeyan tidak mau," katanya.
Hah? Saya tidak mau salaman?
"Oh ... saya ingat Gus. Waktu itu saya baru pulang operasi ganti hati. Saya harus jaga diri baik-baik. Termasuk tidak mau salaman dengan siapa pun. Agar tidak terkena kuman," kata saya.
"Iya. Saya maklum kok," katanya.
Saya pun lega.
"Kenapa Gus kok sampeyan membuka soal uang di Muktamar itu?"
"Saya menjalankan ayat Quran dan hadis Nabi. Kemungkaran harus diberantas, agar Muktamar yang akan datang tidak terjadi seperti ini lagi," katanya.
"Waktu muktamar Anda hadir?"
"Saya hadir".
"Tapi kan ada yang bilang Anda bukan anggota NU?".
"Saya ini sebelum lahir sudah NU," katanya. "Ayah saya itu santrinya Kiai As'ad Syamsul Arifin, Sukorejo, Situbondo," katanya. Nama yang disebut itu adalah ulama besar yang mendirikan pondok besar di Sukorejo, Situbondo. Ia kiai papan atas di dunia NU. Ke Gus Dur pun tidak takut: pernah menyatakan mufaraqah –memisahkan diri sementara– dengan Gus Dur.
"Tapi kenapa tidak pernah jadi pengurus NU?"
"Kalau saya mau, saya sudah jadi pengurus PBNU di zaman Ketua Umum Buya Said Aqil Siroj. Tapi saya tidak mau. Saya mau jadi konglomerat," katanya.
Said Aqil adalah guru Gus Lilur semasa di UIN Syarief Hidayatullah, Ciputat, Jakarta. Yakni ketika Kiai Aqil Siroj baru kembali dari kuliah S-3 di Ummul Quro, Saudi Arabia. Saat itu Gus Lilur masih di tahun ketiga sebagai mahasiswa. Ia mengambil jurusan filsafat. "Filsafat aqidah," katanya. Setelah lulus UIN tidak ambil S-2 atau S-3. Ia terjun ke dunia usaha.
"Ada juga yang bilang Anda ini kecewa karena tidak dipercaya mengelola tambang batu bara milik NU".
"Untuk apa? Tambang saya sendiri tidak terurus. Tambang saya sendiri sudah banyak," katanya.
Bahkan ia bercerita, sebenarnya sudah akan jadi pemilik tambang batu bara terbesar di Indonesia. "Sayang izinnya dicabut," katanya.
"Kenapa dicabut?"
"Karena terkait uangnya Nazaruddin, bendahara Partai Demokrat yang ditangkap KPK. Tambang disita".
"Tambangnya di mana?"
"Di Kutai Timur. Sekarang jadi milik Adaro," katanya.
"Kok Anda meragukan keilmuan banyak tokoh sampai berani menantang Kiai Miftachul Akhyar, Gus Kikin, Gus Nusron Wahid, Gus Ipul untuk membaca kitab kuning dan menulis kitab di depan forum muktamar? Emangnya Anda sendiri bisa membaca kitab kuning?" Istilah kitab kuning adalah literatur yang ditulis dalam huruf Arab tanpa tanda baca. Hanya orang yang ilmu nahwu-sorof-nya tinggi yang mampu membacanya.
"Saya ini mondok di Denanyar, Jombang selama tiga tahun. Selama itu tiap hari membaca kitab kuning, hanya berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris," katanya. "Waktu mau tamat sekolah saya membuat karya tulis dalam bahasa Arab tanpa harakat (tanda baca) setebal 150 halaman," katanya. Kalau ia menantang menulis buku di depan muktamar itu agar pesertanya tidak bisa dibantu menuliskannya.
Buku yang ia tulis saat masih siswa aliyah itu berjudul Alhayatul Fadloiyah 'indal Quran wa attahliiLiL 'ishriy: kehidupan luar angkasa menurut Alquran dan penelitian modern.
Gus Lilur lahir di Situbondo. SD dan SMP di sana. Lalu masuk madrasah aliyah unggulan yang disebut MAPK –Madrasah Aliyah Program Khusus. Hanya ada dua di Indonesia: di Jombang dan di Solo. Itu sejenis Taruna Nusantaranya madrasah. Setelah sukses pernah dikembangkan ke beberapa aliyah –tidak termasuk aliyah tempat saya sekolah. Program MAPK kini dikembangkan di 11 kota.
Saat masih remaja itu Gus Lilur sudah mendirikan gerakan amar makruf nahi munkar –mengajak ke kebaikan dan mencegah kemungkaran. Nama gerakannya: PAMANGKAR --Pejuang Amar Makruf Nahi Mungkar.
Apa yang ia lakukan sekarang, katanya, itu konsisten dengan apa yang ia lakukan sejak remaja.
Ketika saya hendak bertanya soal lain lagi Gus Lilur memberi info terbaru. "Tadi siang saya ke KPK. Saya temui pejabat di sana," katanya.
"Untuk apa?"
"Agar KPK menyiapkan diri untuk menerima uang pengembalian dari Buya Aqil Siroj yakni uang yang diterima saat Muktamar," katanya.
"Yang benar saja," kata saya.
"Benar. Buya sendiri yang menelepon saya," katanya.
Gus Lilur memang memanggil Kiai Aqil Siroj dengan panggilan Buya.
"Benar dikembalikan?"
"Saya tunggu di KPK sampai jam 12.00. Tidak jadi," katanya.
"Kenapa?"
"Buya berubah pikiran. Uang itu akan dikembalikan langsung ke Gus Ipul. Sampai sore belum bertemu Gus Ipul".
Gus Lilur diberi tahu Buya: penyerahan kembali uang itu akan dilakukan stafnya. Buya minta agar ada tanda terima pengembalian dan ada bukti foto penyerahan. "Kalau tidak bersedia memberi tanda terima dan tidak bersedia difoto baru akan diserahkan ke KPK," katanya.
Menurut Gus Lilur, Buya Said Aqil Siroj dan dua kiai utama lainnya agak berbeda soal penerimaan uang itu. "Buya dan dua kiai lainnya menerima uang setelah proses pemilihan berlangsung. Bukan sebelumnya," ujarnya. Dua yang dimaksud adalah Kiai Anwar Manshur dan Kiai Nurul Huda.
Gus Lilur kini berumur 49 tahun.
"Punya anak berapa Gus?"
"Saya malu kalau bercerita tentang keluarga," katanya.
"Maafkan saya Gus," kata saya.
"Gak apa-apa ..."
"Kenapa malu Gus?"
"Istri saya empat. Satu di Situbondo, yang istri keempat di Shenzhen," katanya. "Santri itu bodoh kalau berzina. Maka istri saya empat," katanya.
Istri pertamanya orang Palembang, sesama teman di UIN Jakarta. Yang kedua juara dangdut di Indosiar. Yang keempat orang Tiongkok yang tinggal di Shenzhen.
Gus Lilur memang lama tidak beredar di kepala saya. Coba saja saya tahu ia punya rumah di Shenzhen saya bisa sering numpang menginap di rumahnya. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 25 September 2026: Kaji PTSBH
Irary Sadar
Mohon tidak dijadikan Desil DTSEN sebagai acuan untuk bantuan gratis. Anda sudah tahu, anomali dan ketidakakuratan data negara wanipiro ini sungguh menyesakkan. Contoh kasus besar adalah seorang anggota dewan dengan harta miliaran tercatat di Desil 4. Justru seorang tuang becak di Kulon memdadak naik ke Desil 9. Apalagi orang petinggi di DTSEN juga menjelaskan bahwa Desil ini akan bergerak dinamis dan di monitoring pemutakhiran setiap 3 bulan (triwulan). Bagaimana mungkin program SD, SMP dan Kuliah gratis dengan perkiraan masa tahunan, memakai acuan yang setiap 3 bulan berubah-ubah? Satu lagi -dan ini hanya saran saja- jangan terlalu percaya dengan hal-hal gratis dari pemerintah Wanipiro saat ini, selain ujug-ujugnya hanya untuk 2029. Masih ingat EMBEGEH, KDMPEH, Kasta DESIL dan kini Pendidikan Gratis...? I don't buy it...
Beny Arifin
Lagian yang dibutuhkan itu lapangan pekerjaan. Bukan makan gratis atau sekolah gratis. Pastikan setiap warga negara berusia produktif mendapat pekerjaan dengan upah yang layak. Itu harusnya tugas negara. Buat rakyat mempunyai daya beli yang kuat. Makan, pendidikan semahal apapun ya pasti akan bisa dibayar, asal duitnya ada. Alokasikan duit MBG segede gaban itu buat penciptaan lapangan kerja. Agar rakyat punya duit. Agar bisa beli makanan dan bayar pendidikan berkualitas. Singapura yang warganya sedikit bisa. China yang warganya milyaran juga bisa. Asal pemimpinnya mau dan mampu.
pak tani
Selamat untuk tim putra badminton Indonesia yang berhasil merebut medali emas beregu di Asian Games 2026! Saya cukup kaget, ternyata medali emas beregu kali ini capaian puncak sesudah 28 tahun puasa. Lebih kaget lagi, ternyata Susi Susanti dan Lee Chong Wei tidak pernah mendapat emas di Asian Games. Yang paling kaget, ternyata Pak Bos menganggap istri gratis. Meskipun bermutu tinggi. Hmmm... Sepertinya weekend ini Pak Bos akan menginap di DIC Farm, meskipun ngga ada gathering wkwkwwk
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@mbak Istiana.. JODOH BUKAN SOAL KUKU SAJA.. Kalau menilai calon jodoh, jangan 100 persen pakai logika ya... Apalagi hanya berdasarkan kuku. Hehehe... Kuku memang bisa menjadi petunjuk. Tetapi manusia terlalu rumit untuk dinilai dari kukunya saja. Ada yang kukunya rapi, tetapi hatinya berantakan. Ada pula yang kukunya biasa saja, tetapi hatinya luar biasa. Untuk urusan jodoh, mungkin logika tetap diperlukan. Tapi kita juga perlu melihat akhlak, tanggung jawab, cara memperlakukan orang lain, dan bagaimana ia menghadapi masalah. Tetapi jangan lupakan rasa. Juga hati. Sebab ada hal-hal yang tidak selesai hanya dengan analisis. Dan yang paling penting: Doa. Logika membantu kita melihat. Rasa membantu kita merasakan. Doa membantu kita menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Mengetahui. Jadi, kalau mau menilai calon pasangan, lihat kukunya boleh. Tetapi jangan lupa melihat tangannya juga. Apakah tangan itu suka menolong? Lihat matanya. Apakah ada ketulusan? Dan lihat hatinya. Karena akhirnya, yang kita nikahi bukan kukunya. Hehehe... Eyang Suryo, temannya Andrea. Teman kantor saat di Telkom Surabaya. Teman kos saat di Bandung.
istianatul muflihah
Kau bertanya padaku soal lelaki yang baik? Kuku kukunya, Rai. Kalau ada lelaki yang mendekatimu perhatikan kuku kukunya. Kalau kuku kukunya kotor macam kuku monyet, kelakuannya macam monyet juga. Marlena. Ini bukan tulisanku, tapi cuplikan novel tulisan Andrea Hirata. Judulnya Ayah. Kata Pak Cik, jadi penulis harus latihan jadi living observer. Sehingga bisa menghasilkan analisis analisis menggelitik. Misalnya seperti kalimat barusan. Seberapa tepat kalimat itu dekat dengan kebenaran? Aku juga tidak tahu.
pak tani
Setuju ini. Kita tidak bangga mendapat yang gratis2. Kita bangga mendapat yang paling mahal. dan MAMPU. Saatnya revisi UU. Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar DIENTASKAN oleh Negara.
dm ikan
Bukankah di Indonesia sudah terbentuk citra bahwa sesuatu yang gratis itu mutunya rendah -kecuali istri...Semoga bisa direvisi menjadi: istri dan CHDI
Kujang Amburadul
Apakah sekolah (pendidikan) bisa gratis seluruhnya dari SD sampai PT? Untung hal ini masih boleh dikaji bukan komando yg berujung perintah : kerjakan! Yg akan membuat Menkeu dan Gub BI baru akan berpikir, mending jadi penjual valas saja lah! Baru saja ditonton: Ombudsman menemukan sel mewah di LP Cibinong. Nah. Ini ada hil yang mustahal kan? Bukan perbandingan apel dng mangga. Saya juga tidak tahu bgm cara menghubungkan dua hal ini. Intinya bahwa, kalau korupsi bisa diberantas, hasil rampasan yg terkumpul plus clean government selanjutnya berjalan, maka pendidikan gratis bisa dilaksanakan. Kedua penjual valas td juga pasti balik kucing.
Lagarenze 1301
Santai Sejenak Suatu siang di kantin UNG. Universitas Negeri Gratis. Seorang mahasiswa mendekati meja tempat dosennya makan dan langsung duduk di sebelahnya. Dosen memandang mahasiswanya dengan wajah angkuh dan berkata, "Seekor angsa tidak akan berteman dengan seekor kambing." Mahasiswa terseyum, berdiri, beranjak sembari berkata, "Baiklah, Pak Dosen. Kalau begitu, saya akan terbang pergi." Dosen jadi kesal, tentu saja. Ia pun berniat menjegal mahasiswa itu dalam ujian. Pada ujian lisan di depan semua mahasiswa, dosen memberikan pertanyaan rumit: "Kamu sedang berjalan di jalan dan menemukan dua tas. Satu berisi emas, yang lain kecerdasan. Tas mana yang kamu pilih?" "Emas," jawab mahasiswa itu. Dosen tersenyum licik. "Sayangnya, saya tidak setuju. Saya akan memilih kecerdasan, karena itu lebih penting daripada uang. Semua orang akan memilih yang sama," ujarnya. Mahasiswa itu juga tersenyum dengan lebih licik. "Betul, Pak Dosen. Bapak betul. Semua orang memang akan memilih apa yang tidak mereka miliki," kata mahasiswa. Wajah dosen seketika memerah, dan saking marahnya ia menulis "bajingan" di lembar ujian mahasiswa tersebut. Mahasiswa mengambil lembar nilanya, melihatnya sekilas, lalu mengembalikan ke dosen. "Maaf, Pak Dosen. Bapak sudah menandatangani kertas ujian saya, tetapi Bapak lupa memberi nilai!" ujar mahasiswa.
David Kurniawan
ini A1 tentang KIP, saya bertanya kepada yang menerima: "Buat apa KIP-mu?", jawabnya: " Buat behel gigi". Tapi itu bukan satu satunya malah dia berani bilang itu lebih bermanfaat daripada temanya yang buat beli HP merk terbaru. Sedihnya hati ini, uang itu di kirim langsung dari pemerintah ke tabungan mereka agar tidak dikorupsi. Namun apa daya kemiskinan + kebodohan dalam istilah gamenya itu adalah jenis serangan HeadShot : langsung mati.., sedih saja.
Jokosp Sp
Ngatasi kebakaran dan asap saja gagal. Bangga jadi eksportir asap ke negara tetangga?. Masih pura-pura ndak ndengar. Indek Stadar Pencemar Udara (ISPU) terparah Kalimantan Selatan ada di Kab.Tabalong di tanggal 21 September 2026 mencapai 3.461 di jam 12.00. Anda bayangkan hidup didalam kurungan dan kepungan asap. Improve Dinas Pendidikan akhirnya keluar PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Ini sampai keluar 2 kali dalam 2 minggu. Kemudian muncul edaran PJJM (Pembelajaran Jarak Jauh Mandiri), artinya putusan diserahkan ke masing-masing Kepala Sekolah melihat kondisi cuaca yang berkabut asap di masing-masing yang berbeda. Dari PJJM muncul PWT (Pembelajaran Waktu Terbatas), artinya Kepala Sekolah mengedarkan informasi by WA Group ke semua Orang Tua Murid di Jam 6 pagi apakah akan masuk sekolah atau tidak. Dan Kepala Sekolah diberikan kewenangan penuh untuk mengatur sampai jam berapa pembelajaran sekolahnya bisa berlangsung. Terus apa yang bisa dibanggakan dengan kepemimpinan negara saat ini, kalau mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang tiap tahun terjadi saja tidak bisa?. Cukupkah hanya kunjungan, datang dan melihat kebakaran yang terjadi tanpa solusi yang memadai dari negara?. Amsiong banget parahnya.
Captain Bejo
Sebagai mahasiswa UT, meskipun PTN gratis UT tetap eksis karena flexibilitasnya. Bisa belajar dimanapun dan kapanpun . Hal yang belum saya temui dari PTN sekarang
DeniK
Sekolah rakyat dan sekolah garuda saja entah sudah sampai mana proyek nya . Sekarang mau kuliah gratis . Ketika pamor semakin turun jadi seperti panik pihak istana , apalagi setelah memecat menkeu . Perlu booster jor joran untuk meraih simpati rakyat . Kalau kuliah gratis , nanti dosen akan minta naik gaji . Guru juga minta naik . Nakes pasti iri juga . Belum lagi buruh akan semakin rajin minta naik gaji .
# Darko
Abah sekali kali nulis SHterate madiun karena lagi rame Bah, antara kubu T dan kubu M beberapa hari ini lumayan rame banyak aparat dari, pulisi, TNI, dan AU serta warga sendiri yang ikut menjaga lingkunganya...Abah pasti tahu karena berasal dari Magetan
Muh Nursalim
Cocok. PTN ndak perlu banyak2 mahasiswa. Kualiras dikejar. Shg benar hebat heboh n hebring. Dosen bisa sierius mimbing mhs ndak perlu mroyek. Gaji sydah cukup dr negara. Dg begini ptn jadi keren lagi. Tdk numpuk mhs yg hasilnya nda jelas. Saking banyaknya mhs ada lo setiap bulan ngadakan wisuda. Pesertanya ribuan juga. Akhirnya hanya jd produk gagal. Menambah barisan pengangguran.
Achmad Faisol
apa definisi sekolah negeri...? ternyata SDN, SMPN, dan SMAN... MIN, MTsN, dan MAN dikecualikan... kok bisa... karena SDN dan SMPN di bawah dinas pendidikan kab/kota, sedangkan MIN dan MTsN di bawah kemenag... apa dampaknya...? gedung SDN/SMPN rusak bisa diperbaiki oleh bupati/walikota... gedung MIN/MTsN rusak...? nunggu dana dari kementerian agama... berapa lama...? anda sudah tahu... akhirnya apa...? orang tua siswa diminta amal... begitu pun SMAN (dinas pendidikan provinsi) dan MAN (kemenag)... wong pendidikan dasar saja beda begini, kok... mbok ya dibenerin dulu... bupati/walikota juga bertanggung jawab terhadap sarana/prasarana MIN dan MTsN... begitu pun gubernur, juga ikut membangun MAN...
Jokosp Sp
KANTONG CEKAK, SEMUA DIGASAK DUWIT CEKAK, PEJABANYA JADI PEMALAK KAS CEKAK, DAERAH PADA BERGOLAK DUWIT CEKAK, KANTONG CEKAK, KAS CEKAK TETEP AE JADI PEMALAK
Turrachman Rachman
Anda sudah tahu kalimat apa yang sebaiknya dipilih untuk disampaikan ke presiden. Ya tapi sebenarnya tidak iya. Nggih tapi mboten kepanggih. Monggo dahar, padahal yang sebenarnya tidak ngajak dahar. Monggo pinarak. Padahal ya sebenarnya tidak ngajak mampir. Basa basi
Mpok Dipa
Menjadikan PTN hanya utk Sains Teknologi rasanya ngga relevan. Mendingan setiap PTN itu membangun cabang di kota²/kabupaten agar pendidikan murah terjangkau dan biaya hidup merantau tidak memberatkan walimahasiswa. UB jangan ada di Malang saja, biaya hidup di Malang mencekik mahasiswa yg dari daerah². Meding ikut memberi pendapatan daerah lain dengan cara byk membangun cabang2 di kota/kabupaten yg belum ada Universitasnya. Begitu juga Undip, ITB, dan PTN lainnya.
ikhwan guru sejarah
Kegeden empyak kurang cagak. Sok ngide tanpa kajian. Celakanya kalau Universitas negeri "dipaksa" gratis, seperti sekarang dirasakan sekolah, SD sampai SMA. Nwgara merasa sudah mencukupi biayanya, dengan dana BOS. Tapi ternyata banyak ragam kegiatan yg dlunya ada, tidak bisa tercover dengan dana yg ada. Mau minta orang tua siswa, bisa dilaporkan, dipidanakan. Akibatnya program unggul berjalan apa adanya. Kepsek puyeng, guru kehilangan daya. Siswa gembira, krn semua anak pasti naik kelas...
Momon Atun
Belajar dari gurunya guru (pengalaman) kata gratis itu sebetulnya pasca bayar wkwkwk Seperti bansos waktu mau pemilu, terlihat gratis, tapi di bayar waktu tu calon sudah jadi sesuatu. (Semua semua naik pajak, harga harga, yg turun cuma subsidi, warga dari desil 2-4 lincat jadi 6 , otomatis gk dpt subsidi wkwk)
djokoLodang
-o-- ... Maka menteri yang mendapat tugas mengkajinya punya alasan kuat untuk mengatakan ''masih dikaji''. ... *) Jadi ingat masa kecil dulu --65 tahun yang lalu-- di Solo ada burung kecil yang dinamakan "emprit kaji". Kenapa dinamakan emprit kaji? Burung ini memiliki ciri khas kepala berwarna putih yang menyerupai peci haji, sementara tubuh bagian atas berwarna cokelat dan bagian bawah berwarna hitam. *) Lalu, apa kaitannya dengan topik CHDI hari ini? ~ Emprit kaji saat berkicau mampu menirukan suara burung lain, seperti suara burung kenari. ~ Dianggap sebagai hama oleh petani karena suka memakan padi, namun populer di kalangan pecinta burung untuk kicauannya. Entah, apakah emprit kaji itu sekarang masih ada di sana. (Sejak 1972 ayas bermukim di Bandung). --0-
riansyah harun
Kalau pendidikan gratis ini jadi dilaksanakan, berarti pemerintah masih punya simpanan dana yang sangat besar sekali. Jangan jangan benar kata Mbak Shasa hostnya Dismorning yang setiap paginya selalu tampil modis, cantik, dan teduh itu.., pemerintah punya simpanan dana ibarat seorang ibu yang bisa menyimpan uangnya dengan istilah "nyelimpet". Rasanya benar kata mbak Shasa. Coba lihat..., BBM kita masih oke oke saja, walaupun harus antri sedikit, listrik masih oke oke juga, bahan makanan masih tersedia dalam jumlah tidak mengkhawatirkan walaupun musim kemarau yang berkepanjangan. Berarti pemerintah masih punya dana melimpah, dan hanya pengamat saja yang terus berteriak. Uppsss, maaf untuk bosnya mbak Shasa, yang bilang sudah ber darah darah. Tapi siapa tahu darahnya sudah bisa dihentikan...???? Dan pasiennya sudah bisa kembali beraktifitas untuk mencari duit lagi...?? Semoga saja....
Momon Atun
Saya ingat waktu debat capres ada yg di kantongya bilang 11.000 triliun... Entah masi di kantong ap sudah di deposito wkwkwk Tutup selat malaka, selat sunda, selat bali selat sulawesi, laut papua sana.. Tiap kapal lewat bayar, auto kaya kita.. Mesir yg cuma terusan suez saja luamayan, iran cuma nutup hormus bisa hidup.. Apalagi kita 50% dunia kapal lewat Indonesia.. Paling singapore yg jd negara bangkrut wkwkkw
Ahmed Nurjubaedi
Waktu kuliah magister dulu (diluar negeri alias swasta), saya pernah menyusup (namun secara legal) ke satu kelas beda jurusan. Kelas ini mahasiswanya hanya para kepala sekolah dari satu yayasan Katholik berjumlah sekitar 20 orang. Juga ada seorang romo. Jadilah saya minoritas yang diterima dengan tangan terbuka di kelas itu. Pada satu sesi bedah kasus, dosen pengampu kami bercerita tentang awal pendirian program pasca sarjana di universitas Chulalongkorn, Thailand. Raja Bhumibol yg saat itu berkuasa begitu aktif terlibat. Ia pasang target jelas: pasca Chulalongkorn harus jadi yg disegani karena memiliki reputasi akademik secara internasional. Maka direkrutlah dosen-dosen kaliber internasional. Hanya dosen lokal yang benar-benar top yang bisa ngajar di pasca. Maka saat ini Chulalongkorn nangkring di peringkat 212 QS WUR. Secara global makro, UI dan UGM punya peringkat lebih baik, di 191 dan 206. Namun Chulalongkorn punya reputasi akademik dan serapan tenaga kerja regional yang jauh lebih baik. Raja Bhumibol punya visi yang jelas dan strategi yang tepat untuk mengeksekusinya. Pre****n NKRI? : Saya pokoknya mau ini. Caranya: Terserah. Kalian yang pikirlah!!!
my Ando
MBG brmasalah... betul sekali, dimana² berita meriwayatkan kasus demi kasus bahkan anak kls 5 SD aj udh bs komen 'maleslah makan MBG nanti ingatanku hilang' kenapa Presiden dan tim getol menyuarakan MBG harus lanjut saya bisa maklumi kalo sekelas Pak Dahlan dan pembaca DISWAY tak menemukan manfaatnya, namun di belahan bumi yg jauh dari hingar bingar MBG bak pahlawan yg mana ortu terbantu sarapan anak, sedikit agak tega utk tak memberi uang jajan sekolah krn emang tak ada (sudah jelas situasi ini yg tak pernah dialami oleh circle dsni) Prguruan Tinggi Gratis... setujuuu, dengan catatan yg mana bertujuan memperluas kesempatan Sekolah Tinggi ikatan dinas... jadi ada jelas manfaatnya, meringankan biaya pendidikan sekaligus mengurangi angka pengangguran fresh graduate, lha kalo cm asal gratis aja yaitu tadi PTS matek, lulusan PTN nganggur
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PTSBH: YANG GRATIS BELUM TENTU MURAH.. Pak Dahlan punya satu kalimat yang menggelitik: “kecuali istri”. Rupanya ada barang gratis yang justru paling mahal biaya perawatannya. Hehehe.. Tetapi soal PTSBH ini serius. Kalau kuliah PTN benar-benar gratis, PTS tidak cukup hanya menjerit. Harus berubah menjadi pilihan. Bahkan pilihan utama. Masalahnya, kualitas tidak bisa dibangun dengan spanduk “kampus unggulan”. Kualitas perlu dosen bagus, riset hidup, laboratorium, tata kelola sehat, dan lulusan yang dicari industri. Semua itu mahal. Karena itu gagasan merger menarik. PTS kecil-kecil yang berdiri sendiri mungkin sulit bernapas. Digabung, aset dan SDM bisa lebih kuat. Tetapi “dipaksa merger” juga perlu hati-hati. Jangan sampai yang digabung hanya papan nama, sementara masalahnya tetap tinggal di dalam. Saya kira masa depan PTS justru bisa menarik. PTN mendapat subsidi negara. PTS menjual kualitas. Akhirnya mahasiswa punya pilihan yang sehat: Kuliah gratis karena negara membayar, atau kuliah berbayar karena memang merasa mendapatkan nilai lebih. Yang penting, jangan sampai kampusnya BH. Tetapi mutunya “AH”.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
KULIAH GRATIS, DOSEN JANGAN IKUT GRATIS.. Kalau kuliah gratis benar-benar terjadi, mahasiswa tentu senang. Orang tua lebih senang. Menteri Pendidikan Tinggi mungkin paling senang. Sebab setiap bertemu mahasiswa tinggal bilang: "Sudah gratis, kan?” Tapi ada satu kelompok yang jangan ikut-ikutan gratis: Dosen. Dosen harus tetap mahal. Bukan mahal tarifnya. Mahal ilmunya. Mahal kualitasnya. Sebab universitas tanpa dosen berkualitas itu seperti rumah sakit tanpa dokter. Gedungnya megah. Alatnya lengkap. Tetapi pasien disuruh membaca Google. Di sinilah PTS punya peluang. Kalau PTN menawarkan harga nol rupiah, PTS harus menawarkan sesuatu yang tidak bisa dibeli hanya dengan APBN: Kualitas. Dan jangan lupa satu hukum ekonomi sederhana. Kalau harga turun menjadi nol, permintaan biasanya naik. Maka kalau kursi kuliah gratis tidak dibatasi, yang antre bukan lagi mahasiswa. Bisa-bisa seluruh Indonesia ikut antre. Karena itu, saya setuju dengan satu hal: Gagasan sebesar ini memang harus dikaji. Sebab menggratiskan kuliah mungkin mudah. Yang sulit adalah membuat orang berkata: “Saya mau bayar, karena kampus ini memang bagus.”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 151
Silahkan login untuk berkomentar