Warisan Sumbu

Warisan Sumbu

--

Mungkin akan khas Yogyakarta: alon-alon. Pelan pelan. Tapi pelaksanaan Malioboro sebagai bagian Sumbu Filosofi Yogyakarta sudah mulai bergerak. Memang kendaraan mobil masih belum bisa dicegah masuk ke Jalan Malioboro. Tapi dua program sudah selesai dilaksanakan: pemindahan parkir sepeda motor di dekat stasiun Tugu dan pemindahan pangkalan bus wisata di dua lokasi lainnya.

Saya mampir ke Wali Kota Hasto Wardoyo usai acara Bank Indonesia perwakilan Yogyakarta Jumat lalu (Lihat Disway 12 Oktober 2026: Hati Ngadirejo). Saya ingin dengar perkembangan cerita soal warisan budaya yang ditetapkan UNESCO tahun 2023 lalu itu.

"Kesulitan terbesar nanti adalah mengatasi banyaknya jalan-jalan kecil yang memotong Malioboro," ujar Hasto.


--

Kalau saja perlintasan tidak sebanyak itu bisa lebih mudah mengatasinya. Kalau saja jalan-jalan melintang itu sedikit lebih lebar juga lebih mudah.

"Masih ada kesulitan lain, yakni sekolah di situ," ujar Hasto. Rasanya ada empat sekolah di sekitar Malioboro --yang Anda pasti sudah tahu sekolah apa saja itu.

Sumbu filosofi Yogyakarta termasuk Malioboro di dalamnya, ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dengan banyak konsekuensi. Salah satunya: inilah tata kota yang dirancang menggunakan budaya dan filsafat kehidupan.

Sumbu itu panjangnya 6 km. Selatan-Utara. Lurus. Seperti sumbu. Itu dimulai dari Krapyak di Selatan sampai Tugu di utara. Persis di tengahnya didirikan kraton Yogya. Lengkap dengan alun-alun dan Masjid Kauman.

Sumbu itu melambangkan perjalanan hidup manusia: lahir, hidup, mati. Bahwa kraton ditafsirkan sebagai lambang ”hidup” memang kenyataan. Banyak kehidupan di kraton. Mulai dari perebutan kekuasaan sampai melimpahnya harta. Termasuk berkembangnya perseliran.

Lalu, bahwa tugu diterjemahkan sebagai lambang akhir kehidupan juga bisa diterima. Mirip batu nisan di kuburan. Tapi bagaimana bisa, panggung di Krapyak melambangkan kelahiran manusia?

Yang disebut Panggung Krapyak itu wujudnya bangunan mirip benteng. Orang bisa masuk ke dalam panggung lewat empat pintu segala arah. Bisa juga naik tangga untuk ke lantai atas. Lantai atas itu berpagar tapi tidak beratap. Setinggi sekitar 10 meter. Dari lantai atasnya terlihat apa saja yang terjadi di sekitarnya.

Sekitar panggung itu hutan. Memang di awal pembangunannya panggung itu dimaksudkan untuk mengawasi perburuan kijang di hutan sekitarnya. Anda masih ingat: di zaman itu Krapyak masih berupa hutan. Tempat pejabat kraton berburu rusa. Kata ”krapyak” sendiri konon berasal dari bahasa Jawa yang artinya perburuan. Di Magetan perburuan seperti itu disebut ”gropyok”. Tapi di bagian mana dari gropyok itu yang bisa ditafsirkan sebagai lambang kelahiran manusia?

Sumbu selatan-utara Yogya itu dibangun tahun 1755 --sekitar 20 tahun sebelum kemerdekaan Amerika. Yang membangunnya Anda sudah tahu: Sultan Hamengkubuwono I. Yakni sebagai ibu kota baru kerajaan Mataram-baru setelah Mataram pecah menjadi Solo dan Yogyakarta

Sebelum itu ibu kota Mataram adalah Kartasura. Yogyakarta belum ada apa-apa. Pangeran Mangkubumi --nama sebelum menjadi Hamengkubuwono I-- tergolong sayap antipenjajahan di istana Mataram. Bertahun-tahun melawan Belanda. Akhirnya ia mau diajak berunding. Itulah yang disebut perundingan Giyanti.

Hasil perundingan: wilayah Mataram dibagi dua. Pangeran Mangkubumi mendapat wilayah di sebelah barat. Jadi rajanya yang pertama. Namanya menjadi Hamengkubuwono I.

Yang tertinggal di Kartosuro pun memindahkan ibu kota ke desa Sala --sekarang di pusat kota Solo. Yakni setelah terjadinya Geger Kuning --gerakan perlawanan yang banyak diikuti orang Tionghoa. Orang Tionghoa memang lagi marah kepada Belanda di mana-mana. Yakni sejak Belanda melakukan pembantaian besar-besaran suku Tionghoa di Tangerang.

Setelah menjadikan Yogyakarta sebagai ibu kota Mataram pasca perjanjian Giyanti, Hamengkubuwono I membuat perencanaan kota Yogyakarta. Bukan pakai sistem kotak-kotak seperti Washington DC. Bukan kuldesac seperti Paris. Bukan lingkar-lingkar seperti Italia. Tapi berdasar sumbu selatan-utara. Itu dikaitkan dengan filsafat perjalanan kehidupan manusia --meski soal panggung Krapyak masih menyisakan tanya.

Yang membuat itu jadi warisan budaya dunia UNESCO: rancangan yang sudah berumur 300 tahun itu masih hidup sampai sekarang dan masih jadi pembicaraan. Memang Malioboro masih belum bisa dipulihkan. UNESCO dan Pemkot Yogyakarta terus berkoordinasi. Mereka sudah punya jadwal tahapan-tahapan program pembenahannya. Saling monitor. Tapi bola ada di Pemkot Yogyakarta.

Di Shanghai, problem jalan melintas seperti itu juga ada di Nanjing Dong Lu. Itulah ”Malioboro”--nya Shanghai. Mobil tidak boleh melintas. Tapi jalan yang memotongnya tidak sebanyak di Malioboro. Jalan yang melintas itu juga cukup lebar. Pejalan kaki di Jalan Nanjing Dong Lu sesekali di-stop untuk memberi kesempatan lalu-lintas di jalan yang memotong tetap berfungsi.

Wali Kota Hasto sudah berhasil mengayunkan dua langkah di Malioboro. Ia masih perlu banyak melangkah di depan. Ia wali kota pertama dari PDI-Perjuangan di Yogyakarta. Juga wali kota pertama yang bukan berdarah pendiri Muhammadiyah.

Hasto sukses besar saat jadi bupati Kulon Progo. Juga sukses ketika jadi kepala BKKBN --jabatan setara menteri. Hasto pun sukses sebagai dokter --sampai jadi ahli bayi tabung dan punya rumah sakit sendiri di Yogyakarta. Ia juga sukses sebagai suami dari seorang istri yang juga dokter spesialis anak.

Tugasnya sebagai wali kota Yogyakarta tinggal tiga tahun lagi. Ia sulit menjabat dua periode karena sudah dihitung satu periode saat jadi bupati Kulon Progo.

"Masih berpraktik sebagai dokter?" tanya saya.

"Masih, meski pun tinggal seminggu sekali," katanya. "Itu pun saya batasi 50 pasien saja," tambahnya.

"Kenapa masih berpraktik?"

"Itu untuk memenuhi pesan ibu. Tidak boleh berhenti menolong pasien," jawabnya.

Kini pasiennya tidak hanya manusia. Ia juga harus menolong merawat warisan dunia lembaga kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa UNESCO berupa: Sumbu Filosofi Malioboro.

Saya pun pamit, besoknya harus ke Nagoya. (Dahlan Iskan)


Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 13 Oktober 2026: Warisan Sumbu

pak tani

JARI PALANGKARAYA ......................... Namanya Novi. Sejak kecil sudah mahir memanjat pohon. Bukan hal yang aneh. Karena dia tumbuh besar di Palangka Raya. Kalimantan Tengah. Di pedalamnnya. Di hutan, hutan betulan dengan pohon hijau nan rimbun. Tentu sangat berbeda dengan kota yang penuh pohon beton dan lautan debu. Bukan pilihan Novi untuk terlahir di hutan. Memang keadaannya begitu. Orang tuanya memang sudah lama menetap di hutan. Novi tidak pernah mengeluh, ikhlas, terlahir dimanapun, bagaimanapun lingkungannya, apapun kesulitannya. Novi menjalani hidupnya dengan tulus dan penuh syukur. Novi kecil menjalani hari hari dengan riang gembira. Sampat suatu hari... Novi terbangun. Asap dimana-mana. Pandangan mata sangat terbatas. Pun langit, nampak jingga kemerahan. Mencekam. Panik. Hutan terbakar !! Naluri bertahan hidup Novi bekerja. Cari tempat aman, dimanapun! Entah bagaimana, Novi kemudian berhasil memanjat pohon, sangat tinggi. Satu2nya tempat yang aman saat itu, sambil berharap ada yang memadamkan api, sebelum makin membesar dan melalap pohon yang dipeluknya demikian erat. Naas, api tidak kunjung padam. Bahkan lidah api menjilat kaki Novi. 4 ruas jari kakinya luka bakar. Beruntung Novi tidak jatuh, dan pada saat yang genting berhasil diselamatkan oleh tim SAR. Cepat sembuh. Novita - Orang Utan dari Palangka Raya

Eksan Susanto

sy merasa adu nasib sama Andrew.. sy ditinggal bapak sejak usia satu tahun. wajah bapak pun tak pernah tahu, krn tidak ada foto yg masih jelas dilihat. bedanya saya kerja dulu baru kuliah...kuliah manajemen di kampus swasta pinggiran kota surabaya. sekarang alhamdulillah menghidupi keluarga sbg budak korporat yg kerja di depan komputer, yang bagi org desa sy dianggap udah sukses, haha

Fendi Njau

Kakak perempuan dari sang ibu, mestinya disebut yiyi(阿姨) dalam bahasa Mandarin.

pak tani

Su Su untuk kakak laki-laki. Mungkin pak Bos keliru dengan Su su yang lainnya wkwkwkw

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

SEORANG IBU MEMANJAT POHON MELINJO..? Membaca kisah Andrew, saya membayangkan ibunya sedang memanjat pohon melinjo. Pohon melinjo bukan pohon yang selalu mudah dipanjat. Batangnya bisa cukup tinggi. Cabangnya tidak selalu nyaman untuk dipijak. Salah memilih tumpuan, bisa terpeleset. Apalagi ketika harus menjangkau ranting yang penuh buah. Tetapi bagi seorang ibu, mungkin tidak ada istilah terlalu tinggi. Yang ada di pikirannya hanya: 1) Bagaimana buah melinjo bisa dipetik. 2) Bagaimana nanti kulitnya bisa dikupas. 3) Bagaimana hasilnya bisa menjadi uang untuk Andrew. ### Bayangkan, pekerjaan itu bukan dilakukan sekali. Bukan pula sehari dua hari. Itu perjuangan yang berulang, demi anak yang dibesarkannya seorang diri. Sang ibu mungkin tidak pernah membayangkan anaknya kelak menjadi doktor summa cum laude. Ia hanya ingin Andrew bisa sekolah. Bisa punya masa depan yang lebih baik daripada dirinya. Ternyata, dari pohon melinjo yang dipanjatnya, tumbuh cita-cita yang menjulang jauh lebih tinggi. Sang ibu memanjat pohon untuk mencari nafkah. Andrew kemudian memanjat tangga pendidikan sampai puncaknya.

Jo Neka

Di kampung saya..Perempuan manjat² hal biasa pak Agus..Bahkan nyadap lontar 10 mtr..Hehehe..Tangguh?Tinggal dari mana sudut pandang.

Nimas Mumtazah

Perempuam di kampung manjat biasa Pak Agus.. Dulu masa SD -SMP.. Semua jenis pohon selain anggur di naiki semua. Bahkan yg nunggu di bawah tuh teman cowok.. Kadang kalau ingat masa itu suka senyum² sendiri.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KULIT MELINJO DIMASAK BRONGKOS: MEMBAYANGKANNYA AJA SAYA SUDAH “KEMECER”.. Di Surabaya ada rawon. Di Yogya juga ada rawon. Tetapi rawon Yogya, ditambah santan, namanya berubah menjadi brongkos. Rawon saja sudah enak. Apalagi brongkos. Rawon bersantan! ### Saya sekolah S3 (SD, SMP, dan SMA) di Yogya. Setelah itu baru meninggalkan Yogya, golek duwit. Ke Surabaya. Ke Ambon. Ke Bandung. Ke Semarang. Sempat kembali ke Yogya untuk melanjutkan S1 (lagi) di UGM. Iya, S1 lagi setelah S3. Saya memang semangat ikut S1 lagi. Padahal selama merantau di Ambon, saya sudah lulus S1 di Unpatti. Tetapi kan bukan UGM. Cita-cita ibu. Untuk saya. He he.. Ah, sebenarnya saya hanya mau bilang: 1) Rawon itu enak karena dagingnya. 2) Brongkos Yogya lebih enak. Karena ada santannya. Ada dagingnya. Dan ada kulit melinjonya. 3) Apalagi brongkos masakan ibu saya. Kulit melinjo yang dimasak dalam kuah brongkos itu punya sensasi tersendiri. Saat digigit, santannya seperti nyelip di dalam kulitnya. Rasanya? Wah, sulit dijelaskan. Membayangkannya saja sudah bikin kemecer. @@@Membaca cerita Andrew tentang perjuangan ibunya, saya jadi teringat ibu saya juga. Rupanya, kenangan tentang ibu memang punya banyak pintu masuk. Kadang lewat cerita perjuangan. Kadang cukup lewat sepiring brongkos kulit melinjo. Ibu sudah tiada. Brongkosnya masih terasa. Saya juga masih selalu terngiang kata-katanya: "Kowe kudu sekolah".

Leong Putu

Jika tujuannya untuk motivasi, sebenere di kalangan "Perusuh" ini, Pak Bos gak kurang2 person yg bisa diangkat ceritanya untuk bahan tulisan CHD. -Datuk Thamrin Dahlan -Eyang Agus S3 -Datuk Diraja D (triple-D) -Hasyim M -Ai Cece Batam -Mpok Juragan Laudry -APU -Udin Salemo -Liam Thien -Wak Kaji JZ Masih banyak lagiiiiiii.....dan jangan lupakan :Cak Mul. Sehingga timbul image baru : Perusuh bukan hanya jago gacor. Atau omdo.

Runner

Uang Rp500 ribu tanda kasih Ibu. Belikan emas. Sedapatnya, bentuk apapun. Tetap akan bernilai, takkan pernah kadaluarsa.

pengelolaan biropbj

Disway hari ini bikin mbrebes mili, temanya perjuangan sejati manusia dalam menjalani kehidupan yang keras sesuai perannya masing2, seorang ibu sebagai orang tua bekerja keras demi memastikan kehidupan anaknya, dan seorang anak yang dengan sepenuh hati berjuang memenuhi cita-cita ibunya, tidak sepenuhnya happy ending karena ibunya tidak sempat melihat keberhasilan anaknya , namun kita yakin sesungging senyum seorang ibu nun jauh disana merekah dalam belaiaan sang Pencipta, congrats mas andrew, tetaplah terus berjuang untuk kemanusiaan dan selaluingat akan jati diri, from local but think & do global.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

JIMAT YANG "MUNGKIN" BIKIN CALON ISTRI MIKIR.. Andrew punya gelar doktor summa cum laude. Umurnya baru 29 tahun. Mengajar di ITS pula. Kalau dibuat profil di aplikasi biro jodoh, mestinya kolom prestasi sudah penuh. Calon mertua bisa langsung tersenyum. Tetapi ada satu syarat yang mungkin membuat calon istri berpikir dua kali: Uang Rp500.000 di sakunya tidak boleh diganggu. Itu bukan uang belanja. Bukan pula dana darurat. Itu uang terakhir pemberian ibunya, yang nilainya sudah melampaui angka nominalnya. Coba bayangkan, kelak kalau sudah menikah. Istri menemukan uang Rp500.000 di saku celana suami. Biasanya langsung muncul pertanyaan: Uang dari mana? Kali ini pertanyaannya terbalik: Bolehkah uang itu dicuci bersama celana? Di situlah letak luar biasanya kisah Andrew. Uang itu bukan jimat untuk mendatangkan kekayaan. Ia menjadi pengingat agar keberhasilan tidak membuat seseorang lupa asal-usulnya. Dan agar selalu mendoakan ibunya. Andrew juga masih membantu anak bude yang merawatnya saat kecil. Berarti tanggung jawabnya tidak berhenti ketika orang yang berjasa sudah tiada. Gelar doktor bisa mengangkat nama seseorang. Tetapi kenangan tentang ibu dan budi kepada sesama membuat gelar itu terasa lebih tinggi. Calon istri Andrew akhirnya bukan cuma harus siap hidup bersama doktor. Ia juga harus siap hidup bersama "sejarah" uang Rp500.000.

Ismail Lutan

Luar biasa sekali perjuangan orangtua Pak Andrew. Saya sampai menangis membacanya. Semoga ijazah Doktornya tidak ada yang mempersoalkan, jika dia ingin mencalonkan diri menjadi presiden/wapres kelak....

Jokosp Sp

Kulit mlinjo yang dibuat untuk campuran sayur asam (sayur asem) bukan yang mlinjonya buat emping. Yang buat sayur asem itu yang kulitnya masih hijau atau warna kuning. Kalau yang kulitnya sudah merah berarti sudah tua mlinjonya, kulitnya sudah lembek. Kulit yang merah ini yang dibuat untuk campuran sayur lodeh atau sambal goreng. Mlinjo yang muda yang untuk campuran sayur asam, dan yang tua yang untuk dibuat emping. Emping sendiri ada dua jenis. Ada yang tipis, yang caranya buat setelah dikupas kulitnya dilakukan penggorengan tanpa minyak di atas penggorengan dari tanah. Setalah setengah matang baru dikupas kulit luar dan dibuang kulit arinya. Saat masih panas itulah dilakukan pemukulan dengan pemukul khusus di atas batu datar yang juga khusus, halus permukaannya. Selanjudnya diserok dan diletakkan di atas tempat penjemuran untuk dijemur sampai kering. Sedang emping satunya dibikin seperti umumnya snak atau camilan dengan digeprek, mencampurkan dengan bahan gula putih dan dan merah, garam, dan margarin agar ada rasa renyah dan berkaramel. Kecil saya SD, SMP di rumah embah dekat Limpung, penghasil melinjo dan pengrajin utama emping tipis. Jadi mulai tanam, metik, ngupas kulit, sampai cara buat empingnya tahu persis. Bahkan ketika harus ada uang jajan sekolah tinggal petik mblinjo di kebun, kupas dan jual ke pengepul. Lumayan. Sambal goreng dan sayur asem kalau ndak ada kulit dan daun mbiljonya serasa ada yang kurang, ini tradisi masyarakat di sekitar Limpung, dan Tersono.

Jokosp Sp

Penghasil mblinjo terbaik tetap di daerah sekitar Tersono dan Limpung. Punya biji besar, memberikan rasa gurih yang ndak ada habisnya. Jadi kalau disediakan satu toples emping goreng kalau belum habis ya belum berhenti. Rasa gurihnya bisa ditambahkan sedikit garam halus. Bagi pemilik asam urat jangan kuatir kalau kaki susah digerakkan dan nyeri saat jalan. Ingat ini saja kata penggemar emping mblinjo: "Hasil checkup adanya di kertas Lab. Silahkan makan saja, pasti aman". Untuk kekurangan bahan baku biasanya pengrajin Limpung mendatangkan mblinjo dari daerah Lebak Banten. Saat ini dengan terkenalnya Emping Limpung telah menjadikan komoditas mlinjo itu menyebar sampai di Wonogiri (Pacimantoro), Magetan (Baron), Bantul (Potorono, Worokertan, Banguntapan), Kebumen (Brecong), Kuningan (Karangtawang), sampai di Sumatera ( daerah Pidie dan Siglie).

Juve Zhang

Perusuh dibawah bingung penelitian DR. Andrew tentang retak beton....ini pola retak nya bukan sebab terjadinya retak beton...pola U net ...kalau sebab retak beton biasanya volume beton sangat besar misal pondasi untuk gedung tinggi di jakarta rata rata tinggi pondasi bisa 2 meter sedangkan pengecoran harus selesai sekali cor sehingga panas dalam beton akibat volume besar sekali....nah ahli beton takut retak akibat panas beton maka disiasati dengan menggunakan es balok yg diserut. .es balok yg diserut dimasukkan dalam adukan beton mencair jadi air es....air es ini dingin sehingga beton jadi dingin mengurangi efek terjadi nya retak beton...

Ahmad Zuhri

Selamat Dr. Andrew.. semoga ilmunya bermanfaat dunia dan akhirat, aamiin. Tiba-tiba saya jg ingat Alm. Ibu.. Walaupun tidak sampai perguruan tinggi, tapi anak-anak nya minimal bisa selesai setingkat SMA.. Itu pun dibantu hutang sana sini, tapi ada 1 hutang yg tak ingat sampai sekarang.. Ceritanya sekitar tahun 93/94 itu Ibu pinjam uang sama tetangga 1 jt, tapi uang itu hasil penjualan emas 18 k seberat 1 ons, dalam akad nya uang itu nanti dikembalikan dalam bentuk emas 1 ons jg, deal.. setuju. Waktu berlalu, tahun berganti.. datang lah krisis ekonomi 98, dolar membumbung tinggi, harga emas jg melonjak tajam.. Lulus sekolah 97, baru tahun 2000 saya dapat kerja.. Ibu selalu cerita utang emas 1 ons itu dan berharap agar kita bisa segera melunasi nya. Umumnya anak muda, tentu saya jg ingin beli motor.. untuk mewujudkan itu saya beli pedhet (anak sapi) harga 1,5 jt waktu itu dengan cara pinjam koperasi blm Merah Putih ya, itupun dalam jangka waktu 15 bulan baru lunas. Setelah lunas pinjam lagi nominal yg sama untuk beli pedhet lagi, pedhet ini dititipkan orang.. nanti waktu penjualan untung nya dibagi 2. Medio 2003 itu saya ada tawaran 'nguli' diujung barat Indonesia, dengan harapan bisa beli motor/melunasi hutang emas 1 ons itu. Ternyata 'nguli' nya lebih dari 1 tahun, ada harapan upahnya bisa buat beli motor.. akhirnya saya tlp Ibu agar pedhet 2 ekor segera dijual untuk membayar hutang emas 1 ons itu. Saya masih ingat penjualan pedhet itu dapat uang 4 jt

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Zuhri.. Ikutan ah. Almarhum Ibu juga pernah terjerat utang yang pakai bunga berbunga. Maka, saat saya nikah. Dan dari perusahaan dapat uang "kontrak rumah" sebagai pengganti rumah dinas - saya minta ijin istri, uangnya bukan untuk kontrak rumah. Tapi untuk nyaur utang ibu. Istri se7. Kami sendiri, akhirnya sewa "rumah mini". Di dalam gang sempit, dan jalan gangnya, dari jalan, naik tajam. Orang jalan pun kalau berpasan harus miring. Bayar sewa rumah pakai uang gaji. Istri jadi harus ngirit. Suatu saat, mertua datang ke rumah mini itu. Katanya: "Besok lagi kalau sewa rumah, paling tidak yang becak bisa masuk. Supaya, misal sakit, paling tidak bisa naik becak.." Alhamdulillah. Ternyata setahun kemudian, saat itu, bisa kredit rumah ke BTN. Rumah type 70. Tabungan berdua cukup tuk bayar uang muka.. Begitu kredit cair, ternyata masih harus bayar notaris, dll. Terpaksa tambah kredit ke "bank mertua". Sambil malu-malu. Minta tolong istri yang rayu ibu mertua. ### Tahun 80an. Di kota Bandung. Kota ibukota Telkom..

Turrachman Rachman

Andrew begitu sulit masuk ITS. Harus lewat D3 dan D4. Kini ia doktor summa cum laude ITS dan menjadi dosen di situ. Kisah yang selalu menggerakkan. Bahwa siap yang mau bekerja keras pasti akan sampai juga. Dan saya yakin ijazah Andrew akan dipajang bersama uang 500 ribunya. Untuk jaga-jaga kalau ada yang tanya ijazahnya ada apa tidak? Ada yang kerja keras ada yang "jalan pintas ".....

djokoLodang

-o-- Tadinya saya sudah senang, sekian hari berturut-turut pzda Oktober 2026 ini CHDI bisa terbit tepat waktu --pukul 04.00. Tapi, ternyata pagi ini telat lagi. --0-

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 128

  • yea aina
    yea aina
    • Wilwa
      Wilwa
  • pak tani
    pak tani
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
    • Wilwa
      Wilwa
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • sinung nugroho
    sinung nugroho
  • Langlang Turker
    Langlang Turker
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Em Ha
      Em Ha
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Macca Madinah
    Macca Madinah
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • pak tani
      pak tani
  • mario handoko
    mario handoko
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
    • Em Ha
      Em Ha
  • Wilwa
    Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • heru santoso
      heru santoso
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • my Ando
    my Ando
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • heru santoso
    heru santoso
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • heru santoso
      heru santoso
    • heru santoso
      heru santoso
  • heru santoso
    heru santoso
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Wilwa
      Wilwa
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Momon Atun
      Momon Atun
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Ahmad Zuhri
    Ahmad Zuhri
    • Momon Atun
      Momon Atun
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Momon Atun
      Momon Atun
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Momon Atun
    Momon Atun
  • alasroban
    alasroban
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • alasroban
    alasroban
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • alasroban
      alasroban
  • Turrachman Rachman
    Turrachman Rachman
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • ALI FAUZI
    ALI FAUZI
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • alasroban
      alasroban
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Sugi
    Sugi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • DeniK
    DeniK
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • djokoLodang
      djokoLodang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Mbah Mars
      Mbah Mars
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Mpok Dipa
    Mpok Dipa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • djokoLodang
      djokoLodang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
    • djokoLodang
      djokoLodang
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
    • Nimas Mumtazah
      Nimas Mumtazah
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺