Fashion Revolution Week 2025, Mengenal Teknik Sashiko Seni Menjahit Khas Jepang

Fashion Revolution Week 2025, Mengenal Teknik Sashiko Seni Menjahit Khas Jepang

Sejauh Mata Memandang (SMM) berkolaborasi dengan MULIH dan Fashion Revolution Indonesia serta didukung penuh oleh Plaza Indonesia, menghadirkan lokakarya bertajuk Kembali Baik: Belajar Bersama Memperbaiki Pakaian dengan Teknik Sashiko--Istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID - Pernah mendengar teknik menjahit Sashiko?

Ya, teknik ini merupakan Seni menjahit khas Jepang yang diperkenalkan dalam Fashion Revolution Week 2025.

Sejauh Mata Memandang (SMM) berkolaborasi dengan MULIH dan Fashion Revolution Indonesia serta didukung penuh oleh Plaza Indonesia, menghadirkan lokakarya bertajuk Kembali Baik: Belajar Bersama Memperbaiki Pakaian dengan Teknik Sashiko di Function Hall B, Level 2, Plaza Indonesia.

Lokakarya ini menjadi bagian dari Mend In Public Day, sebuah agenda global yang diinisiasi oleh Fashion Revolution untuk mendorong lebih banyak orang merawat dan memperbaiki pakaian mereka, alih-alih membuangnya.

BACA JUGA:Pemberdayaan BRI Bawa Pengusaha UMKM Aksesoris Fashion Tembus Pasar Internasional

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai wujud nyata komitmen SMM dalam mendukung gerakan fesyen yang lebih bertanggung jawab dan sirkular.

Dipandu langsung oleh Beverly Tandjung selaku Co-Founder MULIH, para peserta belajar dasar-dasar teknik sashiko—seni menjahit dari Jepang yang dikenal akan keindahannya dalam memperbaiki pakaian rusak menjadi sesuatu yang lebih bermakna.

Para peserta belajar mengenali potensi dari pakaian lama mereka, dan menemukan kembali nilai dari keterampilan sederhana menjahit.

Fashion Revolution Week adalah kampanye tahunan yang menyatukan gerakan aktivisme fesyen terbesar di dunia selama tujuh hari sebagai peringatan tragedi runtuhnya pabrik Rana Plaza pada tanggal 24 April 2013.

BACA JUGA:KPK Serius Dalami Kasus M Haniv soal Gratifikasi Sponsorship Kegiatan Fashion Show Anak

Fashion Revolution Week tahun ini berlangsung pada 22–27 April mengangkat tema “Think Globally, Act Locally”, mengajak masyarakat di berbagai belahan dunia untuk mengambil peran aktif dalam membuat perubahan pada kebijakan lokal demi sistem fesyen yang lebih adil dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan seperti lokakarya Kembali Baik, pesan global ini diterjemahkan ke dalam konteks lokal—dengan mengajak masyarakat untuk memulai perubahan dari hal-hal sederhana—seperti memperbaiki pakaian yang rusak—sebagai bentuk langkah alternatif terhadap sistem produksi dan konsumsi yang berlebihan.

Sebagai gerakan aktivisme fesyen terbesar di dunia, Fashion Revolution hadir untuk mendorong perubahan sistemik dalam industri fesyen global—dari praktik produksi yang tidak adil hingga dampak lingkungan yang merusak.

Gerakan ini lahir dari tragedi kemanusiaan yang mengguncang dunia, yaitu runtuhnya pabrik Rana Plaza di Bangladesh pada tahun 2013, dan sejak itu terus menggalang kekuatan kolektif lintas negara untuk menyerukan transparansi, keadilan, dan keberlanjutan dalam rantai pasok fesyen.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads