Disambut PENUH HARU! STY Tenangkan Suporter Garuda dan Bikin Adem, Kebangkitan Timnas Indonesia Dimulai
Disambut PENUH HARU! STY Tenangkan Suporter Garuda dan Bikin Adem, Kebangkitan Timnas Indonesia Dimulai-@shintaeyong7777-Instagram
Sementara itu, PSSI kini fokus menjadi sosok pelatih baru untuk menggantikan Patrick Kluivert.
Emil Audero sudah mulai pulih dan siapapun pelatih barunya nanti, kehadiran sang kiper tentu jadi modal berharga.
BACA JUGA:Shin Tae-yong: Timnas Indonesia Tetap Prioritas Utama Saya
Deretan Evaluasi Timnas Indonesia Usai Gagal Lolos Piala Dunia 2026
1. Terlalu Banyak Eksperimen di Momen Krusial
Salah satu hal yang paling ramai dibicarakan setelah kegagalan Timnas Indonesia adalah kebiasaan Patrick Kluivert yang terlalu gemar bereksperimen, bahkan di laga-laga penting.
Dalam dua pertandingan terakhir, pelatih asal Belanda itu kerap mengubah susunan pemain dan formasi tanpa arah yang jelas.
Di laga penentuan melawan Arab Saudi, Patrick Kluivert justru menurunkan duet gelandang senior Marc Klok dan Joey Pelupessy, yang terlihat kalah tenaga dan kecepatan dari lini tengah lawan.
Sementara saat menghadapi Irak, ia memberikan kesempatan starter kepada striker muda Mauro Zijlstra, alih-alih pemain berpengalaman seperti Ragnar Oratmangoen.
Keputusan berisiko tinggi ini dianggap terlalu nekat, apalagi dilakukan ketika nasib Indonesia di kualifikasi Piala Dunia sedang dipertaruhkan.
BACA JUGA:Akhirnya DIPUTUSKAN! Timnas Indonesia Banjir Keuntungan Usai Keluar AFC, Thailand Langsung Merespons
2. Skema Taktik Terlalu Memaksakan Gaya Menyerang
Evaluasi berikutnya adalah soal pendekatan taktik yang dinilai terlalu ofensif.
Patrick Kluivert terlihat kukuh dengan formasi 4-4-2 atau 4-3-3, bahkan saat menghadapi tim dengan kualitas jauh lebih baik.
Padahal, tidak semua pemain Indonesia cocok dengan gaya bermain menyerang penuh seperti itu.
Akibatnya, pola serangan menjadi monoton, mudah ditebak lawan, dan sering kali buntu di sepertiga akhir lapangan.
Pertahanan pun rentan karena tetap dipaksa bermain dengan dua bek tengah sejajar, meskipun Indonesia sejatinya tampil lebih stabil saat menggunakan formasi tiga bek.
BACA JUGA:TIMNAS Indonesia Didominasi 90 Persen Pemain Naturalisasi, Pengamat: Idealnya Pelatih asal Eropa!
3. Terlalu Banyak Memanggil Pemain Senior
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: