Gagal Sukses
Zohran Mamdani ke Bronx, menandatangani kebijakan di jalanan Sedgwick Avenue didampingi Tascha Van Auken.-crainsnewyork-
Akan sukseskah sosialisme di pusat kapitalisme dunia, New York?
Belum tahu.
Baru pertama ini sosialis berkuasa di satu tempat di negara engkong-nya kapitalis dunia: Amerika Serikat.
Di lima hari pertama masa jabatannya sebagai wali kota, Zohran Mamdani terus berkibar dengan sosialismenya. Tiap hari ia menandatangani keputusan yang berpihak kepada wong cilik.
Kemarin, Zohran ke Bronx. Ke Sedgwick Avenue No 1520. Di sinilah musik aliran hip hop lahir. Di tahun 1970-an.
Di pinggir jalan itu Zohran menandatangani keputusannya. Kontras dengan keputusan Presiden Donald Trump yang selalu ditandatangani di Gedung Putih.
Di situ Zohran didampingi wanita kulit putih. Berambut ikal. Dia wanita yang luar biasa: Tascha Van Auken.
Tascha adalah tim sukses terpenting Zohran di wilayah itu. Tascha berhasil membangun jaringan 100.000 relawan di Bronx. Mereka mempraktikkan kampanye untuk Mamdani dengan jalan khas wanita: telaten. Lebih 3 juta pintu di Bronx diketok oleh relawan ini: pilihlah Zohran.
Tascha ternyata mengaku belajar dari cara memenangkan Barack Obama di New York untuk jabatan Presiden Obama pertama.
Zohran punya orang seperti Tascha di tiap distrik: Bronx, Brooklyn, Queens, Long Island, dan Manhattan. Gerak mereka itu mengingatkan saya pada aktivis bawah tanah PDI-Megawati di masa akhir Orde Baru: Militan. Ideologis. Miskin. Tidak bisa dibeli.
Zohran terpilih karena sengaja didorong oleh jaringan sosialis ideologis seperti itu. Mereka mencari tokoh yang mampu, seideologi, punya prinsip yang kuat dan tidak bisa dibeli oleh oligarki.
Ketemulah sosok Zohran Mamdani –dari kalangan jaringan mereka sendiri.
Apakah perjuangan mereka nanti akan berhasil? Bisakah kota besar dibangun atas dasar kekuatan warganya –dan bukan oleh kekuatan investor besar?
Pertanyaan itulah yang membuat New York hari-hari ini jadi pusat perhatian dunia --juga pusat perhatian Disway.
Kalau berhasil ''penyakit Zohran'' ini akan menular ke Chicago. Ke Los Angeles. Ke San Francisco. Bahkan ke London. Ke Paris.
Kelihatannya agak sulit menular sampai Jakarta –Tuhan pun bisa dibeli di Jakarta
Tentu saya mengikuti dinamika yang terjadi di New York. Banyak analis menilai kemungkinan berhasilnya hanya 35 persen. Tapi kemungkinan gagalnya juga sekitar itu. Sisanya pilih kemungkinan ketiga: jalan kompromi.
Kegagalan itu berasal dari satu kemungkinan: terjadi krisis anggaran. Terlalu banyak pengeluaran untuk infrastruktur sosial tanpa diimbangi naiknya pendapatan –terutama dari pajak.
Program utama menggratiskan angkutan bus akan menggerogoti anggaran. Apalagi bila kereta bawah tanah juga gratis bagi orang miskin.
Belum lagi program lainnya: membuka toko-toko kebutuhan pokok dengan harga murah.
Di lain pihak sewa rumah/rusun, diturunkan. Setidaknya tidak bisa dinaikkan. Pajak dari sektor ini akan merosot drastis.
Belum lagi kalau investor merasa ''New York Baru'' kurang menarik untuk bisnis. Lalu mereka #kaburdulu.
Yang memperkirakan Zohran berhasil didasarkan pemikiran bahwa New York sudah telanjur kaya. Telanjur jadi pusat keuangan dunia. Infrastruktur dasar sudah terbangun lama. Memang, saatnyalah sekarang masuk tahap membangun infrastruktur sosial. Itu bisa membuat lapisan bawah lebih produktif –satu sumber kemajuan bersama.
Mungkin juga akan terjadi kompromi. Sebagian janji dipenuhi. Sebagian lainnya ''ditunda''. Para pengusaha besar bisa saja tidak jadi kabur tapi juga mau menurunkan derajat kerakusan mereka.
Sudah lima hari ini Zohran terlihat terus memerangi perusahaan real estate besar. Mereka memang punya banyak taktik untuk tidak menaikkan sewa. Tapi memungut biaya-biaya lainnya. Misalnya ada uang perbaikan, uang lift, uang pemeliharaan, uang kebersihan, uang pencegah tikus dan apa saja.
Taktik pengusaha real estate di sana sama saja dengan di mana saja: penghuni lama dibuat tidak kerasan. Lalu pindah. Agar penghuni baru masuk dengan sewa lebih tinggi.
New York memang menjadi awal lahirnya prinsip baru dalam bisnis real estate: "rumah adalah aset. Aset adalah instrumen keuangan".
Beda dengan prinsip penyewa: rumah adalah tempat tinggal. Di desa saya pun begitu: rumah bukan aset, tapi tempat membangun keluarga.
Bahkan di Bronx dikembangkan prinsip baru oleh orang seperti Tascha: rumah adalah hak asasi manusia.
Dua prinsip itu kini berhadap-hadapan di New York. Ditonton oleh orang sedunia –termasuk Anda. Semua ingin tahu: seperti apa endingnya. Gaya Hollywood atau Bollywood. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 5 Januari 2026: Jane Moses
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DARI MOSES KE ZOHRAN: DARI BULDOZER KE PELUKAN New York ternyata punya karma tata kota. Dulu ada Robert Moses: jenius infrastruktur, tangan dingin, tapi buldoser panas. Kota dibelah, kampung digusur, jalan dilebarkan—untuk mobil, bukan manusia. Warga miskin minggir. Mobil melaju. Sejarah dicetak dengan beton. Lalu lahirlah anti-tesisnya. Jane Jacobs membuka mata: kota bukan lintasan ban, tapi ruang hidup. Dari perlawanan ideologis itu, puluhan tahun kemudian, muncul Zohran Mamdani. Usianya baru 34. Tapi bebannya 90 tahun sejarah. Moses membangun taman, tapi yang bisa masuk orang berduit. Zohran datang ke Greenpoint bukan bawa cetak biru, tapi pelukan. Moses terkenal tanpa pernah jadi wali kota. Zohran jadi wali kota justru karena melawan warisan Moses. Ini bukan soal siapa paling hebat membangun. Ini soal untuk siapa kota dibangun. Moses mungkin bapak infrastruktur. Tapi Zohran ingin jadi bapak “membangun tanpa menggusur”. Terdengar idealis? Ya. Tapi sejarah kota selalu digerakkan oleh idealisme—entah idealisme beton, atau idealisme manusia. ### Jakarta? Jangan GR dulu. Kita masih banyak murid Moses. Zohran baru satu. Tapi pelajaran sudah jelas: kota yang hebat bukan yang jalannya lebar, melainkan yang warganya betah tinggal.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
ZOHRAN VS BU RISMA: KERJA SENYAP ATAU PELUKAN RAMAI.. Zohran Mamdani dan Bu Risma sama-sama dicintai warga. Tapi cara mencintainya beda genre. Zohran dengan pidato, simbol, dan pelukan. Bu Risma dengan sapu, peta, dan kerja sampai lupa jam. Bu Risma membenahi Surabaya dari bawah: taman, sungai, kampung, saluran air. Ia hadir di lapangan. Marah kalau perlu. Nangis kalau warga bandel. Tapi ia tahu persis lubang mana yang mampet. Pembangunan baginya soal disiplin dan detail. Banyak gusur? Ada. Tapi selalu dengan alasan fungsi kota. Zohran datang di New York dengan narasi besar: keadilan kota, anti-gusur, sewa manusiawi. Ia berdiri di atas luka sejarah ala Moses. Modal utamanya: empati dan memori kolektif. Ia bukan tukang gambar teknis, tapi penggerak arah. Risma itu teknokrat lapangan. Zohran itu ideolog kota. Risma membangun dulu, baru bicara. Zohran bicara dulu, baru membangun. Dua-duanya dibutuhkan—di tempat dan zamannya. Masalah muncul ketika pejabat ingin gaya Zohran tanpa empati, atau gaya Risma tanpa stamina. Kota tidak bisa hanya dipeluk, tapi juga tak bisa terus dimarahi. New York menguji Zohran. Surabaya sudah menguji Risma. Hasilnya satu pelajaran: kota maju bukan karena wali kotanya populer, tapi karena warganya masih betah tinggal—dan tidak merasa terus jadi korban pembangunan.
Sugi
Saya kali pertama ini mendengar istilah kota untuk manusia. Berarti yang selama ini ikut gaya tata kota ala Pak Moses untuk siapa dong? Non-manusia? Mobil? Robot? Setan? Saya sangat sepakat tata kelola kota yang lebih manusiawi. Kota untuk semua kalangan. Tanpa menggusur yang tidak berpunya. Kesejahteraan seluruh warga kota adalah tanggung jawab walikotanya. Semoga Pak Zohran juga mampu menginspirasi para walikota lainnya, termasuk di Indonesia. Nuhun juga Bah, sudah membacai semua recehan komentar saya selama ini.
Kurniawan Roziq
Tak pikir catatan hari ini tentang Trump menyerang istana Konoha dan menyekap pemimpin nya dengan mulut tertutup dan mata terbuka, tapi Trump kecewa yg didapat hanya Fero nikel belaka
Mukidi Teguh
Di sini, miniatur kasus Moses adalah pasar tradisional yang kumuh. Para penguasa tempatan yang baru saja jadi orang kaya baru, berubah jadi merasa jijik ketika berbelanja ke situ. Muncullah ide untuk menatanya. Mulanya diadakan sosialisasi ke pedagang, tapi berujung buntu. Penjual yang sudah berada di zona nyaman tentu tak ingin ada perubahan drastis. Bisa-bisa lapaknya bubar. Beberapa kali rapat, tetap tidak ada titik temu. Anda tahu apa yang terjadi kemudian? Lewat 40 hari tiba-tiba pasar itu terbakar. Kata petugas damkar akibat listrik konslet. Para Perusuh disini saya kira dapat menebak apa ending dari kisah nyata ini.
Taufik Hidayat
Judul Artikel kali ini Jane Moses. kalau Momdani jadi anti Moses maka saya jadi ingat tentang Jane’s Walk. Kebetulan saya sangat suka jalan kaki. Dan paling suka ikut walking tur yg gratis dan bayarnya suka rela di akhir tur. Kalau Jane’s walk bukan tur seperti ini karena diadakan setiap awal Mei di berbagai kota di seluruh dunia. yang terakhir saya ikut di Jakarta yaitu jalan jalan di kawasan Blok M bersama dengan PSII. Buka PSSI loh. PSII itu Pusat Studi Infrastruktur Indonesia . Lumayan jadi kenalan sama Bang Malindo yang bersemangat. Sekali kali kita bikin Dahlan’s Walk yuk! tapi jangan di kota tapi di kampung
Redaktur Harian Senja
5. Kemudian, teknik retoris yang digunakan Murid SD Internasional dengan menyebut komentator Imau Compo sebagai "naif", disusul kemudian dengan mengajukan pertanyaan hipotetis berbiaya, ini adalah cara klasik untuk membalik beban argumen. Dua teknik retorika tersebut membuat komentar Murid SD Internasional nampak tajam, tapi bagi pembaca berpengalaman, komentarnya kali ini lebih menyerupai serangan personal ketimbang analisis kebijakan. Tapi cara seperti ini memang efektif, sebab kolom komentar CHD memang merupakan "ruang debat", bukan ruang kerja nyata para diplomat negara. 6. Terakhir, kesimpulan. Komentar Murid SD Internasional hari ini, seperti biasa, canggih, tapi sebatas retorika. Ia gabungkan narasi, tabu, kalkulasi kekuasaan, dalam satu rangkaian yang apik dan rapi. Tetapi dari sudut pandang jurnalis perang dan politik internasional, kecanggihan tersebut masih dangkal, karena tidak menyentuh lapisan hukum, preseden politik, dan opsi kebijakan. Komentar canggihnya ini lebih tepat disebut sebagai retorika realisme instan, bukan analisis matang yang bisa dijadikan pedoman.
Redaktur Harian Senja
3. Ketika menyebut penangkapan paksa seorang presiden aktif oleh presiden aktif lain sebagai "pelanggaran tertabu paling tabu", Murid SD Internasional nampak mencoba menyentuh dimensi moral. Namun ia segera menggeser ke kalkulasi realpolitik: negara lemah mesti tunduk kepada negara kuat. Pergeseran ini menunjukkan arsitektur berpikir yang pragmatis, sekaligus menyingkap bias: tabu hanya dipakai sebagai penguat emosi, bukan sebagai dasar normatif yang konsisten. Tapi saya tidak kaget, sebab di komentar CHD kemarin Murid SD Internasional kebetulan mengakui bahwa cara berpikirnya memang pragmatis. 4. Lalu argumen tentang "buying time" dan "menghindari darah sipil tertumpah" memang terdengar rasional. Dalam liputan perang, saya melihat banyak negara kecil memilih strategi menunda konfrontasi demi bertahan hidup. Tetapi komentar Murid SD Internasional kali ini luput menyinggung opsi menengah, seperti diplomasi multilateral, kecaman terbatas, atau mekanisme hukum internasional. Dengan hanya menyodorkan dikotomi "tunduk atau mati konyol", Murid SD Internasional menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks.
Redaktur Harian Senja
Saya perlu memberikan 6 catatan. 1. Sebagai jurnalis yang telah 35 tahun meliput perang dan politik internasional, saya membaca komentar Murid SD Internasional kali ini dengan mata yang lebih tajam. Narasi yang dibangun di atas benar-benar rapi, mengaitkan nubuat pseudo-religius, peristiwa aktual, dan kalkulasi kekuasaan. Namun narasi yang tampak canggih ini lebih menyerupai retorika penguatan posisi, ketimbang analisis yang benar-benar menimbang kompleksitas hukum dan politik global. 2. Menggunakan kisah "nabi YS" sebagai pembuka adalah teknik framing efektif untuk menciptakan atmosfer dramatis. Tetapi dalam tradisi jurnalistik, kita menimbang fakta, bukan nubuat. Membuka dengan nubuat yang meleset lalu diklaim "terbukti" sekarang, itu hanya memperkuat kesan bahwa argumen ini dibangun di atas simbolisme, bukan verifikasi. Jadi komentar Murid SD Internasional hari ini lebih berat ke retorika, bukan berat ke analisis fakta.
Murid SD Internasional
Tahun 2019, ada seorang warga Amerika yang mendakwakan diri sebagai nabi. Inisialnya YS. Prophet YS. Dia menubuwatkan, World War 3 akan dimulai oleh Trump. Namun 2021 yang menjadi presiden Amerika malahan Biden. Nabi YS ini pun kemudian ditinggalkan para pengikutnya, lantaran nubuwatnya dianggap meleset. Ternyata baru kejadian di awal 2026 sekarang. Seorang presiden aktif, menangkap paksa seorang presiden aktif lain, di negaranya sendiri, di tanah airnya sendiri. Ini adalah pelanggaran tertabu paling tabu, di ranah internasional antar bangsa. Pak Guru @Imau Compo beberapa hari lalu menyatakan, @Murid SD Internasional masih jauh levelnya dari Pak Guru @Juve Zhang dan Pak Guru @Udin Salemo ketika berbicara politik kenegaraan yang konkret dan implementatif, bahwa law enforcement itu harus tegak dengan tegas. Saya jawab hari ini. Pak Guru @Imau Compo, Anda benar-benar naif. Hukum alam bekerja sederhana: "jika engkau lemah, ukur cermat kekuatanmu terlebih dulu, sebelum engkau serius melawan power yang lebih kuat, kecuali engkau siap mati konyol". Jika Pak Guru @Imau Compo adalah Presiden RI saat ini, apakah Anda akan mengeluarkan statement keras atas tindakan Presiden Trump terhadap Presiden Venezuela, dan siap menanggung akibatnya?
Em Ha
"Jangan mati dulu. Kalau mati, lahan kuburanmu akan kena gusur." Arman, warga Kampung Baru, Mangku Padi, Bulungan, Kalimantan Utara. Punya sebidang tanah. Sudah SHM sejak 2009. Lewat program Jokowi, PRONA. 2015 tergusur sistimatis. Tanahnya terhimpit HGU PT Bulungan Citra Agro Persada (PT BCAP). Perusahaan bergerak di sektor sawit. Terbit izin lebih dari 13.000 Ha, mengeliminir beberapa lahan warga. Berunding. Mereka berjanji mengeluarkan lahan-lahan itu baik secara diberi kompensasi atau di-enklave. PT BCAP mengatakan "tidak sengaja menyertakan lahan warga ke HGU," 2017 9.500 Ha lahan PT BCAP masuk dalam Kawasan Industri Hijau Indonesia. Nasib Arman semakin tak jelas. Akhir 2025 Arman berujar "Kami seperti dijajah.". "Ketika hak-hak kami dirampas begitu saja, baik hak hidup kami, hak kerja kami, hak lingkungan kami, itu semua dirampas, maka apa artinya kemerdekaan itu bagi kami?" Tema Proyek Strategis Nasional (PSN) nya Kawasan Industri Hijau. Tapi prakteknya "Merah". Arman bingung, sebenarnya kerja BPN itu seperti apa?. Kenapa bisa Hak Milik boleh berubah tanpa ptoses jual beli. Mungkin BPN terhimpit oligarki. Terhimpit enak. Tak sampai mati.
Liáng - βιολί ζήτα
Jakarta Property Institute. "Indonesia merupakan salah satu di antara beberapa negara di dunia dengan biaya hidup yang mahal. Salah satu indikatornya yaitu Price-to-Income Ratio Indonesia yang nilainya 13,81. Angka yang menjadi indikator keterjangkauan harga rumah ini mengejutkan. Indonesia berada jauh di belakang Malaysia dan Jepang yang secara berturut-turut rasionya 9,77 dan 11,25. Semakin tinggi rasionya, semakin tidak terjangkau harga rumahnya." Selengkapnya : https://jpi.or.id jakarta-yang-terjangkau
Liáng - βιολί ζήτα
Price-to-Income Ratio. Seperti balapan, kejar-kejaran antara kenaikan harga hunian dan kenaikan pendapatan..... tetapi, sayangnya dalam hal kejar-kejaran selalu ada yang tertinggal..... dan sepertinya sudah "nasibnya pendapatan" selalu kalah - selalu tertinggal (bahkan semakin jauh) dari kenaikan harga-harga, khususnya harga hunian. Itulah realita hidup di kota-kota besar di dunia. Price-to-Income Ratio atau Rasio Harga terhadap Pendapatan, dalam hal hunian..... selalu menjadi masalah serius di kota-kota metropolitan di dunia ini, seperti New York. • New York. Price-to-Income Ratio New York sangat tinggi, sekitar 10. Anda Pasti Tahu..... ratio yang semakin tinggi berarti daya beli akan rendah, karena faktor keterjangkauan. Kenaikan harga rumah yang maju terus pantang mundur dibanding dengan pendapatan yang cenderung stagnan, akan mengakibatkan kesenjangan yang semakin melebar. • Jakarta. Sangat Mengejutkan !! Price-to-Income Ratio Jakarta ternyata Lebih Tinggi dari New York, hampir mendekati angka 14..... !!" Anda pun Pasti lebih Tahu..... apa dan bagaimana kondisi Jakarta.....
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
BANG ALI DAN BANG BENYAMIN.. (Puisi untuk Bang Ali dan Bang Benyamin..) Di Tanah Abang, belacu masih dijual kiloan, tapi kota dijual per meter— lengkap dengan janji masa depan yang cicilannya dibayar oleh orang lain. Bang Ali membaca baliho raksasa: "Menuju Kota Global". Ia menengok ke bawah, trotoar penuh gerobak, lalu bertanya lirih: global itu ke mana, dan grobaknya ke mana, dan siapa yang boleh ikut? Bang Benyamin tertawa di Menteng, melihat gedung naik lebih cepat daripada upah minimum. Katanya: di kota ini, yang naik hanya harga tanah, yang turun cuma kesabaran. Ciliwung dikeruk, warganya dipindahkan. Air diminta bersih, manusianya disuruh bersih diri. Kalau banjir datang lagi, itu disebut musibah— bukan kebijakan yang salah alamat. Ondel-ondel berdiri di festival kota, difoto, diposting, dilabeli budaya. Selesai acara, ia kembali jadi pengamen di lampu merah pembangunan. Di warung kopi, Bang Ali berkata: "Betawi kini tinggal tema acara". Bang Benyamin menyahut sambil tersenyum: tak apa, asal kota tampak modern di brosur— meski manusianya makin terasa kuno: mudah digusur, sulit didengar.
Udin Salemo
boss ngaduk semen (bns): "tumben kamu belum komentar di disway hari ini." tukang ngaduk semen (tns): "saya tak mempelototi disway dari waktu ke waktu boss. beri komentar kalau lagi gabut. beban kerjaan lagi biasa-biasa saja dan ada waktu untuk komentar." bns: "nah, gitu dong. jadi karyawan itu dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore waktumu sudah saya beli." tns: "lha, elaa boooss, bos... gak diberitahu juga saya sudah tahu." bns: "kamu jadi karyawan jangan perhitungan waktu, ya. kelebihan waktumu untuk lembur yang tak terbayar anggap saja sedekah." tns: "biar imbang sisa tagihan kasbon saya ke boss yang belum saya bayar anggap saja sedekah." bns: "kamu itu, ya, Din kalau soal uang jangankan rugi impas saja kadang tak rela." tns: "kan sama juga dengan boss, hehehe..." bns: "saya ngasih bonusmu saya lebihkan saya tak hitung-hitungan, tuh..." tns: *#$%&@!*&%...(ngedumel dalam hati: boss susah dilawan)
Thamrin Dahlan YPTD
Komentar ketinggalan. Seharusnya kemarin bukan sekarang. Namun masih relevan lah bersebab Abah pikiran plus tulisan nya masih serba serbi New York Pencitraan tidak di Amerika warga negara sadar demokrasi dari rakyat untuk rakyat. Buzer juga tidak ada disana Apalagi relawan juga tidak laku. Maka jadilah orang orang terbaik terpilih nenjadi pemimpin tanpa rekayasa lembaga survei abal abal New York. Plus Warga sudah sangat sadar ber demokrasi. Kalaupun ada oknum nakal mau main main seperti disini pasti malu sendiri.. Ujungnya awak berpikir bagaimana negeri kita ini mencontoh kedewasaan berdemokrasi ala NEW York. Menunggu negeri aman makmur iya iyalah kelamaan.Putus asa ? Tidak juga . Maka ada jalan terbaik. Anda pasti sudah tahu. Berpura-pura lah ber mimpi jadi warga walikota New York Mr Zohran Mamdani. Salamsalaman Alhamdulillah Jki
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:

Komentar: 108
Silahkan login untuk berkomentar