Sejarah 28 Oktober: Saat Pemuda Indonesia Satukan Tanah Air, Bangsa, dan Bahasa
Kisah di Balik Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928: Saat Indonesia Bersatu untuk Merdeka!---Dok. Istimewa
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
BACA JUGA:17 Gol di La Liga, Oihan Sancet Bikin Manchester United Siap Rogoh Kocek Dalam-dalam!
Dampak dan Warisan Abadi Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda menjadi sebuah terobosan ideologis. Untuk pertama kalinya, ikatan kedaerahan ditanggalkan dan digantikan dengan identitas kebangsaan yang inklusif: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.
Peristiwa ini menjadi katalisator percepatan pergerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia 17 tahun kemudian.
Relevansi Sumpah Pemuda di Era Kini
Melalui Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959, 28 Oktober ditetapkan sebagai hari nasional yang bukan hari libur.
Peringatan ini bukan sekadar ritual, melainkan sebuah panggilan untuk mengaktualisasikan semangat persatuan dalam konteks kekinian.
Di tengah tantangan globalisasi dan perbedaan di media sosial, semangat Sumpah Pemuda mengajak generasi muda untuk:
- Merajut persatuan dalam keberagaman suku, agama, dan budaya.
- Memupuk kecintaan pada tanah air dengan cara-cara yang kreatif dan produktif.
- Aktif berkontribusi membangun negeri di berbagai bidang, dari teknologi hingga sosial budaya.
Dengan demikian, semangat "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa" tetap hidup dan relevan sebagai panduan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam menjawab tantangan zaman.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: