Timtim Maduro
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro digiring menuju Pengadilan Tinggi New York, Amerika Serikat pada Senin, 5 Januari 2026--Getty Image
Anak muda inilah yang membuat saya tidak menulis soal ditangkapnya Presiden Nicolas Maduro. Padahal serangan kilat itu amat dramatik. Pelakunya pasukan Amerika. Lokasinya di negaranya Maduro: di Venezuela --di ibu kotanya: Karakas.
Nama anak muda itu: Efatha Filomeno Borromeu Duarte. Ia menulis soal serangan itu dengan sangat bagusnya. Istimewa. Saya tidak mungkin bisa menulis soal itu lebih baik dari Efatha. Dan lagi tulisan Efatha sudah beredar sangat luas. Dari WA ke WA --termasuk WA Anda dan saya.
Saya pun memberikan pujian langsung kepadanya. Ia merendah. Ia merasa terharu atas pujian saya itu. Tapi saya jujur: tulisan Efatha memang luar biasa. Judulnya Anda sudah tahu. Agak panjang: Operasi 300 menit, Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela.
Efatha baru berumur 31 tahun. Ia terlihat sangat menguasai masalah. Utamanya soal pertahanan dan persenjataan.
"Saya dosen geostrategi dan geopolitik," ujar Efatha. "Kebetulan juga mengajar terorisme dan kekerasan politik," tambahnya.
Karena itu Efatha harus mempelajari dunia persenjataan. Apalagi ia sendiri sangat senang mengamati dinamika perang.
"Master saya di bidang ilmu pertahanan," ujar Efatha. Yakni di Universitas Brawijaya, Malang.
Belum sebulan lalu Efatha meraih gelar doktor. Masih sedikit umur 31 sudah menjadi doktor. Judul disertasinya: Hakekat Pengaturan Robot dan Kecerdasan Buatan di Indonesia.
Topik disertasi itu dipilih karena Efatha terusik oleh tingginya penghormatan manusia pada robot dan AI (artificial intelligence).
"Sampai ada robot yang mendapat kewarganegaraan," kata Efatha.
Anda pun sudah tahu siapa nama robot itu: Sophia. Lahir di Hong Kong. Dapat kewarganegaraan Saudi Arabia. Tahun 2017.
Efatha lahir di Dili, Timor Leste d/h Timtim. Umur enam tahun terjadi referendum: Timtim merdeka. Pisah dari Indonesia. Efatha diajak orang tuanya pindah ke Bali.
Di Dili Efatha sudah sempat selesai TK. Di Bali ia kembali masuk TK, lalu SD, SMP dan SMA di sekolah Katolik di Denpasar: Santo Yosep. Setelah itu ia kuliah ilmu politik di Universitas Udayana.
Bahwa tulisannya begitu bagus itu karena Efatha rajin menulis. Juga banyak membaca. Sejak Efatha kecil ayahnya sudah memasok bacaan. Termasuk berlangganan koran. Sang ayah pernah menjabat kepala Dinas Kehutanan di Timtim: Filomeno Borromeu.
Ayahnya sempat mengajarkan bahasa Portugis ke Efatha. Sang ayah memang pernah menjadi guru bahasa Portugis sebelum Timtim bergabung ke Indonesia. Tapi Efatha mengaku belum sampai bisa berbahasa Portugis.
Dari rajinnya membaca itu Efatha merasa punya guru menulis --yang Anda sudah kenal namanya. Karena itu tulisan Efatha terasa sangat lincah. Kalimat-kalimatnya pendek. Hanya sedikit kurangnya: kurang menyelipkan sedikit humor.
Bacalah sendiri hebatnya tulisan 300 menitnya di bagian bawah tulisan saya ini. Ups jangan membacanya. Anda sudah membaca itu. Amati gaya tulisannya. Dan kedalaman isinya.
Dari Udayana Efatha mengambil S-2 di Universitas Brawijaya: ilmu pertahanan. Lalu kembali ke Udayana mengambil S-3 bidang hukum. Zigzag: politik-pertahanan-hukum. Tapi memang masih saling terkait.
Ia ingin mendalami bagaimana status hukum robot dan AI di masa depan. Akankah mereka benar-benar bisa jadi manusia yang sesungguhnya. Termasuk berhak atas kewarganegaraan.
Kalau saja bisa Disway pun akan mengalami kesulitan menggunakan kata ganti untuk mereka: dia atau ia; nyi atau nya.
Efatha anak tunggal. Ayah-ibunya pensiun di Bali. Boleh dikata Efatha masih pengantin baru. Belum punya anak. Istrinya juga orang Timtim --dari kota kecil dekat perbatasan dengan NTT. Tidak jauh dari Dili.
Dia, sang istri, adalah adik semesternya di Udayana. Kini sang istri sedang menyelesaikan S-3. Juga di Udayana. Bidang hukum.
"Aneh", kata Efatha, "orang seperti imigran tidak bisa dapat kewarganegaraan, justru Sophia bisa dapat", katanya.(Dahlan Iskan)

Dr Efatha dan istri--
Inilah tulisan Efatha yang mengalahkan niat saya menulis hal yang sama:
***
Operasi 300 Menit: Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela
Oleh: Dr Efatha Filomeno Borromeu Duarte
(Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana)
Gila.
Benar-benar gila.
Sabtu malam itu, langit Karakas tidak sekadar gelap. Ia penuh sesak.
Ada 150 pesawat di atas sana.
Mereka datang dari 20 pangkalan berbeda. Dari Florida. Dari Puerto Rico. Dari geladak kapal induk.
Semuanya bertemu di satu titik koordinat. Di detik yang sama.
Tanpa saling tabrak. Tanpa terdeteksi.
Ini bukan lagi operasi militer. Ini sihir logistik.
Mari kita bedah jeroannya. Agar kita tahu betapa mengerikannya dunia tempat kita hidup sekarang.
Orkestrasi Hantu Langit
Yang terjadi di udara itu sebuah mahakarya teknis.
Di lapisan paling atas, ada E-3 Sentry. Pesawat radar piringan jamur itu. Ia jadi dirigen. Mengatur lalu lintas tempur agar tidak kacau.
Di bawahnya, ada F-35 Lightning II.
Perhatikan detail ini: F-35 tidak menembakkan satu peluru pun.
Tugasnya cuma satu: menjadi "pengendus". Sensor fusion-nya menyedot semua sinyal elektronik dari daratan Venezuela.
Begitu radar S-300 buatan Rusia milik Venezuela menyala, F-35 mengirim data ke belakang.
Di sana sudah menunggu EA-18G Growler. Pesawat perang elektronika.
Boom! Bukan bom yang dijatuhkan. Tapi sinyal jamming bertenaga tinggi.
Layar radar di Karakas tidak meledak. Hanya memutih. Buta total. Operator radar Venezuela cuma bisa bengong melihat semut di layar monitor.
Saat buta itulah, tamu utamanya masuk.
Resimen Operasi Khusus Penerbangan ke-160. Julukannya Night Stalkers.
Mereka membawa helikopter MH-47 Chinook.
Terbangnya sinting. Hanya 30 meter di atas ombak Laut Karibia. Memanfaatkan sea clutter (gangguan ombak) untuk sembunyi dari sisa-sisa radar.
Mereka mendarat di jantung kota. Delta Force turun. FBI turun.
Lima jam. Selesai.
Presiden Nicolás Maduro diangkut ke kapal induk USS Iwo Jima.
Seperti paket kilat JNE.
Ruang Server & AI Kematian
Tapi tunggu dulu.
Pasukan elite itu cuma penyapu sampah.
Pembunuh aslinya tidak memegang senapan. Ia duduk manis di dalam kabel optik bawah laut.
Sebulan lalu, Amerika diam-diam menyebar senjata baru: AI Finansial.
Dulu, sanksi ekonomi itu manual. Orang mengecek dokumen satu-satu.
Sekarang? Algoritma yang bekerja.
AI ini ganas. Ia tidak memburu nama perusahaan. Ia memburu pola.
Ada kapal tanker Venezuela mau beli bahan bakar di tengah laut?
AI mendeteksi pola transfer uangnya. Lewat Panama. Lewat Hong Kong.
Klik. Diblokir.
Kapal-kapal tanker itu menjadi bangkai besi terapung.
Mesinnya hidup, tapi tak bisa bergerak.
Asuransi maritim dari London diputus otomatis.
Biaya sandar pelabuhan ditolak.
Logistik Venezuela dicekik sampai biru.
Tanpa bensin, tank tidak jalan. Tanpa uang, jenderal tidak setia.
Maduro jatuh bukan karena kalah perang. Ia jatuh karena "dompet"-nya dimatikan dari jarak 4.000 kilometer.
"Lawfare": Perang Gaya Baru
Yang bikin saya merinding bukan pesawatnya. Tapi penumpangnya.
Ada agen FBI Hostage Rescue Team (HRT).
Kenapa bawa polisi?
Ini cerdiknya. Liciknya.
Amerika ingin membingkai ini bukan sebagai "Invasi Militer" (itu melanggar PBB).
Mereka membingkainya sebagai "Penegakan Hukum" (menangkap buronan narkoba).
Konsep kedaulatan negara (Westphalian Sovereignty) resmi jadi sampah.
Batas negara dianggap tidak ada.
Hukum Amerika berlaku di seluruh dunia. Ekstrateritorial.
Kalau mereka mau ambil orang di Jakarta, di Moskow, di Karakas, mereka pakai dalih "surat perintah penangkapan".
Ini namanya Lawfare. Perang menggunakan hukum sebagai senjata.
Puing-Puing Geopolitik
Kasihan Rusia.
Vladimir Putin pasti sedang minum vodka sambil sakit kepala.
Venezuela itu "kapal induk daratan" Rusia di Amerika Latin.
Tempat parkir pesawat pembom nuklir Tu-160 Blackjack.
Investasi Rosneft miliaran dolar di sana.
Dalam satu malam, aset itu hangus.
Rusia kehilangan pijakan strategisnya. Tanpa sempat menarik pelatuk.
China juga sama. Utang Venezuela ke Beijing mungkin tak akan pernah kembali.
Alarm untuk Kita
Lantas, bagaimana dengan Indonesia?
Membaca berita Karakas ini rasanya getir. Pahit.
Kita punya Nikel. Kita punya Laut. Kita seksi.
Tapi lihat diri kita di cermin.
Radar kita? Masih banyak yang bolong.
Sistem bank kita? Masih numpang jalur pipa SWIFT punya Barat.
Data kita? Masih di cloud asing.
Operasi Karakas mengajarkan satu hal: Kedaulatan tanpa teknologi itu omong kosong.
Diplomasi tanpa otot siber itu cuma puisi cengeng.
Jika besok kita dianggap "nakal" entah tiba-tiba karena hilirisasi atau karena vokal di PBB, siapkah kita?
Siapkah jika tombol "OFF" ditekan dari Washington?
Siapkah jika bank kita offline dan pesawat tempur asing sudah ada di atas Monas tanpa terdeteksi?
Di meja makan raksasa dunia hari ini, pilihannya cuma dua.
Anda duduk memegang garpu sebagai pemain.
Atau Anda telanjang di atas piring sebagai menu santapan.
Karakas sudah jadi menu.
Semoga kita lekas bangun. Sebelum ikut dimakan. (*)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 6 Januari 2026: Gagal Sukses
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
NEW YORK: SOSIALISME DI MAL, BUKAN DI GUA.. Zohran Mamdani sedang menguji satu tesis besar: apakah sosialisme bisa hidup di pusat kapitalisme tanpa langsung masuk IGD anggaran. New York jelas bukan Kuba, apalagi Venezuela. Ini kota yang ATM-nya lebih banyak dari pohon, dan pajaknya lebih rumit dari skripsi doktor. Lima hari pertama, Zohran tampak serius membela wong cilik. Bus gratis, sewa ditekan, real estate diajak diet kerakusan. Secara moral: tepuk tangan. Secara fiskal: keringat dingin. Masalahnya klasik: niat baik sering kalah cepat dari Excel. Pendapatan pajak tak bisa disuruh ikut demonstrasi. Investor juga makhluk sensitif: sedikit bau “anti-profit”, koper langsung siap. Namun New York memang sudah “jadi”. Jalan, gedung, sistem—semua matang. Yang kurang tinggal rasa keadilan sosialnya. Kalau sosialisme mau punya peluang, ya di kota seperti ini. Bukan di kota yang trotoarnya saja masih setengah niat. Kemungkinan besar ending-nya bukan Hollywood, bukan Bollywood. Tapi genre ketiga: kompromi. Janji dipilih, idealisme disesuaikan, kapital ditegur tapi tidak diusir. Soal Jakarta? Jangan jauh-jauh. Di sini, ideologi saja masih bisa cicilan.
Liam Then
Ehmmm...Pak DI lagi kesengsem sama Zohran. Tapi yang ini Pak DI pasti sudah tahu, kalo saya baru tahu beberapa jam lalu dari YouTube. Dari kanal Inside China Business yang dikelola oleh seorang bule ekspatriat yang sudah 15 tahun menetap dan berbisnis di Tiongkok. Bule ini rancak sekali dalam menyajikan data , menjahit fakta , kemudian menyatukankannya ke dalam satu informasi segar yang luar biasa, terutama apa-apa yang mutakhir terkait perkembangan di T dan hubungannya dengan apa-apa yang berlangsung di negaranya Zohran. Subuh ini Si Bule tayang kan perkembangan terbaru, yang saya kira pasti Pak DI tertarik sekali untuk kupas dan ikuti, apalagi ini ada sedikit juga menyangkut salah satu usaha Pak DI. Dan mungkin sekali sangat ada manfaat bagi PLN dan banyak industri smelter yang sedang digalakan oleh pemerintah. Pak DI kemarin pernah tulis, di mana itu, tentang pemanfaatan panas pipa pembangkit panas bumi untuk mengeringkan biji kopi. Kevin Wamsley, nama Si Bule ini, kasih tau lewat siarannya, bahwa di Tiongkok sudah terjadi terobosan baru, pertama di dunia. Saya cek belum ada media berita di RI yang kabarkan hal ini. Satu pabrik baja di Guizhou, kota Liupanshui, Desember lalu berhasil terapkan teknologi sCO2, memanfaatkan panas buangan proses produksinya untuk memproduksi listrik 30MW dari dua genset yang manfaatkan teknologi sCO2.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
. Alhamdulillah.. Met pagi pak Dahlan Iskan, pak Denny, pak Mario, pak Thamrin Dahlan, pak Taufiq.. Met pagi manteman Perusuh.. Met pagi Pembaca semuanya.. Semua kudoakan kebaikan. Dunia akherat..
Wilwa
@MZAUZ. Orang komunis tak mencintai orang tua? Hmmm. Belum tentu. Ini jelas cuci otak ala Suharto/ Orde Baru/ Amerika Serikat yang menyamakan komunis dengan atheis. Di Soviet dulu atau Tiongkok kini, walau “komunis” atau “atheis” sekalipun, anak mengasihi orang tua tetap banyak. Sebaliknya di negeri “kapitalis” dan “theis”, ada saja anak yang tega menelantarkan bahkan membunuh orang tuanya. Masalahnya bukan di komunis atau kapitalis dan bukan di atheis atau theis, tapi apa yang ada di dalam HATI dan PIKIRAN homo sapiens.
Juve Zhang
Petani Amerika khususnya kedelai itu banyak yang rugi karena Tiongkok beli ke Brazil.... akibatnya kedelai yang di Tiongkok makanan Babi menjadi komoditas Rebutan buat dijual oleh Amerika dan Brazil....kita negara muslim bengong yang diperebutkan dalam Perdagangan itu cuma makanan Babi rasanya Geli ingin ketawa ngakak.....ha ha ha ha.... Amerika katanya negara kaya masa petani kedelai rugi karena kalah harga sama kedelai Brazil dan itu pun buat makanan babi..... edaaan banget Babi jadi rebutan ..... wkqkq
Wilwa
@AgusS3 @MarioH. Dan itulah yang sering diungkap Juve ketika membahas Deng Xiao Ping bahwa menjadi kaya itu mulia! Jalan “ninja” kapitalisme ala Tiongkok. Tradisi ribuan tahun rakyat Tiongkok yang menganggap kaya itu mulia sangat jelas sekali saat merayakan Tahun Baru Imlek: Angpao / Hongbao 红包 warna merah menyala dengan slogan : Gongxi Facai 恭喜发财 / Congratulation 恭喜 Get Rich 发财! :). Namun jalan ninja kapitalisme itu adalah pintu yang membuka Socialism with Chinese Characteristics. Para Konglomerat “dipaksa” jadi anggota partai lalu “diporoti” untuk beri “angpao”! :):):). Angpao itulah yang konon dipakai untuk mengeliminasi kemiskinan ekstrem di Tiongkok. PBB telah mengakui bahwa Tiongkok telah mengangkat lebih dari separuh rakyat Tiongkok dari kemiskinan. Hanya dalam tempo 4 dekade. Itulah keseimbangan kapitalisme dan sosialisme ala Tiongkok. Yang mungkin tak kan pernah bisa dicontoh negara lain untuk diterapkan.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Mario.. Komentar Bapak tajam dan relevan. Kutipan Thatcher mengingatkan bahwa niat baik dalam kebijakan sosial harus disertai keberlanjutan fiskal. Solidaritas tanpa produktivitas dan disiplin anggaran berisiko menjadi beban bersama. Namun ini lebih tepat dibaca sebagai peringatan, bukan penolakan total terhadap kebijakan sosial. Banyak negara menunjukkan program sosial bisa berjalan jika didukung tata kelola yang baik dan ekonomi yang tumbuh. Terima kasih atas pengingat pentingnya keseimbangan: empati sosial perlu rasionalitas ekonomi. Tanpa empati negara menjadi dingin, tanpa rasionalitas negara bisa runtuh.
mario handoko
selamat pagi bp agus, sobat wilwa. "the problem of socialism is that you eventually run out of other people's money" (masalah dengan sosialisme adalah anda pada akhirnya kehabisan uang orang lain. kutipan pidato margaret thatcher)
Wilwa
@AgusS3. Bukan merah komunis bukan biru kapitalis. Tapi UNGU. Itu warna yang terbentuk bila merah dicampur biru. :):):) However, saya sependapat bahwa baik employer dan employee, kaya dan miskin harus mencari keseimbangan / ekuilibrium. Dan di sinilah peran kelas menengah. Idealnya yang menjadi pemimpin dari sebuah negara modern adalah kelas menengah. Yang tidak super kaya tapi juga tidak super miskin. Yang tidak serakah karena kekayaannya tapi juga tidak diliputi kebencian karena kemiskinannya. Tapi yang lebih penting lagi adalah kemampuannya dan tidak korupsinya. Meritocracy and honesty. Lee Kuan Yew adalah legendanya.
Muh Nursalim
Zohran perlu berlajar kepada Jokowi. Jadikan dia mentornya. Jokowi bisa menggaet massa dengan bergaya wong cilik. Baju putih, lugu dan blusukan. Sesekali ngepyuri mereka dengan bansos dan kaos. Yang masih muda dikasih sepeda. Pada saaat yang sama mengundang investor untuk mengeruk kekayaan nusantara. Citra tetap wong cilik tetapi liberalnya melebihi Amerika.
Beny Arifin
Ada video mampir di beranda saya. Isinya bapak bapak setengah baya, perut agak maju, sedang duduk di kursi kayu panjang sambil menengadah langit. Dibawahnya ada teka berjalan dalam bahasa Jawa. Terjemahannya kira2, AKU INI MAKAN NASI SOTO SATU MANGKUK SAJA SUDAH KENYANG. ORANG ORANG ITU LHO, MAKAN JALAN, JEMBATAN, HUTAN BERHEKTAR HEKTAR KOK SEPERTI NGGAK ADA KENYANGNYA.
khoirul anwari
Pengusaha Real Estate di sana rupanya berguru pada polisi Indonesia. Biaya pengurusan SIM "dipaksa" turun, tapi kemudian ada biaya-biaya lain yang kalau dihitung lebih mahal sebelum "dipaksa" turun. Berkaca dari Pengusaha Real Estate, REFORMASI POLRI saya kuatir menjadi REFORMULASI POLRI karena akal-akalan mereka telah mendunia
Wilwa
Out of topic. Richard David Wolff, profesor ekonomi Amerika yang “socialist” democratic, punya teori bahwa tanda-tanda kemunduran ekonomi sebuah empire/kekaisaran atau sebuah negara super power/ adidaya adalah dengan melancarkan perang untuk menutupi atau menyembunyikan atau mengalihkan perhatian rakyatnya dari kemunduran ekonominya. Ini muncul di X @profwolff Richard D. Wolff 5 Jan 2026 mengomentari penculikan Maduro oleh Trump: The US global empire has declined beyond recuperation (Kekaisaran global Amerika telah merosot dan tak terpulihkan). Trump hides a retreat to a western hemisphere empire by war on Venezuela. (Trump menyembunyikan penarikan diri Amerika dari sebuah panggung kekaisaran Barat dengan melancarkan perang atas Venezuela. But just as wars lost in Vietnam, Iraq, Afghanistan, Ukraine did not stop US’s empire’s decline, wars in Latin America won’t stop decline there either. (Tapi seperti kalah perang di Vietnam, Irak, Afghanistan, Ukraina yang tak dapat menghentikan kemerosotan kekaisaran Amerika, demikian pula perang di Amerika Latin tak akan menghentikan kemerosotan kekaisaran Amerika Serikat. Hmmmm. Sangat menohok komentar Prof Richard Wolff ini terhadap Trump dan Amerika Serikat, negaranya sendiri.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
APA YANG TERJADI JIKA ZELENSKY DIARAK PUTIN.. SEPERTI MADURO DIARAK DI AMERIKA? Bayangkan skenario yang mungkin membuat dunia tercekat. Misal, Putin menangkap Zelensky, lalu mengaraknya di Moskow. Bukan sekadar penahanan, melainkan teater kekuasaan yang telanjang. Apa reaksi NATO dan Amerika? Hampir pasti ledakan diplomatik terbesar sejak Perang Dunia II. Sanksi maksimal, isolasi total Rusia, dan eskalasi militer besar-besaran di Eropa Timur. Bukan karena Zelensky semata, tetapi karena simbolnya: runtuhnya garis merah terakhir tentang perlakuan terhadap kepala negara yang diakui. Apakah otomatis perang dunia? Mungkin tidak serta-merta. Karena dunia hari ini masih ditahan oleh nalar nuklir Semua pihak tahu satu langkah salah bisa berakhir kiamat. Namun risiko salah hitung melonjak drastis. Insiden kecil bisa berubah jadi konflik besar. Pelajaran pahitnya sederhana: ketika hukum internasional berubah menjadi panggung penghinaan, logika balas-dendam mengambil alih. Dan sejarah mengajarkan, perang besar hampir selalu dimulai bukan oleh niat, melainkan oleh simbol yang dilanggar. ### Polisi Dunia tetap pegang kendali?
Wilwa
@Gregorius. Anaknya Iskan ini ingin menulis “Indonesia” tapi takut rumahnya dilempari “bom molotov” jadi akhirnya menulis “Jakarta”. Aman karena markasnya khan di “Suroboyo”. :))
Gregorius Indiarto
... "Kelihatannya agak sulit menular sampai Jakarta –Tuhan pun bisa dibeli di Jakarta" Kepingin tertawa tapi takut (dosa) dikira meremehkan. Meremehkan orang yang bisa membeli Tuhan. Met siang, salam sehat, damai dan bahagia.
Liáng - βιολί ζήτα
Di negara-negara Skandinavia, sudah terbukti berhasil koq, Abah DI..... Pasarnya "kapitalis" - tetapi program-program "sosialis-nya" sangat luas (seperti pendidikan dan layanan kesehatan yang berkualitas dan merata, kesejahteraan yang merata, serikat pekerja yang kuat, dan lain sebagainya). Pencapaian seperti di Skandinavia tersebut tentu saja setelah melewati proses yang panjang..... apa yang kita lihat hari ini adalah hasil kerja keras generasi-generasi sebelumnya. Kalau dikatakan bahwa Zohran Mamdani baru memulainya, maka biarkanlah berproses sebagaimana mestinya "dikerumitan kapitalisnya New York". Dan..... sepertinya, baru nanti (kelak), generasi Cucu-nya Abah DI yang berkesempatan menuliskan "sosialisme di pusat kapitalisme dunia" - kalau..... Zohran Mamdani berhasil membangun fondasi yang kokoh, dan tidak "dikorbankan" demi kepentingan-kepentingan kelompok kapitalis yang sangat dominan di New York.....
Murid SD Internasional
Pak Guru @Hasyim Muhammad Abdul Haq. Mewakili Sekjen Partai Disway Sejahtera -- Prof. Muliyanto Krista, Ph.D, PDF, PNG -- dan mewakili Ketua Bendahara Umum Partai Disway Sejahtera -- Ir. Leong Putu, MBA, M.Pd, MP3, MP4 -- saya perlu menyampaikan pesan, bahwa aspirasi Bapak, terkait perlunya penambahan fitur seperti: like, mention, emoticon, attach image, insert link, edit comment, delete comment, add profile image, real time notification di kolom komentar CHD, benar-benar kami apresiasi. Namun perlu kami sampaikan pula, jika kami kabulkan satu aspirasi, maka berdasarkan kalkulasi kami, itu bisa berpotensi memunculkan beragam aspirasi-aspirasi yang lain dari konstituen kami yang lain. Misal... Pak Guru @Udin Salemo yang bekerja sebagai buruh, ikut meminta ditambahkan fitur baru di CHD, yakni fitur paylater. Maklum, gaji dan bonus dari atasan suka selalu kurang tiap bulan. Pak Guru @Liam Then, juga ikut meminta penambahan fitur grafik real-time pergerakan harga saham ANTM, ADRO, ITMG, MDKA, AMMN, BYAN, PTBA. Maklum, beliau perlu rutin memantau kinerja emiten-emiten tambang. Lalu, Bu Guru @Istianatul Muflihah, misal, ikut pula meminta penambahan fitur baru di CHD, yakni fitur jodoh online. Murid SD Internasional juga minta fitur checkout agar bisa order-online biskuit Chocolatos. Pak Guru @Agus Suryonegoro juga minta fitur podcast agar bisa membagikan 182 audio kebijaksanaan hidup selama 50 tahun berkontribusi di Telkom. Maka untuk sementara, biarlah CHD apa adanya.
Juve Zhang
Minyak Venezuela tidak dibutuhkan oleh negara manapun dalam jumlah banyak mungkin karena karakter nya masuk minyak berat yg konon cocok buat mesin disel.....di Eropa disel sudah dilarang....hanya Amerika yg masih ada disel.... Tiongkok ada dikit .utamnyabmesin perahu.... mungkin itu sedikit gambaran minyak Venezuela.
Wilwa
@Juve. Yang terjadi saat ini, menurut Kishore Mahbubani, mantan diplomat senior Singapura, adalah pertarungan antara Meritokrasi (Tiongkok) vs Plutocracy (USA). Plutokrasi. Hmmm. Istilah ini nampaknya diilhami mantan planet Pluto. Yang sangat kecil sehingga kemudian ditendang keluar dari kategori planet di tata surya kita. Karena kemudian ditemukan beberapa “planet” kecil seukuran Pluto di tata surya kita. Plutokrasi adalah pemerintahan oleh “segelintir”. Oleh sebagian “kecil” sekali dari rakyat. Yaitu “politikus” dan kapitalis “serakahnomic”. Yang mengabaikan kesejahteraan mayoritas rakyat dan memperkaya diri sendiri.
Murid SD Internasional
Kita sudah mengalami periode kenyang dengan figur politik yang tadinya "seems to be a real hero", lalu ternyata berubah "turns into a real villain". Dan kita masih mengglorifikasi sosok-sosok populis yang demikian, meski sudah berkali-kali pula kita berpengalaman menelan pil-pahit ketika sang sosok populis yang kita puja-puji dan kita kagumi tersebut ternyata kelak terjungkal karena beragam skandal, tatkala dirinya menjabat. Tidak salah jika kemudian ada bunyi do'a: "Rabbana tsabbit aqdamana" -- wahai Tuhan kami, kokohkan konsistensi pendirian kami -- yang mencakup pengharapan, semoga pemimpin-pemimpin politik kita, yang baik-baik itu, terus konsisten pula menjadi figur yang baik, terus konsisten menjadi teladan yang baik, terus konsisten mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang baik, hingga akhir masa jabatannya. Pertanyaannya: sudahkah kita konsisten setiap hari berdoa kebaikan untuk penguasa kita? . . Tuh, ada yang langsung: "cuih".
imau compo
Kapitalis mana Amerika dari Indonesia? Dosen saya yg melanjutkan kuliah di Amerika dengan anak 9 orang dikasih voucher tiap bulannya utk belanja kebutuhan sehari-hari di supermarket. Perlahan, dengan administrasi kependudukan yg makin baik di Jakarta juga dimulai memberikan kartu lansia untuk bebas bayar angkutan umum di Jakarta. Sebenarnya, ini proses yg terputus karena jauh hari dulu, pelajar juga bisa beli kartu langganan bis kota dengan sangat murah. Garuda, juga, dulu sekali, memberikan potongan harga utk pelajar dan lansia. Itu zaman-zaman sebelum pemimpin negara berkomplot dengan oligarki. Sekarang bukannya dapat potongan harga tiket pesawat, malahan, harga tiket ke luar negeri lebih murah sehingga yg punya sedikit uang berlibur ke luar negeri alih-alih ke jakarta atau sebaliknya pulang kampung utk yg tinggal di kota besar. Mungkin, Ketua perusuh Bli Leong Putu perlu berpikir outbox, gathering perusuh berikutnya diadakan di Malaysia, Singapura atau Australia. Di Malaysia ada Pak Datuk yg bisa minjamin ruang, di Singapura ada Robert Lai yg baik hati.... mudah-mudahan juga ada orang baik hati lain di Australia. Yg terakhir sangat diharapkan sehingga sambil menyelam bisa ngendus lihat kesempatan peluang pekerjaan utk bonus demografi yg tersia-siakan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:

Komentar: 201
Silahkan login untuk berkomentar