Amang Tabung
Dahlan Iskan mengunjungi RS Waron bersama istrinya, Napsiah Sabri, dan rekannya dari Tiongkok dan Singapura.--
Saya jadi pemandu wisata. Kemarin. Tamu saya –dua dari provinsi Jiangshu, dua dari Singapura–ingin melihat rumah sakit butik yang ditulis Disway edisi Selasa kemarin.
Maka saya pandu mereka ke RS Kepiting –ups, RS Waron. Yang di Jalan Kali Waron –di seberang jalan Kali Kepiting. Saya tidak memberi tahu pemiliknya –Prof Dr Amang Surya Priyanto. Toh ini hanya tur dadakan.
Satpam di situ ternyata tahu kedatangan saya. Akibatnya, GM RS itu pun, Mr Nano Wartino, buru-buru menyambut kami di lobi –mirip lobi hotel bintang lima plus. Nano bukan dokter. Ia orang perhotelan. Berpengalaman puluhan tahun di hotel bintang lima. GM RS kelas butik justru merekrut GM dari dunia perhotelan.
Maka saya serahkan tamu-tamu saya ke Nano. Saya kepepet waktu: belum sempat menulis untuk Disway. Saya pun duduk di kursi panjang di lobi. Sambil memesan kopi gula aren di kafenya.
Tiba-tiba Prof Amang, pemilik RS butik ini, menyapa saya: "kok duduk di sini," katanya. Ia pun merayu saya ke ruangan khusus. Sebenarnya saya pilih sendirian. Agar bisa menyelesaikan tulisan. Tapi baik juga bisa ngobrol soal lain dengan Prof Amang: soal bayi tabung. Ia adalah satu dari sedikit pendekar bayi tabung di Indonesia. Tentu sudah banyak ahli bayi tabung, tapi yang level pendekar belum sampai 15 orang.
"Sudah meramu berapa bayi tabung?" tanya saya.
"Banyak sekali," jawabnya.
"Seribu?"
"Lebiiiih".
"Dua ribu?"
"Masih lebih sedikit".
"Dibanding 10 tahun lalu, seberapa lebih maju dunia bayi tabung sekarang?"
"Jauh lebih maju," kata Prof Amang.
Kini, katanya, sudah ada satu bayi yang orang tuanya tiga atau empat orang. Sudah pula ada anak kembar yang selisih umur mereka delapan tahun.
Saya sendiri punya cucu kembar. Selisih umur mereka hanya dua menit: Aliqa dan Aqila. Yang diceritakan Amang ini bayi kembar dengan selisih umur delapan tahun.
Itu hanya bisa terjadi melalui ilmu bayi tabung.
Amang sendiri pernah menangani kejadian seperti itu. Untuk wanita dari Semarang. Anak pertamanyi dulu bayi tabung ''made in'' Amang.
Dalam proses pengambilan embrionya, Amang mendapatkan beberapa embrio bagus dari wanita itu. Amang mengusulkan agar yang dibuahi dari sperma sang suami dua embrio saja. Ada kemungkinan salah satunya jadi bayi. Atau dua-duanya.
Embrio selebihnya jangan dibuang. Prof Amang bisa menyimpannya. Kapan saja, bila diperlukan, bisa dipakai untuk hamil lagi.
Si wanita tidak segera memerlukan embrio simpanan itu. Dia ingin suaminyi membuahi dengan hubungan cinta suami-istri. Tapi sampai delapan tahun kemudian tidak juga hamil lagi. Dia ingin punya anak kedua.
Maka si Semarang konsultasi dengan Prof Amang. Akhirnya diputuskan: bayi tabung lagi. Pakai embrio lama.
Embrio yang satu sudah jadi anak yang kini berumur delapan tahun. Embrio satunya dikeluarkan dari laci pembekuan.
Lahirlah anak kedua dari proses bayi tabung lagi –dengan embrio stok lama. Maka pada dasarnya anak pertama dan anak kedua itu anak kembar. Hanya selisih umur mereka delapan tahun.
Amang juga bisa mengerjakan satu bayi dengan orang tua tiga atau empat orang. Tapi ia tidak mau mengerjakannya. Meski secara ilmu pengetahuan itu sudah bisa ia lakukan, nurani dokter asal Jember ini belum bisa menerima.
Misalnya: embrio dari satu orang dikawinkan di lab dengan sperma laki-laki siapa pun. Lalu benih itu ditaruh di kandungan wanita yang lain lagi yang ingin punya anak.
Kini, kata Prof Amang, juga sudah bisa dilakukan: embrio bibit unggul dari wanita tertentu disimpan. Siapa boleh memakainya.
Embrio unggul itu –setelah dibuahi sperma unggul– ditanam di kandungan seorang wanita yang ingin punya anak unggul.
Lantas, anak siapakah itu?
Tetap anaknyi yang menghamilkan. Karena bayi itu tidak akan hidup kalau tidak dihamilkan. Darah yang mengalir ke janin itu pun dari darah ibu yang mengandungnya.
Entahlah.
Etika lain yang tetap dijunjung Amang adalah: berapa jumlah embrio yang ditanam. Prof Amang tetap hanya mau menanam dua. Paling banyak tiga. Kemungkinannya: bisa gagal semua. Bisa berhasil satu. Berhasil dua. Atau kembar tiga.
Kini mulai ada wanita –atau suami istri– yang minta ditanam sebanyak yang bisa. Misalnya sampai tujuh embrio.
Kalau pun misalnya jadi semua ada jalan keluar. Si ibu akan memilih satu saja: yang mana yang akan dilahirkan. Tentu yang paling baik. Selebihnya digugurkan.
Proses menggugurkannya pun mudah. Janin itu disuntik. Akan mati sendiri. Mati dalam kandungan. Itu tidak bahaya bagi sang ibu. Kelak ''jenazahnya'' diambil bersamaan dengan proses kelahiran.
Yang seperti itu terjadinya di luar negeri. "Saya pernah diminta melakukan penyuntikan seperti itu," ujar Amang.
Yakni waktu ia memperdalam ilmu bayi tabung di luar negeri. "Saya tidak mau," ujar Amang sambil bergidik.
Di samping memiliki perusahaan RS Waron, Amang memiliki perusahaan bernama Asha: itulah perusahaan bayi tabung. Lokasinya di dalam RS Waron.
Tentu Amang tidak hanya memikirkan urusan wanita seperti itu. Di situ juga ada perusahaan andrologi: ilmu reproduksi laki-laki. Lokasinya dipilihkan di lantai yang lebih atas. Desainnya juga lebih tertutup.
"Laki-laki ternyata lebih pemalu," gurau Amang. Yakni kalau sudah menyangkut kelelakian mereka.
Satu jam kemudian tamu-tamu saya pun sudah selesai tur. Nano menyerahterimakan mereka ke saya. Obrolan bayi tabung pun berakhir seperti ejakulasi dini.
Tamu yang dari Singapura pun menyampaikan komentarnyi ke Amang: "Kalau saya ke Surabaya lagi bolehkah ambil kamar di rumah sakit ini. Daripada di hotel," ujarnyi.
Kami semua tertawa ngakak. Saya sendiri ikut tertawa sambil berlinang air mata bangga: Surabaya sudah bisa mengalahkan Singapura. (DAHLAN ISKAN)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 13 Januari 2026: Amang Waron
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DARI ANAK SOPIR, KE ATAP HELIPAD.. Cerita RS Waron enak dibaca dari sudut lain. Ini bukan semata kisah dokter dan rumah sakit. Ini kisah mobilitas sosial. Dari anak sopir. Yatim sejak balita. Lalu suatu hari membangun rumah sakit dengan helipad di atapnya. Indonesia banget. Tapi jarang ditulis sejernih ini. Yang menarik, Amang tidak membalas nasib dengan pamer pribadi. Ia membalasnya dengan sistem. Ia tahu pengalaman miskin tidak otomatis melahirkan empati manajerial. Maka ia pilih jalan yang lebih sulit: membangun ekosistem. Merekrut juara. Membelikan alat juara. Lalu memaksa mereka bekerja sebagai tim. Ada satu ironi halus. Robot operasi made in China dilatih di Beijing. Harga sepertiga Amerika. Kualitas setara. Tapi yang paling mahal justru bukan robotnya. Yang mahal itu keberanian percaya pada perubahan. Pada teknologi baru. Pada cara kerja baru. RS Waron menunjukkan bahwa “butik” bukan soal kecil atau mewah. Tapi fokus. Fokus pada mutu. Fokus pada detail. Fokus pada manusia. Bahkan bayi pun dapat penthouse. Ini simbol. Simbol bahwa pelayanan kelas atas tidak selalu harus arogan. Akhirnya kita sadar. Yang benar-benar futuristik dari RS Waron bukan robotnya. Tapi keberanian membongkar budaya lama. Dan itu jauh lebih sulit daripada membangun 15 lantai beton.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DOKTER, EGO, DAN RS BUTIK.. Ini bukan sekadar cerita rumah sakit baru. Ini cerita mimpi yang naik kelas. Dari ingin punya alat paling canggih, jadi ingin punya sistem paling waras. Dokter Amang tampaknya paham satu penyakit kronis dunia medis kita: ego. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan pakai antibiotik. Apalagi vitamin. RS Waron menarik bukan karena helipad atau robotnya. Tapi karena keberaniannya mengatur ulang relasi dokter. Bukan karyawan. Bukan dewa kecil. Tapi partner. Setara. Berbagi risiko. Berbagi untung. Ego dipaksa diet ketat. Kalau bandel, tidak diajak main. Model ini terasa “tidak Indonesia”. Maka justru terasa segar. Selama ini kita jago beli alat mahal. Tapi sering gagap membangun tim. Di Waron, tim justru jadi fondasi. Alat hanya pengikut. Humornya ada. Untung di Kali Waron. Bukan Kali Kepiting. Kalau tidak, mungkin spesialisasinya ganti. Dari obgin jadi seafood. Ini juga kisah dendam yang produktif. Dendam kemiskinan. Dendam profesi. Dendam yang dibayar dengan kualitas. Dan dengan satu pesan sunyi: dokter hebat bukan yang paling otonom. Tapi yang paling bisa bekerja bersama. Kalau ini berhasil, RS Waron bukan cuma butik. Ia bisa jadi blueprint. Untuk dokter. Untuk rumah sakit. Untuk ego kita semua. ### (Ego dokter ding..)
Thamrin Dahlan YPTD
Tantangan Abah di DisMorning pagi ini adalah : "Anda harus punya pressure pribadi agar punya semangat hidup" . Saya komentar di kolom Chat " Salah satu Pressure saya(memaksa diri ?) adalah hadir pukul 05.00 di acara youtube Dismorning Rabu 14 Januari 2026. Yes Cukup 30 menit tayang, Abah bersiap Olahraga bersama Mbak Pipit dan kawan kawan. Salamsalaman.
Laksana DedeS
Dalam prediksinya, penulis buku Homo Deus menganalisis: dengan teknologi rekayasa genetika, orang-orang kaya dapat "memesan" anak dengan gen terpilih, tidak memiliki gen penyakit, gen gabungan dari gen cerdas, gen atlet, gen seniman, dan gen unggul lainnya untuk anak dan keturunannya. Manusia masa depan akan menjadi manusia super. Tetapi hanya orang kaya yang mampu melakukannya. Kemungkinan orang berusaha naik status dari miskin menjadi sukses seperti kisah dokter dalam tulisan Abah hari ini menjadi tertutup. ironis, orang yang sukses melakukan usaha mobilitas status sosial (dari miskin menjadi kaya), secara tidak sadar ikut arus yang menutup kemungkinan itu bagi generasi selanjutnya.
siti asiyah
Di ruang kuliah sekira tahun 1993, dosen Pengantar Ilmu Bisnis saya mengutip 13 cabang bisnis.Pada nomor 12.Pendidikan.Pada nomor.13 Kesehatan.Praktek hari ini kedua bisnis tersebut bisa jadi adalah bisnis paling menggiurkan bagi seseiapa saja, sebab seperti guyonan para tetangga saya : bila sudah berhadapan dengan kepala sekolah dan dokter, mana ada kita menawarnya ?? berapapun yang mereka katakan, kita pasti berusaha membayarnya.Disekolah kita tidak mau anak kita jadi malu, pada dokter kita tak akan punya nyali dan ilmu untuk menyambung nyawa.Maka jadilah diurusan itu, tak pernah ada kata sekedar ``menawar``, yang pasti terjadi adalah sbisa mungkin berapapun kita bayar.
djokoLodang
-o-- ... Tapi saya tahu: tidak ada angka 4, 13, dan 14 di lift itu. ... Karena ada ahli ongkologi di RS itu. Ahli kanker yang masih percaya ongko. Bahwa ongko 4, 13, dan 14 membawa sial. --0-
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
egoro III - 阿古斯·苏约诺 @pak Djoko, pak Imam dan pak Wira.. ANAK BUAH SAYS ISTERINYA EMPAT.. Suatu hari, anak buah saya, sebut saja namanya A, cerita. Bahwa anak buah saya yang lain, sebut saja namanya B, isterinya "empat". Saya tidak tanya lebih lanjut, dan A juga tidak menjelaskan. Nah, suatu saat, B ini mengajukan ijin cuti 12 hari. Saya tanya… "Mau cuti ke mana..?" "Apakah mengunjungi isteri yang lain..?" Dia bingung… Maka saya bilang… "Kata pak A, bapak isterinya empat.." Dia tertawa terpingkal-pingkal. "Saya orang Sunda pak. Nama istri saya Empat Fatimah. Jadi isteri saya hanya satu. Empat adalah nama istri saya..". ## Di Sunda banyak nama yang antara kata pertama dan kedua berhubungan. Nama depan nama panggilan. Nama belakang itu nama sebenarnya. 1). Didin Burhanudin. 2). Dudi Suryadi. 3). Nana Sukarna. 4). Empat Fatimah..
djokoLodang
-o-- ... Robotnya tidak hanya robot operasi, tapi juga robot farmasi. Masih ditambah robot-robot pelayanan. Pasien baru misalnya diantar ke kamar oleh robot. ... *) Perlu kah ini? Untuk jasa pelayanan, bukankah sebaiknya masih menggunakan tenaga orang? Memberikan lapangan kerja. --0.-
Mukidi Teguh
Kenapa RS Butiknya dibuat di Surabaya? Karena Pak Dokter tau orang Surabaya uangnya banyak dan tidak itung-itungan kalo untuk pengobatan. Contohnya siapa? Anda semua sudah tahu.
Thamrin Dahlan YPTD
Done dismorning now Tampaknya lanvcar dan bagus tayangan terang dan jelas, semoga terus Topik 2026 Berubah / Move on Abah : Seandainya semua orang memikirkan dirinya sendiri maka negara ini maju. Anda setuju,.....
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
#Pak M Nursalim, Analogibapak menarik. Dan cukup jujur. Sekolah memang sering jadi mesin sortir. Lima besar masuk jalur pegawai. Negeri atau swasta. Aman. Rapi. Lapis berikutnya “terpaksa” jadi pengusaha. Karena kalah cepat di tes. Tapi justru sering lebih lentur. Lebih berani. Kadang malah mempekerjakan teman-teman yang dulu rangkingnya di atas. Lapis ketiga? Ya itu realitas. Tidak semua orang menang di lomba yang sama. Dan hidup memang bukan olimpiade tunggal. Ada banyak lintasan. Sayangnya sekolah sering hanya menyiapkan satu lintasan saja. Soal cita-cita juga berubah. Anak dulu sederhana. Dokter. Insinyur. Tentara. Polisi. Semua seragam. Semua jelas. Anak sekarang lebih cair. Pengusaha. Pengacara. Akuntan. Artis. Komika. YouTuber. Tidak selalu masuk buku rapor. Tapi masuk algoritma. Kalau saya malah beda. Dulu cita-cita saya adalah jadi Pak Bon. Penjaga sekolah. Kerjanya bersih-bersih. Lingkungannya rapi. Bisa sambil jualan jajanan. Tidak kaya. Tapi dekat dengan semua orang. Punya peran. Dan pulang tanpa beban ranking. Mungkin itu pelajaran kecilnya. Hidup tidak selalu soal jadi nomor satu. Kadang cukup jadi orang yang berguna. Di tempat yang kita pilih sendiri.
Taufik Hidayat
Mengenai angka 4 , 13, 14 yang hilang dari lift zaman modern memang aneh. Dulu perumahan perumahan di Indonesia nomer rumah lengkap no 4 ada 14 ada 13 suka tidak ada, sekarang angka 4 , 14, dan bahkan di apartemen yang tinggi dari 39 langsung lompat 50, jadi 40 sampai 49 juga hilang , jadi takut angka 4. Lalu apakah di Tiongkok Hongkong Singapura juga demikian? Saya tidak tahu, tapi yang saya ingat adalah Regal Airport Hotel yang dulu ada pas di seberang Kaitak Airport , yang sekarang ganti nama jadi Regal Oriental Hotel karena Kaitak bukan lagi airport , lengkap lift nya ada lantai 4 ada 13 dan 14. Hotelnya cuma lantai 14 sepertinya karena di atasnya adalah bar yang namanya The Flying Machine, tempat kita bisa minum sambil mendengarkan lagu penyanyi Filipina dan memandang pesawat take off dan landing. Saya hafal banget hotel ini karena dulu tinggal berbulan bulan di hotel ini . Jadi tidak semua mengenakan angka 4.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PEMBAHASAN DISMorning – 13 Januari 2026 DISMorning edisi 13 Januari 2026 dibuka dengan obrolan santai antara pak Dahlan Iskan dan Elni. Dimulai dari perkenalan ringan. Elni lahir di Palembang, SMA di Palembang, lalu merantau kuliah ke Surabaya. Belajar ilmu politik. Cocok untuk ngobrol topik berat dengan gaya ringan. Sesi awal sempat menyinggung kendala teknis siaran sebelumnya. Soal koneksi. Soal lokasi. Pagi ini pak Dahlan mengikuti DISMorning dari DIC Farm rumahnya di Pacet, dekat Mojokerto. Tempat yang, menurut pak Dahlan, para perusuh sudah “hafal” karena pernah beberapa kali tidur sana. Pembahasan lalu mengalir ke kebiasaan bangun pagi. DISMorning diniatkan sebagai asupan diskusi bagi para "morning person". Elni mengaku sedang berusaha konsisten menjadi morning person. Pak Dahlan kemudian bercerita perubahan ritmenya dari kehidupan redaksi yang dulu penuh tekanan tengah malam. Pengalaman Abah sebagai redaktur dikisahkan menarik. Menentukan berita halaman depan. Memikirkan pembaca perempuan dan anak muda. Bukan hanya selera redaksi pria dewasa. Redaksi, bagi pak Dahlan, adalah seni menyeimbangkan banyak kepala. Bagian akhir menyentuh isu lebih serius. Kisah Mbak Ira dari ASDP. Soal tekanan, penjara, dan proses “move on”. Pak Dahlan menekankan satu hal. Jet lag hidup hanya bisa dilawan dengan pressure. Target. Dan dorongan untuk kembali bergerak. Tanpa itu, orang akan terjebak terlalu lama di masa lalu. ### DISMorning pagi ini berjalan 25 menit..
WIRA
Abah, apakah tesisnya adalah Sakit adalah Bisnis? eh, maksudnya kesehatan adalah investasi?
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Saya dibesarkan di keluarga kampung di sebuah desa di Mojokerto. Saat saya masih kecil, tidak ada dalam pikiran saya bahwa dokter itu: salah. Di pikiran saya waktu dulu: dokter selalu benar. Dalam konteks pengobatan. Tidak ada dalam pemikiran saya: dokter ini kurang baik, dokter itu baik, dokter yang sana itu lebih baik. Bagi saya waktu itu: semua dokter itu baik, semua dokter itu pasti hebat. Saat itu kalau setelah berobat ke dokter kok tidak sembuh, ya berarti memang penyakitnya yang berat. Dokter pasti sudah benar. Saat dewasa baru tahu ada dokter salah diagnosa. Baru tahu ada dokter kurang pintar. Baru tahu ada dokter salah kasih obat, salah suntik, dll. Di tahapan berikutnya -setelah menikah- saya baru mengenal tentang pelayanan dokter. Bukan hanya mencari sembuh, saya dan istri mencari dokter yang melayani lebih baik. Mencari rumah sakit yang melayani dengan baik. Zaman sekarang, kita tak lagi "angger waras", alias "asal sembuh", tapi juga cari kenyamanan untuk yang sakit. Tapi, hal seperti itu bukan hanya dialami di dunia kesehatan, tapi di semua bidang. Zaman dulu, Pak Dahlan pasti mengalami prinsip angger wareg (asal kenyang), angger klamben (asal berpakaian), angger gak nyeker (asal beralas kaki), atau angger sinau (asal bersekolah). Sekarang semua pilih-pilih. Pilih yang enak, pilih yang bagus, pilih yang berkualitas. Tidak "angger" lagi. Kalau perlu: yang paling mahal... supaya tidak ramai, supaya tidak antri, supaya tidak sama dengan banyak orang...
MZ ARIFIN UMAR ZAIN
Cucu suka berkata: beli ini, beli itu. Kakek bilang: jangan beli, harus bisa jual, agar punya uang. Cucu mau jual apa? Kulakan apa lalu dijual lagi. Kata cucu: mau jual bensin. Jadi pengemis juga enak. Jadi tukang parkir, cuma berkata: mundur, mundur.
Dacoll Bns
"Ingin punya alat paling hebat ..." Kapan ya kira- kira dokter, ilmuwan, akademisi dan mahasiswa kita bisa tandem bekerja bersama bukan hanya sekedar ingin "punya", tapi juga ingin "membuat" alat yang sama atau bahkan lebih canggih daripada yg dibuat dokter ,ilmuwan ,akademisi, dan mahasiswa di luar sana. Saat melihat iklim akademik di luar negeri rasanya iri, karena mereka dari ruang kampus bisa meneliti dan membuat alat yg tadinya seperti mustahil menjadi nyata, robot bedah ,misalnya , pastinya lahir dari ide di kampus robotika, dikembangkan bersama dengan tenaga medis ahli yg ada kemudian dibiayai risetnya hingga menjadi produk siap jual entah dari perusahaan dibantu dengan subsidi/insentif pemerintah atau oleh pemerintah itu sendiri. Sinergitas yg terpotong rangkaiannya di negeri ini sehingga kita hanya bisa beli, beli dan beli ... Wallahualam
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Juve.. Tahun 1976. Di Ambon.. Dokter spesialis masih jarang. Bahkan juga dr gigi. Yang saya saksikan.. 1). Dokterbdi klinik Telkom adalah orang Austria. Sudah tua sekali. Dokter umum ex Perang Dunia II. Dan belio bisa cabut gigi. Dan beberapa operasi kecil. 2). Suatu saat, ada dokter umum yang melakukan operasi usus buntu. Tapi memang sudah di training sih sebelumnya.. ## Sisa-sisa ex pendidikan jaman dulu. Yang kadangselesainya bahkan ada yang baru selesai 14 tahun. Jaman belum berlaku sistim SKS..
Fa Za
Tapi bisa jadi menghilangkan angka-angka itu bukan karena keyakinan dokternya, tapi untuk mengakomodasi keyakinan pasiennya.
Fa Za
Sekolahnya tinggi. Profesinya menuntut rasionalitas. Tapi, waini, masih percaya sama klenik, percaya ada angka sial: 4, 13, dan 14. Yang membuat dunia aneh adalah manusianya.
Runner
Sehat itu harus diperjuangkan. Lho kok diperjuangkan ?. Iyalah, zaman sekarang ini bayak gangguan dan godaan untuk tidak sehat. Perjuangan untuk sehat antara lain disiplin berolahraga. Minimal 4 kali seminggu @1 jam. Senam di halaman atau dalam rumah. Joging atau lari dikompleks. Sekali kali ikut event race running, supaya semangat. Jangan malas berolahraga. Selalu sehat itu, walau diperjuangkan, namun murah. Sakit kalau datang, seringkaii menghabiskan harta.
pak tani
Analisa Foto ala Bli Putu. Tidak ada keterangan apapun di foto CHDI hari ini. Mungkin pak Bos sengaja memancing imajinasi perusuh, kira2 siapa yang mana. Maka saya iseng2 tebak yang mana Dr. Amang. Dari foto di artikel, hanya 2 orang yang selalu muncul. Yang memakai rompi dan yang memakai polo putih. Berdasarkan pakem, pengusaha tentu lebih 'subur'. Saya berasumsi Dr. Amang yang memakai polo putih. Yang memakai rompi sepertinya Gregorius ( tentu dokter, bukan perusuh ) Kalau betul, bolehlah xiaomi berpindah tangan. Eh....
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
#Pak Greg, Komentar panjenengan terasa jujur. Dan memang, ego profesi itu nyata. Bukan cuma di dunia dokter. Bedanya, di kedokteran dampaknya langsung ke publik. Maka ketika ego berhadapan dengan kekuasaan, percikannya kelihatan ke mana-mana. Pertentangan ini jelas ada latar belakang. Di satu sisi, pernah ada Menkes, yang sebelum pak BGS, yang sejak awal sudah “membangkang” panggilan klarifikasi organisasi profesi. Saat itu, saya sudah mbatin: kok ya beliau yang diangkat. Ini pasti bukan jalan damai, tapi jalan benturan. Dan terbukti. Dan akhirnya berlanjut. Organisasi profesi merasa dilangkahi. Kemenkes merasa punya mandat. Ego ketemu ego. Rakyat? Menonton. Menurut saya, jalan keluarnya bukan saling pamer otot. Suatu saat, Menkes sekarang dan organisasi profesi perlu dipanggil RI-1. Duduk satu meja. Bukan pidato, tapi ngobrol. Buka unek-unek. Cari titik temu. Karena tanpa itu, yang terjadi hanya “sak karepe dewe” versi masing-masing. Dan benar kata panjenengan: akhirnya, kalau sakit, tetap ke dokter. Maka yang paling waras memang berusaha jangan sakit. Tapi sistemnya juga jangan bikin orang makin pusing. Salam sehat.
Gregorius Indiarto
Ego dokter kok dilawan. Menteri saja "ditantang". Dan dengan pernyataan pembenarnya "Bukan seprofesi kok melu ngopeni". Dianggap tidak mampuni, tidak memahami. Ya, tidak memahami " Ego " profesi. Anda pasti sudah tahu, organisasi dokter yang viral menentang menteri. Itu baru yang di sana, yang di ibu kota. Belum lagi yang di sana, disana dan disana, juga disini Sak karepe dewe. Sak karepmu. Kalau sakit tetap berobat ke dr. Berusahalah untuk tidak sakit. Met siang, salam sehat, damai dan bahagia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:

Komentar: 104
Silahkan login untuk berkomentar