3 Hal Ini Bikin Potensi Perikanan di Natuna Belum Optimal
Ilustrasi aktivitas nelayan di Kepulauan Natuna. Ternyata potensi perikanan tangkap di sana belum optimal.--
NATUNA, DISWAY - Natuna yang berada di zona ekonomi eksklusif (ZEE) ternyata potensi perikanan tangkapnya belum terserap secara optimal. Ada tiga hal utama yang menjadi penyebabnya, yakni keterbatasan rantai pasok, hilirisasi, serta potensi ekowisata yang tinggi namun belum terintegrasi dalam ekosistem pariwisata.
Hal tersebut terungkap dari Diskusi Publik Potensi Ekonomi Strategis Natuna yang digelar Invest SEA bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Diskusi itu merupakan rangkaian riset yang berkaitan dengan kesiapan investasi berkelanjutan di wilayah perbatasan.
Kegiatan ini menyoroti potensi sektor unggulan Natuna sekaligus tantangan tata kelola yang perlu diperkuat untuk mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Diskusi ini mempertemukan perwakilan pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, asosiasi bisnis, akademisi, serta calon investor. Melalui pemaparan hasil riset dan dialog strategis lintas sektor, Natuna diposisikan sebagai wilayah perbatasan dengan potensi ekonomi maritim serta pariwisata yang signifikan dan layak dikembangkan melalui skema investasi berkelanjutan.
Riset kolaboratif Invest SEA dan BRIN bertajuk "Sustainable Investment in Natuna: Optimizing the Potential of Ecotourism and Captured Fisheries" juga menyoroti keterbatasan kapasitas fiskal daerah, kebutuhan energi dan infrastruktur berkelanjutan, serta pentingnya penguatan tata kelola dalam mendukung industrialisasi tahap awal di Natuna.
Perwakilan Invest SEA Indonesia Garda Maharsi menjelaskan diskusi ini dirancang untuk menjembatani riset dengan aksi nyata. Ia mengatakan Natuna memiliki potensi strategis baik secara ekonomi maupun geopolitik.
"Namun pengembangan investasi di wilayah perbatasan memerlukan pendekatan yang tidak hanya berbasis potensi sumber daya, tetapi juga penguatan tata kelola, dukungan kebijakan, dan kolaborasi multipihak agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat lokal," ujar Garda.
Dari sisi pemerintah daerah, Bupati Natuna Cen Sui Lan, menyatakan kesiapan Natuna untuk mendorong investasi yang selaras dengan prinsip keberlanjutan dan kepentingan masyarakat setempat.
Ia mengatakan Natuna memiliki sektor unggulan yang siap dikembangkan dan pihaknya sangat terbuka terhadap kolaborasi yang memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan serta identitas budaya lokal.
"Kami berkomitmen untuk menciptakan iklim investasi yang sehat, berkelanjutan, dan transparan," kata Cen Sui Lan.
BACA JUGA:Perkuat Pasokan Gas Dalam Negeri, PLN EPI Mulai Pembangunan Pipa Gas Ruas Natuna-Pemping
Sejalan dengan upaya pengembangan wilayah tersebut, hasil riset kemudian dipaparkan untuk memberikan gambaran kondisi lapangan serta kebutuhan investasi Natuna secara lebih terukur.
Diseminasi hasil riset disampaikan oleh Peneliti Pusat Riset Politik BRIN Pandu Yuhsina Adaba. Riset dengan pendekatan mixed method yang melibatkan 379 responden di wilayah pesisir ini menunjukkan potensi perikanan Natuna sangat besar.
Sayangnya untuk nilai tambahnya masih banyak dinikmati di luar daerah akibat praktik budidaya yang masih tradisional dan minimnya produk olahan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: