Minyak Jelantah Belum Optimal Dukung Energi Sirkular, Rantai Pasok Jadi Kendala Utama
Pengamat lingkungan, Yuki M.A. Wardhana-Istimewa-
Namun bioavtur yang digunakan saat ini membutuhkan minyak jelantah bekas pakai.
Akan menjadi polemik apabila produksi minyak kelapa sawit harus digenjot untuk memenuhi bahan baku.
Ia khawatir pada akhirnya memperbesar alih fungsi hutan dan deforestasi.
BACA JUGA:Hey Riza Chalid, Menyerahlah: Asetmu Terus Diburu!
BACA JUGA:Tak Mau Kecolongan Seperti Riza Chalid, Kejagung Pantau Ketat Samin Tan
Ia menambahkan, minyak jelantah bekas pakai merupakan salah satu bahan baku paling potensial untuk BBN di Indonesia, mengingat hampir seluruh rumah tangga menggunakannya dalam aktivitas sehari-hari.
Selain itu, pemanfaatannya juga memberikan manfaat lingkungan dengan mengurangi limbah cair rumah tangga.
“Penggunaan minyak jelantah habis pakai sebagai BBN juga mengurangi tekanan terhadap lingkungan, khususnya limbah cair dari rumah tangga," tegas Yuki.
Ia berharap, BBN tidak dihasilkan dari bahan baku baru. Keterbatasan lahan tidak seimbang dengan jumlah penduduk yang terus meningkat dan kewajiban menjaga hutan untuk menjaga ekosistem alam.
Pengembangan BBN harus menjadi bagian dari strategi besar menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.
BACA JUGA:Kejagung Benarkan Penyelenggara Negara Terlibat di Kasus Samin Tan, Calon Tersangka Baru?
BACA JUGA:Kantor Digeledah, Menteri PU Hormati Proses Hukum oleh Kejati DKI
Namun, ia mengingatkan bahwa BBN bukan satu-satunya solusi.
Dosen di Universitas Indonesia ini merekomendasikan kepada Pemerintah tentang perlunya mempertimbangkan komposisi BBN.
Memperhatikan daya dukung lingkungan dan mengutamakan recycle, reuse dan reporpose dari nabati yang telah digunakan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: