Pramono Hadirkan Teknologi Hidrotermal di Pasar Tradisional, Olah Sampah Jadi Produk Ekonomis

Senin 11-05-2026,14:56 WIB
Reporter: Cahyono |
Pramono Hadirkan Teknologi Hidrotermal di Pasar Tradisional, Olah Sampah Jadi Produk Ekonomis

Program ini diharapkan dapat membangun sistem pengelolaan sampah pasar yang lebih modern, efektif, dan berkelanjutan.-Disway/Cahyono-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menghadirkan teknologi hidrotermal untuk menangani persoalan sampah di pasar tradisional.

Teknologi hidrotermal tersebut mampu memangkas waktu pengolahan sampah organik dari metode konvensional.

BACA JUGA:Aduh! IHSG Melempem di Penutupan Sesi I, Turun hingga Level 6.890

Dengan metode konvensional biasanya pengolahan sampah organik memakan waktu sekitar tujuh hingga 10 hari.

Dengan teknologi mutakhir tersebut, pengolahan sampah organik hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk setiap proses pengolahan.

Hal ini dikemukakan Pramono saat meninjau pengolahan sampah organik di Pasar Area 7 Kramat Jati, Jakarta Timur pada Senin, 11 Mei 2026.

BACA JUGA:Kondisi Kamaruddin Simajuntak Pasca Jatuh Sakit, Sosok Berani Bongkar Kasus Sambo

“Dengan teknologi hidrotermal, waktu pengolahan sampah dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam untuk setiap batch. Ini merupakan inovasi yang sangat baik karena mampu mempercepat proses pengolahan sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomis,” ujar Pramono.

Adapun teknologi hidrotermal memanfaatkan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai sampah organik tanpa proses pembakaran. 

Inovasi ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperkuat pengelolaan sampah dari sumber, khususnya di pasar tradisional yang menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar setiap hari.

BACA JUGA:Mental Diuji di Trek Licin, Veda Pratama Ceritakan Balapan Basah Perdana di Moto3 Le Mans 2026

Berdasarkan hasil uji coba pada April 2026, total sampah organik yang berhasil diolah di Pasar Kramat Jati mencapai 1.708,1 kilogram.

Dari proses tersebut dihasilkan 936 liter pupuk cair dengan efisiensi waktu pengolahan hingga 80 kali lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Selain pupuk cair, pengolahan juga menghasilkan residu padat yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam maupun pupuk organik.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait