Saat Lidah Melampaui Akal
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-Dok.Disway-
JAKARTA, DISWAY.ID - Di tengah ruang publik yang semakin riuh oleh opini dan sensasi, kita menyaksikan sebuah gejala yang mengkhawatirkan: pernyataan yang lahir bukan dari kejernihan akal, melainkan dari dorongan emosi, asumsi, bahkan kabar yang tidak terverifikasi.
Kasus yang melibatkan Amien Rais dalam melontarkan tudingan tentang “hubungan spesial” pejabat negara bukan sekadar persoalan personal atau politik biasa, melainkan cermin dari krisis etika dalam komunikasi publik kita.
Sebagai seorang tokoh reformasi, akademisi, dan figur yang pernah memiliki posisi penting dalam sejarah demokrasi Indonesia, publik tentu menaruh ekspektasi tinggi terhadap kualitas pernyataan dan sikapnya.
BACA JUGA:Pendidikan Tinggi dan Logika Pasar
Namun justru di sinilah letak keprihatinan itu: ketika seorang yang seharusnya menjadi penjaga nalar publik, justru terjebak dalam arus informasi yang tidak jernih.
Pernyataan yang didasarkan pada asumsi lemah, bahkan bersumber dari interpretasi terhadap lagu atau konten media sosial, menunjukkan betapa rapuhnya fondasi berpikir kritis jika tidak disertai kehati-hatian.
Dalam tradisi filsafat, hal ini mengingatkan pada peringatan klasik tentang bahaya doxa, opini tanpa dasar, yang oleh para filsuf Yunani dipandang sebagai lawan dari pengetahuan sejati (episteme).
Ketika tokoh publik berbicara dari wilayah doxa, maka yang lahir bukan pencerahan, melainkan kebingungan.
Lebih jauh, fenomena ini juga bisa dibaca melalui lensa etika komunikasi.
BACA JUGA:Negara Kuat Butuh Hukum Kuat: Tantangan di Balik Komitmen Presiden
Filsafat modern, terutama dalam gagasan tentang ruang publik, menekankan pentingnya rasionalitas, verifikasi, dan tanggung jawab dalam setiap pernyataan.
Komunikasi bukan sekadar kebebasan berbicara, tetapi juga kewajiban untuk menjaga kebenaran dan dampak sosial dari kata-kata yang dilontarkan.
Dalam konteks ini, tudingan yang menyentuh ranah privat seseorang, terlebih tanpa dasar yang jelas, bukan hanya persoalan etika, tetapi juga menyentuh martabat.
Ia menggeser diskursus publik dari isu-isu substansial menuju sensasi yang dangkal. Negara, yang seharusnya menjadi ruang deliberasi rasional, justru tereduksi menjadi panggung rumor.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: