Saat Lidah Melampaui Akal

Saat Lidah Melampaui Akal

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-Dok.Disway-

Jika kita menoleh ke tradisi sufisme, persoalan ini memiliki dimensi yang lebih dalam.

BACA JUGA:Hardiknas 2026: Partisipasi Semesta dan Tantangan Mewujudkan SDM Unggul

Para sufi sejak lama mengingatkan tentang bahaya lisan yang tidak terjaga. Dalam ajaran tasawuf, lidah dianggap sebagai cermin hati. Ketika hati keruh, maka kata-kata pun kehilangan kejernihannya.

Seorang sufi besar pernah berkata, “Diam yang bijak lebih bernilai daripada kata yang menyesatkan.” Ini bukan ajakan untuk bungkam, melainkan seruan untuk berbicara dengan kesadaran.

Lebih jauh lagi, dalam perspektif sufi, kehormatan manusia (karamah insaniyah) adalah sesuatu yang harus dijaga. Menuduh tanpa dasar bukan hanya melukai individu, tetapi juga merusak tatanan batin masyarakat.

Karena setiap kata yang tersebar akan membentuk persepsi, dan setiap persepsi yang keliru akan melahirkan ketidakadilan.

Keprihatinan terhadap sikap Amien Rais juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan politiknya.

BACA JUGA:Partisipasi Semesta, atau Sekadar Slogan Semesta?

Sejak tidak lagi berada dalam arus utama kekuasaan, sebagian publik melihat adanya perubahan dalam gaya komunikasi dan pilihan narasi yang diambil.

Ini bukan soal posisi politik, melainkan soal konsistensi etika.

Seorang negarawan sejati tidak diukur dari apakah ia berada di dalam atau di luar kekuasaan, tetapi dari kemampuannya menjaga integritas dalam setiap keadaan.

Negarawan adalah mereka yang mampu menahan diri dari godaan sensasi, dan tetap berpijak pada kebenaran meski tidak populer.

Ketika standar ini ditinggalkan, maka yang tersisa hanyalah figur publik yang kehilangan arah, berbicara tanpa bobot, mengkritik tanpa dasar, dan pada akhirnya merusak kredibilitasnya sendiri.

BACA JUGA:Yang Saya Dengar dari Timor Leste

Namun kritik ini tidak seharusnya berhenti pada individu. Ia harus menjadi refleksi kolektif tentang bagaimana kita, sebagai masyarakat, mengonsumsi dan merespons informasi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait