Partisipasi Semesta, atau Sekadar Slogan Semesta?

Partisipasi Semesta, atau Sekadar Slogan Semesta?

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-Dok.Disway-

JAKARTA, DISWAY.ID -- Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) selalu datang dengan khidmat, penuh slogan yang terdengar luhur, dan janji yang terasa akrab, terlalu akrab, bahkan, karena diulang setiap tahun tanpa pernah benar-benar selesai.

Tema tahun 2026, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, terdengar seperti sebuah doa kolektif yang dipanjatkan dengan penuh harap.

Namun seperti banyak doa yang lain, ia kerap berhenti sebagai ucapan, tidak menjelma menjadi kenyataan.

BACA JUGA:Yang Saya Dengar dari Timor Leste

Kita diajak kembali mengingat Ki Hadjar Dewantara, sosok yang menggagas pendidikan sebagai proses memerdekakan manusia.

Pendidikan, dalam visinya, bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan karakter, kebebasan berpikir, dan keberanian menjadi manusia utuh.

Tetapi pertanyaannya sederhana: apakah sistem pendidikan kita hari ini masih berjalan di rel pemikiran itu, atau justru tersesat di antara birokrasi, angka statistik, dan pencitraan kebijakan?

Di satu sisi, negara berbicara tentang “partisipasi semesta.”

Di sisi lain, masih ada anak-anak di pelosok negeri yang harus berjalan berjam-jam melewati hutan, menyeberangi sungai tanpa jembatan, atau bahkan mempertaruhkan nyawa hanya untuk sampai ke sekolah.

BACA JUGA:Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Mereka adalah murid-murid yang tidak pernah muncul dalam presentasi PowerPoint pejabat pendidikan, kecuali sebagai latar belakang foto yang menyentuh hati.

Ironisnya, di ruang-ruang rapat berpendingin udara, pendidikan sering dibicarakan dalam bahasa angka: angka partisipasi kasar, angka kelulusan, angka indeks pembangunan manusia.

Angka-angka itu rapi, bersih, dan menenangkan tidak seperti kenyataan yang berlumpur di lapangan.

Jika “pendidikan bermutu untuk semua” benar-benar dimaksudkan serius, maka kata “semua” seharusnya tidak mengenal pengecualian geografis. Namun kenyataannya, “semua” sering kali berarti “mereka yang mudah dijangkau.”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: