Diskusi GalaPos ID Soroti Moderasi Konten hingga Algoritma Media Sosial di Indonesia
GalaPos ID Dorong Ruang Digital yang Adil dan Demokratis Lewat Diskusi Publik di Yogyakarta---Dok. Istimewa
JAKARTA, DISWAY.ID - Komunitas media GalaPos ID menggelar diskusi publik bertema “Kebebasan Berekspresi dan Keadilan dalam Tata Kelola Ekosistem Ruang Digital” di Yogyakarta pada Senin, 25 Mei 2026.
Kegiatan ini menjadi wadah dialog antara akademisi, jurnalis, konten kreator, mahasiswa, hingga pemerintah untuk membahas tantangan besar yang dihadapi ruang digital Indonesia.
Forum diskusi berlangsung secara hybrid dan diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Berbagai isu penting dibahas, mulai dari moderasi konten media sosial, ancaman hoaks dan disinformasi, penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI), hingga perlindungan kebebasan berekspresi di internet.
Praktisi hukum Ade Yan Yan Hasbullah yang bertindak sebagai moderator menilai tema tersebut sangat relevan dengan kondisi ekosistem digital saat ini.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membuat masyarakat menghadapi tantangan baru dalam menjaga kebebasan berpikir.
Ia menyinggung konsep ekosistem digital yang pernah diperkenalkan oleh Yasraf Amir Piliang sebagai “dunia yang dilipat”, yakni ruang digital dengan pergerakan informasi yang sangat cepat dan masif.
“Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat justru sering merasa kehilangan kemerdekaan karena dikendalikan oleh algoritma media digital,” ujar Ade Yan Yan dalam forum tersebut.
Perbedaan Jurnalis dan Konten Kreator Jadi Sorotan
Dalam sesi diskusi, jurnalis TVRI Yogyakarta Doni Rahmat menyoroti perbedaan mendasar antara profesi jurnalis dan konten kreator di media sosial.
Menurut Doni, jurnalis bekerja berdasarkan kode etik serta sistem verifikasi yang diatur Dewan Pers, sementara konten kreator lebih mengedepankan kreativitas pribadi dalam menyampaikan informasi.
“Ada perbedaan mendasar antara jurnalis dan konten kreator. Jurnalis bekerja dengan aturan yang jelas dan terikat kode etik, sedangkan konten kreator bergerak berdasarkan kreativitas masing-masing,” katanya.
Ia menilai perbedaan tersebut menjadi penting dipahami masyarakat di tengah maraknya informasi yang beredar melalui berbagai platform digital.
Fenomena Echo Chamber Dinilai Mempercepat Penyebaran Hoaks
Akademisi Universitas Ahmad Dahlan, Muhammad Najih Farihanto, turut menyoroti fenomena echo chamber yang dinilai membuat hoaks dan misinformasi semakin mudah dipercaya publik.
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi itu menjelaskan bahwa konten yang memainkan emosi cenderung lebih cepat menarik perhatian masyarakat di media sosial.
“Konten yang menarik biasanya adalah konten yang mampu memainkan emosi audiens,” ungkap Najih.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: