Pesantren Adalah Inkubator Pemimpin Masa Depan Indonesia
Prof. Ahmad Tholabi Kharlie: Pesantren bukan hanya lembaga yang mencetak ahli agama, melainkan juga ruang pembentukan pemimpin masa depan yang memiliki karakter, integritas, kemampuan beradaptasi, dan kepedulian terhadap persoalan bangsa. -dok disway-
TALAGA CIKEAS, DISWAY.ID - Pesantren bukan hanya lembaga yang mencetak ahli agama, melainkan juga ruang pembentukan pemimpin masa depan yang memiliki karakter, integritas, kemampuan beradaptasi, dan kepedulian terhadap persoalan bangsa.
Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag., S.H., M.H., M.A., Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saat menjadi narasumber dalam Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Santri Tahun 2026 yang diselenggarakan Direktorat Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI di Talaga Cikeas, Bogor.
Kegiatan tersebut mempertemukan santri-santri pilihan dari berbagai pondok pesantren di seluruh Indonesia untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan, wawasan kebangsaan, literasi digital, serta kesadaran ekologis sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Dalam paparannya yang bertajuk "Santri Penggerak Perubahan: Dari Ekoteologi Menuju Green Leadership", Ahmad Tholabi menegaskan bahwa sejarah telah menunjukkan kontribusi besar pesantren dalam melahirkan tokoh bangsa di berbagai bidang.
Lulusan pesantren hadir sebagai ulama, akademisi, hakim, menteri, kepala daerah, pengusaha, diplomat, maupun aktivis sosial. Menurutnya, keberhasilan tersebut lahir karena pesantren tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi membentuk karakter manusia secara utuh.
BACA JUGA:Pemerintah Perkuat Pelindungan Anak di Pesantren dan Madrasah melalui Gernas RANA
Ia menekankan bahwa kualitas seseorang tidak ditentukan oleh tempat belajar, melainkan oleh kesungguhan dalam belajar.
Kehidupan sederhana di pesantren justru menjadi laboratorium kepemimpinan yang menumbuhkan disiplin, kesabaran, kemandirian, kemampuan hidup bersama, dan penghormatan kepada guru. Nilai-nilai tersebut menjadi modal utama menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat.
Menurut Tholabi, dunia saat ini lebih membutuhkan manusia yang berintegritas daripada sekadar
memiliki prestasi akademik tinggi. Oleh sebab itu, pesantren memiliki posisi strategis karena sejak awal membiasakan santri hidup dalam budaya gotong royong, tanggung jawab, dan pelayanan kepada sesama.
Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan masa depan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi. Karena itu, santri harus mampu menguasai ilmu agama sekaligus memahami dunia digital agar mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan kontemporer.
BACA JUGA:Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat, Kemenag dan BI Dorong Peran Pesantren di Sektor Usaha
"Kita membutuhkan generasi yang mampu membaca kitab sekaligus membaca zaman. Akhlak harus menjadi kompas, sementara teknologi menjadi instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan," ujarnya.
Pada akhir pemaparannya, Ahmad Tholabi mengajak seluruh peserta agar tidak berhenti menjadi pribadi yang baik, tetapi tumbuh menjadi pemimpin yang mampu menggerakkan perubahan di lingkungan pesantren maupun masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: