Apa Itu September Effect? Cara Menghadapi Volatilitas Pasar Saham dan Kripto

Sabtu 29-08-2026,06:20 WIB
Apa Itu September Effect? Cara Menghadapi Volatilitas Pasar Saham dan Kripto

September Effect---Dok. Istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID - Bagi trader dan investor di pasar finansial, bulan September sering menjadi periode yang penuh tantangan. Fenomena ini dikenal dengan istilah September Effect, tren historis di mana pasar cenderung menunjukkan kinerja yang lemah. Namun, apakah koreksi ini selalu menjadi pertanda buruk atau justru dapat menjadi peluang? Untuk menjawabnya, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu September Effect dan bagaimana fenomena ini menegaruhi pasar.

Apa itu September Effect?

September Effect adalah sebuah kecenderungan historis di pasar global di mana imbal hasil pasar saham AS dan kripto rata-rata berakhir di zona merah selama bulan September, yang dapat memicu volatilitas. Berdasarkan data kedua pasar tersebut, September menjadi bulan dengan rata-rata kinerja terlemah.

Meski demikian, perlu diingat bahwa data tersebut tidak menjamin penurunan mutlak di setiap bulan September.

Pasar Saham (S&P 500)

Berdasarkan laporan CFRA dan data historis Indeks S&P 500 sejak Perang Dunia II, September adalah bulan dengan rata-rata imbal hasil terendah, yaitu sekitar -0,78%. Pergerakan pasar saham AS juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pasar saham global.

Pasar Kripto (Bitcoin & Altcoin)

Mengutip data historis CoinGlass sejak 2013, September merupakan bulan terlemah bagi Bitcoin, dengan rata-rata imbal hasil sekitar -3,5%. Selain itu, aset ini mengakhiri bulan September di zona merah sebanyak 8 kali sepanjang 2013-2025.

Koreksi pada Bitcoin ini juga berpotensi memicu volatilitas dan tekanan jual yang jauh lebih besar pada pasar altcoin.

Penyebab September Effect

Meski data pasar menunjukkan hasil yang dominan negatif, September Effect tidak semata-mata muncul hanya karena pergantian bulan.

“Penyebab utama terjadinya fenomena September Effect adalah perilaku dan kebiasaan investor, bukan kalender atau pun pergantian bulan,” ujar F.X. Sutjiharto, M.M., pakar trading dan pendiri FXSV Academy.

Menurutnya, ada tiga faktor utama yang turut mendorong munculnya fenomena ini.

1. Aktivitas Pasca Liburan Musim Panas

Setelah liburan musim panas yang panjang berakhir, para fund manager dan investor institusi cenderung kembali aktif. Mereka fokus untuk mengevaluasi strategi serta menata ulang portofolio yang kerap diawali dengan menjual atau melepas aset-aset tertentu.

2. Tax-Loss Selling

Banyak trader di AS yang memanfaatkan bulan September menjelang penutupan tahun fiskal untuk menjual aset-aset yang sedang mengalami kerugian. Langkah ini sengaja dilakukan demi merealisasikan kerugian agar dapat mengoptimalkan dan mengurangi beban pembayaran pajak mereka.

3. Self-Fulfilling Prophecy

Psikologi pasar juga memegang peran yang besar. Karena mayoritas trader sudah memercayai reputasi September sebagai bulan yang kelam, timbul rasa takut bahwa harga akan jatuh. Akibatnya, mereka memilih untuk menjual aset lebih awal.

Tindakan kolektif inilah yang justru memicu penurunan pasar secara nyata.

Cara Menghadapi September Effect

Pola musiman dan volatilitas yang lebih tinggi di bulan September membuat trader perlu lebih disiplin dalam menentukan strategi dan mengelola risiko. Berikut adalah beberapa cara menghadapi September Effect:

1. Manfaatkan Eksekusi Instan

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: